Senin, 28 Mei 2018

Setiap Wanita Tangguh dengan Cara Berbeda

Foto : Pixabay

Saya dan teman-teman mengenalnya sebagai Bunda Rey, tentu bukan nama sebenarnya. Bagi kami dia orang yang beruntung karena memiliki segalanya.
            Selain memiliki rumah yang banyak, beliau juga terampil mengendarai mobil dan motor yang dia miliki. Gaya hidup dan tutur bahasanya biasa saja, tidak segan bergaul dengan semua orang. Namun segala yang melekat pada dirinya, semua yang dipakai anak-anaknya selalu tampak berkelas.
            Hingga pada akhirnya beliau memposisikan dirinya sebagai orang yang sering meminjamkan barang, tidak ragu-ragu untuk mentraktir, orang pertama yang mempunyai barang yang sedang trend, atau membeli barang apa saja yang dijual oleh salah satu dari grup arisan kami.
            Setelah lama berselang, seorang teman membisikkan pada saya bahwa bunda Rey mengiklankan rumah dan mobilnya di sebuah toko jual beli on line. Awalnya saya tidak percaya dan meyakini itu gosip. Beberapa waktu setelah teman saya menyampaikan kabar itu, mobil milik Bunda Rey tidak tampak lagi di garasi rumahnya.
            Ketika dia melewati rumah saya dengan mengendarai motor, tanpa ditanya Bunda Rey mengatakan bahwa mobilnya tengah dipinjam kakak ipar dan belum dikembalikan. Padahal saya tidak merasa punya kepentingan untuk mengetahui mobilnya berada di mana.
            Tidak berapa lama sekolah anak-anaknya yang awalnya bersekolah di sekolah
terpadu dengan SPP yang cukup mahal bagi saya, dipindahkan ke sebuah SD Negeri yang sebelumnya tidak pernah dia lirik sama sekali. Alasannya karena anak-anaknya capek selalu pulang sore.
            Desas desus berkembang kalau suaminya Bunda Rey yang memang bekerja di luar kota sudah tidak pernah pulang, tapi Bunda Rey selalu mengatakan bahwa suaminya tugas ke luar negeri.
            Ketika semakin hari saya melihat Bunda Rey menjual satu demi satu barang-barangnya, masih dengan alasan yang menutupi sesuatu. Seperti mesin cuci yang dijual karena sering ngadat dan akan segera membeli gantinya, piano anak-anak dijual karena ternyata anak-anaknya tidak ada yang berbakat di bidang musik, hingga saya melihat Bunda Rey mengantar anak-anaknya sekolah menggunakan sepeda, dengan alasan motornya sedang di bengkel. Diservice tapi tidak pernah selesai, celetuk putranya.
            Saya sangat ingin bertanya, masalah apa yang sedang Bunda Rey hadapi. Sekiranya tidak terlalu berat, ingin rasanya saya membantu dengan kemampuan yang saya miliki. Kendati, saya merasa kesal setiap ia menutupi masalah ekonomi keluarga dengan menjual satu demi satu barang-barangnya dengan alasan yang berbeda. Perasaan saya mengatakan bahwa bunda Rey tengah menghadapi masalah.
            Saya sempat bertamu sambil memberikan oleh-oleh yang suami saya bawa dari luar kota, rencananya ingin mengobrol dari hati ke hati. Saya memang jarang main meski rumah kami berdekatan, terakhir beberapa tahun lalu ketika dia mengadakan syukuran khitanan putranya.
            Saya sungguh terkejut melihat rumah yang sebelumnya diisi lemari kaca penuh hiasan kristal, lukisan borobudur yang klasik, serta jam dinding tinggi di ruang tengah sudah tidak ada. Kosong melompong.
            Pertanyaan itu sudah berada di ujung lidah saya, dengan niat ingin meringankan beban yang ada di pundaknya. Namun, ketika dia menyadari keterkejutan yang tidak tertutupi dengan baik di wajah saya. Di tengah obrolan dia mengatakan, "Ayahnya anak-anak bosan dengan isi rumah yang itu-itu aja, rencananya awal tahun mau kami ganti semua. Jadi sedikit-sedikit dikurangi."
            Saat itu saya sadar bahwa ada banyak orang tangguh dengan caranya, dengan menutupi kemelut hidup yang dia miliki, mengatakan pada orang-orang di luar kehidupannya bahwa hidupnya baik-baik saja.
            Akhirnya saya pulang dengan perasaan lega, setidaknya untuk diri saya sendiri. Bahwa Bunda Rey masih mampu menghadapinya sendirian dan dia baik-baik saja. Tentang kecurigaan bahwa Bunda Rey gengsi tengah menghadapi masalah, saya buang jauh-jauh. Toh, di dunia ini tidak ada seorang pun yang luput dari ujian Tuhan.
            Seiring berjalannya waktu, suatu hari Bunda Rey dan anak-anaknya menghilang entah pergi kemana. Kerabat jauhnya mengatakan mereka berada di rumah orang tuanya Bunda Rey. Rumah mereka yang mewah dibiarkan kosong, dan suaminya satu kali pun belum pernah muncul sejak kehidupan keluarganya berubah.
            Kami semua kehilangan, dan hanya bisa mendoakan yang terbaik karena tidak tahu sama sekali apa yang sebenarnya terjadi.
            Hingga suatu pagi saya melihat jendela-jendela di rumahnya terbuka dan anak-anaknya kembali bermain di lapangan. Saya ingin segera mengunjunginya, menanyakan kabarnya namun saya tahan. Khawatir ia kurang nyaman dan menyangka yang bukan-bukan.
            Pagi harinya entah harus merasa sedih atau lega, ketika Bunda Rey datang ke rumah untuk membayar arisan yang selama dua bulan belum dibayar, dia mengatakan. "lantai dua rumah kami selalu kosong, anak-anak maunya tidur dekat saya di lantai bawah. Jadi lantai dua mau dikos-koskan. Garasi mobil mau dijadikan cafe atau apa lah, buat menyalurkan hobi masak saya."
            

Tidak ada komentar:

Posting Komentar