Rabu, 25 Oktober 2017

Cerpen : Lampu Merah




          Cerpen ini telah dimuat di majalah Syiar Nur Hidayah yang terbit di Jawa Tengah. Judul awalnya Dansa, tapi mungkin terlalu manis. Lalu diubah oleh redaktur majalahnya menjadi Lampu Merah, dan benar saja, jadi lebih bertenaga 😍
            Saya menulis cerpen ini pastinya terinspirasi dari badut-badut yang ada di lampu merah. Mereka selalu bergoyang dan melambai-lambaikan tangan  baik ada yang memberi uang atau pun tidak.
            Profesi seorang badut sama saja dengan artis atau penghibur lainnya. Meski sedang mengalami hari yang berat atau situasi yang menyedihkan, mereka tetap bertugas untuk menghibur. Sama halnya dengan tokoh di cerpen ini, dia tetap berdansa meski sedang dirundung kesedihan. Dansa dan terus berdansa sampai ia tidak ingat lagi hakikat untuk berdansa.
            Selamat membaca 💓


Lampu Merah
Adya Pramudita
Tidak harus berada dalam suasana hati gembira untuk bisa berdansa, Apung mengulang-ulang pemikiran itu sepanjang hari setiap kali ia bekerja. Saat ini pun, Apung telah mengencangkan ikat pinggangnya sebanyak tiga kali untuk mengelabui rasa lapar.
            Tubuhnya tidak mau kompromi. Apung mengharapkan keringat tidak harus mengucur agar ia tidak cepat lapar dan haus. Sayangnya, tubuh juga punya cara kerja sendiri, seperti air mata yang jatuh meski ia menahan untuk tidak menangis.
            Siapa yang bisa menahan agar peluh tak membanjir, jika sepanjang hari berada di dalam kostum maha tebal dan berbulu, lengkap dengan penutup kepala yang jauh lebih ketat dan lebih tebal dari pada helm.
            “Apa aluu” dua kata yang belum jelas itu yang terakhir Apung dengar dari putranya ketika ia berangkat bekerja kemarin. Jio menutup bagian bawah tubuhnya ketika ibunya membuka baju dan celana hendak mandi pagi. Anak berusia 4 tahun itu telah tahu tentang aurat, Apung teramat bangga akan hal itu. Ia sangat yakin putranya bisa tumbuh seribu kali lebih baik dari dirinya.
            Hari kemarin sebelum kabar itu datang, Apung bekerja dengan rasa bangga sebagai seorang bapak. Bahwa, kelelahannya tidak begitu berarti setiap ia pulang dan melihat senyumnya. Bahwa, celoteh Jio, teriakan Jio ketika Apung pulang dan ia berlari menghambur ke pelukannya, itu adalah hal terbaik yang tidak pernah ia sangka.
            Kostum yang Apung pakai terasa lebih berat dari biasa. Tersangkut di bahunya dan membebani setiap gerakanannya. Tetapi Apung harus terus bergerak. Berdansa, menggerakan pinggulnya ke kanan dan ke kiri. Melambaikan tangan pada kaca-kaca mobil yang berhenti ketika lampu berwarna merah menyala.
            Apung harus terus berdansa seruwet apa pun hari yang ia miliki.
            Apung merasa penciumannya seperti tumpul saat ini. Aroma masakan yuk Dar dari warung kecil di ujung jalan tidak lagi tercium, bau asap kenal pot metro mini tua tidak lagi membuat dadanya sesak.
            Sejak kemarin, ketika ia berlari dengan kostum Mickey Mouse yang berat di lorong rumah sakit. Menjadi tontonan semua orang. Yang tersimpan diingatannya hanya aroma karbol yang menusuk hidungnya. Aroma yang tidak mau pergi sampai sekarang.
            “Muntaber.” Satu kata itu diucapkan istrinya dengan lancar. Terdengar biasa tetapi merenggut keceriaan putranya. Sejak dua hari lalu Jio terserang diare, istrinya menghitung hingga 16 kali ia membasuh kotoran anak mereka dalam sehari.
            Rebusan daun jambu batu sudah dibuat, Jio membuka mulut untuk dua tegukan dan sisanya ia muntahkan. “Lasanya kaya kelingat Apa.” Candanya, semua orang yang ada disekelilingnya tergelak. Apung dan istrinya tidak terlampau cemas karena Jio masih gesit berlari dan masih riang berceloteh. Setiap anak selalu pandai menipu dengan wajah polos mereka.
            Beberapa jam sepeninggal Apung, Jio mengeluarkan semua yang ia makan. Semakin lama cairan yang keluar hanya lendir sewarna gading.
            Sang istri tahu benar Apung begitu mencintai Jio. Belahan jiwa, mata hati, sinar kehidupan mereka yang susah payah mereka dapatkan setelah lima tahun menikah.
            Maka, wanita berambut ikal itu tidak menceritakan bagaimana tubuh putra kecil mereka melenting menahan dorongan dahsyat dari dalam tubuhnya. Seperti ada kepalan tangan yang mendorong semua yang ada di lambungnya keluar.
            “Harus dirawat.” dokter jaga pemilik mata bulat itu berkata dengan cepat. Tanpa memberi kesempatan Apung dan istrinya bertanya. Apung tidak memiliki pilihan lain selain mengangguk kaku. Lehernya seakan terbuat dari besi-besi yang berkarat.
            Siang itu Apung tidak kembali ke jalan raya. Ia menanggalkan kostum Mickey Mouse dan menyimpannya di ujung lorong. Karena bangsal kelas 3 terlalu sempit dan riuh untuk menyimpan kostum badut sebesar itu.
            Kostum itu menjadi tontonan setiap orang, menjadi mainan anak yang sakit dan susah makan. Menjadi benda yang tepat untuk menakuti anak yang menangis sepanjang malam. Diantara kedipan kelopak mata Jio yang sayu, Apung membiarkan kostumnya menjadi sarana hiburan untuk siapa pun.
            “Bekerjalah.” Lengan istrinya mengelus pundak Apung. Ia mengangguk, benar-benar memahami apa yang harus ia kerjakan demi Jio. Ketika kartu sakti yang bernama asuransi kesehatan tidak ia miliki karena mereka keluarga pendatang tanpa surat resmi.
            Semua yang melata, yang berjalan, yang melayang bergerak seperti biasa. Namun dimata Apung segala sesuatu tampak bergerak lambat. Udara berembus pelan dan selokan mengalir letih menahan limbah manusia yang tidak pernah berhenti.
            Di tepi jalanApung mengusap kedua matanya sebelum memakai kostum Mickey Mouse, beberapa menit kemudian ketika matahari kian meninggi Apung tak bisa membedakan yang mana tetesan peluh dan yang mana aliran air mata. Keduanya terasa sama, sama-sama asin dan menyesakkan.
            Yuk Dar melambai seraya menunjuk tempe goreng dan lontong-lontong yang pepal.Sarapan, sini.” Apung mengangguk diikuti ucapan terima kasih.
            Apung sudah menitipkan pesan pada Yuk Dar bahwa ia memberikan nomor ponsel Yuk Dar pada istrinya. Kalau-kalau istrinya memerlukan dirinya untuk datang ke rumah sakit.
            Apung menyebrang jalan lalu berdiri di trotoar pembatas jalan. Mobil-mobil yang berlalu lalang di sisi kanan dan kirinya seperti melagukan irama kesenduan. Klakson yang bersahutan dan saling menyambut seakan pekikan sirine yang menyadarkan ingatannya, bahwa Jio tidak sedang baik-baik saja.
            Sebuah mobil berhenti dengan anak-anak kecil di kursi belakang. Apung memejam, tawa anak itu seperti sembilu yang mengiris hatinya perlahan-lahan. Ia tak mengerti, bagaimana bisa sebuah wajah polos serasa mengancam harapannya.
            Apung mulai bergerak, menggoyangkan pinggul ke kanan dan ke kiri sambil melambai dengan mata yang terpejam. Membayangkan segala hal yang indah bersama Jio, melangitkan harapan-harapan tentang putranya.
            Adakalanya Apung bergoyang sambil mengenang senyuman istrinya, beberapa saat kemudian Apung merasakan hangat di ruas-ruas tulang punggungnya dan ia yakin mendiang ibunya tengah membelai dirinya.
            Namun pada akhirnya semua cara itu tak juga berhasil. Tubuh Apung menuntut ia bersikap jujur. Bergoyang ke kiri dan kanan dengan tetesan peluh dan air mata. Tak mengapa, asal dia terus bekerja meski ingatan akan Jio mengoyak hari miliknya.
            Semakin siang kendaraan semakin padat, Apung baru menyadari kemudian hari itu akhir pekan ketika semakin banyak kaca-kaca jendela yang terbuka dan mengasurkan koin-koin atau lembaran kelabu.
            Apung sudah mulai lelah, kostum yang ia pakai seakan menyempit dan mengepung dirinya. Tetapi kaca-kaca terus terbuka, denting koin semakin ramai terdengar. Apung terus bergoyang kendati ia tak lagi bisa membedakan rasa asin peluh dan air mata.
            Yuk Dar melambai dari seberang jalan, tepat ketika lampu lalu lintas di bagian Kiri Apung berwarna merah, sementara jalan di bagian kanannya berwarna hijau. Ratusan mobil-mobil melaju seperti tengah beradu cepat.
            Yuk Dar terus melambai, teriakannya tenggelam oleh deruman kendaran. Apung ingin menerbos jalan di sisi kanan tetapi mobil-mobil begitu cepat melaju. Sebuah kaca mobil di sisi kirinya turun perlahan dan anak seusia Jio memekik girang.
            Yuk Dar terus melambai sambil mengacungkan ponsel miliknya, wajahnya yang memucat menyiratkan kabar apa yang ia bawa. Namun di belakang Apung anak kecil itu terus melambai. Wajahnya begitu antusias menanti ia bergoyang sebelum lampu berganti hijau.
            Lalu, dansa itu Apung lakukan. Sebuah dansa bercita rasa duka. Apung menggoyangkan pinggulnya ke kanan dan ke kiri dan tawa anak itu pun terbit. Apung melambai-lambai lalu anak itu melonjak di atas jok mobilnya.
Setelah anak itu berlalu, Apung enggan berhenti bergoyang. Jantungnya berdetak semakin cepat. Dansa bercita rasa duka menggerakan dirinya, meremukkan harapan, dan menghisap seluruh rasa gembira dari muka bumi.
Hingga terik berubah mendung. Hingga siang berubah malam. Lalu hujan dan petir berpadu mengguyur kota, Apung tak berhenti bergoyang. Di dalam kostum Mickey Mouse yang bobotnya semakin berat berkali lipat, jiwa Apung mengecil dan tatapannya yang gelap kembali ke masa lalu tanpa pernah mau kembali.
           
            Selesai


Tidak ada komentar:

Posting Komentar