Rabu, 19 Juli 2017

Tetangga adalah Kerabat Paling Dekat


            Kali ini saya ingin membincangkan tentang bagaimana sih membangun hubungan antar tetangga. Saya tidak tahu banyak tentang psikologi hubungan antar manusia. Hanya merangkumnya dari pengalaman dan kejadian yang ada dalam kehidupan sehari-hari yang saya alami.

            Ok, saya ingin memulainya dengan sebuah cerita. Saat itu ketika ponsel belum semarak saat ini dan belum banyak orang memilikinya saya menginap di rumah kerabat. Pada pukul 10 malam kami mendengar seorang perempuan menggedor pintu rumah sebelah dengan kencang sambil berteriak-teriak memanggil nama seorang laki-laki.

            Ternyata gadis itu anak perempuan tetangga sebelah kerabat saya. Saat itu orang tua mereka sedang pergi ke luar kota, si gadis pulang kuliah malam hari sementara kakaknya yang laki-laki ada di dalam rumah, di lantai 2 rumah mereka dan ketiduran. Pintu pagar digembok dan pintu rumah pun terkunci dari dalam. Si Gadis memanggil kakaknya agar dibukakan pintu, tetapi si kakak tidak juga terbangun. Sampai kesabaran si gadis habis dan berteriak-teriak seperti orang gila.
            Yang membuat saya heran, tidak ada satu pun tetangga yang datang membantu. Bahkan kerabat tempat saya menginap pun awalnya enggan keluar rumah. Saya tanya kenapa begitu? Ternyata keluarga tersebut adalah keluarga yang tidak pernah bergaul bahkan menyapa tetangga pun tidak pernah, kecuali jika dia disapa terlebih dahulu.
            Keluarga tersebut sudah beberapa bulan tinggal di komplek tersebut, tetapi satu kali pun belum pernah memperkenalkan diri kepada para tetangganya. Bahkan tetangga yang dinding rumahnya menempel dengan rumah mereka, pintunya terlihat dari rumah mereka pun tidak pernah mereka sapa.
            Malam itu berakhir dengan turun hujan dan si gadis tetap berada di luar pagar, sendirian dan hampir tengah malam. Sambil mendengus menaham malas akhirnya kerabat saya keluar rumah dan membuka pagarnya. Mengajak gadis tersebut untuk menunggu di dalam rumah kami. Mungkin karena merasa tidak kenal, malu, tidak pernah saling sapa, tidak pernah berinteraksi karena dikira tidak akan membutuhkan para tetangga si gadis itu menolak.
            Namun hujan semakin besar, petir menyambar-nyambar. Memanggil si kakak yang pasti tidurnya semakin pulas itu sudah tidak mungkin lagi karena berlomba dengan suara derasnya hujan. Akhirnya dengan wajah malu si gadis masuk ke rumah kerabat saya dan akhirnya menginap sampai pagi.
            Saya kira cerita tentang tetangga tersebut selesai sampai di situ. Keluarga tersebut berubah lebih ramah atau lebih "tahu diri". Ternyata tidak demikian, sementara keluarga itu tinggal menetap lama di sana.
            Pada suatu hari kepala keluarga atau si bapak di keluarga tersebut pingsan dengan mata membeliak dan gigi yang terkatup rapat. Anak laki-laki mereka sedang bekerja dan satu-satunya yang bisa mengendarai mobil di keluarga tersebut adalah si bapak yang sedang pingsan.
            Si ibu dan si anak gadis kebingungan mencari bantuan, mereka berusaha menelepon keluarga mereka yang lokasi rumahnya jauh tetapi tetap tidak dapat menolong si bapak dengan cepat. Kedua wanita itu cukup lama kebingungan hingga akhirnya si ibu berlari ke pos satpam dan baru meminta bantuan.
            Pak Satpam langsung sigap meminta bantuan tetangga yang memiliki mobil dan membawa si bapak ke rumah sakit. Di tengah jalan si pemilik mobil sekaligus yang mengendarainya yang juga kebetulan tetangga depan keluarga tersebut berkata. "Saya mendengar suara ribut-ribut dari tadi, saya kira bukan ada yang pingsan. Lagipula ibu bukannya ke rumah saya aja, malah lari nyari satpam." Si ibu hanya mengangguk tanpa mengatakan apa pun.

            Nah teman-teman, dari cerita tersebut kita belajar banyak hal ya tentang bagaimana menjaga hubungan baik dengan tetangga. Suka atau tidak suka tetangga kita adalah kerabat kita yang paling dekat, jika ada musibah yang menimpa kita di rumah yang kita mintai bantuan adalah mereka, bukan keluarga yang rumahnya jauh di luar kota.
            Jika kita menjaga jarak terlalu jauh dengan tetangga, sama sekali tidak saling sapa, maka yang terjadi akan seperti cerita di atas. Kita akan sungkan dan malu meminta bantuan pada para tetangga. Prasangka yang bukan-bukan dari tetangga pun bisa saja muncul mana kala kita sama sekali tidak memperkenalkan diri dengan baik.
            Banyak tips bagaimana menjadi warga baru di suatu tempat, yang paling penting untuk dilakukan adalah :
1.      Wajib lapor pada ketua RT agar tidak disangka penduduk ilegal.
2.      Memperkenalkan diri kepada tetangga. Memperkenalkan diri kepada tetangga terdekat adalah hal berikutnya yang paling penting. Setidaknya tetangga kiri, kanan dan depan rumah yang terlihat dari rumah kita, jika malas terlalu banyak basa basi dengan orang yang belum kenal.
     Ketahuilah, bahwa para tetangga kita wajib tahu siapa nama pemimpin di keluarga kita dan siapa saja yang tinggal di rumah kita. Jangan sampai ada tetangga salah mengira kita sebagai mba dan ART kita sebagai nyonya, terlebih bagi yang biasa berpenampilan dasteran dan apa adanya jika di rumah.
3.      Jangan sok jaim tetapi jangan juga sok akrab berlebihan. Perkenalan adalah satu-satunya kesempatan kita memberikan kesan pertama yang biasanya akan  diingat orang dalam waktu yang lama. Kesan ramah dan jutek akan membentuk opini seseorang tentang kita. Sebenarnya tidak masalah orang akan memberi label kita seperti apa, sepanjang kita tetap menjadi orang baik. Tetapi akan lebih mudah dan menyenangkan ketika kita dikenal sebagai orang yang hangat serta mampu melebur ketika kita berada di sebuah komunitas yang baru.
4.      Mengikuti kegiatan-kegiatan lingkungan rumah. Untuk bisa membaur sebaiknya  memulai dengan ikut kegiatan yang bersifat resmi. Silaturahmi RT, arisan, atau bagi yang muslim pengajian, posyandu, bank sampah dan lain sebagainya. Ajang tersebut salah satu kesempatan untuk mengenali karakter para tetangga untuk membantu kita berhubungan dengan mereka suatu saat nanti.
Keikutsertaan dalam kegiatan lingkungan juga membuat setiap warga semakin akrab. Jika sudah akrab akan lebih mudah untuk saling tolong menolong. Secara perlahan, keikutsertaan kita dalam agenda lingkungan membuat kita jadi lebih peduli pada lingkungan dan pada para tetangga.

Sampai di sini dulu ya cerita-cerita kali ini, minggu depan semoga dapat menulis dengan tema yang sama tetapi mengambil sumber dari sudut pandang Islam. Terima kasih. Semoga bermanfaat.



18 komentar:

  1. Jaman Sekarang serba salah ya kak Adya, ramah sama tetangga dibilang kepo dan genit..heheehe, padahal cuman senyum doang. kalau ada apa-apa minta tolongnya ya sama orang terdekat.

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya, kalau salah sikap suka siartikan salah kaprah. meski lebih banyak yg baik, tapi ada aja yg aneh aneh ya

      Hapus
  2. Tetangga yang nggak mau menyapa dan menutup diri sering bikin ilfil, tapi ga tega juga kalau cuek saat mereka kesusahan. Gimana pun, tetangga adalah saudara terdekat kita.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yuup benar. tetangga itu keluarga paling dekat. kalau rumah udah dibeli, kita bisa aja bertetangga sama meninggal kan yaa

      Hapus
  3. Tetanggaku beraneka ragam, ada yang baik, cemburuan kalau tetangga lain beli seauatu dan lainnya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. rupa ragam manusia ya mba Lis hehe

      Hapus
  4. Ada beberapa tetangga yang kayak gitu. Kalau ajaran ortu sih suruh baik-baikin tetangga kanan dan kiri. Setidaknya untuk menitipkan diri.

    BalasHapus
    Balasan
    1. bener banget, tika. untuk menitipkan diri kita karena keluarga tidak selamanya ada sama kita

      Hapus
  5. Iya, siapa lagi yang menolong jika ada sesuatu kejadian darurat seperti cerita di atas kalau bukan tetangga terdekat.

    BalasHapus
    Balasan
    1. yup benar. dan kita gak bisa memilih dengan siapa bertetangga ya, harus terima suka dan dukanya :)
      thanks for visit, Lianny :)

      Hapus
  6. Duh iya, tetangga ibu saya pernah mau lahiran malam2, untung ada tetangga depan sigap antarin, tetangga adalah saudara, be nice..

    BalasHapus
    Balasan
    1. alhamdulillah ... tetangganya baik baik ya, mba. :)

      Hapus
  7. Bnyk macam tetangga ya mak....tp hrs berkenalan..

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya, benar benar kehidupan nyata yaa, macam macam manusia :)

      Hapus
  8. Tapi itu cerita di atas, memang kelewatan yaa keluarganya.. Cueknya ampun deh ama tetangga.. Ntah cuek, ntah ga tau tata krama bertetangga :p

    Biar gmn memang hanya tetangga yg jd tempat kita pertama minta bantuan sebenarnya.. Walo ga sempet ikut arisan bareng ato apalah, tp at least ama tetangga kiri kanan dulu deh hrs kenal :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya minimal kenal nama dan anggota keluarganya ya, siapa tahu nanti diperlukan :)

      Hapus
  9. aku punya satu tetangga udh kayak keluarga

    BalasHapus