Kamis, 26 Januari 2017

Yang Tertinggal di Papyrus Bagian 1





Baca juga Behind The Scene Cerber 'Yang Tertinggal di Papyrus'


1.      Upacara Labuh Saji
Tangan kananku memutar gas dengan kecepatan sedang. Sementara di kepalaku berkelindan pikiran tentang cinta yang sesungguhnya belum terlalu kuyakini. Namun, cinta itu sebuah ego yang ingin kugenggam erat tanpa peduli ada yang tersakiti atau tidak. Pada situasi yang berbeda cinta bisa bermutasi menjadi toleransi.

Pagi ini tepat satu minggu sebelum hari pernikahan aku dan Fajar. Aku datang ke penginapan Papyrus, penginapan milik keluarga Fajar yang terletak tepat di pinggir pantai Pelabuhan Ratu.
Suasana penginapan lebih ramai dari biasa. Bayak mobil-mobil berplat merah yang terparkir di halaman. Di lobi ada seorang lelaki paruh baya yang mengenakan ikat kepala, diikuti seorang gadis cantik dan beberapa orang sekitar delapan atau sepuluh orang.

Lelaki paruh baya itu membawa nampan yang berisi kemenyan yang mengepul dan bebungaan di dalam cawan berair. Kemudian ia memercikkan air di setiap sudut penginapan.
Seseorang memanggilku dari belakang. “Galuh, mau ke mana?”
“Aku mau ketemu ibu.” Sambil mengangkat bungkusan di tanganku. “Kebaya ibu dan kak Asti.”
“Oh, ibu ada di rumah belakang. Di sini lagi ada ritual beberesih karena penginapan kita akan jadi tempat menginap rombongan festival Labuh Saji besok lusa.” Bisik Sidqi, kakak Fajar yang pagi itu mengenakan celana denim dan kemeja putih.
 “Apanya yang mau dibersihkan?” tanyaku sambil  keluar lobi dan berjalan di jalan setapak berbatu yang menghubungkan rumah keluarga Fajar dan penginapan.
“Husy … itu tadi ada yang akan berperan jadi Nyai Roro Kidul, jadi dia harus dikenalkan ke semua mahluk yang ada di Pelabuhan sini, semuanya sudah harus bersih di malam sebelum upacara Labuh Saji nanti.”
Aku mengangguk sambil mengingat gadis cantik tadi yang akan berperan menjadi penguasa laut selatan ini.
“Galuh, hari ini udah bertemu Fajar?”
“Belum.”
Sidqi diam sejenak, “Dua hari lalu dia ribut sama ibu, dia enggak mau pesta pernikahan kalian diadakan terlalu besar. Tapi, ibu enggak bisa apa-apa karena semua udah dipesan.”
Jantungku serasa menghilang, Fajar masih semaunya.
“Dia enggak pulang ke sini, katanya dia menginap di rumah yang di Sela Awi. Kalau ada waktu coba carilah dia ke sana atau ke kiosnya.”
Sepulang dari rumah ibu Fajar aku langsung mendatangi pasar ikan. Perahu milik Fajar yang disewa Rustam tertambat paling depan. Aku tidak bertemu dengan Fajar siang itu, di kios milik Fajar hanya ada anak buahnya dan Rustam yang tengah menunggu pembeli mengambil ikan mereka. Aku hanya bisa menitip pesan bahwa aku mencarinya karena ponsel milik Fajar tidak bisa kuhubungi.
Aku dan Fajar berjumpa dua hari kemudian tepat ketika acara Labuh Saji akan diadakan di tepi pantai. Kami menyaksikan arak-arakan para nelayan yang membawa sesaji dari kejauhan. Termasuk Rustam yang berdandan sangat rapi siang itu. Dia membawa nampan yang sangat besar yang berisi nasi tumpeng dan lauk-pauknya yang dihias sangat indah.
Orang-orang semakin ramai ketika sosok yang berperan sebagai Nyai Roro Kidul tiba. Wanita cantik itu benar-benar seperti seorang ratu sesungguhnya. Ia berdiri anggun di atas pedati yang dihias dan dipayungi oleh payung berwarna emas. Kebaya hijau yang dipenuhi manik-manik dan mahkotanya membuat ia semakin terlihat sempurna.
“Kata orang yang jadi Ratu itu bukan orang sembarangan, lho. Dia dipilih dan harus memenuhi banyak syarat. Sebelum upacara hari ini dia harus puasa dan melalui banyak ritual juga.” Kisahku pada Fajar yang tidak terlalu memperhatikan arak-arakan.
“Sudah seperti pengantin aja.”
“Lebih berat malah.” Aku tertawa, karena aku sendiri yang akan menikah empat hari lagi tidak melakukan ritual apa pun. “Oh iya Fajar, tentang ibu, aku harap kamu jangan terlalu keras. Dia hanya ingin memberikan yang terbaik untukmu.”
“Kamu enggak mengenal ibuku!” sahutnya sambil mulai berjalan mengikuti orang-orang. “Bagi ibu pernikahan kita itu harus balik modal. Dia mengundang bupati sampai pak RT, para pesohor daerah sini. Dia mau pesta besar, agar amplop yang dia dapat juga besar.”
Aku menggeleng tidak setuju dengan pendapatnya, karena aku tidak melihat itu di mata calon mertuaku setiap kami bertemu.
Fajar menghentikan pembicaraan dan mengajakku naik ke atas perahunya. Banyak orang menumpang untuk ikut ke tengah laut. Sebagian membawa sesaji, sebagian membawa tukik untuk di lepas di tengah laut.
Perahu yang kami naiki hanya terhalang satu perahu dengan perahu utama. Perahu besar yang dihias warna-warni dan dikibarkan bendera merah putih di tiangnya. Perahu tempat Nyai Roro Kidul, para pejabat dan tokoh masyarakat akan melepas sesaji. Tanpa aku sadari, entah pada detik keberapa di hari itu mata Fajar melihat sang Ratu di perahu utama yang kemudian mengubah banyak hal.
“Berikan tanganmu, Galuh.” Ucap Fajar, lalu aku menyatukan kedua tanganku di hadapannya. Fajar meletakkan seekor tukik yang lucu dan tampak lemah di atas telapak tanganku.
“Do’a para nelayan hampir selalu sama, mereka meminta tahun-tahun yang akan datang berlimpah tangkapan ikan. Tapi untukmu, kamu bisa berdo’a apa saja.” Kata Fajar diantara suara riuh para penumpang kapal.
“Berdo’a untuk pernikahan kita.”
Fajar tidak segera menyambut ucapanku, ia diam beberapa saat, lalu, “Ya.” Desisnya singkat dan tersamar oleh deru ombak.
Aku menurunkan tanganku ke dalam air dan melepaskan hewan kecil itu, kakinya bergerak-gerak dan berenang menjauh. Bersamaan dengan itu aku melarung seribu satu kekhawatiran dalam dadaku, berharap yang terjadi adalah segala hal yang baik untuk kami berdua.
***
            Satu bulan lalu kami masih sepasang sahabat lama yang berteman sejak SMP. Fajar dengan begitu banyak petualangannya dan aku dengan toko mainan sederhana yang aku bangun dari hasil penjualan perahu warisan bapak.
Siang itu Fajar datang ke toko mainan milikku, dengan rambut sebahu dan baju lusuh. Dia bangga sekali memamerkan bahwa dia berhenti kuliah untuk ke tiga kalinya. Dia pulang dari Jakarta, karena tidak ada satu pun jurusan kuliah yang cocok untuknya.
“Satu-satunya jurusan yang cocok untukku hanya bis menuju Pelabuan Ratu. Boleh saja semua orang ingin mengadu nasib di Jakarta, tetapi kota itu bukan untukku!”
Aku mengangguk setuju. Bagaimana pun debur ombak dan aroma laut yang kami hirup setiap hari selalu menguntit kemana pun kami pergi.
“Kamu ini keterlaluan. Ratusan orang pengen kuliah tapi gak mampu, kamu malah main-main! Seperti aku ini yang kepengen banget kuliah tapi enggak bisa.”
Dia hanya mengangkat bahu sambil mengikat rambutnya dengan karet gelang. Raut wajahnya seolah berkata, siapa suruh aku kuliah?!
“Aku ketemu Rustam. Dia udah jadi nelayan beneran sekarang. Udah bisa sewa perahu untuk melaut. Tapi dia banyak mengeluh karena biaya operasional melaut enggak sebanding sama tangkapan ikan.”
“Iya, semenjak solar naik banyak nelayan yang menggantung jala mereka. Memilih ke kota kerja jadi tukang bangunan atau ngojek sekalian.”
“Aku mau jadi tengkulak ikan, pengumpul ikan-ikan tangkapan Rustam dan nelayan lainnya. Tapi sebelumnya aku harus bantu biaya operasional mereka.” Fajar menceritakan rencananya dengan semangat, bola matanya berbinar-binar. Jauh lebih bercahaya dibanding ketika dia menceritakan kuliah-kuliahnya yang menurutnya sangat membosankan.
Mendapatkan modal bukan hal sulit bagi Fajar. Keluarganya memiliki beberapa penginapan yang sekarang dikelola oleh Sidqi. Fajar tidak membutuhkan waktu lama untuk menjadi seorang tengkulak yang dihormati para nelayan. Jika tengkulak lain meminjamkan  uang untuk modal melaut dengan banyak syarat dan memotong harga ikan cukup tinggi. Fajar tidak demikian, dalam musim paceklik atau nelayan pulang hampa ikan, Fajar selalu membayar ikan-ikan dengan penuh. Memotong pinjaman para nelayan hanya ketika mereka pulang membawa ikan yang berlimpah.
***
Aku tengah membersihkan etalase toko ketika Rustam datang membawa seekor kakap merah yang besar. Fajar, Rustam dan Sabidin adalah tiga sahabat sejak SMP, selalu sepakat akan kenakalan apa pun yang diusulkan Fajar. Sabidin tewas ketika melaut bersama ayahnya beberapa tahun lalu. Kepergian Sabidin memutar balik sikap Fajar dan Rustam menjadi lebih peduli pada sekeliling mereka terutama para nelayan.
Rustam tersenyum-senyum tak jelas, “dari Fajar untuk kamu katanya.”
“Oh ya? Tumben! Bejaken, nuhun kitu, nya[1].”
Rustam tersenyum lagi. “Aku udah bilang sama dia kalau mau ngasih cewek itu bunga, bukan ikan. Dasar Si Baragajul!”
Sontak aku tertawa tetapi langsung berbunga-bunga ketika Rustam sudah pergi. Ini memang bukan pemberian ikan dari Fajar yang pertama kalinya, tetapi ucapan Rustam seakan memberi harapan dari cinta diam-diam yang aku simpan sejak lama.

Toko mainan yang aku buat dari uang hasil menjual perahu tua peninggalan bapak memang tidak terlalu besar, tetapi cukup lengkap dan disenangi anak-anak, terlebih aku menyediakan buku-buku anak yang bisa dibeli atau dibaca di tempat. Salah satu langgananku adalah Zea, anak perempuan berusia 4 tahun keponakan Fajar.
“Barbie, kak.” dia menunjuk boneka Barbie di etalase. Siang itu Sidqi yang mengantar putrinya.
“Mama kemana, Ze? Tumben diantar ayah.”
“Sakit.” Jawab bocah itu singkat.
Aku langsung mendongak menatap Sidqi yang mengangguk dengan wajah murung. “Iya. dia enggak enak badan.”
Sidqi mendekatiku ketika Zea berlari ke arah rak buku. “Fajar sering main ke sini?”
“Beberapa kali.”
“Dia berhenti lagi kuliah, dasar pembosan!” Sidqi menarik napas dalam, terlihat betul ia menyimpan kesal pada sikap adiknya. “Kamu pasti udah tahu kalau dia buka kios di pasar ikan. Tapi untungnya sikapnya jauh lebih membaik sekarang, enggak semaunya sendiri lagi. Dia bisa diajak bicara baik-baik.”
Gantian aku yang bernapas lega, setidaknya Fajar tidak akan lagi membebani keluarganya terlalu banyak.
“Dia jadi begitu setelah sering menceritakan kamu, Galuh.”
Roda mobil mainan hotwheel yang tengah aku perbaiki terlepas sambil memandang Sidqi, “Apa?”
“Aku tahu kamu menyukai adikku dari dulu.” Sidqi mengedikkan bahu sambil tersenyum. “Maaf jika tebakanku salah, tapi dari kamu yang selalu menolak pinangan lelaki lain dan terus berteman dengan Fajar sebebal apa pun dia, aku jadi menganggapmu demikian.”
“Aku enggak! Aku mmm … “ Ah sialan bibirku seakan terkunci, barangkali karena hatiku ingin meneriakkan dengan lantang bahwa tebakan Sidqi benar.
“Galuh, aku dan ibu akan sangat berterima kasih jika kamu bersedia. Karena kami melihat Fajar banyak berubah setelah pulang dan sering bertemu denganmu.”
Seiring dengan Zea yang memintaku membacakan buku, pikiranku seakan berhenti berputar. Fajar tidak pernah mengatakan apa pun, sekadar kata suka apalagi cinta, tetapi Sidqi sudah meletakkan satu beban di pundakku agar aku bisa terus membuat Fajar bersikap lebih baik.
***
Di waktu yang tidak terlalu istimewa, yaitu di siang hari yang terik ketika aku baru pulang dari pasar. Fajar datang dengan memakai celana pendek dan membawa semua aroma pasar ikan. Akhirnya lelaki itu mengatakan semuanya. “Galuh, umurmu berapa?”
“Bulan depan 24 tahun, mengapa tanya-tanya umur?”
“Aku 24 tahun 4 bulan.” Ucapnya sambil menggaruk-garuk dahinya. “Kayanya umur kita udah pas buat nikah. Kita nikah yuk!” Fajar mengucapkannya dengan ringan seperti seseorang yang mengajak untuk pergi ke pasar malam. Tetapi kemudian dia mengucapkannya hingga tiga kali dan mengatakan bahwa ia serius.
Ajakannya dia buktikan dengan kunjungan Sidqi, paman, dan ibu mereka yang datang melamarku untuk Fajar.
Barangkali keputusanku menerima pinangan Fajar terlalu terburu-buru, tetapi siapakah yang sanggup menunggu ketika cinta yang telah dinantikan sejak bertahun-tahun lalu tersimpan tepat di hadapan. Saat itu aku tidak meneliti apakah yang Fajar tawarkan itu cinta atau sekadar pengisi waktu sementara.
Pernikahan akan dilangsungkan dua bulan dari saat itu. Ibu Fajar yang paling antusias menyiapkan segalanya. Dia berjanji akan menyulap lapangan penginapannya menjadi tempat resepsi yang megah. Aku dan ibuku hanya mengangguk tanpa mengucapkan apa pun.
“Neng Galuh, Fajar itu anak bungsu ibu. Kelakuannya haduuuh semua orang tahu gimana dia waktu kecil. Makanya ketika dia bilang mau nikah, ibu mah meni asa bucat bisul[2]! Semua isi boboko dan aseupan arek diketrukeun![3]” Kata calon ibu mertuaku penuh antusias.
***
            Upacara Labuh Saji yang berlangsung kemarin telah tertinggal di belakang. Acara pernikahan yang tidak lebih dari 24 jam lagi menyedot penuh konsentrasiku. Beberapa saudara yang mulai berdatangan menggoda dengan banyak sindiran tentang pengantin baru. Tawa mereka berderai ketika membahas sesuatu dengan cara berbisik. Semua dilakukan di dapur sambil memotong, memarut dan melakukan semua persiapan untuk esok hari.
            Silaturahmi yang terjalin, rasa kekeluargaan yang kian erat antar saudara, antar tetangga adalah bagian dari kegembiraan pernikahan yang semua orang nantikan. Aku mendengar semua obrolan dari dalam kamar dengan baluran lulur.
            Diantara aroma masakan yang menguar dan denting besi-besi dari tenda yang sedang dipasang terdengar suara pintu yang diketuk. Sepupuku mengatakan Fajar datang dan memaksa ingin bertemu.
 “Duh, aku lagi belepotan, nih.”
Perias langsung mengomel bahwa kedua calon pengantin dilarang bertemu sampai akad nikah nanti, tetapi sepupuku memaksa karena Fajar jauh lebih memaksa. Ia mengatakan bahwa membawa kabar yang sangat penting. Sang perias pun mengalah dan segera membersihkan tubuhku.
Fajar membawaku ke tepi pantai yang cukup sepi dengan mobil pik-upnya, kami berteduh di bawah pohon ketapang yang rindang. Sejak tadi lelaki itu seperti enggan menatap mataku.
“Ada apa, Jar?”
Dia menarik napas dalam dan lama, baru mulai bicara. “kamu mengenalku dengan baik, Galuh. Kamu tahu aku anak nakal dan seenaknya, tapi aku bukan lelaki yang suka memainkan perempuan.”
Detik itu aku merasa ada yang jauh lebih serius dari pernikahan kami.
“Namanya Lady, dia yang berperan menjadi ratu pantai selatan di upacara labuh saji kemarin. Hari itu aku pulang dan baru tahu kalau rombongan itu menginap di Papyrus. Kami berkenalan lalu berbincang semalaman. Dia membuatku … “ Fajar menggantung kalimatnya, seakan tahu semakin ia meneruskan bicara semakin ia menusuk lukaku lebih dalam. “Maafkan aku Galuh, pernikahan kita sepertinya.” Fajar menunduk dalam, ia berusaha meraih tanganku namun aku menjauh.
Aku menatap lelaki di hadapanku lekat-lekat, bukan hanya menoreh luka namun melemparkan lumpur ke wajahku sekaligus. Hingga kini, aku belum sanggup menggambarkan perasaanku saat itu. Jika tidak mengingat ibuku, rasanya aku ingin berlari di atas karang dan melompat ke laut.
***
Aku meletakkan kepalaku di pangkuan ibu dan menangis tanpa suara. Ibu mengelus ruas-ruas tulang punggungku dan memahami apa yang telah terjadi.
“Dari setiap kejadian selalu ada hal baik. Hanya ingat hal yang baik, Galuh, hal-hal yang baik bukan yang lain.” Bisiknya sebelum aku jatuh tertidur.
Samar-samar aku mendengar ibu melangkah ke dapur dan berkata, “Wa Ros, ceu Piyah segera selesaikan memasak semua makanan ini, lantas bungkus-bungkus semuanya dan bagikan pada para tetangga, sekalian sampaikan bahwa pernikahan Galuh batal dilaksanakan.” Tidak ada seorangpun yang intrupsi atau bertanya, semuanya senyap. Yang ada hanya suara minyak panas dan aroma bumbu yang tajam, yang serasa memilin sumbu jantungku.
Di rumahku tidak ada kegaduhan apa pun. Ibu membuat semuanya berjalan seperti sedia kala, seakan tidak pernah ada rencana pernikahan yang kandas. Tetapi tidak demikian yang terjadi di rumah Fajar, siang itu juga ibu Fajar dilarikan ke rumah sakit karena tekanan darah yang melonjak tinggi. Sementara lelaki itu tidak pernah pulang setelah mengatakan ia batal menikah kepada keluarganya, semudah ia mengatakan, aku lapar!
***
“Seberapa banyak pun wisatawan yang datang ke Pelabuhan Ratu, butiran pasir di pantai tidak pernah berkurang. Ombak akan terus membawa penggantinya setiap dia menepi.” Canda kak Asti, istrinya Sidqi yang datang di siang hari ketika aku merapikan rak buku anak.
Kalimat itu ia tujukan bagiku, bahwa seseorang yang datang dan pergi dalam hidup kita tidak akan pernah mengurangi arti hidup kita sendiri.
“Sidqi sering memujimu, Galuh. dia bangga kamu bisa melanjutkan hari-harimu dengan normal.” Lanjut Asti, sambil duduk di kursi yang biasa aku duduki. Hubungan kami menjadi dekat sejak mempersiapkan pernikahanku yang gagal beberapa waktu lalu.
“Aku berusaha fokus pada hal-hal baik setelah kejadian ini. Sebut saja aku seharusnya bersyukur karena mengetahui keinginan Fajar sebelum menikah. Apa jadinya jika ia bepaling pada wanita lain setelah kami benar-benar menikah.”
“Karena Sidqi dan ibu gagal melalui ulah Fajar yang satu ini.” Asti mengangguk, wajahnya terlihat lebih pucat dari biasa.
 “Kak Asti sakit?”
“Hanya sedikit kurang tidur.” Jawabnya singkat namun Zea langsung menyela.
“Sebentar lagi ayah jemput, mau antar mama ke dokter yang di kota.” Jelasnya dengan suara yang renyah.
Aku langsung menoleh menatap Asti sambil menaikkan alis.
“Kehamilan ke dua ini agak merepotkan, Galuh. tensi darahku tinggi terus padahal sudah menjaga makanan. Jadi Sidqi mengajakku konsul ke dokter yang ada di Sukabumi.”
 “Oh, semoga enggak ada apa-apa, ya.” Asti mengangguk sambil menoleh ke jalan raya ketika melihat mobil suaminya berhenti di depan toko. Zea merajuk untuk menunggu di tempatku, anak perempuan itu menolak ikut. Dia lebih memilih membaca buku dan menemaniku memilih batang-batang padi kering yang aku kumpulkan di dalam kardus.
Asti menggenggam tanganku erat merambatkan rasa hangat, “titip Zea, ya, Galuh. Kalau dia nakal kamu jangan segan menegurnya.”
“Tenang, dia aman bersamaku.” Jawabku seraya mengantarnya ke mobil.
Keesokan paginya Sidqi singgah untuk menyampaikan bahwa Asti harus dirawat di rumah sakit karena tekanan darah yang tinggi ditambah dengan asma yang kambuh membuat Asti memerlukan penanganan serius.
Sidqi memang tidak secara langsung menitipkan Zea padaku, namun aku tahu dia khawatir meski Zea sudah dititipkan pada ibu dan pengasuhnya.
Aku datang menemani Zea setelah menutup toko. Ibu Fatimah sangat gembira dengan kunjunganku. Wanita yang setahun lalu masih terlihat sehat dan bugar, saat ini dia lebih banyak menggunakan kursi roda meski masih bisa berjalan dengan tertatih-tatih. Kemarahan pada putra bungsunya, mengambil keceriaan dan kesehatannya sekaligus. Di bagian itu aku merasa ingin memaki Fajar lagi.
Ibu Fatimah meminta pembantunya membuatkan makanan yang banyak dan menyajikan semuanya. Zea menyuruhku makan ini dan itu hingga kekenyangan. Entah berada di mana Fajar saat ini. Dia meninggalkan rumah yang penuh kehangatan dan makanan berlimpah. Aku mengingat lelaki itu, apakah dia mendapatkan kenyamanan? Akankah perutnya merasa kenyang saat ini?
Aku tidak tega meninggalkan Zea, anak itu memintaku menginap. Tetapi aku menolak karena tidak tega meninggalkan ibu terlalu lama. Ketika tengah mengengkol motorku yang sering sulit menyala, mobil Sidqi masuk ke halaman penginapan lalu ia turun terburu-buru.
“Galuh, keadaan Asti semakin memburuk dia kejang-kejang. Keluarga Asti meminta aku merawatnya di Bandung, aku bingung.” Raut cemas dan lelah mendominasi wajahnya. Sementara ayahnya bicara Zea memeluk kakiku erat-erat.
Aku mengurungkan diri untuk pulang dan masuk lagi ke dalam rumah besar berpagar rumpun bougenvil yang dipangkas rapi itu.
Sidqi tidak menjelaskan dengan detil keadaan Asti pada ibunya. Ia hanya mengatakan Asti perlu perawatan khusus. Lelaki itu tidak ingin ibunya terus menerus terguncang oleh segala hal yang menimpa keluarga mereka.




[1][1] Bilangin, terima kasih, ya
[2] Serasa bisul meletus!
[3] Semua isi boboko dan asepan mau dikeluarkan! (boboko dan asepan alat dapur yang terbuat dari bamboo)



Cerita selanjutnya ada di Yang Tertinggal di Papyrus Bagian 2

7 komentar:

  1. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  2. apa iya Galuh bakal sama Sidqi? *setia nunggu :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. tebak ... tebaak ... hehe ... silakan baca lanjutannya ya, dear :)

      Hapus
  3. Abis ini mau baca langsung part 2 nyaaa, penasaraaan :D

    Salam,
    Rasya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Salam kenal juga Rasya :)

      selamat membaca ya.

      Hapus