Kamis, 26 Januari 2017

Yang Tertinggal di Papyrus Bagian 3


Hai teman-teman, ini adalah bagian akhir cari cerber Yang Tertinggal di Papyrus. Saya mendapatkan beberapa inbox dan komentar tentang ending yang dirasa tidak adil. Oh I love it, bagaimana pun responnya saya selalu menyukai apa pun komentar pembaca tulisan saya, sungguh.
Tampaknya, komentar itu ada dikarenakan 3 paragraf akhir dari cerber ini ditiadakan oleh pihak majalah. Secara isi tidak memengaruhi cerita, tapi sebagai penulisnya saya merasa butuh mengetengahkan kondisi Galuh di akhir cerita. Bagaimapun saya ingin memiliki akhir yang baik bagi setiap tokoh saya.
Di beberapa bagian 1 dan 2 yang ada di majalah ada juga yang diedit tapi tetap tidak memengaruhi cerita, malah menjadi lebih lugas. Hanya saja untuk versi yang saya posting di Blog ini saya tetap menggunakan versi aslinya. Termasuk 3 paragraf ending yang sebelumnya tidak diketahui pembaca.
Ok, selamat membaca. Enjoy!



Cerita sebelumnya ada di Yang Tertinggal di Papyrus Bagian 2


Tanpa Zea, ucap Sidqi ketika ia mengajakku masuk ke dalam mobilnya. Aku ragu-ragu untuk masuk. Ini adalah kali pertama aku memasuki mobilnya dan tanpa kehadiran Zea diantara kami adalah sesuatu yang terasa aneh.

            Kami tidak banyak bicara di dalam perjalanan, Sidqi memutar music jazz yang lembut. Alih-alih terhibur malah membuat aku mengantuk. Sidqi mengajakku ke sebuah tempat makan sederhana yang menyajikan ikan asap yang beraroma hangus tetapi sedap.
            Rumah makan itu terletak tepat di tepi laut, ditopang kayu-kayu yang menancap ke lereng. Ombak samudra pecah tepat dibawah tempat yang kami duduki. Langit sedikit berawan, bulan sabit yang tertutup awan tipis samar-samar terlihat.
            “Sengaja aku tidak mengajak Zea. Aku tidak ingin dia mempengaruhi keputusan dari hal yang ingin aku bicarakan.” Sidqi yang malam ini menyisir rambutnya dengan rapi dan tidak mengenakan kemeja dua saku seperti biasa. Ia mengenakan sweater kelabu yang memperlihatkan kemeja katun yang ia pakai di bagian dalam. Aku baru menyadari ada tahi alat kecil di ujung matanya. Dan wajahnya sama sekali tidak mengingatkan aku pada siapa pun.
            “Memangnya apa yang ingin kamu bicarakan?”
            “Kita.”
            Mulutku sudah terbuka tapi tidak jadi bicara. Membiarkan Sidqi memulai, melanjutkan dan mengakhirinya jika mungkin.
            “Kita berdua adalah dua orang yang bebas, Galuh. Bebas dalam arti tidak memiliki hubungan istimewa dengan siapa pun.” Sidqi terkekeh. “Koreksi, ya, kalau aku salah. Aku terlalu percaya diri memang, tapi setidaknya aku tidak melihat kamu sedang menjalin hubungan dengan siapa pun.” Ia mengulum senyumnya.
            Aku hanya tertawa sambil menaikan kedua alisku.
            “Kamu orang pertama yang ingin aku kabari jika aku punya cerita gembira. Orang pertama yang aku cari ketika bingung. Entah bagaimana aku menamakan ini semua? Hmm.”
            “Rayuanmu aneh, Sidqi.” Aku bersikap seolah menahan tawa. Sebenarnya setengah mati membuat raut wajahku tetap normal. Lelaki itu benar-benar membuatku yang tengah menikmati makan malam sangat terkejut.
            “Aku tidak sedang merayumu.” Sambar Sidqi. “Aku hanya … “ Ia melihat ke arah lain. “Aku selalu merasa, kamu orang pertama yang ada di pikiranku setiap aku akan melakukan sesuatu. Sesederhana itu.”
            “Kita dua orang yang disatukan oleh banyak kejadian, Sidqi. Yang tanpa sengaja membuat kita sering bertemu. Kamu, Zea dan Asti adalah orang-orang baik yang tidak akan pernah terganti. Yang aku dapat sebagai bonus dari yang nyaris aku dapatkan.”
            Sidqi mengangguk. Tampaknya ia memahami arah kalimatku.
            “Itulah mengapa aku tidak mengajak Zea, agar dia tidak jadi alasan keputusan aku atau kamu. Sejak kita sering bertemu dan aku merasakan ini semua. Sebisa mungkin aku tidak mengingat Fajar. Karena bagiku, kamu adalah Galuh yang berbeda, wanita mandiri yang kuat dan pemilik hati yang lembut. Bukan wanita yang hampir dinikahi oleh adikku. Aku mencoba melenyapkan bayang-bayang itu.”
            Aku menundukkan kepala, enggan menatap matanya yang memandangku dengan sinar pengharapan. “Aku tidak tahu. Aku hanya ingin katakan bahwa aku sangat peduli pada kebahagianmu, kebahagiaan ibumu, juga Zea. Itulah mengapa ketika Zea menghilang, aku sangat ketakutan kamu tidak akan mengizinkan aku bertemu lagi dengannya.”
            “Jadi?”
            Aku menggeleng. “Jangan tergesa-gesa, Sidqi. Aku punya pengalaman, sesuatu yang terburu-buru tidak memberikan akhir yang baik.”
            Lelaki itu mengembuskan napas lega dengan anggukan dalam. Ia memberikan segaris senyum, senyum yang rasanya ingin terus kulihat. Bersamaan dengan itu, awan bergerak memperlihatkan bulan sabit yang kami pandangi bersama.
***
Aku tengah memasukan mainan dan mobil-mobilan yang baru diantar pemasok ke dalam gudang, ruang kecil di belakang toko. Aku terkejut ketika mendengar  kemerosok di sudut dan mengira itu hanya tikus atau benda yang jatuh, tetapi suara itu terdengar konstan berulang kali.
“Innalilahi” aku mengacungkan sapu ijuk dan bersiap memukul. Ada seorang lelaki meringkuk di sudut ruangan, ia menutup wajah dan melipat kakinya. ” si-siapa kamu?”
Perlahan lelaki itu menurunkan tangannya dan aku mundur beberapa langkah ketika menyadari siapa dia.
Fajar benar-benar terlihat seperti gelandangan dengan baju lusuh dan kebesaran. Jenggot dan cambang yang tumbuh liar. Kulitnya lebih gelap dari yang terakhir aku ingat, dagunya terlihat lebih panjang karena segala hal di tubuhnya tampak menyusut.
 Lelaki itu masuk ke dalam toko ketika aku keluar untuk membeli gado-gado tadi pagi, sebelumnya ia mendatangi Rustam di kios ikan namun temannya itu belum pulang melaut.
“Aku malu, terlalu banyak orang yang mengenalku di sana. Aku enggak tahu lagi harus kemana, Galuh. Aku takut untuk pulang.” Fajar bersila di lantai sementara aku berdiri di pintu gudang.
Fajar terlihat sangat pucat dengan bibir putih, aku segera membelikannya nasi bungkus yang ia habiskan dengan cepat. “Aku enggak berani pulang.”
Kondisi Fajar mengikis rasa sakit yang dahulu ia berikan, tanpa aku membalas, tanpa aku mendoakan keburukan baginya, Fajar terlihat mendapatkan kemalangan yang tidak sebentar. “Aku akan menghubungi Sidqi.”
“Tidak, jangan, aku mohon jangan.”
“Dia tidak akan memarahimu. Ibu juga tidak akan memarahimu, Fajar. Percayalah, mereka mengharapkan kamu pulang.” Desakku.
Fajar menggeleng sambil mengangkat tangannya yang gemetar. “Aku mohon jangan sekarang.”
Aku mengabulkan permohonan Fajar untuk menginap di gudang toko malam itu, aku membawakan selimut dan bantal dari rumah. Membelikannya makanan yang banyak dan obat-obatan yang ia minta.
Pagi hari aku meminta Rustam datang ke toko, saat itu kondisi Fajar semakin memburuk tapi ia tetap memohon agar aku tidak memberi tahu keluarganya tentang keberadaannya.
“Rustam, tolong obati dia dengan baik.” Bisikku setelah Rustam menuntun Fajar masuk ke dalam mobil pik-up sambil menyelipkan amplop berisi beberapa lembar uang padanya. “Setelah membaik, aku mohon bujuk dia untuk pulang. Aku yakin Sidqi dan ibu enggak akan marah.”
Rustam mengangguk dengan tatapan bingung.
Tanpa aku minta hampir setiap hari Rustam mengabarkan kondisi Fajar yang semakin membaik. Fajar dirawat di rumah sakit dengan diagnose penyakit hepatitis. Aku hanya mengunjunginya dua kali dan terus membujuknya untuk pulang atau setidaknya mengabari keluarganya. Ia tetap menolak dengan alasan “Aku akan pulang dengan kondisi yang sama ketika aku pergi.”
Setidaknya lelaki itu masih sama dalam hal keras kepala dan aku membiarkannya. Namun, tepat setelah aku dan Rustam patungan membayar tagihan rumah sakit dan Fajar diizinkan pulang. Aku meminta Rustam tidak membawa Fajar kemana-mana selain ke rumahnya. Tidak peduli ia akan mengamuk atau marah, karena aku yakin pertemuan Fajar dengan ibunya akan membantu ia untuk cepat sehat, dan akan membuat Bu Fatimah lebih bersemangat lagi menjalani hidupnya.

1.      Cinta yang Tertinggal
Aku seorang anak tunggal, tidak pernah memiliki adik atau keponakan kecil yang bisa kurawat. Kehadiran Zea membuat hariku semakin sibuk dan memiliki tujuan.
Ada banyak yang ingin aku berikan pada Zea, agar ia bisa mengenangnya suatu hari nanti. Seperti aku mengenang aktifitasku bersama bapak ketika aku kecil. Aku sudah meminta izin pada Sidqi sejak dua hari lalu untuk mengajak Zea malam ini. Berjanji tidak akan melepaskan pandanganku dari gadis kecil itu.
            Setiap tahun pada bulan ke 7 ketika langit gelap tanpa rembulan, larva dan juvenile ikan yang biasa disebut impun oleh masyarakat nelayan akan memenuhi pantai dalam jumlah terbanyak dibanding waktu lainnya. Dari anak kecil hingga orang tua, baik lelaki maupun perempuan memenuhi pantai, membawa ember-ember. Kami semua akan berburu impun.
Entah untuk dijual atau disantap keluarga sendiri, tradisi menangkap impun adalah acara yang mendekatkan hubungan para keluarga nelayan. Aku membawa lentera dan menuntun Zea di tangan yang lain. Zea membawa ember kecil yang tadi aku berikan.
Kami mengikuti sekumpulan anak-anak dan para ibu berjalan sedikit ke tengah, menenggelamkan sirib[1] dan mendorongnya.  Anak-anak ikan berlompatan ketika aku menarik sirib ke permukaan lantas menumpahkannya ke dalam ember. Hanya butuh 5 kali menciduk, ember yang dibawa Zea telah penuh.
Aku menggenggam bayi-bayi ikan dan memperlihatkannya pada Zea. Gadis kecil itu mengikuti apa yang aku lakukan. Memperlihatkan impun di atas telapak tangannya. Ragu-ragu bibirnya saling menarik, lalu “Aw … aw … geli! Geli, kak.” Zea merasakan sensasi yang tidak biasa dalam genggamannya.
Aku tertegun beberapa saat, seakan tersihir oleh suara renyah yang kurindukan. “Kenapa? Ucapkan sekali lagi, Zea.”
“Geli … Aww!” Zea memekik.
Aku merasa seakan angin timur yang berembus dari tengah laut berubah hangat dan memelukku erat-erat. Zea kamu bicara, kamu bicara, gumamku tak sanggup menahan haru.
Aku mengajak Zea keluar dari air dan terus berjalan ke pantai. Merengkuh bahunya, membawa Zea ke dalam pelukanku. Sidqi melambai dari tepi jalan raya. Rasanya aku ingin berlari sekencang mungkin sambil menuntun Zea dan mengatakan suara putrinya telah kembali.
Aku tersenyum selebar mungkin, “beri tahu Ayah kalau impun-impun itu menggelikan.”
Zea mengangguk. Dia berlari kecil dengan ember penuh impun di tangannya. “Impun ini geli, ayah. Geli!” ucap Zea, suaranya tidak terlalu lantang tetapi cukup terdengar di tengah keramaian.
“HAH?” mata Sidqi membelalak. “Oh Tuhan, ucapkan sekali lagi, nak.”
“Geli, ayah.” Zea tertawa sambil terus melihat pada impun yang berlompatan di dalam ember,  tak peduli pada sang ayah yang menatapnya dengan mata yang basah. Wajah Sidqi masih tampak terkejut bercampur haru dan bahagia. Tatapannya beralih kepadaku sambil mengulurkan tangan, menggenggamku erat.
“Terima kasih. Sungguh, terima kasih.” Bisiknya sendu di dekat telingaku.
Tadinya aku mengira kebahagiaan Sidqi akan berlangsung lama, berjam-jam, berhari-hari bahkan untuk selamanya. Bagaimana pun suara Zea bak suara malaikat yang ia nantikan.
Namun, ketika kami sampai di pekarangan rumahku dan Sidqi menginjak pedal rem sementara Zea terlelap dalam pelukanku. Wajah Sidqi begitu muram. Kebahagiannya lenyap terlalu cepat dari yang aku bayangkan.
“Fajar pulang.” Ucapnya setelah sekian lama. “Dalam keadaan yang …  memprihatinkan. Ia begitu kumal dan kurus.” Sidqi menarik napas dalam, sementara aku menata raut wajahku.
“Dia tersungkur di kaki ibu, meminta maaf, memohon ampun. Dia janji akan menjadi orang yang seperti ibu inginkan. Fajar berjanji akan menebus semua kesalahan yang dia perbuat.”
Aku menelan ludah. Dengkuran Zea di pelukanku masih teratur.
“Menikahimu salah satunya.” Sidqi bicara terbata. “Ini semua salahku karena sampai hari ini aku belum sempat memberi tahu ibu tentang perasaanku kepadamu. Jadi, ibu masih berharap kamu dan Fajar bisa memperbaiki hubungan.”
Aku memejamkan mata. Bulir-bulir air mata merembes kendati aku memejam sangat rapat. Entah untuk apa tangisan ini. Untuk perasaanku pada Sidqi yang perlahan mulai tumbuh, atau kah pada Fajar atas pengkhianatan yang dengan mudahnya ingin ia perbaiki.
Baik aku maupun Sidqi, malam itu tak ada lagi yang bicara. Sidqi terlalu bingung untuk menyikapi semuanya. Aku tahu kemelut dalam dadanya. Ia seorang anak dan kakak yang baik, yang mengharapkan keluarganya utuh dan bahagia. Sementara aku terkejut dengan kesadaran bahwa perasaanku tumbuh bukan pada saat yang tepat.
***
            Setiap datang untuk membuka toko di pagi hari, atau mendengar suara ketukan di pintu rumah aku selalu merasa cemas. Fajar bisa saja muncul tanpa kuduga, seperti kebiasaannya dahulu. Maka aku menyambut baik niat Sidqi yang akan mengungkapkan isi hatinya pada bu Fatimah. Setidaknya hubungan kami akan memiliki arah kendati itu sebuah pertaruhan yang besar.
            Senja ini lelaki pemilik mata yang lembut itu datang. Sikapnya seperti biasa, penuh senyum dan hangat. Menyulitkan aku menerka kabar yang ia bawa.
            Sidqi bertopang dagu, bertelekan sikut di atas etalase setinggi satu meter. Ia memperhatikan setiap gerakanku. “Aku melupakan satu hal.” Ucapnya. Aku meliriknya sambil terus melipat kertas origami untuk kugantung di langit-langit toko. “Aku tidak pernah bertanya bagaimana perasaanmu padaku.”
            “Memang masih harus dijelaskan, ya?”
            Sidqi mengangkat bahu, “entahlah! Sebenarnya tanpa kamu jelaskan pun aku sudah bisa merasakan.”
            “Isy ge-er!” sambarku.
            “Adakalanya kita perlu sebuah ungkapan atau pernyataan, seperti hubungan ala remaja.” Lalu kami tertawa bersama. Setelah tawa kami reda ia menarik napas panjang. “Ya, ibu bilang semua keputusan ada padamu. Hatimu yang menentukan.”
            Aku tertegun sejenak, “bagaimana sikap ibu?”
            Sidqi terlihat berusaha untuk tetap tersenyum dan ragu untuk bicara hingga aku harus bertanya lebih dari dua kali. “Ibu marah besar. Dia sangat kecewa padaku. Dia menuduh aku memanfaatkan kepergian Fajar untuk kepentinganku. Dia menuduh aku menusuk saudara sendiri dari belakang.”
            Angsa-angsa origami berjatuhan. Aku meraih tangan Sidqi dan menggenggamnya erat. Tidak ada air mata namun gurat merah di bola matanya menjelaskan rasa sakit yang ia coba simpan.
            “Sidqi. Kamu sudah melakukan segalanya untuk keluargamu. Kamu sangat berharga.”
            “Semalam, rasanya aku ingin mengemas semua barang dan membawa Zea pergi. Aku bisa membawamu ke mana pun. Aku masih menguasai ilmu arsitektur, aku seorang marketing yang handal! Aku bisa hidup di mana pun dengan layak bersama kalian. Tapi … “
            “Apa yang akan terjadi dengan ibu? Adikmu bukan orang yang tepat untuk diberi semua tanggung jawabmu.”
            Sidqi mengangguk rendah, menarik tanganku ke pipinya yang dingin. Lalu ia menarik tanganku lebih bawah, hingga aku bisa merasakan denyut nadi di lehernya. Dia menatapku lekat. “Apa pun yang menjadi keputusanmu, namamu ada di sini, akan berdetak sepanjang darahku mengalir.” Dia menggenggam pipiku dengan tangan yang lain, membiarkan air mataku membasahi jemarinya.
***
            Pada hari minggu pagi, ketika hampir semua orang sepakat bahwa matahari bersinar lebih menawan dari pada biasa aku mengunjungi Papyrus dengan langkah yang seakan melayang.
            Aku tidak menyangka akan berjumpa dengan Fajar sebelum berjumpa yang lainnya. Fajar mengenakan kemeja putih yang terlihat sangat longgar. Kendati masih terlihat kurus, kondisinya sudah jauh lebih baik dari terakhir kali aku lihat di Rumah sakit.
 “Galuh.” dia masih menyebut namaku dengan cara yang sama dan tampak terkejut dengan kedatanganku.
            “Aku mau bertemu ibu.” Aku menunduk dan melihat ke arah lain, melakukan interaksi sesedikit mungkin dengannya.
            “Ibu ada di beranda. Ayo.” Fajar berjalan di depanku. “Aku sedang bersiap-siap untuk main ke rumahmu, mmm …tapi malah kamu yang datang.”
            Aku belum sempat merespon, bu Fatimah terlanjur melihat kedatangan kami. Ia duduk  di kursi roda dengan mengangkat kedua kakinya ke sebuah kursi berlapis beledu. Wajahnya seketika bersinar, senyumnya sangat lebar melihat kami datang bersama.
            “Oh dedeuh teing, Galuh kemana aja, neng?” kedua alisnya bertaut sambil merengkuhku ke dalam pelukannya. Pelukan erat dan hangat itu kian menyulitkanku untuk membuat keputusan.
            Bu Fatimah menarikku lebih dekat sambil berbisik diikuti dengan tawa tertahan. “Anak itu dari pagi gonta ganti baju, katanya bajunya semua kedodoran, enggak ada yang cocok untuk dipakai ketemu kamu.” Alih-alih ikut tertawa aku menarik napas dalam.
            “Ada yang ingin saya sampaikan, bu.” Ucapku setelah berbasa basi menanyakan kabarnya. Bu Fatimah melirik Fajar, lalu laki-laki itu meninggalkan kami berdua dengan alasan ada jaringan TV kabel penginapan yang harus ia perbaiki.
            Barangkali Fajar memang melewati banyak hal penting hingga mengubahnya menjadi lebih peduli.
            “Ibu juga, ada yang ingin ibu ceritakan.”
 Aku mengangguk dan memberi kesempatan bu Fatimah bercerita lebih dahulu. Apa pun itu, keputusan sudah ada di genggaman tanganku, menungguku membuka dan melepaskannya.
            “Mereka menikah siri tapi perempuan itu sama sekali tidak mengurus Fajar. Mereka pergi ke Jakarta karena perempuan itu dapat tawaran untuk menjadi model. Mula-mula Fajar menurut karena tidak mau kehilangan dia, tapi lama-lama Fajar sadar kalau dia hanya dijadikan kacung.” Bu Fatimah bercerita dengan amarah yang berusaha ia redam. Sementara aku mendengarkan dan membayangkan Fajar terjebak dalam perasaan cinta dan kekalahan.
            “Fajar kena types, demam berdarah lalu terakhir ia kena hepatitis, perempuan itu tidak peduli sedikitpun. Ada yang menawarinya jadi penyanyi dengan syarat statusnya harus masih gadis, perempuan itu semakin tidak menghargai Fajar. Akhirnya Fajar memilih pergi.”
“Rustam yang membawanya pulang dalam keadaan Fajar sangat tidak berdaya. Anak itu mendapat balasan tanpa kita melakukan apa-apa.” Bu Fatimah mengatur napas dan menyeka air mata yang bercampur peluh.  “Dia ingin menyusun ulang hidupnya.”
Aku sudah tahu sebagian cerita yang ia sampaikan, namun kapan dan bagaimana Fajar mendapatkan kemalangannya itu adalah bagian yang sesungguhnya tidak ingin kuketahui.
Tatapan bu Fatimah menembus kornea mataku, seakan memohon agar aku bisa ikut berperan membantu Fajar dalam menata ulang hidupnya.
“Fajar lelaki yang kuat, dengan cepat dia pasti bisa bangkit lagi.” Ucapku lirih.
Bu Fatimah meraih tanganku, menggenggam erat dan mengguncangnya. “Galuh, apa kamu masih mencintai anakku? Hmmm?”
Aku mengangguk dalam. “Aku mencintai anak ibu, tetapi bukan dia yang ibu maksud. Waktu mengubah banyak hal, kepedulian menumbuhkan rasa yang semula tak ada.” Ucapku pelan, berjeda namun jelas.
Bu Fatimah langsung melepaskan genggaman tanganku, meraih pegangan kursi dan mundur beberapa senti. Seperti ingin meninggalkanku tapi ia urung terus memutar roda kursinya.
Aku menunduk dan memasang telinga bersiap mendengar apa pun yang hendak ia ucapkan. “keduanya anakku, Galuh. kamu menyiksaku.” Tangisnya pecah, napasnya terjebak sedu sedan.
Aku menggeleng, “Aku tidak mungkin mengelabui siapa pun untuk urusan perasaan, bu. Semuanya akan aku bawa sampai mati.”
“Bagaimana mungkin perasaanmu berubah dengan cepat? Bagaimana bisa aku mempercayai kamu mencintai Sidqi dengan tulus?”
“Dua tahun lebih bukan waktu sebentar menumbuhkan perasaan kami, dua tahun juga waktu yang cukup untuk melupakan semua yang Fajar pernah lakukan padaku.”
Bu Fatimah terhenyak, wajahnya benar-benar muram. Aku menyesal dan sama sekali tidak berniat menyakitinya tetapi aku tidak memiliki pilihan lain.
“Kalian berdua benar-benar berani mengakui perasaan kalian. Kemarin Sidqi, yang aku sangka hanya menggertak. Sekarang kamu datang mengakui cinta yang kalian miliki dengan penuh keyakinan. Apa-apaan ini?” Bu Fatimah menutup wajahnya dan kembali terisak.
Bagi aku dan Sidqi ini adalah cinta, namun sama sekali tidak menyangka rasa cinta bisa bermutasi menjadi kesedihan mendalam bagi orang yang sama-sama kami hormati.
“Ibu. Maafkan aku. Andai cinta bisa aku atur, aku tidak akan menjatuhkan sedikit pun bagi Sidqi. Sayangnya, anak sulung ibu begitu hangat dan peduli. Kehadirannya memberiku rasa aman.”
            Kami terdiam untuk beberapa lama, yang terdengar hanya debur ombak di samping rumah dan kicauan burung parkit yang menggantung di langit-langit. Aku membisu, Bu Fatimah tenggelam dalam duka.
            Wanita yang semakin terlihat tua itu berdehem dan menoleh padaku. Meraih tanganku yang dingin. “Bagaimana aku harus menjelaskan? Bungsuku itu baru saja pulang, baru saja kembali padaku. Bagaimana aku harus menghiburnya nanti? Wanita yang ia harap bisa membantunya untuk keluar dari masa kelam harus bersanding dengan kakaknya sendiri?”
            Tenggorokanku tercekat, aku menggeleng lemah seiring air mataku yang jatuh satu demi satu. “Aku tidak tahu, ibu.”
            Bu Fatimah menunduk, memandang kedua tangan kami yang berpegangan erat. “Terakhir kalinya aku mohon keridhoanmu, Galuh. Jika tidak Fajar, berarti tidak juga dengan Sidqi.”
            Bu Fatimah meraihku ke dalam pelukannya. Aku mengangguk dengan mata yang terpejam rapat. Di dalam dadaku wanita itu menuntaskan tangisnya sementara aku menahan sekuat tenaga. “Sungguh, aku selalu berharap kamu jadi menantuku, tapi keduanya putraku, mustahil aku sanggup melihat yang satu bahagia sementara yang lainnya hancur.”
            Aku pamit dan meninggalkan bu Fatimah yang terus menatapku dengan pandangan nanar. Tatapan itu serupa tatapan anak kecil yang kecewa dan merasa bersalah dalam waktu yang bersamaan.
            Aku keluar rumah tersebut dengan jalan memutar untuk menghindari berjumpa dengan Fajar, melalui serambi yang langsung terhubung dengan bagian belakang penginapan.
            Aku melihat Zea sedang berjongkok dengan bangunan pasir yang ia susun menggunakan sekop dan ember mainan, di belakangnya Sidqi berdiri dengan menenggelamkan  kakinya ke dalam pasir.
            Keduanya menghadap ke arah laut, sama sekali tidak melihatku yang melintas diam-diam. Untuk terakhir kalinya, Aku ingin memandang Sidqi dengan leluasa, dia begitu dekat namun sangat mustahil bisa kusentuh.
***
            Pada satu kesempatan, ketika aku tidak punya pilihan jalan lain selain melintas di depan penginapan Papyrus. Aku melihat Zea berada di punggung Fajar sambil memainkan rambut pamannya, di depan mereka Sidqi tengah mendorong kursi roda Bu Fatimah.
            Keduanya mungkin terluka dengan cara yang berbeda tapi mereka tetap menjadi saudara yang saling mendukung. Dan lebih dari segalanya, Zea bisa tumbuh dengan baik dan Bu Fatimah memiliki hari tua yang menenangkan.
Tanpa kesadaran bahwa aku berandil mengembalikan sebuah keluarga bersatu kembali, barangkali aku telah berantakan. Aku mungkin kehilangan satu hal terbaik dalam hidupku, tetapi semesta pasti menyiapkan pengganti tepat ketika hatiku merasa lapang.



[1] Alat untuk menangkap ikan berbentuk segi empat atau segi tiga terbuat dari jaring

TAMAT




Terima kasih bagi semua yang sudah berkenan membaca. silakan tinggalkan komen atau beri rating ***** heheheh 😁

8 komentar:

  1. Ih keren. Ceritanya ngena....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih sudah membaca, Ana Merya :)

      Hapus
  2. akhirnya, kebawa mewek. sukses trs teteh...

    BalasHapus
    Balasan
    1. cup .. cup .. cup ... heheh

      makasih wiwi :)

      Hapus
  3. Balasan
    1. ayoook nulis cerber yuk, asik lhooo bisa bikin baper orang eheheh ... makasih ya udah baca :)

      Hapus
  4. Baguss mba, teruskan semangatnya ya ^^, semoga menginspirasi

    BalasHapus
    Balasan
    1. udah baca lanjutannya belum, manda? hehe makasih ya udah nyempetin baca

      Hapus