Jumat, 08 September 2017

Perjalanan 1438 Hijriah dan Debur Ombak Kabupaten Garut


            Supaya enggak benar-benar lupa, cerita perjalan ketika lebaran Idul Fitri kemarin harus benar-benar diceritakan. Untuk kenangan anak-anak kalau sudah besar, atau siapa tahu ada yang ingin mencoba jalur perjalanan kami kemarin.
            Libur lebaran kali ini berbarengan dengan liburan anak-anak sekolah, jadi kalau dihitung-hitung hari libur anak-anak itu jadi lebih sebentar. Tapi jadi hemat juga, sekalian mudik, sekalian main-mainnya.

            Ada beberapa tempat main di kota Garut, kampung halaman orang tua suami saya. Tapi kita memilih pergi ke pantai karena memang jarang banget main ke pantai, maklum Bogor hanya punya pegunungan, tidak punya lautan :D
            Pantai selatan pulau Jawa dikenal dengan keindahannya, sekaligus dengan ombaknya yang besar, karenanya nyaris setiap liburan ada saja berita wisatawan yang terbawa ombak. Untuk saya dan anak-anak tujuan kita adalah main, main, dan main. Tapi ternyata suami saya berbeda, dia lebih penasaran ke jalur perjalanan yang akan kita lewati.
            Berangkat dari rumah, suami bertekad mengajak kami untuk berpetualang menyusuri jalur pesisir selatan. Niatnya dari Sayang Heulang, Garut, menuju pantai Pelabuhan Ratu, yang sudah masuk kawasan Sukabumi. Saya ngangguk aja, sambil deg-degan karena terbayang bagaimana jauh dan "the lost worl"-nya jalur tersebut.
            Kami mulai berangkat pukul 10 pagi dari kota Garut, dengan perjalanan yang santai dan berhenti beberapa kali, akhirnya kami tiba sekitar jam 3 sore di Pamengpeuk. Perjalanan Pamengpeuk-Garut itu melewati daerah perbukitan, jadi jalannya lumayan berkelok-kelok. Suasana pantai sudah terasa karena mulai banyak pohon kelapa, tapi ternyata jarak kota kecamatan dengan pantainya masih cukup jauh. Sekitar 20 menit kemudian kami baru bisa melihat hamparan laut biru.

            Di kawasan Pamengpeuk terdapat beberapa pantai yang bisa untuk bermain. Yang cukup luas dan sudah tersedia pengawas pantai adalah pantai Sayang heulang dan Sambolo. Keduanya berdekatan, hanya dipisahkan hamparan karang yang digenangi air laut. Karena gerbang masuk pantainya berbeda, bayarnya pun masing-masing. Tapi bayarnya relatif murah, kok.

            Saat itu kami memutuskan main di Sayang Heulang setelah survey terlebih dulu. Di Pantai Sambolo lebih semrawut oleh sampah dan pedagang yang berjejalan. Entah mungkin karena saat itu musim liburan, jadi pengunjung banyak sekali dan tumpukan sampah jadi tidak terkendali.
            Pantai Sayang Heulang itu terdiri dari hamparan karang yang digenangi air. Anak-anak seru main dan nangkap ikan-ikan kecil yang lewat, meski sangat jarang. Cuma agak sakit kalau kita main tanpa memakai sandal, tapi risikonya sandal kita bisa lepas dan terbawa air. Ombak yang besar pecah terkena karang di bibir pantai, jadi air yang menggenangi hamparan karang cukup aman untuk tempat bermain. Tapi tetap bisa merasakan sensasi digoyang-goyangkan ombak.
Hamparan karang digenangi air laut yang jernih
Ceriaaa main air

            Sekarang tentang penginapan. Di sekitar Pamengpeuk banyak penginapan, tapi rata-rata penginapan biasa. Rasanya saya tidak melihat hotel yang besar. Saat itu kami pilih penginapan yang ada di jalan raya pamengpeuk karena khawatir tidak dapat dan kemalaman.
            Setelah memilih penginapan ternyata ada beberapa penginapan tepat di tepi pantai Sayang Heulang. Harganya 2 kali lipat lebih mahal sih dibanding dengan yang di luar kawasan pantai, tapi kita bisa menikmati suara debur ombak di malam hari. Dan pagi harinya bisa langsung berlari ke pantai.

            Hari berikutnya setelah puas main di pantai, kita penasaran dengan pantai Ranca Buaya. Letaknya agak jauh dari Pamengpeuk, sekitar 45 menit perjalanan. Dengan cuaca yang sama, ombak di Pantai Ranca Buaya  tampak lebih tinggi. Dan pantai tersebut hanya indah untuk dipandangi dan foto-foto. Anak-anak kurang aman main di sana karena selain ombak yang besar, terdapat banyak batu karang yang curam dan tajam.
Pantai Ranca Buaya

            Tapi di kawasan Ranca Buaya ini terdapat penginapan yang lumayan besar dengan fasilitas yang lebih baik. langsung menghadap ke laut lepas. Dan, karena kami memilih makan makanan khas lautnya di Ranca Buaya, cukup banyak pilihan kedai ikan bakar. Alhamdulillah kami menemukan kedai yang rasa makanannya tidak mengecewakan. Entah karena lapar berat jadi semuanya terasa nikmat.

Ikan Bakar di Kedai Mang Adi


            Ketika di penginapan, suami saya ngobrol dengan pemilik penginapan, seorang bapak usia sekitar 55 tahunan. Suami  saya ingin mencari informasi tentang jalur perjalanan menuju Pelabuhan Ratu. Dan langsung disarankan untuk tidak menggunakan rute itu karena sangat jauh dan kalau malam gelap.
            Terbayang juga sih ketika lihat peta, dari Garut menuju sukabumi menyusuri tepi laut yang belum pernah kita lewati, rasanya benar-benar meraba-raba dan menegangkan. Padahal yang kami lewati berikutnya tidak kalah menegangkan.
            Si bapak pemilik penginapan akhirnya menyarankan kami menggunakan jalur Cisewu. Jalur yang menghubungkan Ranca Buaya dengan Pangalengan Bandung. Dan akhirnya suami saya pun memutuskan menggunakan jalur itu, mengingat dia berpetualang membawa anak-anak kecil, belum menjadi adventurer sejati.
Laut dari ketinggian


Selama ini hanya mendengar namanya, akhirnya bisa benar benar menginjakkan kaki di Cisewu


            Awalnya jalur yang kita lewati ini indah, bisa melihat laut dari kejauhan, diantara jurang dan perbukitan. Tapi selanjutnya lumayan menegangkan. Jalan yang dilewati cukup sempit, dan banyak sekali tantangan berupa turunan dan tanjakan tanpa pembatas yang kemudian diujungnya belokan tajam.
               Jalur Ranca Buaya - Pangalengan itu menembus pegunungan, kita yang tadinya berada di pantai dengan dataran rendah menuju pegunungan teh di dataran tinggi Bandung. Jadi dapat dibayangkan tebing-tebing dengan ketinggian ekstrim.
            Karena kami kemalaman di perjalanan, dan jarak pandang sangat pendek karena digempur kabut tebal, jadinya sama sekali tidak bisa mengabadikan moment apa pun. Duh sayang banget! Sementara sepanjang jalan kami berdua, saya dan suami, karena anak anak semuanya tidur, sangat tegang karena tidak tahu apa yang kami hadapi di depan. Apakah jalan menurun curam, kelokan tajam, atau jalan menanjak. Semuanya gelap penuh kabut.
            Pastinya, jika hendak melewati jalur tersebut, yakni jalur Garut-Bandung melalui Cisewu- Pangalengan. Kita harus memastikan beberapa hal :
1.      Hitung waktu, jangan sampai kemalaman di jalan. Perjalanan sekitar 3 jam, bisa kurang jika cuaca cerah dan siang hari.
2.      Pastikan kendaraan kita fit. Karena "irama" jalanan benar-benar naik turun drastis.
3.      Pastikan pengendaranya sangat mahir, karena medannya membutuhkan keahlian mengemudi yang tinggi.
            Ketegangan mulai berakhir ketika saya melihat akar-akar teh menancap kokoh dibawah kabut tebal, sementara bagian atas pohonya menghilang tertutup kabut. Perlahan tiang-tiang lampu jalan perkebunan teh tampak satu persatu, lalu rumah-rumah semakin banyak. Dan akhirnya kita kembali ke peradaban.
            Alhamdulillah. Akhirnya, main dengan rute yang sama sekali asing dan menantang ini berhasil kami lewati dengan selamat.  
                   Tulisan ini diikutsertakan dalam collaboration writing yang kali ini idenya tentang wisata daerah yang digagas oleh Shine Fikri. Untuk lebih kenal dengan Shine yang kerap membagi info-info tentang lifestyle dan parenting  silakan kunjungi shinefikri.com/
                    Terima kasih :)



3 komentar:

  1. Garut memang menarik, terutama pantai-pantainya. Pernah sekali ke sana dan pengen datang lagi.

    BalasHapus
  2. Pwrnah sekali k garut, dan sukaaaaa banget. Tp waktu itu aku ga ke lautnya mba.. Di ajak temen malah nikmatin air panas, lupa namanya.. Kalo pantai, yg aku suka biasanya kuliner seafoodnya doang tuh :D. Maklum aja ga bisa berenang dan ga kuat kena panas pantai :p.

    BalasHapus
  3. pengen lama2 maen ke garut. dulu cuma bentar doang n ga puas rasanya

    BalasHapus