Rabu, 25 Oktober 2017

Cerpen : Wajah di Balik Jendela

            Kabarnya cerpen ini telah dimuat di tablod Genie, iya kabarnya karena saya hanya dikabari seorang teman yang tinggal di Jawa Timur, tanpa pernah melihat wujudnya langsung, potretnya pun tidak 😁. Mengingat honornya yang entah sudah dikirim atau belum, karena ketika dicek kok belum ada juga 😎😎saya agak menahan diri untuk posting. Tapi karena sudah cukup lama, lebih baik posting aja deh, lumayan untuk bahan bacaan orang-orang yang berkenan mampir.
              Tidak ada behind the scene untuk cerpen ini, saya tulis begitu saja lalu selesai. Setelah jadi dan dibaca ulang, kondisi dalam cerpen pada kenyataannya sangat riskan untuk terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, terlebih pelecehan terhadap anak semakin marak. Sedikit sekali laki-laki dewasa yang memiliki sikap santun seperti paman Zul.
                Baiklah, silakan. selamat membaca 💓

Wajah di Balik Jendela
Adya Pramudita


"Seberapa lama cinta dapat bertahan?" Tanyaku sambil menurunkan tas dari bagasi.
"Sepanjang kau menginginkannya, Nara." Dyah menepuk pundak lalu mengantar hingga aku menaiki bis. Aku melihat dari jendela, ia melambai sambil mengatakan sesuatu dengan gerakan mulut yang jelas, salam untuk paman Zul.
Aku kira nama itu sudah tidak berarti apa-apa. Nyatanya ketika Dyah menyebutkan nama paman Zul semalam, seluruh yang ada di sekitarku seperti berhenti bergerak. Nama itu menjadi magnet yang menarikku pulang pagi ini setelah 12 tahun berlalu.
"Pulang atau mengunjungi saudara sekalian berlibur di Pelabuhan Ratu?" Tanya seorang lelaki tua yang duduk tepat di sebelahku.
"Pulang sekaligus mengunjungi mmm ... kerabat." Jawabku datar, namun sedetik kemudian aku merasa yakin dengan jawaban tersebut.
Pohon-pohon yang tampak bergerak cepat dan tertinggal di belakang. Kenangan yang mengapung ke permukaan setelah sekian lama aku paksa untuk mengendap. Perjalanan apakah ini namanya? berdamai dengan masa lalu atau menemui separuh hati yang dulu tertinggal.
Aku terlelap lalu tiba-tiba aku berada di rumah sambil menatap keluar jendela.
Lelaki itu melambai dengan senyum yang lebar. Lelaki yang membeli rumah tepat di sampingku dan mulai menempatinya. Rumah yang sama-sama berada di tepi tebing karang, menghadap ke lautan lepas. Kemudian penggalan demi penggalan tentang paman Zul berkelebatan.
"Panggil aku paman Zul." ucapnya dengan suara jenaka ketika kami berkenalan. Tanpa membutuhkan waktu yang lama dia menjadi tetangga menyenangkan dan paman paling hebat.
Permen kapas adalah oleh-oleh yang paling sering ia berikan. Terkadang sebuah pensil, yang paling istimewa adalah patung-patung binatang seukuran kepalan tangan. Paman Zul mengukirnya sendiri di sela-sela pekerjaannya di proyek pembangunan rumah atau gedung.
"Bagaimana bisa paman meraut leher jerapah ini begitu halus?" Aku mengelus lekukan leher jerapah.
Paman Zul menunjukan sebuah pisau lipat kecil yang tajam. "Paman merautnya hati hati dan sepenuh cinta."
Jawaban itu membuat dadaku terasa menggembung. Tanpa peduli usiaku yang baru 9 tahun, sejak saat itu deruman motor paman Zul menjadi irama paling merdu.
Kehilangan karena kepergian ayahku dua bulan lalu perlahan-lahan mulai hilang. Paman Zul sempurna menjadi pengganti sosok ayah sekaligus seorang sahabat.
Paman Zul hanya lebih muda dua tahun dari ibu. Nyaris semua tetangga kami memperkirakan ibu dan paman Zul suatu hari akan menikah. Dan bisik-bisik itu selalu membuatku ingin marah.
Entah bagaimana pun caranya, aku tidak suka jika aku harus mengubah panggilanku menjadi papa Zul.
Maka ketika seorang duda melamar ibu, aku menjadi anak paling baik dan pengertian, langsung setuju dengan pernikahan tersebut. Kendati akhirnya aku harus berpisah dengan ibu karena menolak ikut pindah ke rumah ayah tiriku.
Tanpa pernah siapa pun tahu, sesungguhnya penolakan itu demi paman Zul. Aku selalu ingin melihatnya setiap pagi sebelum pergi sekolah. Dan setiap malam meski hanya bisa menatap jendela rumahnya dengan lampu yang masih menyala.
"Kau sangat cepat tinggi, Nara. Bagaimana dengan ekskul menarimu? pasti semakin bagus."
Aku menggeleng dengan wajah muram. "Guru tarinya berhenti. Dia pindah ke luar kota dan sekolah belum dapat penggantinya."
Wajah paman Zul turut muram tapi beberapa detik kemudian langsung menyeringai. "Ada sanggar tari di belakang alun-alun. Paman pernah melihatnya. Besok paman akan sempatkan belok ke sana dan bertanya, ya." Dia mengusap puncak kepalaku.
Dua hari kemudian paman Zul meminta izin nenek untuk membantuku les di sanggar tari tersebut. Nenek dan bibiku yang tinggal satu rumah tidak punya banyak pilihan, karena tak sanggup menghadapi rajukankuMaka, setiap akhir pekan paman Zul mengantarkanku pergi dan pulang ke sanggar tari. Terkadang sepulang dari sanggar tari, paman Zul membelikanku es krim yang kami habiskan berdua di tepi pantai.
Tanpa pernah kuduga hal itu menjadi asal mula aku kehilangan paman Zul perlahan-lahan.
Kak santi adalah guru menariku. Ia hanya mengenal paman Zul yang mengantarku setiap les. Kak Santi melaporkan semua perkembangan menariku -yang menurutnya mengagumkan pada paman Zul. Setiap minggu, 4 kali dalam sebulan, 42 kali dalam setahun. Dan mereka pun saling jatuh cinta. Lalu, hatiku retak dan patah pelan pelan.
***
Aku tiba di rumah dengan sambutan hujan dan senyap yang memilukan. Rumah ini bertahun-tahun kosong dan tidak terurus. Nenek wafat setahun sebelum aku pergi membawa setoreh luka yang dalam.
Keadaannya sama persis seperti hari ini. Senja yang hujan. Dihari aku mendapatkan haidku yang pertama kalinya, paman Zul mengetuk pintu. Ia dengan bahagia mengatakan bahwa aku adalah orang pertama yang dikabari, bahwa tanggal pernikahan dirinya bersama Kak Santi telah ditentukan.
Binar kebahagiaan di mata paman Zul mengumumkan bahwa tidak akan pernah ada kesempatan untukku. Tidak akan ada. Aku tetap anak perempuan kesepian yang ia anggap sebagai keponakan.
Malam itu aku mengemas barang dan pergi dalam guyuran hujan. Merobek kedamaian keluarga ibu yang sudah dikaruniai dua adik yang masih kecil-kecil. Aku memaksa agar ibu mengantarku ke Bandung, lalu memohon agar ia mengizinkan aku tinggal bersama kerabat yang baru dua kali aku temui.
Jendela tempat aku memandang paman Zul untuk pertama kalinya masih sama. Buram karena debu yang mengeras dan tempias hujan. Rumah paman Zul sudah mengalami perombakan. Dengan desain minimalis, serta balkon yang dipenuhi tumbuhan rambat yang langsung menghadap lautan. Meskipun sore ini terlihat sepi, di sanalah keluarga kecil paman Zul merajut hari-hari bahagia. Tempat anak-anak mereka tumbuh dan berlarian.   
***
Aku menarik napas dalam-dalam untuk mengisi paru-paru dengan sebanyak-banyaknya oksigen, sebelum memasuki lorong rumah sakit.
Aku tidak diizinkan masuk karena bukan keluarga inti. Hanya bisa mengintip melalui celah pintu setiap petugas masuk atau keluar.
“Dia tertimpa bongkahan beton yang runtuh dalam posisi tubuh miring. Seluruh tubuh bagian kanannya patah. Ada banyak darah keluar dari telinganya. Sampai hari ini dia masih belum memberi respon apa pun.” Adik paman Zul yang menunggu di luar ruang ICU menjelaskan.
Lidahku kelu, tidak ada sepenggal kata pun yang mampu aku ucapkan. Bahkan untuk mengungkapkan rasa simpati. Air mata terus mengalir membasahi bagian kerudungku. Berkali-kali aku mengepalkan tangan, menahan kedua kaki yang tidak sabar ingin segera mendobrak pintu dan berlari menemui paman Zul.
“Kinara?” Sapa sebuah suara sedikit bergetar.
Aku mendongak, mendapati kak Santi yang sedang mengelus perutnya yang hamil besar. Aku tersenyum kikuk, khawatir sisa tangisku masih terlihat jelas.
Atas permintaan adik paman Zul, akhirnya dokter membuka sebagian tirai ruang ICU. Hanya agar kami berdua bisa menatap paman Zul dari kejauhan. Selang belalai menutupi wajah paman Zul. Kepalanya botak sebagian dengan tempelan perban yang tebal. Kaki kanannya terangkat, ditahan seutas tali ke langit-langit ruangan.
Memandangnya seperti menyerahkan hatiku untuk dipilin, dan leherku untuk dicengkram. Setengah mati aku berusaha agar ceruk mataku kuat menahan air mata yang terus keluar.
“Pernikahan kami hampir batal, Nara. Karena paman Zul selalu mengharapkan kamu ada untuk jadi pagar ayu.”
Pagar ayu? Tentu saja, kala itu memang aku hanya pantas sebagai pagar ayu. Aku tersenyum kaku. Kak Santi menggeleng sambil mengelus perutnya lagi. Sungguh bayi yang malang, ia akan lahir dengan kondisi ayahnya yang lemah.
“Dalam dua tahun pernikahan kami, aku tidak pernah memilikinya secara utuh. Namamu selalu terselip di setiap ceritanya. Nara paling suka permen kapas. Nara suka kalau aku ajak mengebut. Nara begini, Nara begitu.” Kak Santi menelan ludah. Rahangnya bergerak-gerak. Tanpa aku sangka, ia tersenyum. “Hampir setiap malam, Nara. Dia membuka tirai jendela dan menatap beberapa detik ke arah rumahmu yang gelap.”
“Kak Santi. Sudah, hentikan.” Aku menggenggam tangannya.
Kak Santi menatapku, merengkuh wajahku. “Pernikahan kami berakhir di tahun ke tiga, Nara. Aku tidak pernah bisa menandingi kenangan tentangmu.”
Aku menatap ke arah perut kak Santi lalu beralih ke wajahnya dengan tatapan bingung.
“Aku menikah lagi setahun lalu, dan ini anak pertamaku dari suami keduaku. Meski begitu, kecelakaan kerja yang menimpa paman Zul-mu tetap membuatku kaget. Aku selalu ingin tahu perkembangannya.”
Kak Santi memelukku sebelum pamit, tanpa memberiku kesempatan untuk mengatakan apa-apa. Sambil berpegangan erat ke tepi jendela, aku menatap paman Zul dengan tangis yang kubiarkan terjadi. Untuk perasaan yang terlambat ia sadari dan untuk cinta yang masih kugenggam erat.


1 komentar:

  1. Cinta yang tumbuh di rentang usia yang berbeda jauh memang selalu menumbuhkan kontroversi. Cerpen yang bagus. Keep making story.

    BalasHapus