Kamis, 31 Mei 2018

Cincin 14 Tahun Pernikahan




           

             Moment ulang tahun pernikahan bagi saya cukup penting, tapi bagi suami saya biasa saja. Mungkin memang seperti itulah jiwa-jiwa yang jauh dari rasa romantis, tidak mementingkan sudah berapa lama kami bersama, tapi seberapa mampu kami tetap bersama menyelesaikan persoalan demi persoalan yang kami berdua hadapi.
            Satu atau dua kali pada ulang tahun pernikahan yang pertama saya pernah memberi suami hadiah, saya ingat pada ulang tahun pernikahan yang pertama memberinya tempat minum stainles yang sekarang sudah rusak entah kemana. Tapi setelahnya saya tidak lagi memberi dia apa-apa karena merasa jengkel sendiri. Boro-boro memberi saya hadiah balik, suami saya bahkan nyaris selalu lupa tanggal pernikahan kami.
            Kejadiannya selalu berulang di tanggal 10 Mei itu, bangun pagi saya sudah ge-er tapi dia cuek. Saya tunggu sampai selesai masak, masih belum ada tanda-tanda dia ingat hari itu hari apa? Ada moment besar apa?
            Sampai dia rapi mau berangkat kerja dia masih enggak ingat, masih tertawa-tawa bermain dengan anak-anak. Bahkan! Oh Tuhan, dia tidak peka pada raut wajah saya yang sudah mulai berubah menahan kesal.

            Dan, benar saja sampai dia pamit pergi kerja ucapan "happy annyversari for us, my darling." Itu tidak ada! Setelahnya, sekitar 30 menit atau sampai 1 jam kemudian setelah dia pergi kerja saya sms atau kirim WA, "ayah, enggak ingat ya hari ini hari apa? Tanggal berapa? TERLALU. KEBIASAAN!" pakai icon ngambek. Dan satu detik setelah pesan dibaca dia pasti nelpon.
            Suami saya minta maaf berkali-kali karena melupakan tanggal ulang tahun pernikahan kami, dia mengaku ingat beberapa hari lalu, tapi pas hari H-nya malah lupa sama sekali. Klasik!
            Awalnya kesal, tapi semakin lama seiring usia pernikahan yang lebih lama dan saya jadi lebih tua akhirnya saya kebal sendiri terhadap rasa lupa-nya tersebut. Meskipun jika setelah diingatkan, pada akhir pekannya dia mengajak kami makan di luar. Bukan berdua supaya romantis, tetap saja bawa rombongan lenong ikut serta. Minimal saya jadi enggak ngambek-ngambek amat.
            Nah, di tahun 2017 ini, tepat di usia pernikahan yang ke 14 tahun. Saya merasa ingin memberikan sesuatu lagi untuk suami. Saya pikirkan dengan matang, benda apa yang paling dia suka atau yang dia butuh atau yang dia inginkan. Sempat terpikir membelikan CD Original Iwan Fals, penyanyi kesukaannya. Atau handfree bluethoot, supaya kalau sedang mengendarai mobil dan harus menerima telepon tidak membahayakan.
            Lantas saya teringat bagaimana dahulu kami menikah. Saat itu dia hanya menyediakan satu buah cincin untuk saya, sementara dia sendiri tidak mengenakan cincin. Maka, pilihan saya adalah saya akan memberi sebuah cincin pernikahan untuk suami saya.
            Pencarian cincin agak membingungkan juga karena saya tidak tahu ukuran jari suami saya. Beruntunglah ketika datang ke toko emas, putra si pemiliknya bertubuh seukuran suami saya. Dengan mengukur jari si Kokoh tersebut saya pun mendapatkan cincin emas putih dengan motif garis-garis ditepiannya.
            Berikutnya, cara memberikannya harus unik tidak boleh dengan cara biasa. Dan tanggal 10 Mei pun akhirnya datang, seperti biasa suami saya SAMA SEKALI TIDAK INGAT itu hari pernikahan kami. Saya biarkan saja, sudah pasang mental kuat. Ketika dia mandi, saya masukkan cincin sekaligus benang merah pengikatnya, supaya ketahuan kalau itu emas putih sungguhan, bukan dari koin uang yang digepengkan, hehehe.
            Seperti biasa, salam cium tangan dan dia berangkat diiringi doa-doa istri tercinta. Dan dia MASIH TIDAK INGAT. 30 menit kemudian saya kirim Wa.
            Selamat ulang tahun pernikahan untuk kita, ayah. Semoga kita semua selalu dalam lindungan Allah. Aamiin. Oh iya, bunda menyimpan hadiah kecil di bagian dalam tas, menggantikan tempat rokok yang ilegal ada di sana. 
            Lalu dia jawab : Astagfirullah, ayah lupa lagi. Maafffff. Makasih banyak udah ngurusian kita-kita dengan baik.
            Aduh ini masih di kereta kedempet-dempet susah ngambil hadiahnya.
            Apaan sih?
            Tapi penasaran
            Cincin
            Masyaallah cincin.
            Buat ayah?
            Ya Allah, makasih banyak bunda, ayah terharu.
            Saya tertawa geli di rumah, membayangkan usaha dia membuka tas dan merogoh-rogoh hingga dalam di tengah himpitan manusia di dalam kereta pagi. 15 menit kemudian dia menelepon dari stasiun Gondangdia, dengan latar belakang suara yang ribut dia mengucapkan terima kasih berkali-kali untuk cincinnya dan bersyukur untuk 14 tahun yang hebat dalam suara yang gemetar.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar