Senin, 04 Juni 2018

Hello Gaes!



            Meminjamkan ponsel pada anak-anak itu selalu menyisakan rasa bersalah, karena efek buruknya selalu lebih besar dibandingkan efek baiknya. Tetapi terkadang kita butuh sedikit waktu tanpa keriuhan sejenak saja, karena seperti orang dewasa anak-anak pun bisa anteng jika sudah bermain ponsel.
            Akhirnya setelah diskusi dan debat anak kedua saya yang berusia 8 tahun mendapat jatah meminjam ponsel satu minggu sekali.
            Dia selalu menonton Youtube tentang permainan seputar slime, squishi, atau dongeng. Youtuber idolanya saat ini adalah Ria Ricis. Kemudian efeknya mulai terlihat, dia selalu menirukan mimik wajah Ria Ricis. Tapi tidak lama, karena mungkin dia tidak merasa nyaman untuk memonyongkan atau memiring-miringkan wajahnya.
            Masalah lain kemudian timbul ketika anak bungsu saya yang berusia 3 tahun, si peniru ini ikut-ikutan nonton apa yang ditonton kakaknya.  Sebelum kami menghentikan tontonan tersebut, sudah terlanjur ada yang meresap ke dalam otaknya.
            Maka mulailah Aira, si tiga tahun itu menirukan apa yang diucapkan para Youtuber. "Hello Gaes, wellcome back to my channel ... bla ... bla ... "

            Gumaman 'hello gaes' itu terus dia ucapkan ketika bermain dan melakukan apa saja. Sampai akhirnya dia memanggil semua yang ada di rumah dengan sebutan 'Gaes'.
            "Gaes, aku mau mamam pakai sayuy cop." Pintanya pada saya ketika lapar.
            "Baiklah, Gaes. Makan sendiri atau disuapin?" timpal saya ikut-ikutan.
            "Disuapin aja, Gaes."
            Lain waktu saat dia sedang bersama ayahnya lalu merasa mulas, "gaes, aku aku mau pupup."
            "Bilang sama bunda aja."
            Lalu Aira menggeleng, "Enggak, Gaes. Aku mau dicebokin kamu, Gaes." Lalu pergilah mereka ke kamar mandi.
            Ketika ayahnya menonton televisi dan dia bosan bermain, dia menghampiri. "Gaes, boleh gak pinjam remotnya? Aku mau nonton upin-ipin."
            Ayahnya menggeleng karena sedang asyik menonton National Gegraphic. Aira tidak putus asa, dia duduk di pangkuan ayahnya. "Tolong pindahin ke Upin-ipin atau dola, Gaes. Ayooo ... "
            Awalnya kami menganggap itu lucu dan biasa saja, paling juga akan hilang sebentar lagi. Terkadang kami malah ikut-ikutan memanggil Aira dengan sapaan 'Gaes'.
            Tetapi lama-kelamaan muncul masalah, lebih tepatnya kami sebagai orang tuanya merasa malu ketika Aira memanggil ayah dan ibunya di depan umum dengan sapaan 'Gaes'.
            Saat mengantri di kasir mini market, Aira lari menghampiri sambil memegang permen lolipop. "Gaes, aku mau beli ini, ya. Boleh ya, Gaes." Teriaknya kencang, sontak orang-orang langsung melihat saya bergantian dengan Aira. Saya hanya bisa tersenyum canggung campur malu.
            Tatapan mereka seolah berkata, "ibu macam apa yang mengajarkan anaknya memanggil dengan sebutan Gaes?"
            Ayahnya pun mengalami kejadian yang sama ketika di pusat perbelanjaan. Saat itu Aira berjalan di belakang dan dia merasa tertinggal. Dia berteriak pada ayahnya, "Gaes, tunggu aku, Gaes." Orang-orang melihat sesaat lalu biasa lagi.
            Kejadian berulang di tempat makan saat bertemu dengan seorang teman, Aira memanggil lagi dengan sebutan 'Gaes'. Lantas teman tersebut berkata sambil tertawa, "Keren, nih. Ngajarin anaknya ngomong bahasa Inggris dari kecil."
            Ucapan teman yang tahu kami bukan pasangan ayah-ibu yang membiasakan berbicara bahasa inggris itu terdengar kurang enak, memang tidak bernada ejekan. Tapi akhirnya menyadarkan kami bahwa yang semula tampak lucu ternyata keliru.
            Akhirnya, kami sepakat tidak membiarkan Aira mengucapkan Gaes sembarangan lagi. Jika sedang bermain atau sedang bersama kakak-kakaknya, kami biarkan saja. Tapi manakala dia memanggil ayah atau ibunya, dia harus memanggil dengan sebutan yang benar.
            "Aira, enggak lagi panggil gaes, ya, ke bunda sama ayah. Panggil Bunda ... ayah ... kalau Aira mau manggil."
            Dia mengangguk tapi sesaat setelahnya dia kembali berkata. "Aku mau minum. Aku enggak nyampe. Tolong ambilin gelas, Gaes."
            Kami pikir perlu proses beberapa hari untuk kembali menormalkan panggilan ayah-bunda seperti biasa, tapi ternyata cukup lama dan kami mulai tidak sabar.
            Akhirnya, jika Aira memanggil dengan sebuatan Gaes, saya tidak mau menoleh, tidak mau merspon. Sampai pada panggilan ke tiga kali, akhirnya saya kembali ingatkan. "Panggil bunda yang benar. Gimana?"
            Aira merengut, "Tolong bacakan buku, Bunda." Katanya sambil memberikan buku cerita.
            Ternyata metoda mengingatkan lagi dan lagi lebih berhasil, dibanding tidak merespon ketika dia memanggil 'Gaes' tersebut. Tapi saya lihat di matanya, dia seperti terpaksa memanggil saya dengan sebutan 'Bunda' lagi, lain dengan ketika dia memanggil dengan sebutan 'Gaes'. Aira mengucapkannya sambil tertawa dan tampak menggoda kami orang tuanya, lalu ketika kami merespon, dia seperti mendapatkan kesenangan.
            Sekarang kesenangan tersebut terpaksa harus berhenti karena urusan etika yang tak elok. Aira si tiga tahun tidak mudah memahami masalah etika tersebut, kami lah orang tuanya yang keliru sedari awal.
            Sekarang setelah beberapa pekan berlalu, panggilan Aira pada kami sudah kembali normal.
            Malam ini ketika saya mengajaknya tidur di kamarnya, tapi dia tidak kunjung tertidur lalu saya pura-pura sudah tidur. Aira turun dari kasur lalu pergi ke ayahnya. "Bunda udah tidur. Bisa tolong buatkan susu, Gaes."
            Lalu ayahnya tergelak, "Ok, Gaes."
            "Makasih, ayah." Ucapnya saat hendak menyeruput segelas susu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar