Kamis, 01 Juni 2017

Program Sekolah yang Mengajarkan Anak-Anak Tampil Percaya Diri Sejak Dini




            Salah satu alasan saya menyekolahkan ilma di SDIT QA BAITUSSALAM adalah ada beberapa program yang sangat sesuai dengan karakter ilma yang cerewet. Salah satunya adalah adanya agenda QA Perform yang rutin diadakan untuk setiap tema pelajaran.

            QA Perform atau Qurrata'aini Perform adalah acara ajang tampil setiap anak di depan umum. Biasanya pihak sekolah mengundang orang tua murid untuk menjadi penonton supaya suasana lebih meriah. Setiap penampilan berbeda tema dan jenis pertunjukan.
            Semenjak TK, Ilma sudah sering tampil dalam beberapa lomba celoteh anak. Semuanya murni atas arahan guru TK-nya, sesekali saya hanya membantu dengan membacakan keras-keras isi teks untuk dia ingat, sambil bermain atau sambil mandi. Karena melihat Ilma sama sekali tidak terbebani dengan lomba tersebut atau tampil di depan umum, bahkan dia selalu antusias penuh semangat setiap ditunjuk mewakili kelas atau mewakili sekolahnya, maka tidak ada alasan untuk tidak mendukunya. Anggap saja latihan untuk memupuk rasa percaya dirinya.

            Maka, ketika saya menemukan salah satu program di SDIT QA adalah tampil di depan umum saya sangat tertarik. Hal itu sangat disukai Ilma, berharap dapat merangsangnya untuk lebih kreatif.

            Para guru sangat konsisten untuk terus mengadakan QA Perform dengan beragam tema, sampai membuat saya takjub karena bapak dan ibu guru selalu punya ide yang berbeda untuk setiap perform. Bahkan beberapa kali melibatkan para orang tua untuk bersinergi, hingga mau tak mau orang tua harus meluangkan waktu demi agenda sekolah.

            Bagi saya program QA Perform tersebut banyak sekali manfaatnya, baik bagi anak atau pun orang tua. Kurang lebih jika dirangkum sebagai berikut :


1.      Tampil di depan umum mengajarkan anak-anak untuk berani tampil di depan umum.
            Jangan dulu bicara percaya diri, untuk mengawali, berani naik ke pentas atau maju ke depan manakala penontonnya bukan hanya teman-teman sekelasnya saja, bahkan banyak orang dewasa adalah prestasi luar biasa seorang anak kelas 1 SD.
            Untuk anak dengan karakter seperti Ilma mungkin tidak menemukan masalah yang berarti, kendati ada kalanya dia tiba-tiba bersuara pelan dan tampak tidak percaya diri karena berbagai sebab.
            Setelah maju ke depan, perkara si anak akan gugup lantas lupa apa yang harus dia katakan, hanya balik menonton orang-orang yang menontonya, atau bahkan menangis, tidak masalah. Setelah berani tampil yang jelas setiap anak akan belajar dari penampilan dirinya, dan penampilan teman-temannya.
            Dia yang merasa gagal di penampilan pertama, akan lebih menyiapkan dirinya di penampilan berikutnya. Meski masih gugup, setidaknya sudah bisa bicara sepatah atau dua patah kata.
            Saya yakin setiap anak berproses menjadi lebih berani seiring waktu, karena saya ingat betul anak-anak yang ketika penampilan pertama harus dibujuk-bujuk ibu guru, saat ini bisa melangkah dengan penuh percaya diri ke depan.
            Tetapi mayoritas teman-teman sekolah Ilma semuanya anak-anak yang berani tampil.

2.      Tampil di depan umum mengajarkan anak untuk lebih percaya diri.
            Setelah berani tampil, setiap anak diajak untuk berbicara dengan suara yang lantang, suara yang memancarkan keyakinan dirinya.
            Bagian ini memang menjadi salah satu bagian yang cukup panjang karena masih ada beberapa anak yang bicara terbata-bata dan masih terus melihat ke arah pak guru-nya atau ke arah mamanya. Setidaknya, ketika tampil di depan umum, anak-anak tengah belajar mengendalikan dirinya untuk bisa menyelesainya 'show'-nya hingga selesai.
QA Perform dengan tema Pahlawan


3.      Tampil di depan umum merangsang anak-anak untuk lebih kreatif.
             Setiap ada agenda QA perform para guru memberikan tema dan arahan. Jika tema dan jenis 'show'-nya sudah ditentukan, anak-anak hanya tinggal latihan di rumah.  Saya yakin situasi di dalam kelas pun sangat ramai ketika menentukan tema dan jenis 'show' yang akan dibawakan. Setiap anak pasti berebut bicara untuk menyumbang ide.
            Tetapi adakalanya bapak atau ibu guru menyerahkan pada anak untuk menentukan 'show' apa yang mau mereka hadirkan. Dalam hal ini orang tua harus terlibat. Tetapi biasanya saya menyerahkan pada Ilma tentang 'show' apa yang ingin dibawakan. Saat itu si anak berpikir keras tentang apa – apa – dan bagaimana. Si anak mengukur kemapuan dirinya, memilih hal yang paling disukainya.
            Menampilakan hal yang lebih disukai anak, membantu mereka tampil lebih percaya diri. Tetapi memberikan tema yang tidak  dikuasai anak juga akan memberikan tantangan yang menarik untuk mereka taklukan. Saya yakin dengan sifat anak-anak yang penasaran, mereka akan senang hati menerima tantangan itu.
Hasil dari QA Perform kolaborasi anak dan orang tua

Properti saat QA Perform mendongeng. Properti dibuat bersama.


4.      Membantu anak bisa bekerja sama dalam sebuah tim.
            Ada kalanya QA perform tampil sendiri-sendiri, tetapi sering juga tampil per kelompok. Setiap anak dengan gaya mereka yang khas dituntut untuk bisa bekerja sama.       Anak yang ingin serius berlatih akan mengingatkan anak yang terus bermain-main. Biasanya ada anak yang tampil memimpin, mengatur siapa bagian membawakan apa dan siapa yang berikutnya.
            Pada saat perform berlangsung selalu saja ada tingkah lucu anak-anak, tetapi secara keseluruhan mereka selalu bisa tampil baik dan menghibur. Mereka tampil saling mendukung satu sama lain.

5.      Anak-anak belajar untuk menerima kekalahan, dan bersyukur ketika mendapatkan kemenangan.
             Jika di sebuah ajang perlombaan pasti diakhiri dengan pengumuman siapa yang menang, dan siapa yang kalah. Anak dengan karakter seperti Ilma biasanya akan berat menerima sebuah kekalahan. *mirip sama ibunya* kesedihannya akan dibawa sampai ke rumah.
            Di sanalah bagian setiap ibu menyuntikkan kata-kata penyemangat, mengatakan bahwa penampilannya sudah luar biasa hebat karena kamu berusaha dengan sungguh-sungguh dan lain sebagainya. Well, bagaimana pun menghadapi kekecewaan itu bukan hanya harus dipelajari seorang anak sih, orang dewasa pun bisa sulit move on berhari-hari.

6.      Ajang bagi orang tua untuk terlibat agenda sekolah.
            Jika 'show'-nya dirancang seluruhnya oleh pihak sekolah, orang tua hanya tinggal datang dan menonton. Mendukung anak masing-masing sebelum tampil. Bertepuk tangan paling keras ketika anaknya berada di pentas. Setiap anak selalu gembira jika orang tuanya bisa hadir menonton pertunjukannya.
            Namun jika pihak sekolah mengajak orang tua untuk terlibat baik dalam menyusun konsep acara, atau sekaligus tampil bersama di depan umum. Saat itulah kita sebagai orang tua mengerahkan waktu, ide, dan keberanian kita.
            Pada kesempatan QA perform beberapa bulan lalu pihak sekolah membuat tema bebas tetapi syaratnya setiap anak harus tampil bersama orang tuanya, bisa berkelompok atau solo. Karena ayahnya tidak bisa datang, akhirnya mau tidak mau Ilma harus tampil bersama saya.
            Kita berdua sempat bingung hendak menampilkan dongen atau puisi. Akhirnya karena pusii terlalu biasa, Ilma pernah tampil puisi beberapa kali, akhirnya kita berdua memilih mendong. Saat itu kita mengambil cerita dari You Tube milik De Pita, rekan saya.
Ketika akhirnya show berlangsung, setiap anak dan orang tua tampil luar biasa hebat. Anak-anak jadi lebih percaya diri karena tampil bersama-sama orang tua. Saya yakin, akan menjadi kenangan istimewa ketika kelak mereka dewasa. Dari mulai tampil drama, tahfiz dan gerakan Al-Quran dan Hadits, percobaan sains, dan masih banyak lagi.
            Saat itu Ilma yang tahu saya gugup dan tidak pernah tampil, menepuk pundak saya, "tenang, Bun. Performnya bareng-bareng teteh, kok." Saya menyeringai, keadaan kami malah terbalik, bukannya ibu yang menenangkan anaknya, malah si anak yang menghibur ibunya.
QA Perform kolaborasi anak dan orang tua.
Menampilkan drama tentang sahabat Rasulullah



            Kurang lebih itulah manfaat yang dapat saya rangkum dari anak-anak yang terbiasa tampil di depan umum. Jika dirasa lebih banyak manfaatnya, semoga bisa diaplikasikan di lembaga pendidikan lainnya.
            Memupuk rasa percaya diri anak sedini mungkin sangat baik untuk hari depan mereka, setidaknya mereka akan lebih berani ketika berbicara dengan orang lain. Dan harapannya, kelak ketika mereka dewasa menjadi pribadi yang pemberani untuk menyuarakan kebenaran, dapat menjadi penyeru kebaikan dimana pun mereka berada. Dapat menjadi seorang yang profesional di segala bidang, sesuai dengan bakat dan minat mereka. Aamiin

            Sekarang bagaimana dengan anak-anak yang memang diarahkan oleh orang tua untuk mengikuti lomba ini-itu, untuk tampil di depan umum? Sebut saja lomba menyanyi, lomba modeling, casting sinetron atau iklan, bahkan lomba pildacil.
            Beberapa tahun lalu sempat ramai isu mengeksploitasi anak dengan menampilkan anak di acara televisi atau lomba-lomba. Beberapa pakar parenting mengatakan boleh-boleh saja mendaftarkan anak-anak untuk mengikuti lomba sepanjang anaknya menikmati dan tidak ada paksaan sama sekali. Dengan begitu mungkin akan ada potensi anak yang tergali lebih baik. tetapi tetap saja, hak anak-anak adalah bermain. jadi, jangan sampai orang dewasa merampas hak anak-anak tersebut. Semua harus dilakukan sesuai porsi dan sewajarnya, jangan sampai melampaui batas.
            Melampaui batas ketika anak-anak diorbitkan sebagai pencari nafkah dalam keluarga. Alih-alih demi kesenangan anak, malah berganti demi ambisi orang tua. Waktu anak untuk bermain kian sempit, bahkan untuk sekolah, untuk mendapatkan pendidikan yang seharusnya saja mereka tidak bisa dapatkan.


            Tulisan ini dibuat dalam rangka collaboration writing bersama teman-teman, bulan Mei kemarin mengambil tema tentang Pendidikan yang digagas oleh bu Ina Tanaya.
            Tulisan bu Ina yang berjudul Mengejar Ketertinggalan Pendidikan menjelaskan bagaimana tingkat kemajuan Pendidikan di Indonesia, sekaligus memperkenalkan sebuah program untuk mengevaluasi sistem pendidikan di sebuah negara. Program tersebut dinamakan PISA atau Programme for International Student Assesment. Untuk lebih jelas teman-teman dapat membacanya di inatanaya.com. Untuk lebih jelas mengenal siapa bu Ina bisa juga membaca tautan ini.
            Sekian dulu, ya, teman-teman. Semoga tulisan ini bermanfaat.


             


12 komentar:

  1. wah programnya keren! anak2 jadi kreatif dan berani untuk berekspresi

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya alhamdulillah meski agak rempong emaknya hehe

      Hapus
  2. wih mbak, bagus banget ini sekolahnya. Jarang2 loh ada perform yang ngelibatin ortu pula kadangkala. Jadi, setelah tampil sama Ilma, rasanya gmn mbak? Penasaran fotonya padahal :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya ih syedih gak ada yg motoin, agak sungkan minta fotoin orang tua lain. sudahnya merasa legaaaaa hahah ... maklum biasanya berkreasi di dapur aja kita mah

      Hapus
  3. Ilma keren ih berani tampil di depan umum.
    Wah kece sekolahnya. Bisa nih dipertimbangkan utk sekolah anak2 kelak.TFS mbak.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Di Depok banyak sekolah bagus juga ya, Pril. sekolah alam nya tuh pengen banget nyekolahin anak di situ. seru kayanya

      Hapus
  4. dari dulu saya sudah paling demen sama yang namanya aksi. stop teori, start aksi! sedini mungkin harusnya udah didoktrin kepada anak-anak, bahwa tampil di depan umum itu merupakan sesuatu yang asik ;)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah guru gurunya di sekolah ilma tuh kaya gitu mikirnya, ngajarin anak buat PD tampil di depan umum

      Hapus
  5. nilai -nilai positif seperti ini yang hasur selalu ditanamkan ya mbaaa

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya mba, semoga konsisten anak anak, sekolah dan orang tuanya yaa dan terus berkembang ke arah yang lebih baik. aamiin

      Hapus
  6. aksi emang lebih penting ketimbang hanya teori

    BalasHapus