Selasa, 25 April 2017

5 Buku Terbaik Versi Saya

          


         

            Saya lupa kapan pertama kali membeli buku bacaan, mungkin setelah bekerja dan mempunyai uang sendiri. Tetapi jauh sebelum itu saya sudah sangat akrab dengan majalah-majalan remaja. Pada masa saya remaja akhir 90-an *duh, jadi ketahuan tuanya* majalah ANITA dan Annida yang selalu memuat banyak cerpen tampaknya berada pada masa jaya-nya.

            Saya ingat ketika kelas 1 atau kelas 2 SMA, rela tidak jajan beberapa hari demi bisa membeli majalah ANITA, demi bisa membaca cerpen-cerpen yang ada di dalamnya. Karena saya berbakat baperan, seringkali cerpen yang saya baca mempengaruhi kehidupan saya dalam beberapa hari berikutnya, tetapi kemudian perlahan hilang seiring dengan membaca cerpen lain, atau menemukan keasyikan lain.


            Namun, yang saya masih ingat entah tahun berapa, saya membaca cerpen berjudul Istana Pasir, tentang seorang gadis remaja yang berasal dari keluarga sederhana tetapi ingin tampil seperti teman-temannya yang modis dan kaya raya, hingga meminjam baju, sepatu dan lain-lain. Cerpen tersebut mempengaruhi saya bahkan hingga hari ini, untuk tetap menjadi diri sendiri dan tidak ikut-ikutan dalam hal style jika memang tidak mampu atau tidak nyaman.
            Itu salah satu cerpen yang sangat berkesan untuk saya, sayangnya saya tidak ingat siapa penulisnya. Semoga saja, amal kebaikan dari tulisan-tulisannya terus mengalir, ya.
            Setelah selesai era cerpen-cerpen majalah, bacaan saya beralih ke novel, Yup, always fiksi. Entah bagaimana, saya jarang sekali tuntas membaca buku non fiksi, selain buku Titik Nol karya Agustinus Wibowo. Bacaan saya masih sangat sedikit dibanding teman-teman se-komunitas dengan hobi yang sama. Tetapi tentu saya memiliki daftar novel yang paling saya suka, tidak mempengaruhi kehidupan saya secara keselurahan memang, namun seringkali mempengaruhi tulisan-tulisan yang saya buat.

            Untuk menentukan buku apa saja yang paling saya suka atau yang paling berpengaruh dalam kehidupan saya rasanya sangat-sangat sulit. Seperti harus menyisihkan orang-orang yang paling kita cintai untuk memilih satu orang saja. Tapi supaya tidak terlalu berpanjang-panjang, baiklah saya akan bagikan 5 buku/ novel terbaik versi saya sendiri :

1.      Ronggeng Dukuh Paruk


            Tiada lain, tiada bukan. Jika seseorang bertanya buku lokal apa yang terbaik menurut saya, jawabannya tanpa ragu saya selalu menjawab Ronggeng Dukuh Paruk. Saat ini saya membaca lagi entah untuk keberapa kalinya novel ini, dan tetap merasa menemukan sesuatu yang baru. Semacam, "Oh, iya, rasanya yang bagian ini dulu terlewat, atau mungkin sedang tidak konsentrasi bacanya, ya."
            Diksinya, dibanding penulis sastra zaman sekarang memang jauh berbeda dan terasa ketinggalan. permainan katanya biasa saja. Tetapi pak Ahmad Tohari selalu menempatkan kata atau ungkapan yang tepat pada setiap bagiannya. Novel ini memang tidak menawarkan kata-kata yang melangit, tetapi menghadirkan cerita yang teramat membumi. Justru di situlah keistimewaannya.
            Novel ini telah diadaptasi jadi sebuah film dengan judul sang Penari, meski agak kurang sreg dengan pemain utamanya, tetapi secara kesuluruhan film itu cukup berhasil menurut saya.
Hal yang membuat saya suka dari novel ini adalah tentang kesederhanaan dan ironinya. Alurnya sangat kaya, dan setiap bagiannya pak Tohari seperti tidak pernah kehabisan bercerita tentang Srintil. Setiap selesai satu babak, muncul lagi babak baru yang lebih tragis. Begitu seterusnya sampai akhir. Di dalamnya terdapat nasionalisme, kearifan lokal, cinta, putus asa, kehampaan, dan berjuta perasaan yang tumpang tindih ketika membacanya.
            Barangkali, buku itu yang membetot saya lebih kuat untuk menulis novel pada akhirnya. Saya memimpikan menulis novel dengan lokalitas yang kental, tetapi tidak membosankan. Sarat dengan nasihat kehidupan tetapi tersamar dalam adegan-adegan yang sama sekali tidak terasa menggurui.

1.      Kite Runner


            Novel karya Khaled Housaini ini sudah diadaptasi ke dalam film juga, tetapi berhubung novelnya sangat panjang, tapi filmnya hanya seuprit, saya sih nontonnya agak menyesal. Tahu filmnya seperti itu, saya cukup baca bukunya saja.
            Novel ini nyaris sempurna dalam ketidaksempurnaan. Maksudnya, secara tema, alur dan perkembangan alur novel ini luar biasa menggigit. Ada haru, geram, dan kemarahan dalam satu waktu.
            Lantas yang dimaksud ketidaksempurnaan di sini adalah novel ini berhasil dalam penokohannya. Tokoh utamanya bernama Amir dengan karkater pengecut, penakut, dan peragu. Karakter yang jauh dari sempurna, seperti yang biasa digambarkan dalam novel-novel kebanyakan. Karakter Amir digambarkan sangat konsisten semenjak dia kecil hingga dewasa, meski pada akhirnya dia melakukan sesuatu untuk membantu sahabat yang ternyata saudaranya sendiri yang pernah ia fitnah.
            Novel ini berlatar konflik di Afganistan dengan sudut pandang yang sangat Amerika sekali. Wajar sih, mengingat penulisnya seorang Amerika keturunan Afganistan, yang mendengar langsung dari para saksi hidup yang mengalami langsung peperangan demi peperangan di sana.
            Dari novel ini saya kembali merasakan bagaimana menyakitkannya peperangan, kerusakan yang hanya meninggalkan pengalaman buruk dan meruntuhkan seluruh sendi kehidupan. Saya merasa sangat bersyukur tinggal di Indonesia yang tetap damai.

2.      Titik Nol


            Ini adalah buku non fiksi pertama yang saya baca sampai selesai. Itu pun karena dikemas dalam bahasa novel yang nyaman untuk dibaca. Pilihannya katanya indah dan cerdas.
            Buku ini sangat memperngaruhi saya dalam hal sangat menyesal. Karena saya membaca buku ini setelah saya menikah dan beranjak sepuh haha. Bagaimana tidak, buku yang bercerita tentang pengalaman Agustinus Wibowo selama berpetualang dari satu negara ke negara lain mulai yang indah, hingga yang menyeramkan karena terjebak di tengah konflik peperangan ini sangat seru, menantang, dan 'tampak ' menyenangkan.
            Kejadian aslinya pasti tidak seindah bayangan saya, tetapi tetap saja pada akhirnya banyak pelajaran dan pengalaman dari sebuah petualangan.
            Saya merasa sangat ketinggalan untuk memiliki mimpi yang sama, untuk bepergian ke banyak tempat. Memanggul ransel dan meraup kebebasan. Atau setidaknya, saya harus menunggu sampai menemukan waktu yang tepat untuk bisa seperti itu, menunggu anak-anak besar dan mandiri. Bagaimana pun dunia saya saat ini adalah rumah dan keluarga.
            Akhirnya, saya tularkan cerita Agustinus tersebut pada anak-anak saya, bahwa ada seorang lelaki mungil dengan nyali luar biasa besar. Mendatangi tanah-tanah yang jarang tersentuh para petualang. Lelaki yang memeras sari pati hidup dengan cara yang sangat hidup.
            Berharap suatu hari anak anak saya memiliki keberanian dan kemujuran yang sama, karena bagaimana pun berpetualang ke daerah-daerah konflik tidaklah mudah. Melihat Agustinus tetap bertahan dan selamat sampai saat ini adalah hal yang luar biasa harus disyukuri.

3.      Sang Pemimpi


            Siapa yang tidak kenal karya-karya Andrea Hirata dengan karyanya yang fenomenal. Namun, setelah saya setia membaca semua buku beliau dari tetralogi yang paling saya suka adalah Sang Pemimpi. Bukannya buku Laskar Pelangi tidak menginspirasi, tetapi bagi saya buku Sang Pemimpi yang paling bagus.
            Buku ini mewakili masa remaja si tokoh Ikal dengan kehidupan yang keras, sama sekali tidak seperti anak-anak remaja pada zaman sekarang. Buku ini sangat jenaka, sekaligus mengharukan pada beberapa bagian. Saya ingin anak lelaki saya membaca buku ini sendiri, agar dia tahu ada kehidupan keras yang dihadapi dengan riang dan penuh semangat.
            Dari buku Sang Pemimpi saya belajar banyak tentang harapan yang bisa menjadi kenyataan, jika kita fokus dan bersungguh-sungguh. Semoga saja, suatu hari nanti, meski agak terlambat, saya bisa mendapatkan kesuksesan dan kebahagiaan yang sama seperti Arai.

4.      Dear John


            Sebagai pecinta buku dan film romance, rasanya tidak lengkap jika tidak memasukkan salah satu novel romance yang paling saya suka. Sempat bingung, memilih antara Dear John atau Me Before You karya Jojo Moyes, lain kali mungkin saya menyebutkan Me Before You, tetapi saat ini saya ingin mencantumkan Dear John saja dulu.
            Novel ini salah satu novel terbaik yang saya baca karya Nicholas Sparks. Sudah diadaptasi menjadi film juga dengan kesuksesan yang biasa saja, selain pemeran John yang diperankan oleh Chaning Tatum, yang ya begitulah ... mmm tampan maksimal.
            Novel ini sangat mempengaruhi saya dalam menulis kisah romance, tentang alur, tokoh-tokoh yang tidak sempurna, dan yang paling besar saya pelajari adalah tentang sebuah ending cerita.
            Ending cerita seringkali hanya ada dua jenis, happy ending dan sad ending. Tetapi dalam Dear John, Nicholas Sparks mengajarkan bagaimana membuat ending yang sad tetapi menenangkan. Ending yang sad tetapi membuat pembaca luruh, terharu, lantas merasa lega. Semuanya memang dirangkai dalam penokohan John sepanjang alur cerita, membuat saya belajar, bahkan dalam kehidupan nyata untuk membuat keputusan-keputusan yang tidak selalu berpusat pada diri sendiri, seperti yang John lakukan bagi Savannah.
            Quotes : cinta tak selalu memiliki, atau cinta adalah bahagia ketika melihat orang yang kita cintai bahagia, seluruhnya tertuang dalam novel Dear John dengan cerita yang manis dan menyesakkan di beberapa bagian.

            Nah, selesai sudah ulasan 5 buku terbaik versi saya ini. Pada kesempatan lain, semoga bisa lanjut menjadi 10 buku terbaik agar tetap semangat membaca dan mencermati segala hal yang saya baca.
            Tulisan ini dibuat dalam rangka Colaboration Writing bersama-sama genk Arisan Link Dilo, yang saat ini dimenangkan oleh Prita HW yang menantang saya dengan tema Buku yang Paling Berpengaruh dalam kehidupan saya.
            Prita sendiri membuat tulisan dengan tema yang sama tentang ini, seperti biasa tulisan Prita memang selalu luar biasa dan ngangenin, saya sangat rekomendasikan untuk membaca ulasan Prita di pritahw.com
            Mengenal Prita HW lebih dekat bisa juga di sini.
            Baiklah, teman-teman. Sampai di sini dulu cerita-cerita kali ini ya. Sampai jumpa. Salam.
           

           




11 komentar:

  1. Wuaahhh "Sang Pemimpi" itu buku kesukaan saya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Edensor juga suka sih hehe ... tapi karya Hirata ini yg paling saya suka

      Hapus
  2. Ah mbak Adya, bagian terakhirnya itu loh, makasih mbak :) Btw, aku baru Titik Nol aja yg samaan sama mbak Adya nih. Dan, penasaran parah sama pilihan nomor 1 nya, semoga di perpusda Jember ada ya,. Kl penulis fiksi macam Mbak Adya merekom, pasti bagus beneran! Tulisan ini aku suka mbak, mengalir dr awal sampai akhir :*

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ada lagi karya Khaled yang belum saya baca. udah jarang banget di pasaran. judulnya Mountai echoed kabarnya bagus banget juga

      Hapus
  3. Mbak Adya, buku fiksi favoritku karya Mira W. Jalan ceritanya gak ketebak, hihi

    BalasHapus
    Balasan
    1. aduh saya kayanya salah pilih judul yg Mira W. pernah baca yg tema ceritanya gak aku suka. dari situ blass belum pernah baca lagi Mira W

      Hapus
  4. Aku jga suka Sang Pemimpi, membuatku bermimpi banyak hal :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya bener, buku sang pemimpi bikin kita ingat mimpi kita di masa lalu dan berusaha mewujudkannya lagi ya :) great!

      Hapus
  5. wah dapet rekomendasi buku2 keren dari mba adya. ikutin ahh

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hayu mba Inna ... kita baca baca lagi

      Hapus
  6. Terima kasih ulasannya mbak, punya pilihan sendiri pengen baca buka yang mana dari ulasan mbak tersebut. Aku penasaran dengan bukunya titik nol.
    Segera hunting di toko buku :D

    BalasHapus