Senin, 16 Januari 2017

Cerpen 'Sinyal di Jendela' Dimuat di Majalah Kawanku Edisi 23

Bismillahirrahmarirrahim ...
Hujan turun sejak malam hari di sini, jadi pagi ini udara sangat dingin dan basah, suasana di luar juga sepi. Sebuah komposisi yang pas untuk menjalani hari dengan 'mager'😊Untuk memanfaatkan mager agar lebih efektif kali ini saya akan posting cerpen yang beberapa bulan lalu sudah dimuat di majalah Kawanku.

Cerpen yang berjudul Sinyal di Jendela ini dimuat di edisi 23, beberapa edisi sebelum majalah yang terbit dua minggu sekali tersebut tutup. Sedih banget setiap ada media cetak yang berhenti terbit. Tetapi mau bagaimana lagi, mereka sebuah perusahaan yang harus mendapatkan profit yang bagus, sementara di era digital sekarang ini masyarakat lebih memilih bacaan digital dibanding cetak. Terlebih majalah dengan target pembaca remaja usia belasan yang nyaris semuanya terhubung dengan internet.


Jadi, -meski honornya sangat lama saya terima 😁😁- saya gembira dan cukup bangga ketika salah satu cerpen saya punya kesempatan dimuat di majalah Kawanku edisi cetak, yang kini tinggal sejarah.
Tetapi jangan sedih, ya, majalah Kawanku kini beralih menjadi majalah digital dengan nama  cewekbanget.id isinya masih seru tetap seru, serba-serbi tentang dunia remaja yang penuh warna dan dinamis.


Cerpen yang saya tulis ini terisnpirasi dari keponakan saya yang berumur 9 tahun, dia selalu naik ke atas meja, berjongkok dan menyimpan hp di tralis jendela. Semuanya dia kerjakan demi mendapatkan sinyal wifi dari rumah sebelah, untungnya itu rumah paman saya yang enggak masalah nebeng wifi-an. Karena bergeser sedikit saja sinyalnya hilang, jadi tidak ada pilihan lain dia harus nangkring di dekat jendela kalau mau main game atau nonton kartun di youtube.

Cerita itu saya adaptasi dengan mengganti tokoh dan setting cerita disesuaikan dengan media yang saya tuju. Ketika akhirnya cerpen ini dimuat, ponakan saya Cuma nyengir aja, dan semoga dia gak minta jatah honor karena saya udah pakai cerita hidupnya hahaha ... 😂 *tante medit*

Nah, ini dia cerpennya.



Sinyal di Jendela
Adya Pramudita
            Sanny berjalan pulang dengan langkah cepat. Sejak minggu lalu, ia tidak menyukai lagi berlama-lama berada di sekolah. Tepatnya, sejak rumah sebelahnya ditempati sebuah keluarga yang baru pindah dari Jakarta.
            Sanny memang belum mengenal mereka, hanya Nenek yang sudah berkenalan dengan nyonya rumah tetangga baru itu. Sanny cukup tahu nama keluarga tersebut, untuk kemudian mendapatkan keuntungan dengan mendengar sebuah password yang diteriakan anak bungsu mereka di halaman belakang rumah.
            Setibanya di dalam kamarnya Sanny memanjangkan leher, melihat ke luar jendela. Rumah tetangganya tampak sepi. Sanny naik ke atas meja, menyimpan ponsel android milik tante Nur yang diberikan padanya di teralis jendela.
            Sanny menyalakan tombol Wi-Fi, tidak berapa lama ponsel pintarnya tersambung ke internet. Sanny tersenyum lebar sambil terus melihat ke arah rumah tetangganya. Beruntung tembok pagar yang memisahkan rumah Sanny dan tetangganya cukup tinggi, jadi Sanny tidak takut ketahuan ketika ia menumpang untuk menggunakan jaringan internet dari Wi-Fi tetangganya itu.
            Sanny sedang mememutar musik di Youtube ketika Neneknya masuk kamar untuk menyuruhnya makan.
            "Sanny, kamu apa-apaan naik ke atas meja?" Neneknya terkejut melihat Sanny sedang duduk di atas meja, sambil melihat ponsel yang disangkutkan di teralis jendela.
            Sanny menyeringai sambil menurunkan volume musiknya. "Nenek ngagetin aja deh, aku lagi nyari sinyal, nek." Dusta Sanny, ia malas menjelaskan karena biasanya neneknya tidak mudah mengerti.
            "Nyari sinyal kok sampai naik ke atas meja?" omel neneknya, menepuk punggung Sanny agar segera turun. "Pamali naik-naik ke atas meja, nanti pantatnya bisulan."
            "Sebentar, nek. Ini kalau geser sedikit aja sinyalnya hilang." Erang Sanny menahan tarikan tangan neneknya.
***
            Sanny mendapatkan kemudahan sinyal dengan cara menumpang sudah hampir satu bulan. Ia bisa menghemat uang jajannya karena tidak harus beli pulsa, bisa menonton video musik One D terbaru dengan lancar tanpa takut kehabisan kuota, dan yang paling membantu, ketika tante Nur meminjamkan leptop yang sudah tidak dipakai karena ia cuti melahirkan, Sanny bisa mengerjakan tugas-tugas sekolahnya dengan mencari bahan-bahannya di internet dengan lancar menggunakan laptop.
            Sanny tidak mungkin meminta dibelikan modem pada ayah dan ibunya yang tinggal di luar kota, Sanny tahu perekonomian keluarganya belum membaik sejak usaha ayahnya bangkrut dua tahun lalu. Salah satu alasan Neneknya, meminta Sanny tinggal bersamanya untuk mengurangi beban keluarga Sanny.
            "Kamu beneran unduh drama korea ini?" tanya Meli teman sebangku Sanny. "Enggak ngabisin pulsa memangnya? " Meli terus menonton di ponsel Sanny hingga semangkuk baso di depannya mulai dingin.
            Sanny tersenyum sambil menyipitkan matanya, menggeleng pelan. "Udah tonton aja, tuh pangerannya lagi galau milih jodoh." Canda Sanny.
            Sampai hari ini Sanny tidak memberitahukan ulahnya itu pada siapa pun, karena di dalam hati kecilnya sendiri, Sanny merasa yang ia lakukan bukan perbuatan jujur. Sanny tidak merasa mencuri, namun tetap saja ia menggunakan sesuatu tanpa meminta izin terlebih dahulu.
            "Kata teman-teman drama terbaru yang paling bikin baper itu judulnya Scarlet Heart Ryeo, coba deh nanti kamu cari. Nanti, Aku nebeng nonton lagi." Meli memberikan ponselnya kepada Sanny yang langsung dijawab dengan ucapan OK yang penuh keyakinan.
            Namun, ketika Sanny tiba di rumah dan menempati posisi favoritnya. Sinyal wi-fi langganannya menghilang. Sanny menyentuh tombol connect berkali-kali, namun tetap tidak ada perubahan. Jaringan internet tidak mau tersambung. Foto-foto kucing kesayangannya tidak kunjung bisa diunggah ke akun instagramnya.
            Shanny bangun dan bertumpu dengan kedua lututnya. Melihat rumah sebelah dengan teliti, tetapi ia tidak melihat ada perbedaan apa pun. Ia penasaran, mendatangi neneknya yang sedang mengupas mangga.
            "Kalau tetangga sebelah lagi pada pergi ya, nek?"
            Neneknya hanya mengangkat bahu, kedua alisnya bertaut. Gerakan di kerut bibirnya seolah ingin berkata angin apa yang membuat Sanny tiba-tiba peduli dengan tetangga mereka.
            "Nek, keluarga pak Nizam Alatas itu lagi pada ke mana, ya?" Sanny mengulang pertanyaannya sambil terus mengecek jangan-jangan masalah ada pada ponselnya sendiri.
            "Nenek enggak tahu, tadi pagi nenek masih ketemu sama bu Nizam di warung Bang Naga."
            Wajah Sanny memberengut, kedua kakinya ia ketuk-ketukkan ke kaki meja.
***
            Sanny penasaran, pagi hari sebelum sekolah Sanny berpura-pura menyapu halamannya hingga keluar pagar, menyapu hingga separuh trotoar jalan depan rumah pak Nizam Alatas.
            Ia melihat kesibukan keluaga itu masih seperti hari-hari kemarin. Bapaknya yang mulai memanaskan mobil, anak bungsunya yang masih SD ribut mengejar kucing anggoranya, dan anak pertama keluarga itu, seorang lelaki yang kata neneknya sudah kuliah semester 3 tengah memakai jaket kulit sambil melihat ke arah Sanny dari teras rumahnya.
            Sanny buru-buru menyapu lagi, menyerok sampah berkali-kali. Lantas cepat masuk ke dalam rumah. "Mereka ada, normal. Baik-baik aja." Gumam Sanny sambil menyimpan sapu lidi.
            "Nek, aku mau bekal makan siang. Nenek masak apa hari ini?" Sanny membuka tudung saji, melihat sayur bayam dan perkedel jagung.
            Nenek menuang air putih dan duduk di kursi meja makan, "kamu enggak bilang akan bekal makan siang, jadi nenek masak seadanya. Lagian kok tumben?"
            "Enggak apa-apa, yang ada aja." Sanny tersenyum, tidak ingin membuat neneknya khawatir. "Iya aku mesti berhemat lagi nih, soalnya harus beli pulsa lagi."
            Neneknya kembali berdiri, mengambil kotak makan siang dari lemari dapur. "Lho memangnya kemarin-kemarin kamu enggak beli pulsa?"
            Sanny menggeleng lemah, "Iya, sinyal yang nyangkut di jendela sekarang udah  hilang. Jadi aku harus beli pulsa."
            Dahi nenek berkerut dalam, ia menggelengkan kepala berkali-kali. Namun tidak melanjutkan bertanya, apa pun yang jadi tema pembicaraan anak-anak zaman sekarang seringkali berujung kebingungan baginya.
***
            Selama satu minggu, setiap pagi dan sore hari Sanny terus mencoba menyalakan wi-fi milik keluarga Nizam Alatas. Namun tidak juga berhasil. Wi-fi di rumah tersebut sudah dimatikan. Karena jika password-nya saja yang diganti atau posisi wi-fi yang diubah, Sanny pasti bisa mellihat di dalam pengaturan ponselnya.
            Sanny menarik napas dalam sebelum tidur. Besok ia akan sampaikan pada Mila bahwa ia tidak bisa mengunduh drama korea yang Mila inginkan. Sanny melirik ke atas meja belajarnya, beberapa buku menumpuk, mengingatkan tugas pra karya dan percobaan kimia yang ingin ia cari di internet.
***
            "Eh, kamu udah coba sinyal yang nyangkut di jendela lagi, belum?" tanya Nenek tiba-tiba ketika Sanny menulis di atas meja makan. Sanny menggeleng, ia sudah kehilangan minat untuk mencoba setiap hari.
            "Tapi kata bu Nizam sudah dinyalakan lagi. Pasti sinyal yang hilang itu sekarang udah ada.
            Sanny tersentak, menghentikan kegiatannya. Mata Sanny membulat menatap neneknya yang tengah bersantai di kursi malas. "Apa? Dari mana bu Nizam tahu kalau ... kalau ... oh Tuhan!" Sanny terpekik hingga menutup mulutnya.
            "Tahu apa?" Neneknya balik bertanya dengan raut polos. "Nenek Cuma cerita sewaktu pulang sama-sama dari warung bang Naga, kalau kamu kehilangan sinyal yang biasanya ada di jendela kamar sebelah utara. Tahu-tahu dia langsung nyahut, mungkin sinyal itu dari rumahnya. Sinyal itu sengaja dimatikan karena nilai kuliah anaknya jelek terus. Anaknya kebanyakan main game, katanya." Nenek bercerita dengan enteng, tanpa memperhatikan wajah Sanny yang berubah pucat.
            "Kemarin sore bu Nizam datang ke sini, kasih tahu nenek, katanya sinyal di jendela udah bisa kamu pakai lagi.
            Jantung Sanny serasa tiba-tiba berhenti. Ia sangat ingin berteriak namun tenggorokannya seakan tersekat, tidak ada suara yang bisa keluar.
            "Masa coba, anak yang udah kuliah masih suka main game, enggak kaya kamu ya, masih SMA udah enggak pernah main game." Neneknya terus bicara.
            Sanny menelan ludah berkali-kali. Menyandarkan tubuhnya yang sudah kehilangan tenaga. Bagaimana mungkin ia bisa mengangkat wajahnya di hadapan keluarga Nizam Alatas.
***
            Sanny membantu neneknya membuat bolu kukus rasa pandan dan coklat, menatanya di atas piring. Ia mengenakan baju terbaiknya, memperbaiki rambutnya di depan cermin berulang kali.
            Jika setiap orang yang akan mengakui kesalahan serupa ini, mungkin dunia akan tampak lebih indah, hibur Sanny pada diri sendiri. Padahal detak jantungnya bedenyut dua kali lebih cepat.
            Sanny berdiri di depan rumah keluarga Nizam pada hari minggu pagi, tepat ketika keluarga itu berkumpul.
            Sanny mengakui semua kekhilafannya pada Bu Nizam dengan pengakuan yang terbata-bata. Sebaliknya, wanita berwajah khas Arab itu tergelak ketika mendengar pengakuan Sanny, menepuk lengan Sanny berkali-kali bahwa yang ia lakukan bukan sebuah kesalahan.
            Meski disambut dengan sangat baik, dan dipersilakan menggunakan Wi-fi kelurga Nizam Alatas sepuasnya. Sanny tetap merasa malu dan tidak enak. Ia merasa sudah mencoreng di awal perkenalannya dengan keluarga Nizam Alatas. Sanny mohon pamit setelah bu Nizam menerima kiriman bolu kukus yang Sanny bawa.
            "Hei ... " panggil sebuah suara dari arah garasi.
            Sanny menoleh dan melihat anak sulung keluarga Nizam Alatas, ia mengenakan t'shirt dan celana pendek, jarinya menjepit sebuah komik anime.
            "Makasih, ya. Seenggaknya, setelah ibuku tahu bahwa ada gadis tetangga yang nebeng wi-fi kita, dia jadi nyalain lagi wi-fi meski aku tetap enggak bisa bebas main game lagi."
            Sanny merasa serba salah, ia bingung harus bersikap bagaimana. Rasanya, ia lebih siap mendapatkan omelan dari pada ucapan terima kasih untuk kekhilafan yang ia lakukan. Akhirnya, ia hanya mengangguk dengan senyum kaku sebelum meninggalkan halaman rumah keluarga Nizam Alatas.





Tidak ada komentar:

Posting Komentar