Kamis, 26 Januari 2017

Yang Tertinggal di Papyrus Bagian 2


Cerita sebelumnya : Yang Tertinggal di Papyrus Bagian 1



Perubahan kesehatan Asti sangat cepat. Hari ini Sidqi mengabari keadaan Asti membaik, hingga akhirnya ia mengabulkan keinginan keluarga Asti untuk merawat Asti di Bandung.

Dua hari kemudian Sidqi mengabari melalui pesan singkat bahwa bayi dalam kandungan Asti harus dikeluarkan, tidak lama dari operasi tersebut Asti kembali kejang-kejang. Hari itu juga Ibu Fatimah pergi ke Bandung dan tidak pulang untuk beberapa hari. Sementara lelaki bernama Fajar barangkali tengah membangun istana asmara bersama wanita bernama Lady, tanpa pernah tahu keluarganya didera kemelut yang tak berkesudahan.
Hampir setiap sore setelah menutup toko aku selalu menyempatkan diri menelepon Sidqi, menanyakan keadaan Asti yang naik-turun dan menanyakan Zea yang dititipkan di rumah orang tua Asti.
“Zea murung, dia ingin cepat-cepat pulang ke Pelabuhan Ratu. Dia ingin bertemu kamu, Galuh. Katanya kalian punya janji untuk membuat rumah kelinci.” Kisah Sidqi di seberang telepon.
Aku menatap batang-batang padi kering di dalam kardus dan lembar-lembar daun nangka kecoklatan yang dikumpulkan Zea. “Iya, kami janji akan buat rumah kelinci sama-sama. Sampaikan saja kepada Zea agar dia jangan khawatir, kalau mau aku akan membuatkan rumah kelinci untuknya.”
“Terima kasih. Doakan Asti segera membaik, ya.”
“Tentu, maafkan aku belum bisa menjenguk ke Bandung, aku tidak bisa meninggalkan ibu.”
“Tidak masalah.” Sidqi menarik napas panjang dan dalam sebelum menutup teleponnya dan mengatakan bahwa esok ibunya akan pulang.
Namun yang terjadi adalah Ibu Fatimah tidak bisa pulang keesokan harinya. Asti akhirnya menyerah dan menghembuskan napas terakhir tepat ketika azan subuh berkumandang dan Sidqi tengah melangitkan do’a-do’a untuknya.
Pagi hari aku langsung pergi ke Bandung bersama beberapa karyawan penginapan Papyrus. Ibuku tidak bisa bepergian terlalu jauh karena selalu mabuk dalam perjalanan.
Sidqi harus kehilangan dua orang yang ia cintai sekaligus. Detak jantung bayi yang harus lahir dalam usia 6 minggu dalam kandungan Asti pun berhenti 15 menit setelah sang ibu wafat. Lelaki malang itu ada di sana, menyaksikan detik demi detik buah hatinya pergi, setelah ia memandang mata istrinya yang terpejam untuk selamanya.
Mendung terlukis pekat di matanya yang kelabu, tetes-tetes peluh mengalir di dahinya. Dia menjabat erat tanganku, “Terima kasih sudah menyempatkan datang, Galuh. Terima kasih.”
“Semoga kamu selalu tabah, semoga Zea baik-baik saja dan selalu sehat.”
Lelaki gagah itu layu, bola matanya mengilap oleh air mata sambil mengangguk. Aku tahu perasaan itu, duka yang serasa memutuskan pita suara.
Aku tidak bisa menjumpai Zea karena beberapa saudaranya membawa gadis kecil itu pergi dari rumah duka setelah penguburan sang ibu. Barangkali, itu cara mereka agar seorang anak tidak harus larut dalam kedukaan terlalu lama. Padahal aku sangat ingin memeluknya, membisikkan bahwa ibunya akan selalu ada menjadi sepasang sayap yang akan membantunya terbang.
Sebenarnya aku sudah mencoba menahan untuk tidak terus menerus melihat ke pintu gerbang sepanjang waktu ketika melawat ke rumah orang tua Asti. Tapi kepalaku seperti bergerak sendiri untuk menoleh, dan hatiku terus menerus bertanya. “Di mana gerangan lelaki penggenggam matahari pagi itu? Keluarganya sedang berduka.” Sayangnya, hingga aku pulang Fajar tidak juga terlihat.
***
Ibu Fatimah singgah ke tokoku diantarkan seorang supir. Agaknya ia ingin mengeluarkan segala kepenatan di hatinya. Ia bercerita sambil menangis, tentang kesedihan Sidqi yang menjadi kesedihannya juga.
Sidqi harus berduka berlipat ganda. Setelah Asti dan bayi mereka meninggal, orang tua Asti meminta bahkan separuh memaksa untuk merawat Zea bersama mereka.
“Seakan hanya keluarga Asti yang berduka dan harus dihibur dengan keberadaan Zea, mereka tidak memikirkan remuknya hati Sidqi dan mental Zea. Rumah sangat sepi, Galuh. Sepi! Tanpa tawa Zea, tanpa suara Sidqi yang sekarang sangat pendiam. Kepergian Asti mengambil semuanya.”
Aku mendekati Ibu Fatimah dan menggenggam tangannya, ia menangis di bahuku. Dahulu Asti, kemudian Sidqi sesekali, dan sekarang Ibu Fatimah yang hubungannya semakin dekat denganku. Barangkali ini hal baik lainnya, kendati pernikahanku bersama Fajar kandas tetapi aku tetap mendapatkan keluarga baru yang mempercayaiku.
***
Aku menyelesaikan rumah kelinci untuk Zea dan membungkusnya dengan hati-hati, kemudian aku membawanya ke Papyrus. Resepsionis penginapan itu menunjuk bagian belakang penginapan yang langsung menghadap ke laut dengan hamparan pantai yang bersih. –Jika kita sering melihat tumpukan sampah di pantai yang biasa digunakan oleh wisatawan mana saja, maka di pantai yang berada dalam pengelolaan penginapan mana pun, kita akan menikmati bulir-bulir pasir yang bening dan bersih-
Di belakang penginapan ada saung-saung mungil beratap daun nira dengan meja dan kursi bambu, embusan angin laut dan debur ombak membuat siapa pun nyaman untuk berlama-lama di sana.
Sidqi duduk di salah satu saung dengan kepala menunduk menghadap ke sebuah berkas, tangannya menopang dagu. Matanya yang kosong menyiratkan bahwa jiwanya tidak sedang ada bersamanya. Ia menoleh ketika mendengar langkahku mendekat dan segera menegakkan punggungnya.
“Galuh, hai.” Senyumnya terlengkung. “Apa itu?”
Aku menyimpan kotak yang aku bawa di atas meja dan membukanya pelan-pelan. Atap rumah mungil dari susunan batang padi, dan dinding dari jalinan daun nangka terlihat, di dalamnya aku membuat dua buah kursi dari susunan kulit kerang, dan menyimpan dua buah boneka kelinci yang saling berhadapan. Seketika wajah Sidqi kian cerah.
“Wow … apa ini?”
“Rumah kelinci yang aku janjikan untuk Zea.” Jawabku, dahi Sidqi tiba-tiba mengerut. “Aku ingin mengirimkan ini untuk Zea, boleh?” Sidqi masih diam. “Kalau boleh aku ingin minta alamatnya, biar aku poskan saja, ya?”
“Zea sedang diajak jalan-jalan ke Balik Papan, ada adik bungsu Asti tinggal di sana.” Sidqi melipat tangannya. “Baju-baju, mainan dan makanan yang aku kirimkan entah sampai atau tidak, Zea tidak mau bicara denganku ketika aku menelepon.”
“Kamu harus membawanya pulang, Sidqi.” Aku mengucapkan itu dengan tegas tanpa memikirkannya terlebih dahulu. Entah bagaimana pun caranya, menurutku Zea dan Sidqi harus bersama-sama untuk menyembuhkan diri mereka dari kehilangan.
“Harus?”
“HARUS!” Aku menarik kursi dan duduk di hadapannya. “Karena kamu ayahnya. Kamu yang paling mengenal Zea dalam segala kondisi. Kalian harus bersama-sama.”
“Aku sudah mengatakan itu pada orang tua Asti, tapi … “
“Setidaknya beri kesempatan Zea untuk memilih.”
“Jika akhirnya anakku memilih kakek dan neneknya?”
“Itu tidak akan lama, ini rumahnya. Dia dibesarkan di tepi pantai, untuk siapa pun pantai adalah tempat yang selalu dirindukan. Tidak akan lama lagi dia akan meminta pulang.”
“Kamu yakin?”
Aku mengangguk dalam. Lalu perlahan-lahan binar di mata Sidqi kembali terisi.
Aku terpaksa membawa lagi rumah kelinciku, karena menurut Sidqi jika benda itu disimpan di rumahnya, ibu Fatimah akan semakin merindukan Zea.
Saran dariku ternyata tidak bisa dilakukan oleh Sidqi dengan mulus. Zea tetap berada dalam perlindungan orang tua dan adik-adik Asti dengan banyak alasan. Semakin Sidqi memaksa, kabar tentang Zea semakin jauh.
***
1.      Zea dan Suara yang Hilang
             Aku menepikan motor di depan pasar ikan, melihat perahu-perahu kayu warna-warni berbaris di dermaga. Aku termenung sejenak sampai akhirnya berjalan diantara kios-kios untuk mencari ikan segar pesanan ibu. Sudah cukup lama aku tidak mengunjungi tempat ini, aroma tajamnya masih sama, berembus bersama udara yang terasa asin.
            Dari kejauhan aku melihat kios ikan milik Fajar juga masih terlihat sama, Rustam tengah mengangkat sekeranjang ikan ke atas meja keramik.
            Lelaki itu menjadi hal baik lainnya dari pernikahanku yang kandas. Dengan kepergian Fajar, Rustam diberi mandat penuh untuk mengelola kios ikan dan perahu milik Fajar. Satu bulan setelah itu Rustam sudah bisa menyicil motor dan satu tahun kemudian ia menikah sambil terus menjadi tulang punggung bagi kehidupan ibu dan adik-adiknya.
            “Rencananya aku akan mampir ke tempatmu nanti sore, Galuh.” Rustam menyambutku, berusaha mencarikan kursi plastik tetapi yang ia temukan keranjang plastik besar yang bisa aku duduki. “Kebetulan sekali kamu datang.”
            Aku menertawakan sikapnya yang berubah kaku.
            “Ng … dia meneleponku.” Lanjutnya. Aku bersiap pergi karena kedatanganku sama sekali bukan untuk mencari tahu tentang Fajar. “Dia-mmm- dia meminta uang miliknya, Galuh. Uang keuntungan kios ikan ini. Sepertinya Fajar mulai kehabisan uang, atau kehidupannya tidak benar-benar baik bersama wanita itu.” Rustam mencoba menerka sambil menatapku lekat-lekat, barangkali ia menunggu umpatan atau makian keluar dari bibirku.
            Aku menggeleng. “Dia hidup bersama sang Ratu, Rustam. Mana mungkin dia hidup kekurangan. Dengan kecantikannya wanita itu memiliki segalanya.” Balasku berdiri.
            Gantian kini Rustam yang menggeleng, “aku selalu setuju-setuju aja apa pun yang Fajar lakukan, mau dia jailin orang ,mau dia berhenti kuliah, bahkan mabuk sekalipun aku biarkan saja. Aku hanya menungguinya dan membawanya pulang kalau dia udah benar-benar teler. Tapi keputusan dia meninggalkanmu adalah keputusan Fajar yang paling aku sesali. Jika tidak ada keluarga yang harus aku biayai, aku sudah meninggalkan kios ikan dan kapal milik Fajar. Aku belum pernah mengatakan ini sebelumnya karena aku bingung, Galuh. maafkan aku tidak mampu mencegah Fajar untuk pergi.”
            Aku hanya menaikan kedua bahu. Itu penyesalan yang usang karena pada akhirnya Rustam tetap setia menjadi sahabat Fajar. Cerita tentang lelaki itu telah tenggelam bersama senja yang koyak ketika dia meninggalkanku.
            Semalam ibu menyampaikan satu kekhawatiran tentang seringnya Sidqi berkunjung ke tokoku. “Sekiranya tidak penting, baiknya menjaga jarak. Tidak elok dilihat tetangga.”
            Pagi tadi aku membuka hari dengan niat tersebut, namun aku tak mampu mundur atau melarikan diri ketika Sidqi yang bersandar pada rolling door melihat kedatanganku. Mobilnya terparkir di pelataran.
Sidqi langsung memasukkan ponselnya ke dalam saku celana dan melangkah kepadaku dengan cepat. Kedua lengannya mencengkram lenganku dan mengguncangnya. Sorot matanya benar-benar gembira.
            “Mertuaku meminta aku menjemput Zea, Galuh.” pekik Sidqi. “Zea akan pulang, Zea akan kembali padaku.” Guncangannya semakin kuat, seakan ingin mengungkapkan kegembiraan dirinya yang begitu besar, meletup-letup di dalam dadanya.     
“Owwhh … syukurlah!!” sambutku, Sidqi sudah melepaskan tanganku dengan gerakan rikuh. “Lalu, kenapa kamu masih ada di sini? Bukan pergi menjemputnya.” Aku turut gembira untuk Sidqi dan Zea yang akan kembali bersama.
            Sidqi melihat jam tangannya, “aku masih punya waktu 8 jam lagi. Pesawat dari Balik Papan tiba jam 3 sore nanti.”
            “Hei perjalanan Pelabuhan-Jakarta itu banyak rintangannya, lho. Bisa macet di mana-mana.”
            “Ng ibu … ah tidak, aku maksudku. Aku mengajakmu untuk ikut. Zea akan sangat senang bertemu denganmu.”
            “Oh, tapi.” Aku langsung melewati Sidqi dan membuka rolling door. Membuka pintu kaca dan memutar tanda toko telah buka. “Aduh punten, ada yang pesan souvenir buat ulang tahun dan belum sempat dikemas satu pun.”
            Sidqi mengangguk. “Hmmm …gitu ya? Sehari ini aja.”
            “Aku harus mengantarnya siang ini.” Aku membawa sekeranjang boneka horta yang aku pesan khusus dari Bogor ke atas etalase tepat di hadapan Sidqi. Sejujurnya aku bisa mengantarnya besok pagi karena pesta ulang tahun anak pelangganku akan diadakan sore hari, namun ini menjadi satu-satunya alasan dari niatku tentang ‘harus menjaga jarak’ tadi. “Maaf, Sidqi, ya. Aku janji, aku akan menemui Zea secepatnya.”
            Sidqi akhirnya mengalah, berangkat tanpa berhasil mengajakku. Ia hanya meminta aku menyisakan satu boneka horta untuk Zea dan tentu saja aku menyanggupinya.

            Aku tidak menghubungi atau mengirim pesan pada Sidqi untuk menanyakan kedatangan Zea, dia pun tidak mengabariku sedikitpun tentang sesuatu yang membuatnya begitu gembira dua hari lalu itu. Tentu saja, sebenarnya aku sangat ingin bertemu Zea tapi aku bertahan tidak memenuhi janjiku menemui Zea demi jarak yang harus aku buat antara aku dan Sidqi.
            Tetapi rasanya aku mulai gila dengan terus menerus melongokkan kepala ke luar toko dan berdebar setiap melihat mobil Kijang Innova hitam. Harapan konyol mengalir di pikiranku bahwa Sidqi akan datang mengajak putrinya.
            Akhirnya niatku untuk menjaga jarak aku lupakan sementara, sore itu aku melaju ke Papyrus. Pada hari kerja penginapan itu terlihat lengang, hanya ada dua mobil yang terparkir.
            Aku langsung berjalan menuju rumah keluarga Sidqi. Rumah asri itu tampak sepi, rumpun bougenvile, bunga kuping gajah di dalam pot, anggrek-anggrek yang menempel di dinding teras semuanya diam seakan tidak ada udara yang mengalir di sana.
“Seakan ujian tidak akan pernah habis, Galuh. mungkin kami diminta Tuhan untuk terus memantaskan diri menjadi orang baik.” Ucapan bu Fatimah tidak terlalu aku pahami, lalu ia mempersilahkan aku menemui Zea di kamarnya.
Aku sudah membayangkan pelukan dan teriakan rindu dari Zea, lalu cerita-cerita yang tidak pernah habis. Zea tengah memainkan plastisin, membentuknya menjadi bulatan lantas membuatnya pipih dan kembali membentuk bulatan.
“Halloo Zea, maafin kakak, ya baru bisa datang.” Aku merengkuh Zea tetapi gadis kecil itu tidak merespon, bahkan menatap wajahku pun tidak. “Zea, kakak kangen banget. Cerita dong di sana ngapain aja?”
Aku meletakkan boneka horta yang berbentuk landak di hadapannya. “Ini boneka horta namanya, dia boneka yang bisa tumbuh. Zea harus menyiramnya setiap pagi, nanti lama-lama biji-biji di dalam tubuhnya akan tumbuh menyerupai duri landak. Lucu deh.” Mata Zea tetap tidak bergerak ke arahku atau ke arah boneka, bibirnya tetap terkatup rapat.
Bu Fatimah mendorong pintu dan bergabung bersama kami dengan langkah yang tertatih-tatih dan dibantu sebuah tongkat. Ia duduk di tempat tidur Zea dengan sepreinya yang bergambar karakter Elsa dan Anna yang tampak baru.
“Zea masih ingat kan sama kak Galuh? dia yang punya toko mainan di perempatan jalan. Zea suka ke sana diajak ayah. Ingat enggak?” Tanya bu Fatimah, namun cucunya tetap bungkam.
Aku mengelus puncak kepala gadis kecil itu, mengecup pipinya yang dingin dan ia tetap tidak bereaksi. Tangannya bergerak konstan membulatkan plastisin dan memipihkannya kemudian.
Bu Fatimah menarik tanganku ke balkon, ia menggenggam tanganku seraya menatap ke tengah laut. Kami duduk di pagar beton yang berdebu dengan aroma garam. “Sidqi belum cerita banyak, dia hanya mengatakan, kata orang tua Asti, Zea sudah tidak bicara sejak Asti pergi. Mereka berusaha membawa Zea ke psikolog anak dan melakukan semua sarannya. Tetapi mereka tidak juga berhasil.”
Aku menahan napas, merasakan sesak yang sama dengan yang pasti Sidqi alami. Detik itu aku teramat menyesal datang terlambat menemui Zea hanya karena ego semata.
“Pagi ini lebih baik. Dia mau memainkan lilin-lilin itu. Sejak datang, Zea hanya meringkuk di atas kasur atau pergi ke dapur ketika ia merasa lapar. Aku dan Sidqi sudah mencoba banyak bicara hingga lelah.”
Aku mengangguk sambil memiringkan kepala, mengintip Zea dari celah pintu yang sedikit terbuka. Gerakan tangannya seperti robot yang diprogram dan di matanya tidak ada nyawa sama sekali. Mata berbinar yang selalu ceria miliknya lenyap tenggelam dalam duka yang sulit disentuh.
Keesokan paginya aku kembali dan meminta izin mengajak Zea pergi bersamaku.
Di dalam imajinasiku aku melihat Zea memekik bahagia ketika ia melihat rumah kelinci yang dahulu aku janjikan. Ia akan melompat dan tidak sabar menunggu ketika aku menurunkan rumah kelinci itu dari atas etalase. Zea akan memelukku, mengecup pipiku seperti setiap kali aku selesai membacakan cerita untuknya.
Yang sebenarnya terjadi adalah Aku tetap melihat mata yang sayu dan wajah tanpa antusias. Ketika aku membuka plastik bening pembungkus rumah kelinci itu Zea mengatupkan bibirnya dan tidak menyentuh sama sekali. Aku tidak kecewa, setidaknya hal itu sudah terlintas dalam benakku.
Aku membacakan buku cerita, menurunkan beberapa koleksi barbie dan mencoba bermain peran. Semuanya sia-sia. Gadis kecil itu nyaris membuatku patah hati.
Zea sama sekali tidak tertarik pada mainan. yang terjadi pada anak-anak lain adalah setiap anak yang berkunjung ke tempatku seakan memasuki dunia tanpa rasa bosan. Mereka selalu antusias melihat setiap sisi dan setiap pojok tokoku yang penuh dengan mainan dan buku-buku.
            Zea hanya mengambil sebuah bola berwarna merah muda lantas menggenggamnya. Ia duduk berselonjor di dekat jendela dan memandang ke arah jalan raya. Untuk sementara aku membiarkannya dan melanjutkan melayani beberapa pelanggan yang datang.
            Tengah hari Sidqi datang membawa beberapa kotak makanan, dia tersenyum kepadaku dengan tatapan yang seolah bertanya, apakah kau berhasil membuatnya bicara?
            Aku menggeleng dengan wajah cemberut. Menyesal karena kegagalanku. Sidqi menepuk lenganku, “Tidak apa-apa.” Ucapnya.
            Sidqi duduk bersila di samping Zea, membuka kotak makanan dan menyendokkan nasi. Ia menyuapi Zea dengan gerakan lembut dan wajah penuh kesabaran. Awalnya Zea tetap merapatkan mulutnya, namun Sidqi terus bicara tentang nasi, asal-usul padi dan sawah, hingga akhirnya Zea mau membuka mulut dan mengunyah makanannya.
            Tiga hari sudah Sidqi berhasil membawa pulang Zea. Dia sudah melewati masa-masa bingung dan terkejut mendapati kondisi putrinya. Kini, ia sedang beranjak menuju solusi-solusi untuk mengembalikan Zea seperti sedia kala.
            Sidqi mengajak aku dan Zea pergi ke teluk pada akhir pekan, kami pergi ke tengah laut dengan perahu motor. Berharap hal-hal yang mengejutkan di sana bisa membuat Zea bicara. Kami membakar ikan dan jagung di tepi pantai dan memasang tenda ketika malam menjelang. Tetapi Sidqi hanya mendapati Zea yang meringkuk di dalam tenda dan menolak bermain air.
            “Untuk sementara kita hentikan dulu memaksanya bicara, memaksanya bereaksi terhadap apa pun di sekelilingnya.” Ucap Sidqi akhirnya setelah ia mencoba agar Zea bicara nyaris tiga pekan.
            “Apa kamu menyerah?”
            Sidqi menggeleng. Di sudut matanya ada sedikit kemilau yang memantul dari matahari yang hendak tenggelam. Aku mengartikan itu sebuah harapan, namun seperti orang kebanyakan Sidqi butuh rehat sejenak.
***
Jalanan di sepanjang pantai ramai dan macet. Wisatawan lokal memadati seluruh pantai sepanjang penglihatanku.  Aku enggan keluar, bukan karena tokoku ramai pengunjung tetapi kesakralan upacara labuh saji tidak lagi seistimewa dulu.
Ternyata memaafkan itu tidak berbanding lurus dengan melupakan. Setiap mendengar orang yang membicarakan tentang upacara labuh saji, tentang siapakah yang akan berperan menjadi Ratu Pantai Selatan tahun ini, lukaku seperti kembali dibuka. Linu.
            Zea duduk di tempat biasa sambil melihat lalu lalang orang yang kian ramai. Ia masih belum bicara tetapi sedikit lebih baik karena ia sudah bersedia mengangguk atau menggeleng ketika ditanya.
            Dua keluarga masuk ke toko dan seketika membuat toko hiruk pikuk. Mereka membeli ban renang, pelampung dan menanyakan segala hal. Sepertinya itu wisatawan lokal yang baru pertama kalinya berkunjung. Ketika mereka pergi aku menyadari toko terlalu senyap. Zea tidak ada ditempatnya.
            Aku mencarinya ke setiap sudut toko tetapi tidak menemukannya. Aku segera keluar dan berlari ke arah kerumunan orang yang akan menyaksikan upacara labuh saji.
            Untuk kedua kalinya aku menyesali keramaian itu. Keramaian yang sempat merenggut mimpiku dan kini melenyapkan Zea.
            Aku mengingat rambut panjang Zea yang dikepang dua, kaos ungu dan celana katun merah. Zea aku mohon, pekikku tenggelam oleh keramaian orang. Barisan perahu motor yang penuh sesak oleh orang-orang yang akan melarungkan sesaji sudah menyala, sebagian mulai didorong ke tengah laut.
            Aku melihat perahu Rustam. Ia berdiri bersama istri dan anaknya. Aku melambai sambil berteriak memintanya berhenti. Namun, lelaki itu hanya balas melambai. Sama sekali tidak mendengar suaraku.
            Entah terhalang atau bagaimana, tetapi aku tidak melihat Zea di perahu-perahu itu. Aku melanjutkan pencarian di tengah orang-orang yang menunggu di tepi pantai. Nyaris 1 km aku berjalan tetapi tidak juga menemukan Zea.
            Aku menatap ponsel tetapi ragu untuk menghubungi Sidqi. Dia akan panik dan tidak akan pernah mempercayaiku lagi. Matahari semakin terik, udara panas dan semakin panas karena begitu banyak orang.
            Tepat ketika aku putus asa dan telah mengirim pesan singkat pada Sidqi bahwa Zea menghilang. Aku melihat rambut kepang yang tidak asing. Zea berada dalam gendongan seorang lelaki yang memakai topi.
            “Zea.” Jeritku, seolah aku telah mencarinya ke seluruh dunia. Zea menoleh mendengar suaraku dan meminta turun. Ia berlari kecil ke arahku. Aku memeluknya dan langsung memeriksanya dengan tangan gemetar dan sulit dikendalikan.
            “Siapa yang menggendongmu, Zea. Siapa? ” Pertanyaanku sia-sia, bibir Zea tetap terkatup. Sosok itu telah menghilang ketika aku mendatangi tempat tadi ia berdiri, aku edarkan pandanganku dan tidak menemukan seseorang dengan topi yang sama.       Mengingat begitu banyak kejahatan pada anak-anak membuat tubuhku merinding. Aku pulang dengan memeluk Zea erat-erat.
            Sidqi tiba ketika  kami sudah sampai jalan raya sekitar 50 meter dari toko. Ia menyambut kami dengan senyum yang menyimpan rasa khawatir. Melihat Sidqi membuat air mataku merebak dan tidak segera menurunkan Zea. Ada rasa bersalah yang dalam mengalir dalam hatiku.
            “Maaf.” Bisikku. Sidqi menggeleng dengan senyum yang masih tersemat. Ia mengambil alih Zea ke dalam pelukannya.
            Air mataku tidak bisa berhenti mengalir ketika kami sudah sampai di toko. Ketakutanku kehilangan Zea sama besarnya dengan rasa bersalah. “Jangan larang Zea untuk datang lagi ke sini, Sidqi.” Pintaku terbata. Zea telah kembali ke pojok kesukaannya dan memainkan bola-bola warna warni. “Kejadiannya begitu cepat, ada banyak pembeli dan tiba-tiba dia menghilang.”
            Sidqi duduk di hadapanku, menyentuh lenganku lembut. “Tidak akan. Aku tidak akan menghentikan Zea untuk datang ke sini. Tidak ada yang bisa membuat matanya berbinar selain ketika aku mengajaknya ke sini.”
            Aku menatap Zea lekat-lekat.
            “Kalau kamu perhatikan. Meski dia diam tetapi matanya berbicara banyak hal.”
            Aku mengangguk dan mengingat sorot mata Zea ketika tadi aku menemukannya. Tidak ada sorot mata takut atau khawatir. Barangkali memang dia senang dan ingin menyaksikan upacara tadi, atau mungkin seseorang yang menggendongnya adalah orang yang ia kenal dan memberi rasa aman.

***

Cerita selanjutnya ada di Yang Tertinggal di Papyrus Bagian 3

Tidak ada komentar:

Posting Komentar