Jumat, 10 Maret 2017

Siapa Aja, Sih, yang MATI SYAHID itu?


Gratisography.com


            Gara-gara postingan tentang mati syahid terhadap suatu kelompok tertentu yang menjadi viral kemarin. Saya jadi penasaran ingin baca lebih banyak tentang mati syahid. Sayang kalau buat baca sendirian, mending bagi-bagi deh.
            Mati syahid adalah muslim yang meninggal disaat berjuang membela kebenaran di jalan Allah. Mempertahankan hak, melakukan kewajiban dengan penuh keihlasan dalam menegakkan agama Allah.
             Selama ini saya tahunya, mati syahid adalah seseorang yang tewas dalam peperangan karena membela agama Allah atau seorang ibu yang meninggal di saat melahirkan.
            Setelah saya baca-baca, ternyata tidak sesederhana itu. Terdapat dua jenis syahid, yaitu syahid dunia dan syahid akhirat. Syahid akhirat disebabkan pembelaan terhadap agama Allah, sedangkan syahid dunia disebabkan selain oleh hal tersebut.
            Dari Abu Hurairah, Rasulullah bersabda :
            Siapa yang kalian anggap sebagai syahid? Mereka menjawab: “Orang yang dibunuh di jalan Allah, itulah yang syahid.” Nabi bersabda: “Kalau begitu syuhada pada umatku sedikit.” Mereka bertanya: “Siapa sajakah mereka wahai Rasulullah?” Nabi menjawab: “Siapa yang dibunuh di jalan Allah dia syahid, siapa yang mati di jalan Allah dia syahid, siapa yang mati karena tha’un dia syahid, siapa yang mati karena sakit perut maka dia syahid.” Ibnu Miqsam berkata: “Aku bersaksi atas ayahmu, pada hadits ini bahwa Beliau bersabda: “Orang yang tenggelam juga syahid.” 


            Pada laman facebooknya ustazah Irene Handono menyebutkan :
            "Meninggal sebagai syahid itu ada tujuh kelompok selain terbunuh di jalan Allah, yaitu orang yang meninggal karena tha'un adalah syahid, orang yang meninggal karena tenggelam adalah syahid, orang yang meninggal karena dzaat al janbi (semacam tumor di rusuk) adalah syahid, orang yang meninggal karena sakit perut adalah syahid, orang yang meninggal karena terbakar adalah syahid dan wanita yang meninggal dalam keadaan mengandung adalah syahid." (HR. Abu Dawud II/26, Malik I/232-233, An Nasa'i I/261, Ibnu Majah II/185-186, Ibnu Hibban no. 1616, Al Hakim I/352 dan Ahmad V/446, hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al Albani).
            Syahid akhirat seperti yang disebutkan di atas disebabkan oleh membela agama Allah. Maka yang lainnya masuk kategori syahid dunia, diantaranya :
1. Al Mabthun, orang yang meninggal karena penyakit di perutnya
2. Al Ghariq (orang yang mati tenggelam)
3. Al Hariq (orang yang mati terbakar)
4. Orang yang sakit dzatul janbi (semacam penyakit paru-paru)
5. Wanita yang meninggal ketika nifas
6. Al Gharib, orang yang meninggal jauh di luar daerah tempatnya tinggal sehingga ia asing di sana
            Seorang muslim yang mendapatkan kemuliaan syahid mendapatkan kemuliaan yang sama, perbedaannya hanya dalam pengurusan jenazahnya saja. Jika syahid karena peperangan maka dikuburkan dengan darahnya yang melekat dan tidak wajib disholatkan. Sementara yang mendapatkan syahid dunia tetap wajib dimandikan, dikafani, dan disholatkan sebelum dikuburkan.
           
            Seorang mukmin yang mendapatkan kemuliaan mati syahid diampuni segala dosanya oleh Allah dan dimasukkan ke dalam surga-Nya. Tetapi ternyata tidak semuanya muslim yang syahid itu bisa masuk surga, lho, ini ada salah satu hadis yang menceritakannya :
“Sesungguhnya manusia pertama yang diputuskan perkaranya pada hari kiamat adalah seorang laki-laki yang mati syahid. Dia dihadapkan, lalu Allah menunjukkan kenikmatan-kenikmatanNya kepadanya, maka dia pun mengenalnya. Allah bertanya, ‘Apa yang telah kamu lakukan padanya?’ Orang itu menjawab, ‘Aku berperang karenaMu sehingga aku mati syahid.’ Allah berfirman, ‘Kamu dusta, akan tetapi kamu berperang agar dikatakan ‘fulan pemberani; dan itu telah kamu dapatkan.’ Kemudian diperintahkan (agar dia diseret di atas wajahnya). Lalu dia pun diseret di atas wajahnya sampai dicampakkan ke dalam neraka.” (HR. Muslim)
            Nah, lho, sebab utamanya seperti sepele. Hanya karena ingin mendapatkan pengakuan dari orang-orang bahwa dia mati syahid. Kemudian bisa jadi diberi gelar pahlawan yang dibangga-banggakan. Niat berperangnya bukan karena Allah atau karena ingin meninggikan agama Allah. Maka Allah tidak berikan surga untuk seseorang yang tampak syahid padahal bukan.
            Yang tampak syahid di mata manusia saja bisa seperti itu, apalagi amalan-amalan kebaikan yang lebih ringan lalu disusupi takabur atau tidak ikhlas. Aduuuh ... sungguh kita hanya bisa mengandalkan pertolongan Allah dalam hal apa pun, bahkan dalam menjaga niat.
            Selain itu, seorang muslim yang mendapatkan kemuliaan dalam mati syahid dosa dan kesalahannya akan diampuni oleh Allah SWT, namun Allah tidak menghapus hak manusia lain yang masih tersangkut kepada orang yang syahid tersebut.
            Rasulullah bersabda : “Orang yang mati syahid diampuni semua dosa kecuali hutang."
            Hadis tersebut menyatakan bahwa Allah tidak menghalangi seorang mukmin untuk mendapatkan kemuliaan mati syahid meski orang tersebut memiliki sangkutan dengan sesama manusia. Dan sebaliknya, adanya hak orang lain pada seorang muslim tidak dapat dihapus dengan pahala mati syahid sekalipun.
            Duh, yaa ... jangan main-main deh dengan hutang. Terbawa sampai mati.

Syarat-syarat seseorang dapat dikatakan mati syahid
            Mati syahid adalah cita-cita semua muslim. Suatu anugerah yang sangat mulia yang diberikan Allah bagi hambanya yang terpilih. Selain mendapatkannya sulit, mati syahid itu membutuhkan banyak pengorbanan termasuk jiwa dan raganya tersebut.
            Tetapi, seseorang yang seperti disebutkan di awal tadi (golongan-golongan orang yang mati syahid) tidak bisa begitu saja dikatakan mati syahid. Ada syarat-syarat tertentu, lho.
            Jadi maaf-maaf, ya, kalau ada yang terkena kolera atau perempuan meninggal saat melahirkan tapi dia tidak beriman kepada Allah, nah yang demikian itu enggak bisa dimasukkan ke dalam kelompok orang yang mati syahid.
Syarat-syaratnya diantaranya adalah
  1. Syarat utama tentu saja beriman kepada Allah dan mengikuti sunah Rasullullah.
  2. Tidak berbuat syirik atau musyrik atau menyekutukan Allah. Perilaku demikian akan membatalkan seluruh amal kebaikan. Misalkan, kamu ikut berperang membela agama atau membela negara, tapi kamu memakai jimat atau keris pusaka untuk melindungi kamu supaya tidak terkena tembak, kamu benar-benar percaya jimat tersebut bisa melindungi. Tapi ternyata kamu tertembak dan meninggal. Nah, enggak bisa tuh mendapatkan kemuliaan mati syahid, karena tidak berserah diri seluruhnya pada Allah, malah percaya pada jimat agar bisa melindungimu. Duh, sayang banget, kan.
Tercantum dengan jelas dalam surat Al-Kahfi ayat 110
“Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, hendaklah dia mengerjakan amal soleh dan janganlah dia menyekutukan apapun dalam ibadat kepada Tuhannya.”

Selain syarat-syaratnya, ada juga halangan seseorang bisa mendapatkan syahid, diantaranya :
1.      Rasulullah pernah bersabda :  “Imam adalah perisai, kaum muslimin berperang di belakangnya dan berlindung dengannya. Jika dia memerintahkan untuk bertakwa kepada Allah SWT dan berlaku adil, maka dia mendapat pahala kerana itu. Tetapi jika dia memerintahkan berbuat maksiat, maka dia memperoleh dosanya.” (Riwayat Muslim)
Dapat diartikan dengan pergi berperang tanpa seruan pemerintah muslim. Hal tersebut dapat menjadi penghalang seseorang mendapatkan syahid
Siapa pemerintah muslim itu?
Ibnu Taimiyah berkata, “Jihad hanya diseru oleh pemerintah yang mengurus urusan kaum Muslimin.” (Minhaj Al-Sunnah). 

2.      “Barangsiapa yang berperang dibawah panji yang tidak jelas, marah kerana kelompok atau mengajak kepada kelompok atau menolong kerana kelompok lalu terbunuh maka dia terbunuh seperti terbunuhnya orang jahiliah. Siapa yang memberontak dari umatku, membunuh yang baik dan yang fajir dan tidak mempedulikan kemukminannya serta tidak menunaikan janjinya kepada orang yang dijanjikan maka dia bukan dariku dan aku berlepas diri darinya.” (Riwayat Muslim)
Berperang di bawah seruan selain pemimpin muslim yang syah, dalam bentuk kelompok-kelompok yang disebabkan kemarahan.

3.      Syaikh Muhammad Bazmul berkata: “Adalah tidak benar bagi orang yang keluar berjihad dengan tujuan mendapatkan syahid (keluar berjihad untuk mati). Sebaliknya hendaklah dia keluar dengan tujuan untuk meninggikan kalimah Allah (yakni untuk menang) dan jika dia mendapat syahid itu adalah kemuliaan dari Allah untuknya. Dan jika dia tidak mendapat syahid, dia pulang dengan pahala dan harta rampasan. Sebahagian orang ingin membunuh dirinya tetapi mereka tahu bahawa membunuh diri tidak dibenarkan. Maka dia keluar berperang dan dia hendak dibunuh. Dia menyangka dengan cara ini dia akan mendapat ganjaran syahid.
Setiap menghadapi peperangan kaum muslimin selalu melakukan persiapa-persiapan. Seperti latihan fisik, mempersiapkan baju besi, mempersiapkan senjata dan kendaraan. Maksudnya tentu saja agar para tentara Allah tetap selamat untuk meninggikan bendera Islam, untuk membela Islam di kemudian hari. Tetapi tentu saja pergi berperang dengan niat syahid karena Allah Ta'ala tetap disyariatkan.
Salah satu hadis mengatakan : Allah menjamin bagi orang yang keluar di jalanNya; tidaklah dia keluar kecuali kerana ingin berjihad di jalanKu, dan dia beriman kepadaKu dan membenarkan para rasulKu, maka Aku menjamin akan memasukkannya ke dalam syurga atau mengembalikannya ke rumahnya dengan membawa kemenangan berupa pahala dan harta rampasan perang.” (Al-Bukhari dan Muslim)


4.      Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa membunuh seorang mu’ahad (orang kafir yang ada perjanjian), maka dia tidak akan mencium bau syurga dan sesungguhnya baunya dapat tercium dari jarak perjalanan 40 tahun.” ( Al-Bukhari)
Tidak boleh memerangi kelompok kaum kafir yang memiliki perjanjian dengan kaum muslim, kecuali jika kaum kafir tersebut berkhianat.
5.      Seorang lelaki mendatangi Rasulullah untuk ikut berjihad, lantas Rasul bertanya : “Adakah kedua orang tuamu masih hidup?.” Dia menjawab: Ya. Baginda bersabda: “Jika begitu, berjihadlah untuk kedua orang tuamu.” (Bukhari dan Muslim). 
Dalam riwayat lain terdapat tambahan, “Pulanglah dan mintalah izin kepada mereka. Jika mereka izinkan maka berjihadlah. Jika tidak, berbaktilah kepada mereka berdua.” (Riwayat Ahmad dan Abu Daud)
Pergi berperang atau berjihad harus dengan izin orang tua, karena berbakti kepada orang tua sama mulianya dengan berjihad.

Bagi orang-orang yang masih hidup ada sebuah pesan tentang menjuluki seseorang tentang syahid.
             Imam Al-Bukhari membuat satu bab dalam Sahihnya: “Bab Tidak Boleh Mengatakan Si Fulan Syahid”. Berdasarkan hadis  “Perumpamaan seorang mujahid di jalan Allah, dan Allah lebih tahu siapa yang berjihad di jalanNya.” (Bukhari)
             Dikarenakan setiap niat setiap manusia tersembunyi di dalam hati masing-masing, hanya Allah yang maha mengetahui niat seseorang disaat pergi berjihad.
            Tetapi, jika pada satu peristiwa peperangan terdapat seseorang yang secara kehidupannya baik dan beriman kepada Allah dan Rasulullah, kemudian tewas dalam jihad fii sabilillah. Siapa pun yang ada di sekelilingnya mendoakan dia syahid, tidak berburuk sangka tetapi tidak juga menghukumi bahwa beliau syahid. Orang-orang yang berada disekelilingnya hendaklah memperlakukan jenazah tersebut dengan hukum-hukum yang biasa diterapkan kepada para syahid. Dikubur dengan darah di bajunya, tanpa mensholatinya.

            So' di zaman sekarang, yang jauh dari peperangan, (perang di sosmed yang ada, tapi enggak masuk kategori, deh, kayanya) apakah kita semua bisa mendapatkan mati syahid?
            Bisa banget, sepanjang syarat-syaratnya dimiliki oleh kita semua. Peluang jihad tersebar luas, syaratnya niat karena Allah dan ikhlas.

Dari Ibnu Umar Radhiallahu ‘Anhuma, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda
“Barangsiapa yang dibunuh karena hartanya, maka dia syahid.”

Dari Sa’id bin Zaid Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
 “Barangsiapa yang dibunuh karena hartanya maka dia syahid, barangsiapa dibunuh karena agamanya maka dia syahid, barangsiapa yang dibunuh karena darahnya maka dia syahid, barangsiapa yang dibunuh karena membela keluarganya maka dia syahid.”
Nah kan, kelompok mati syahid itu banyak sekali. Tinggal berdoa sama Allah semoga kita syahid dan Husnul Khotimah. Aamiin

 Wallahualam

Tulisan ini dirangkum dari beberapa sumber :
1.      Bersamadakwah.net
2.      Islamqa.info
3.      Ustazfathulbari.wordpress.com

4.      PF Irena Handono




2 komentar:

  1. Umaro insya Allah Al-Ghariq ��

    BalasHapus
    Balasan
    1. aamiin ... insya allah, pita. umaro masih suci tak ternoda.

      Hapus