Kamis, 26 Januari 2017

Behind The Scene Cerber 'Yang Teringgal di Papyrus'

pixabay

Halah judulnya rek ... kaya karya keren selangit dan bumi aja hahah ... enggak sih saya Cuma mau cerita sedikit aja bagaimana saya memulai kisah di cerber ini.

Ketika saya berniat ikut lomba Cerber Femina tahun 2015 yang pertama saya tanya tentu saja mentor menulis saya saat itu yaitu mba Nurhayati. Beliau menunjukan Cerbernya yang dulu pernah juara dan dibukukan oleh Femina yang judulnya adalah " ... " ya Allah saya lupa judulnya apa, saya cari di blognya mba Nur enggak nemu lagi 😊. ^-^ pokonya yang tokohnya bernama Srintil dan John, saya pelajari ending-nya dalam cerita itu, karena belum tahu saya mau bikin cerita kaya gimana.
Kata mba Nur saat itu yang terngiang hingga kini, "Femina menyukai lokalitas yang kental." Saya pegang kata-kata itu sebagai modal awal.


Lalu, saya baca cerpen mba Nur yang juara 2 berjudul Semangkuk Kenangan, di sana kental lokalitasnya dengan mengambil background upacara Kasada. Kemudian saya baca-baca cerpen Bang Ipal (Palris Jaya) yang tentang pernikahan dari Sumatra Barat.

Kesimpulan saya setelah baca-baca karya keren tersebut adalah saya harus memulainya dengan sebuah 'Perayaan' karenanya saya kemudian mencari acara perayaan atau upacara di sebuah daerah. Dan, karena saya kuper jarang banget traveling, dan saya sudah berbulan bulan tidak menulis novel, kebanyakan nulis cerpen, napas menulisnya jadi pendek-pendek. Saya memutuskan, saya harus menulis daerah yang pernah saya lihat dan saya kuasai benar. Artinya mana lagi selain Jawa Barat, karena daerah wara wiri saya Cuma di situ. Setelah browsing, yang paling menarik dan pernah saya kunjungi tempatnya beberapa kali yaitu Pelabuhan Ratu dan di sana rutin mengadakan upacara Labuh Saji.
Sebuah Upacara persembahan yang dilakukan oleh nelayan sebagai ungkapan rasa syukur dan mohon keselamatan dalam melaut. Upacara tersebut saat ini jadi daya tarik untuk para wisatawan. Sepanjang pantai dan pusat kota Pelabuhan Ratu dipenuhi pengunjung jika perayaan tersebut berlangsung.
Dari sana lah saya memulai cerita ini.

Sempat bongkar-pasang cerita dan alur, sampai akhirnya saya hanya memfokuskan pada kisah cintanya. Ehm ... iya, cerita cinta selalu laku dijual hehehe ... setidaknya saat itu saya berpikir kalau gagal di Femina akan saya kembangkan menjadi novel atau saya mau buat cerita lain dengan jumlah halaman yang sama dan diajukan ke penerbit sebagai kumpuluna novelet.

Proses penulisannya sih biasa aja, seperti menulis novel atau cerpen pada umumnya.  lihat-lihat foto ketika main ke sana, browsing dan baca-baca banyak artikel tentang Pelabuhan Ratu, tentang kehidupan para nelayan, tentang dunia perhotelan, meski ternyata yang masuk sangat sedikit. Mengingat-ingat lagi aroma pasar dan suasananya di sana.

Judul awalnya hanya Papyrus, karena saya lebih suka judul yang simple dan hanya satu kata. Seperti yang saya gunakan di novel Menjeda, Ambigu –novel Namaku Loui(sa) judul aslinya adalah Ambigu- dan Loosing You di kumpulan novelet Maret Flower.

Tetapi, ketika saya ngobrol dan berkonsultasi dengan sobat nulis saya, iya, siapa lagi kalau bukan Shabrina Ws hahahah 😀... dia menyumbang dua kata untuk melengkapi menjadi 'Yang Tertinggal di Papyrus' menjadi lebih manis pastinya, meski saat itu galau juga karena saya salah satu orang yang mengikuti pendapat bahwa tidak boleh menggunakan kata sambung di awal kalimat.
Tapi, demi judul yang memberi kesan manis maka saya rela untuk keluar sesaat dari pendapat itu ^duh enggak konsisten banget yah^ 😷

Ketika panitia mengontak meminta softcopy-nya wah saya ge er luar biasa, namun, saat tahu siapa aja yang dikontak sebagai unggulan, saya langsung mengkeret dan enggak banyak berharap. Dan, benar saja cerber juara 1, 2, 3 itu cerita-ceritanya cetar banget.
Jadi, ketika diberi kesempatan dimuat reguler saja, saya sudah senang luar biasa. Saya jadi tidak harus membuat cerita lain untuk melengkapi kisah Galuh ini. Alhamdulillah.

Terakhir, saya mau mengucapkan terima kasih banyak untuk Mba Nurhayati Pujiastuti dan Shabrina Ws, karena selalu sabar menjadi firstreader tulisan saya dan menjawab pertanyaan-pertanyaan saya yang sulit berhenti. Semoga Allah membalas dengan kebaikan berkali lipat. Aamiin



2 komentar:

  1. Hahaha...sementara kau menghindari kata sambung di depann, aku justru menyukainya. 😃

    BalasHapus
    Balasan
    1. haha iyaa ... dan aku menunggumu ... aeeeh huhuy

      Hapus