Jumat, 27 Oktober 2017

Baduy Dalam, Kesederhanaan Hidup Para Penjaga Alam.



          Waktu seperti berjalan sangat lambat dan saya seakan kembali ke masa lampau, pada tahun 1900 an ketika arus informasi dan teknologi masih jauh mengisi kehidupan. Baduy, dalam satu malam memisahkan saya jauh dari hiruk pikuk kehidupan yang sibuk. Sangat menyenangkan ketika tidak perlu mengecek ponsel setiap menit, tidak penasaran untuk tahu apa yang sedang jadi trending topic.

            Baduy saat ini menurut mereka yang berkunjung 10 tahun lalu sudah sangat berbeda, dan saya juga tidak yakin akan menemukan Baduy yang sama 10 tahun mendatang dengan Baduy Dalam yang saya lihat pada 2017 ini.

            Mengunjungi Baduy adalah impian saya sejak remaja, tapi kesempatan itu baru saya dapat ketika berusia 37 tahun. Sempat ragu dengan stamina, tapi karena waktu persiapan cukup panjang saya berusaha untuk olahraga dan jalan kaki setiap pagi untuk latihan.

            Saya bergabung dengan kelompok Trip to Baduy yang saya temukan di Facebook, mayoritas yang ikut adalah ibu-ibu dan anak-anak. Jadi tripnya santai dan menyenangkan.
            Karena kondisi kelompok trip ini lah tim penyelenggara membuat rute perjalanan menuju Baduy Dalam yang relatif pendek yaitu rute Cijahe menuju Cikeusik. Hanya membutuhkan waktu 1 jam berjalan kaki menuju Baduy Dalam.

            Rute perjalanan menuju Baduy saat ini sudah sangat mudah. Kami berkumpul di stasiun Tanah Abang, lalu dengan commuter line menuju Rangkas Bitung. Dari Rangkas Bitung kami menggunakan Elf menuju Cijahe selama kurang lebih 2 jam.
            Jalur jalan kaki menuju Baduy Dalam sebenarnya ada 2, Pintu gerbang Cijahe dengan tujuan kampung Baduy Cikeusik dan pintu gerbang Ciboleger dengan tujuan kampung Baduy Cibeo. Jika Cijahe – Cikeusik hanya membutuhkan waktu 1 jam jalan kaki, sementara Ciboleger menuju Cibeo sekurang-kurangnya butuh waktu 5 – 7 jam jalan kaki dengan kecepatan standar.
            Untuk kamu yang ingin berpetualang lebih menantang silakan mengambil jalur Ciboleger menuju Cibeo, kamu bisa melintasi jembatan akar yang legendaris.

            Pria-pria Baduy dewasa, remaja, dan anak-anak menyambut pengunjung di pintu gerbang. Biasanya mereka menjual jasa sebagai penunjuk jalan sekaligus porter. Cara jalan mereka sangat lincah dan cepat, bahkan ketika membawa banyak ransel di bahu mereka. Pastinya karena sangat terbiasa jalan kaki dan melintasi medan terjal.
            Leader trip kami memberi tahu wilayah terakhir penggunaan ponsel di bagian puncak bukit, sebelum jalanan menurun menuju lembah tempat kampung Cikeusik berada. Karena kalau pun ponsel dinyalakan, sinyal sudah hilang sejak pintu masuk.
            Sejak awal saya bertekad untuk mengikuti semua aturan, karena konon kalau melanggar suka ada akibatnya. Jadi selama di sana saya mengikuti semua aturan yang berlaku. Tapi sayangnya, ketika kami bertemu dengan grup trip yang lain mereka melanggar beberapa aturan.

            Untuk saling mengingatkan, aturan-aturan yang diminta warga Baduy tidak sulit kok. Diantaranya :

1.      Jangan mengambil gambar/ foto-foto jika sudah ada di dalam kampung Baduy Dalam.
            Artinya apa pun dan di mana pun selama di Baduy Dalam kita tidak boleh mengambil gambar. Selain para masyarakat Baduy Dalam terutama para wanita, khususnya gadis-gadis di sana sangat pemalu. Demi menjaga keaslian mereka agar tidak menjadi konsumsi publik yang menyebar terlalu masif.
            Biarlah kenangan tentang Baduy Dalam tetap ada dalam ingatan setiap pengunjung, tanpa perlu melihatnya dari foto-foto yang diambil. Keaslian mereka yang murni biarlah tetap dalam kemurnian dan kejujuran mereka.
            Saat itu saya melihat grup trip lain berpose cekrak-cekrek di depan dan di dalam rumah penduduk. Ketika kami ingatkan mereka menjawab, "yang penting bukan di lapangan depan rumah Puun." Puun adalah kepala suku Baduy.
            "Yah, terserah deh. Risiko tanggung sendiri." Jawab kami emak-emak yang risih melihat pelanggaran.
            Jujur, saya merasa malu sebagai orang luar, yang sama-sama datang dari kehidupan modern tetapi tidak mampu menaati permohonan masyarakat Baduy Dalam yang sangat mudah itu.

2.      Jangan menggunakan sabun, detergen, pasta gigi selama menginap di Baduy Dalam.
            Sungai yang mengalir yang menjadi pembatas Baduy Dalam dan hamparan ladang itu airnya tampak keruh, tapi masyarakat di sana menggunakannya untuk segala keperluan. Mulai dari MCK sekaligus untuk air minum. Tentu saja dengan posisi pengambilan yang berbeda.
            Selain untuk penggunaan masyarakat setempat, aliran sungai tersebut selanjutnya mengalir ke desa-desa setelah perkampungan Baduy.
            Maka, demi kemurnian air agar tidak tercemar zat-zat kimia, masyarakat Baduy Dalam adalah penjaga kemurnian dan kebersihan mata air. Jadi sangat jahat jika kita yang menumpang hanya beberapa malam memaksa menggunakan sabun untuk mandi, dan pasta gigi demi agar mulut tidak bau tapi merusak kebersihan air yang telah mereka jaga selama ratusan tahun.
            Lalu bagaimana orang-orang Baduy Dalam membersihkan diri mereka? Baju mereka?
            Saya hanya melihat mereka menggosok badan mereka dengan sabut kelapa. Tetapi ketika melihat kami mandi menggunakan lerak, salah seorang ibu yang mandi bersama kami tahu tentang lerak dan bagaimana menggunakannya.
            Saat saya tanya bagaimana membersihkan rambut, kata salah satu dari mereka, terkadang menggunakan perasan jeruk nipis supaya bersih.
            Mencuci baju pun mereka hanya menggilas di atas batu tanpa pembersih apa pun. Maka, baju putih mereka jika sudah terlalu lama jadi berwarna kecoklatan.
            Buat kita yang pertama melihat mungkin gemas ingin memandikan anak-anak kecil yang tampak kotor. Tapi bagaimana pun itu adalah kearifan lokal (kebiasaan masyarakat Baduy) yang tidak boleh kita ubah seenaknya.
            Mengajarkan mereka tentang kebersihan boleh-boleh saja, tapi mengubah kebiasaan mereka sebaiknya jangan dilakukan.

3.      Jangan mendekati rumah Puun sembarangan.
            Saya mengalaminya langsung ketika penasaran tentang rumah siapa yang berada paling atas. Ketika saya berjalan naik ada dua ekor anjing yang datang mengelilingi saya, saat saya kembali turun anjing-anjing itu naik lagi ke halaman rumah paling atas. Ketika saya tanya seorang ibu yang lewat, ternyata rumah itu adalah rumah sang Kepala Suku yang tidak boleh dikunjungi tanpa izin.
            Jadi, jika pengunjung ada keperluan dengan Puun, silakan menghubungi perantaranya. Termasuk jika kau datang hendak meminta "air berkhasiat" untuk kesuksesan usaha, awet muda, atau meminta jodoh pada Puun, silakan menghubungi perantaranya terlebih dahulu. Mungkin bagian humas atau asisten pribadi Puun.

4.      Bawalah oleh-oleh yang sehat.
            Kalau berikutnya aturan yang dibuat oleh tim penyelenggara trip. Jadi, anak-anak Baduy Dalam itu sudah sangat ketagihan permen, coklat dan makanan-makanan manis yang akhirnya membuat gigi anak-anak menjadi rusak dan bolong-bolong.
            Selain menimpa anak-anak, masyarakat Baduy Dalam kini sudah mulai ketagihan mie instan. Rasa gurihnya membuat mereka jadi ketagihan.
            Makanan-makanan tersebut biasanya didapat dari para pengunjung yang membawa oleh-oleh. Meski saya lihat ada juga seorang ibu dari Kampung luar yang datang khusus berdagang di sana.
            Dampak makanan-makanan pabrikan tersebut sangat tidak bagus bagi kesehatan mereka. Makanan masyarakat Baduy Dalam yang dibeli di luar hanya beras dan ikan asin. Selain dari itu mereka mencukupkan diri dengan memakan dari tanaman yang tumbuh di sekeliling mereka.
            Saat di sana saya hanya melihat sayuran pakis dan kacang-kacangan, yang tumbuh sendiri atau ditanam. Selain itu penduduk baduy sepertinya tidak terlalu banyak mengkonsumsi sayuran. Tampaknya mereka tak kenal wortel, jagung, dan beberapa sayuran lainnya.
            Jadi meski berat, membawakan oleh-oleh berupa sayuran terutama yang organik sangat disarankan.



            Cerita tentang kunjungan ke Baduy akan berlanjut di episode berikutnya ya. Sementara karena kepanjangan dicukupkan sekian dulu.

3 komentar:

  1. Oo.. Ternyata di sana jarang sayuran ya. Btw foto senjanya cantik banget :)

    BalasHapus
  2. Belum pernah sebenarnya saya ke baduy ini, tapi suatu saat pengen banget melihat kearifan lokal masyarakat setempat.,

    BalasHapus
  3. jadi pengen mampir kesana hehe...

    BalasHapus