Selasa, 11 Juli 2017

Bersyukur Kunci Kebahagiaan



            "Siapakah orang yang paling berbahagia?"          

            "Dialah yang paling pandai bersyukur."

          Saya lupa kutipan itu saya dapat dari mana, namun yang pasti di dalam Al-Qur'an banyak sekali ayat yang mengingatkan kita untuk bersyukur atas apa pun yang kita miliki dalam hidup. Salah satunya ada di surat Al-Baqarah ayar 152.

“Karenanya, ingatlah kamu sekalian kepada-Ku niscaya Aku ingat pula kepadamu dan bersyukurlah kepada-Ku dan janganlah mengingkari nikmat-Ku.”


            Seseorang dengan hati yang selalu diliputi rasa syukur tidak pernah risau akan apa pun, karena meyakini yang ia dapatkan adalah yang terbaik baginya saat ini. Tetapi, jangan juga terjebak dalam perasaan menerima apa adanya tanpa usaha yang keras. Karena rasa syukur itu seharusnya menghadirkan semangat dan optimisme.
            Kebiasaan memiliki rasa syukur juga menghadirkan pikiran positif, misalnya ketika kita tidak berhasil mendapatkan apa yang kita inginkan,  perlahan muncul pikiran-pikiran positif mengapa kita tidak bisa mendapatkannya. Seperti bisa jadi kita akan mendapatkan hal yang jauh lebih berarti. Atau bisa saja yang kita inginkan tersebut akan mendatangkan keburukan atau bahkan bencana bagi diri kita. Atau yang paling tinggi tingkatannya, bisa jadi yang sangat kita inginkan tersebut Allah tidak ridhoi, karena akan membuat kita lalai atau berpaling dari-Nya.
            Apalagi yang bisa kita lakukan jika Allah tidak Ridho? Segalanya akan sia-sia, bukan?
           
            Ada sebuah peristiwa, terjadi penembakan yang mengenai bahu seorang laki-laki. Korban penembakan langsung rubuh, dibawa ke rumah sakit, dokter melakukan operasi untuk mengeluarkan peluru yang ada di dalamnya, si korban tidak sadarkan diri selama 3 hari, setelah siuman ia masih harus merasakan sakit, dan setelah sembuh harus juga membayar biaya rumah sakit.
            Tetapi apa yang dia katakan, "syukurlah, peluru itu tidak meleset beberapa senti ke bagian bawah. Kalau sampai meleset dan mengenai dadaku, menembus jantungku aku pasti sudah mati."
            Setelah mengalami segala kemalangan itu dia masih mampu bersyukur bahwa ia masih hidup. Masih bisa melanjutkan hidup dengan normal, bahkan dia bersyukur dengan kejadian itu karena dia jadi lebih menghargai hidupnya.
            Kita sering mendengar banyak cerita tentang bagaimana seseorang menjalani ujian hidup namun tetap bersyukur seperti kisah di atas. Di sekeliling kita bertebaran contoh-contoh tentang rasa syukur yang pada akhirnya menghadirkan ketenangan hati.
            Jika seseorang telah mendapatkan ketenangan hati dan pengendalian diri dalam hidupnya, dapat dipastikan dia akan mudah mendapatkan kebahagiaan.

            Uraian di atas adalah kesimpulan saya dari banyaknya hiburan dari teman-teman dan suami saya pasca kalah lomba beberapa bulan lalu. Ketika saya rasanya malu untuk keluar rumah, padahal enggak ada juga tetangga yang tahu saya ikut lomba dan kalah telak. Atau ketika rasanya saya tidak bisa mengangkat kepala di hadapan teman-teman sosmed, padahal berhadapan saling pandang pun tidak.
            Mengaplikasikan rasa syukur dalam kehidupan nyata itu sepertinya mudah, kenyataannya sangatlah berat, terlebih setelah kita menanamkan banyak harapan dari sesuatu yang kita inginkan.
            Menulis dengan tema kebahagiaan dan rasa syukur pada saat ini sebenarnya seperti mencubit diri sendiri, karena setelah lebih dari sebulan saya masih sulit move on.
            Saya masih harus terus mendengungkan semangat setiap saya bangun, bahwa masih banyak pencapaian yang bisa saya raih asalkan saya kembali fokus. Saya memperbaharui terus niat menulis saya setiap pagi, *meski sampai hari ini saya belum menulis lagi, tulisan curhat ini adalah tulisan pertama.* pada waktunya nanti jika saya menulis lagi, saya ingin kembali memulainya dengan menulis untuk kebahagiaan diri saya sendiri.
            Saya lupa kapan terakhir saya menulis dengan rasa lega tanpa terbebani ingin ini-itu, ingin dimuat di media ini dan itu. Mungkin selama ini saya terlalu ngotot, terlalu ingin, dan berlebihan, hingga Allah kurang ridho.
            Pada akhirnya saya harus bisa membedakan mana rasa semangat yang positif dan mana  ambisius yang pada akhirnya menjatuhkan diri sendiri.

            Tulisan ini dibuat dalam rangka colaboration writing dengan grup arisan nge-blog. Bulan lalu Ernawati Lylis mengajak kami untuk menulis dengan tema kebahagiaan.
            Tulisan Erna sendiri yang bercerita tentang suka, suka, suka, dan dukanya menjadi ibu diceritakan panjang lebar di momsinstitute.com. Untuk lebih mengenal Erna, saya pernah juga mengulasnya di sini

            Sekian dulu cerita curhat kali ini, ya. Semoga kita semua mampu menjadi manusia yang lebih bersyukur kepada Tuhan yang Maha Pemberi. Aamiin.

13 komentar:

  1. Setuju si, tiap kali bersyukur, hari yg berat jadi jauh lebih ringan dan bikin pengen makin dekat sm Tuhan :')

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, kalau lagi sadar lalu bersyukur suka tiba tiba merasa malu sama diri sendiri. suka songong dan sombong padahal semua hanya pemberian dan titipan yaa heheh

      Hapus
  2. saya masih nulis yang ada dipikiran Mbak Adya..belum ingin ini itu, sepertinya saya butuh tantangan yaa. Salam kenaaal mbak adya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Salam kenal juga mba Dira, duh nulis konsisten di blog udah sesuatu banget kok mba hehe

      Hapus
  3. saya masih nulis yang ada dipikiran Mbak Adya..belum ingin ini itu, sepertinya saya butuh tantangan yaa. Salam kenaaal mbak adya

    BalasHapus
  4. Aamiiin YRA...saya pun selalu berusaha memulai hari dengan bersyukur..hanya pada-Nya kita meminta mbaaa

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul mba. Manusia mah sering membuat kecewa tapi Allah enggak. :)

      Hapus
  5. Makasi kaka kembar, jadi belajar juga membaca tulisan kaka ini. Bersyukur dan bahagia dua hal yang penting ya mba. thank you kaka

    BalasHapus
  6. Yipi,bersyukurn maka hidup terasa jauh lebih ringan

    BalasHapus
  7. Bersyukur jadi penting untuk bisa mendapatkan kebahagiaan hakiki.

    BalasHapus
  8. Semoga aku juga bisa selalu jadi ibu yg bersyukur aamiin TFS mabk :D

    BalasHapus