Selasa, 28 Maret 2017

Cerpen Obsesi Raras di Tabloid Nova



            Alhamdulillah ahad beberapa pekan lalu dapat kabar baik, cerpen yang sudah sangat-sangat lama saya kirim ke tabloid Nova akhirnya dimuat. Saya sendiri sampai lupa kapan megirimkan cerpen ini, dan bagaimana kisah cerpen ini. Hingga ketika saya membeli tabloidnya dan membacanya lagi, seperti seseorang yang belum pernah membaca cerpen ini sebelumnya. Lalu berujar, "Oooh, iya cerita yang iniiii."
            Iya, begitulah. Bukan karena saking banyaknya cerpen yang saya tulis, karena biasanya kalau sudah dikirimkan ke media saya lupakan saja begitu supaya tidak terlalu berharap. Lalu ketika dimuat jadi kejutan yang manis.
            Cerpen ini terinspirasi dari seseorang yang maniak dengan kerapihan, hingga anak-anaknya sangat dibatasi dalam bermain di dalam rumahnya. Hingga dia selalu mengeluh letih karena tidak berhenti beres-beres rumah. Ketika saya menyarankan untuk cuek, alasannya tidak betah lihat rumah berantakan.

            Saya belum sempat riset tentang pribadi perfecetionis atau OCD yang kemungkinan diidap oleh seseorang yang maniak dengan kerapihan tersebut, tapi menurut saya jika obesesinya sudah sangat mengganggu kebahagiaan hidupnya, orang itu butuh bantuan. Pesan itu yang saya coba sampaikan dalam cerpen ini.  
            Selamat membaca.


OBSESI RARAS

Adya Pramudita

Sebuah rumah bagi Raras adalah seluruh dunianya yang terkumpul menjadi satu. Dia tidak menginginkan hal yang lainnya. Bertamasya keluar kota, membeli barang-barang mahal, atau perhiasan yang banyak.
            Kalau pun ada yang ingin ia beli adalah barang-barang untuk melengkapi rumahnya yang berukuran 120 meter per segi.
            Di sepanjang jalan perumahannya, semua orang tahu rumah keluarga Windarto adalah rumah dengan taman paling indah. Rumah dengan teras dan kaca-kaca paling mengilap. Bersama dua orang anak laki-laki berusia 7 dan 4 tahun, keluarga itu selalu tampak sempurna dari luar pagar rumah mereka.
            Minggu pagi ini adalah awal dari segala dunia Raras yang mulai berubah. Windarto duduk di kursi teras dengan secangkir kopi yang telah dingin. Memandang iba kedua putranya yang harus duduk di atas sofa tanpa boleh turun sebelum lantai yang baru dipel ibu mereka kering.
            Adam, putra bungsu mereka meminta Windarto menurunkan kotak mainan dari atas lemari setelah lantai benar-benar kering. Musa, kakaknya kemudian bergabung dan mulai mengeluarkan balok-balok kayu.
            Raras datang dengan serbet di tangannya, menarik napas dalam ketika melihat ruang tengah kembali berantakan.
             Raras berjongkok di samping kotak mainan. Seperti gerakan robot, ia memasukan setiap benda yang tergeletak. “Ibu, aku masih mau mainan itu. Jangan dulu dibereskan.” Pinta Adam.
            Raras mengaduk kotak mainan lantas memberikan satu buah mobil mainan yang berukuran kecil. “Main yang ini aja. Yang lainnya berantakan.”
            Adam merajuk sambil mengatakan ia tidak ingin main hotwheel, ia ingin main gedung bertingkat bersama kakaknya. Musa melemparkan balok ke dalam kotak mainan, menatap Raras tajam.
            Windarto menatap pemandangan yang nyaris selalu berulang setiap hari. Raras yang mengharuskan rumah selalu rapi, hingga merenggut waktu-waktu bermain anak-anaknya.
Raras yang tidak pernah lelah merapikan semua barang yang tidak menempati posisi yang benar. Raras yang terlalu terobsesi dengan kerapihan. Hingga satu helai rambut yang terbang dan menempel di lantai atau meja akan membuatnya gelisah sepanjang hari.
            Belum satu jam Windarto terlelap setelah mengerjakan desain interior yang harus selesai besok pagi, ketika suara-suara di dapur sudah terdengar. Ia meraba bantal di sampingnya dan tidak menemukan Raras di sana. Matanya memicing lalu mengutuki pukul 3 dini hari tapi Raras sudah bangun dan memulai pekerjaannya.
***
            “Apa kamu tidak pernah lelah, Ras?”
            Raras menggeleng sambil menyiapkan bekal makan siang anak-anaknya, menyusun irisan wortel dan jagung di kotak makan.
            “Segalanya sudah sangat mengganggu, Ras. Apa kamu tidak sadar betapa Musa selalu kesal padamu setiap dia ingin bermain tetapi mainannya hanya kamu simpan di atas lemari dengan alasan berantakan.”
            Windarto berdiri, tidak menghabiskan sarapannya. Mata Raras menatap tajam pada remah-remah nasi goreng yang berjatuhan di dekat piring.
***
            Raras termenung menatap ponselnya. Windarto baru saja menghubungi dirinya dalam perjalanan menuju ke kantor. Setelah menolak sarapan, anak-anak mereka menolak pergi ke sekolah dalam perjalanan berangkat.
            “Musa dan Adam ingin pergi ke rumah eyang.” Jeda beberapa menit sebelum Windarto melanjutkan. “Tanpa kamu.”
            Tiada lagi yang lebih menyakitkan dari ditolak keberadaan seorang ibu oleh anaknya sendiri. Bulir-bulir air mata Raras menetes pelan dalam pagi hari yang senyap.
            Rumah yang rapi tanpa debu sebutir pun. Wangi aroma terapi dari cairan pembersih lantai. Segalanya meringkus Raras dalam kesedihan.
            Bagaimana bisa menjadi rajin dan teratur adalah sebuah kesalahan? Bagaimana bisa mencoba menghadirkan rumah yang sangat layak dihuni justru ditinggalkan para penghuninya?
            “Jangan menunda pekerjaan, bereskan semuanya!” Raras mencoba mengingat-ingat masa lalunya. Yang pertama muncul ke permukaan adalah kalimat yang kerap diucapkan neneknya. Perintah yang membuat Raras diliputi rasa cemas jika belum membereskan pekerjaan rumah tangga, yang membuat Raras takut jika ada benda yang miring dan salah tempat.
            Windarto pernah mengingatkan beberapa kali, tentang Raras yang pencemas hanya karena sebuah baju kotor yang terlambat dicuci. Raras yang terlalu hobi beres-beres hingga memakan hampir seluruh waktunya.
            Raras selalu merasa ia tetap menjadi ibu yang bertanggung jawab. Menyediakan makanan sehat untuk anak-anaknya, menyediakan rumah bersih dan rapi yang layak ditempati anak-anaknya.
            “Anak-anak tidak mengharapkan ibunya menjadi seorang robot yang diprogram hanya untuk bersih-bersih. Mereka butuh kamu untuk bermain, untuk mendengar setiap cerita yang mereka bawa pulang.” Jelas Windarto suatu hari, dan Raras masih menyangkalnya, bahwa segala yang ia lakukan demi kebaikan anak-anaknya.
            Raras memeriksa setiap sudut rumah, memastikan semua bersih. Membuka lemari, memastikan baju-baju tersusun rapi. Lantas merendam baju yang barusan ia pakai sebelum mandi, mencucinya dan langsung menjemurnya.
            Tidak meninggalkan baju kotor terlalu lama adalah sebuah ritual yang akan membuatnya merasa bersalah jika tidak melakukannya.
            Setelah mengunci pintu pagar Raras berdiri di depan rumahnya beberapa menit, mengingat-ingat apakah ada pekerjaan yang terlewat, sambil memadang rumpun mawar dan hamparan rumput yang bisa saja ada daun kering yang belum dibuang.
            “Mas Win?”
            Raras terkejut ketika melihat mobil suaminya mendekat. Ia naik setelah Windarto mengatakan kalau ia cuti hari ini. Raras tidak berani untuk bertanya perihal anak-anaknya, karena dia tahu suaminya akan kembali mengingatkan agar ia tidak menjadi ibu yang kaku dan terobsesi pada kerapihan rumah semata.
            Mobil yang dikendarai Windarto masuk ke sebuah klinik, lelaki itu menjelaskan tentang seorang psikolog yang bisa mengurangi rasa cemas Raras terhadap apa pun.
“Aku tidak sakit. Aku tidak gila, mas.” Ucap Raras lirih, ia merasa terluka dianggap sedemikian anehnya oleh suami sendiri. Jika saja neneknya masih hidup, seharusnya Windarto mengenal wanita yang membesarkan Raras itu. Mengetahui bagaimana rumah mereka harus selalu rapi dan setiap barang harus tersusun teratur.
“Tidak seorang pun menganggap dirimu gila, sayang. Hanya saja aku kasihan melihatmu selalu cemas tentang kerapihan rumah kita. Jujur, aku mulai tak sabar ketika kamu bisa marah hanya karena sebutir coklat chip yang jatuh dan setitik mengotori lantai.”
Raras menggeleng, ia menolak untuk turun. Jika masalah mereka ada pada kebiasaan Raras dalam menjaga rumah, maka ia akan mencoba berkompromi dengan dirinya sendiri untuk mentolerir semua keadaan.
Maka, siang itu mereka berdua kembali ke rumah. Windarto tidak segera menjemput anak-anak. Selama dua hari hanya dirinya dan Raras yang ada di rumah.
Pada hari ke tiga Raras meminta Musa dan Adam diajak pulang, karena ternyata rumah bersih yang terjaga begitu kosong tanpa nyawa ketika celoteh dan teriakan riang anak-anak hilang dari dalamnya.
***
            Selama satu pekan Musa dan Adam memiliki rumah yang selama ini mereka impikan. Memasang rel kereta sepanjang ruang tamu hingga ruang makan. Membangun gedung di depan sofa dengan balok warna-warni. Mengudap makanan di sofa sambil bercerita. Hal itu terjadi sepanjang hari. Seketika rumah yang menjadi dunia Raras itu kembali hangat. Windarto teramat lega melihat tawa ceria di wajah anak-anaknya setiap ia pulang bekerja.
Lantas diam-diam, tanpa suara sedikitpun, pada tengah malam Raras merapikan semua mainan dan mengelapnya dengan serbet. Sebelum semua terbangun, Raras kembali memasang rel kereta api dan balok-balok kayu warna-warni di tempatnya semula.
            Raras hanya ingin melihat rumahnya rapi sejenak, tanpa siapa pun mengeluh atau protes. Kegiatan diam-diam itu membuat Raras hanya bisa tertidur satu jam saja setiap harinya.
            Tepat ketika Adam mengajak tiga orang temannya bermain ke rumah, dengan bekas telapak kaki yang tertinggal di lantai. Raras mulai merasakan sakit di dadanya, kemudian setiap melihat benda yang tergeletak di lantai, melihat posisi buku di rak yang miring, Raras merasakan sakit yang kian bertambah. Rasa sakit yang menjalari sekujur tubuhnya.
            Bersamaan dengan itu Windarto harus pergi ke luar kota untuk urusan pekerjaan. Sementara Raras semakin sakit dan lemah, rumah mereka semakin berantakan. Satu benda yang terserak adalah satu hujaman kesakitan.
            Musa dan Adam akhirnya sadar ibu mereka tidak sedang baik-baik saja. Maka ketika ayahnya menelepon, Musa berkata, “ibu sakit, tapi tidak bilang sakit apa.”
            Raras menyangkal ketika Windarto bertanya, bahwa ia hanya demam biasa. Musa dan Adam perlahan merapikan mainannya setiap selesai bermain, menyimpannya di dalam kotak dan mendorong kotak tersebut ke belakang pintu. Namun tetap saja, kerapihan versi mereka adalah kerapihan yang berbeda dari standar Raras. Maka rasa sakit Raras tidak berkurang sedikit pun.
            Windarto terkejut ketika pulang ke rumah, mendapati bobot tubuh istrinya yang jauh berkurang. “Aku tidak pernah lihat ibu makan.” Celoteh Adam.
            “Apa yang kamu rasakan?” Tanya Windarto pada Raras yang terbaring lemah.
            Raras menggeleng dengan sisa-sisa tenaga. Ia masih ingin mengungkapkan semua baik-baik saja, namun keadaan dirinya telah menjelaskan segalanya.
            Windarto termenung cukup lama setelah mengantar kedua anaknya untuk tidur. Rasa bersalah menggumpal di dadanya karena membuat Raras menderita. Ia sama sekali tidak pernah menyangka obsesi Raras pada rumah yang rapih dan terjaga sedemikian besar, hingga merenggut semangat hidupnya.

            Pagi hari Windarto membantu Raras untuk bangun dan menyuapi beberapa sendok bubur. Suara-suara di samping rumah terdengar gaduh, Raras bertanya melalui tatapan matanya.
            “Aku meminta izin untuk menggunakan taman samping rumah, ya. Aku ingin membuat paviliun.” Windarto memperbaiki letak rambut Raras yang jatuh di dahi.
            Raras menelan bubur dengan sekuat tenaga. Seiring melawan suara di hatinya sendiri yang seolah mempertanyakan rumput-rumput, bunga terompet dan rumpun mawar yang pasti akan dipangkas habis. Raras mengangguk dengan seulas senyum.
            Selama satu pekan sementara paviliun terus dibangun, Windarto membawa Raras dan anak-anaknya menginap di rumah orang tuanya. Ia tidak ingin Raras terganggu oleh debu, suara bising, dan yang pasti oleh kekacauan yang terjadi di teras rumah mereka.
            Di dalam perjalanan kembali ke rumah, Raras menggenggam tangan Windarto seraya menatap suaminya dalam-dalam. “Aku tidak tahu akan bisa bertahan sampai kapan menahan ini semua. Maka, aku merasa aku membutuhkan bantuan.”
            Dahi Windarto mengerut. Apakah pembangunan paviliun, untuk memisahkan area bermain anak-anak, dengan rumah utama agar Raras bisa leluasa mengatur seisi rumah tanpa beban masih kurang?
            “Tolong antar aku ke klinik yang tempo hari mas Win membawaku.”
            Seketika awan mendung yang kerap mengisi pikiran Windarto menjadi lenyap dan terang benderang. Ia segera menginjak pedal gas lalu berbelok ke arah klinik.
            Satu jam kemudian Windarto dan anak-anak menatap penuh harap pada pintu berwarna coklat tua, tempat ibu mereka masuk beberapa menit yang lalu.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar