Jumat, 17 Februari 2017

Bijaksana Memperkenalkan Gadget Pada Buah Hati

Gambar dari Pixabay

Bismillahirrahmanirrahim

Hari Rabu tanggal 16 Februari 2017 kemarin, saya menghadiri kajian parenting yang diadakan sekolah Ilma. Sebenarnya yang mengadakannya Parenting Club-nya sih, tapi karena sama-sama berada di yayasan yang sama, orang tua siswa secara otomatis jadi anggota parenting club tersebut. Tapi orang luar atau yang bukan orang tua siswa juga bisa daftar untuk mendapatkan informasi tentang kegiatan parenting di sana.

Kebetulan kelasnya Ilma dapat giliran untuk jadi panitia, dan saya ditunjuk jadi notulen. Dipikir-pikir, dari pada catatan ini hanya disetorkan ke grup orang tua, supaya lebih mudah dicari, dan mudah-mudahan bermanfaat bagi lebih banyak orang lebih baik saya posting aja di blog. Begitu. Berikut catatan saya ketika menghadiri parenting tersebut.

Parenting day
Qurrata'ini Parenting ClubPemateri : Kak Sinyo Egi


Usaplah Gadgetmu Untuk Keluargamu



Kak Sinyo Egie

Agenda parenting kali ini sebenarnya membedah buku dengan judul yang dipakai sebagai judul parenting day kali ini. Tetapi, ulasan yang disampaikan Kak Sinyo hanya sebagian kecil. Lebih banyak ke cara penerapan dalam keluarga dan penanggulangannya.
Sedikit ulasan bukunya, nanti di akhir aja, ya.

Sebelum orang tua menerapkan aturan dalam pemakaian gadget pada anak-anak, orang tua sendiri harus terlebih dahulu mampu mengendalikan diri dalam kebutuhan atau ketergantungannya terhadap gadget.

Gadget termasuk ke dalam tekhnologi, dan pada dasarnya kemajuan tekhnologi selalu netral. Bagaiman seseorang dapat memanfaatkannya ke arah positif atau negatif. Tekhnologi akan terus berkembang seiring kemajuan zaman.

Berikut nila-nilai positif dari tekhnologi dalam hal ini adalah gadget :

1.      Mengasah kreatifitas dan pengetahuan. Contohnya : aplikasi Go-jek, Grab-bike, yang semuanya bermula dari kemudahan tekhnologi.
2.      Penyaluran emosi. Contohnya : anak-anak yang main game tengah menyalurkan emosi dalam hal kompetisi. Atau orang dewasa yang suka menonton film atau pertandingan olahraga, yang menimbulkan perasaan bahagia, tegang dll, merupakan penyaluran emosi.
3.      Interaksi-kompetisi. Pada dasarnya setiap manusia bersifat egois dan suka berlomba-lomba. Dalam hal ini anak-anak dapat diarahkan dalam fastabiqul khoirot (berlomba-lomba dalam kebaikan)
4.      Skill Motorik – bahasa. Comtohnya : dibeberapa negara sudah menerapkan pengobatan dengan cara main game untuk penderita parkinson, untuk melatik syaraf dan dan gerakan motoriknya.
Ada juga pengobatan untuk terapi psikologis dengan menggunakan game yang seolah-olah seseorang memiliki hewan peliharaan.

Berikutnya nilai-nilai negatif dari tekhnologi atau gadget :

1.      Kehilangan fokus : anak akan mudah kehilangan fokus karena rangsangan dari gadget atau televisi ada 5 rangsangan. Antara lain cahaya, warna, suara, gerakan. Sementara dari stimulus orang tuanya hanya suara saja misalkan.
2.      Penurunan fisik, mental dan radiasi : hal ini dikarenakan seseorang kurang bergerak
3.      Cheat (menipu – curang)
4.      Melakukan perbuatan yang sia-sia (wasting time)

Para pengguna gadget dapat dikategorikan :
     Normal : jika seorang anak dapat melewati hari tanpa gadget atau tanpa teknologi dengan normal dan baik-baik saja.
-          Kecanduan : Jika anak gelisah ingin segara menggunakan gadget
-        Maniak : Jika anak sudah berani melakukan pelanggaran demi bermain game atau demi menggunakan gadget

Tetapi, tetap saja tidaklah bijak jika orang tua membatasi teknologi terlalu ketat yang akan menyebabkan anak-anak terkejut ketika mengetahui dunia di luar mereka. Mau sampai kapan orang tua membuat lingkungan anak steril, karena pada suatu waktu mereka akan menemukan tekhnologi tersebut seiring usia mereka.

Yang harus dilakukan orang tua adalah mencegah anak agar tidak kecanduan terhadap gadget. Dengan cara membuat peraturan yang disepakati. Dan tentu saja, orang tua harus turut patuh dan tidak boleh melanggar.


Pencegannya diantaranya :

1.      Anak di bawah 2 tahun maksimal menggunakan gandget 2 jam selama 1 minggu. Artinya 15 per hari.
2.      Anak di atas 2 tahun maksimal 2 jam sehari.
3.      Kenalkan anak-anak pada dunia nyata sejak dini. Secepatnya kenalkan anak-anak pada lingkungan, pada kondisi keluarga, dan kondisi ayah dan ibunya.
4.      Pola 6 plus 3 tahun (rentang) --- sesungguhnya saya enggak faham ini maksudnya apa hehe ...
Tapi kurang lebih artinya, orang tua jangan memutus imajinasi anak-anak dengan mengurangi waktu bermain tanpa alternatif permainan lain untuk merangsang imajinasinya. Terutama pada masa-masa usia 7 - 10 tahun.

Penanggulangan untuk mengatur penggunaan gadget :

1.      Pahami situasi dan kondisi anak-anak ; pahami cara berimajinasi anak-anak. Dan, orang tua harus memberi fasilitas untuk mengarahkan pada kegiatan positif lainnya. Setiap anak biasanya memiliki masa-masa untuk menyukai sesuatu, yang seiring waktu rasa suka mereka akan berkurang. Tapi tentu pemantauan orang tua tidak boleh lepas.
2.      Buat simulasi game
3.      Buatlah simulasi kecanduan
Untuk anak-anak usia tertentu sudah dapat dijelaskan tentang kerusakan otak jika seseorang sudah kecanduan game, terutama yang bermuatan pornografi. Dapat dipaparkan dengan rinci bahwa kerusakan Pre Frontal Cortex, salah satu bagian otak yang letaknya di depan, akan mengalami kerusakan sama parahnya dengan seseorang yang kecelakaan dengan dahi atau kepala yang hancur.
4.      Buatlah simulasi keputusan
Biasanya simulasi-simulasi ini dapat diterapkan pada anak usia SMP.

Rangkaian game biasanya tidak jauh dari terpapar pornografi. Hal itu jauh lebih berbahaya dari hanya sekadar kecanduan game semata. Sudah jadi rahasia umum kalau game-game seperti GTA, COC, selalu menampilakn pornografi diujung permainan. Bahkan game.co.id yang dapat disebut resmi saja menyajikan game bermuatan pornografi. Kerusakan narkotika pada otak merusak 3 bagian otak, sementara kerusakan akibat Pornografi dapat merusak 5 bagian di dalam otak.

Solusi untuk menumbuhkan imunitas dalam diri setiap anak :

1.      Jadilah sahabat anak-anak : jadilah orang yang dicari setiap kali anak-anak mempunyai hal yang ingin mereka ceritakan. Jadilah orang tua yang lebih asyik dibanding game atau televisi.
2.      Buatlah komunikasi yang sehat : Jujur dan terbuka tetapi tidak vulgar. Sesuaikan dengan kapasitas dan pemahaman anak-anak. Jangan memutus komunikasi seberapa sibuk pun orang tua. Luangkan 1 atau 2 menit saja untuk melayani cerita dan pertanyaan anak-anak.
3.      Hubungan yang erat antara keluarga dan lingkungan. Jalinlah keterikatan dengan anak-anak, dapat dimulai dengan menjelaskan kondisi keluarga dengan jujur dan terbuka.

Pertanyaan-pertanyaan :
1.      Ibu Agustin
Bagaimana menyentuh hati anak laki-laki yang berusia 12 tahun. Dan bagaimana cara menanggulangi anak laki-laki yang suka masak?
Jawaban :
Harus dikenali dulu sifat anak-anak. Anak lelaki biasanya egois, tidak mau minta maaf, suka permainan, suka mencoba-coba, jarang curhat.
Tidak masalah anak laki-laki yang suka memainkan mainan perempuan atau sebaliknya, selama tetap berada pada karakternya masing-masing. Anak laki-laki yang memainkan boneka, akan berbeda dengan cara anak perempuan bermain boneka.
2.      Ibu Desi
Anak laki-laki 12 tahun kecanduan gadget, bagaimana menanggulanginya?
Jawaban :
Buatlah peraturan antara orang tua dan anak dengan maksimal penggunaan gadget 2 jam per hari. Tetapi harus diberi alternatif kegiatan yang lainnya. Dan sudah dapat dijelaskan tentang bahaya kecanduan gadget dan pornografi
3.      Ibu Putri
Bagaimana jika yang kecanduan game adalah bapak-bapak?
Jawaban :
Pasti pada suatu masa ada fase imajinasi yang terputus. Sebaikany diberi penjelasan, diberi pengertian tentang waktu, tentang hidup yang harus lebih bermanfaat.





Sedikit ulasan tentang bukunya, kalau menurut kak Sinyo kekurangan bukunya adalah tidak sistematis. Dan karena isi bukunya hanya tentang kisah-kisah, solusi-solusinya pada beberapa kisah tidak terlihat. Mungkin seharusnya dibuat per bagian atau per tema.

Selesai. 

Semoga bermanfaat









10 komentar:

  1. HAi mba. Mnrutku orangtua memang harus memberikan peran penting ya untuk edukasi penggunaan gadget pada anak :). Terima kasih ya sudah berbagi

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya mba, harus kasih contoh dulu sih kayanya. biar anak gak niru kaya ortu yang gandegatan mulu hehe... makasih sudah berkunjung mba :)

      Hapus
  2. Aku jarang kasi anakku gadget hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. bagus itu mba aprli, soalnya kalo udah kenal susah lepas. hehe ... mumpung belum susah, nanti mengatur waktunya jadi lebih gampang ya. makasih udah singgah ya :)

      Hapus
  3. Aku juga udah pernah nulis ini di blogku mba, klo anakku tak batasi tp tetap dikenalkan biar dia ga kaget pas lihat dunia luar

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya kalo enggak sama sekali, nanti kaget dan malah penasarannya lebih besar ya. makasih udah singgah ya manda

      Hapus
  4. perlu di simpen dan kuterapkan nih. abis aku termasuk yg kebablasan. eh.. masih ada sih kontrol. hehehe.. tapi jamnya kebanyakan. kudu dikurangin. makasih teh udah bagi ilmu.

    BalasHapus
    Balasan
    1. sama aku juga seringnya kebablasan apalagi kalo lagi cape

      Hapus