Jumat, 09 Desember 2016

Meski Nominalnya Kecil, Tertipu Tetap Saja Sebal!

Gambar : Pixabay

Setiap orang pasti merasa marah ketika tertipu, entah jumlah kerugiannya sedikit apalagi banyak, tertipu tetap meninggalkan rasa kesal. Kesal terhadap diri sendiri yang kurang hati-hati, kurang pertimbangan, tidak tanya sana sini dulu, dan lain sebagainya.

Saya ... saya pernah tertipu entah berapa kali. Meski jumlahnya tidak seberapa tapi seharusnya jadi bahan pelajaran. Tapi kalau sudah lama kejadiannya, lupa, tidak hati-hati, lalu tertipu lagi. Huft ... kalau kata suami, terkadang saya terlalu polos, berpikir sederhana, dan enggak curigaan.
Makanya, di zaman sekarang ketika penipuan menggempur dari berbagai penjuru. Mulai lewat sms, lewat telpon yang memberi tahu menang undian ratusan juta, sampai orang yang langsung di depan mata melas-melas kepingin pulang kampung kehabisan ongkos. Saya harus super hati-hati pasang benteng waspada depan belakang. Ketika di rumah, sudah tidak pernah lagi menerima tamu yang mengaku periksa gas, periksa listrik - di luar petuga yang biasa.-

Saya masih bisa menangkis ketika penipuan melalui sms atau telepon. Lumayan sudah tahu dari cerita teman-teman tentang modus operandi busuk para penipu model begitu. Tapi kalau berhadapan langsung dengan orang yang melas-melas, membangkitkan rasa kasihan yang sangat, biasanya saya suka kena.
Contohnya, bertahun-tahun lalu ada pengamen yang memang suka langganan lewat perumahan. Dia mengetuk pagar rumah, dengan panik dia bilang "ayah saya meninggal, saya harus pulang ke Cianjur tapi enggak punya uang. Saya janji akan kembalikan. Setiap jumat saya selalu ngamen daerah sini. Nama saya Iwan."

 Duh, saya ya galak-galak begini kalau ada orang cerita bawa-bawa orang tua atau atas nama anak suka langsung meleleh. Jadilah saya kasih, pas cerita ke suami dengan tegas beliau lansung berkata. "Enggak akan diganti! Itu nipu."
Lalu saya kesal, kok suami gak peka amat, enggak punya rasa kasihan sama orang. Berprasangka buruk. Gimana kalau benar bapaknya si pengamen itu meninggal. Udahlah, ubah niat aja buat nolong kalau memang enggak diganti.
Dan, wakwaww terbilang minggu dan bulan sampai sekarang si pengamen bertopi itu enggak pernah datang lagi untuk membayar hutang. Untuk kembali ke niat menolong enggak semudah seperti yang diucapkan, ada rasa kesal dan gemes juga ketika akhirnya sadar bahwa saya sudah tertipu. 
Dan, ternyata ada juga tetangga yang dimintai pinjaman uang, tapi tetangga saya itu selamat karena sudah ngeh pasti menipu.😌

Maka setelah itu, kalau pergi suka diwanti-wanti untuk jangan mudah percaya orang lain, dan enggak usah nampang wajah ramah-ramah amat. Tapi setelah itu saya masih tertipu lagi oleh tukang tahu, iya benar oleh tukang TAHU. Lain kali lah cerita tentang itu 😊😊

Nah, setelah sekian lama, beberapa minggu lalu saya tertipu lagi. Duh! Memang nih, ujian kepolosan hidup hahaha ... Alhamdulillahnya hanya 20 ribu, dan berhasil balik lagi. Tapi bagaimana pun, meski kecil nominalnya, kalau tertipu tetap saja rasa tidak ikhlas.

Jadi ceritanya, saya biasa jalan pagi di hari Ahad ke car free day. Di sana selalu banyak yang jualan, mulai makanan sampai alat elektronik. Berdiriah saya di depan tukan antene tanpa kabel, yang kata si mamangnya hanya tinggal dicolokkan ke TV, lalu gambar langusng bagus. "Tanpa antene, tanpa kabel, tanpa ribet!" begitu promo si mamang sambil pasang-lepas antene tersebut di TV miliknya. Dan berhasil memperlihatkan gambar yang cukup jernih.
Saya teringat TV di rumah yang berada di kamar, gambarnya selalu jelek entah kenapa, padahal sudah dipasangi antene. Maka saya beli satu buah seharga 20 ribu, atas persetujuan suami tentu saja. Eh pas sudah beli ada bapak-bapak bilang kalau itu bohong, pedagang itu udah otak-atik TV nya hingga bisa begitu –bisa nangkap sinyal TV tanpa antene, hanya pakai antene nirkabel yang dia jual aja.- Wah, saya kaget tapi gengsi mau ngembaliin.

Akhirny dicoba di rumah. Dan NIHIL. Antene tanpa kabel  itu tidak bekerja sama sekali. Semut aja yang ada, kemerosok warna gradasi hitam abu-abu. Lalu, saya dan suami tertawa berdua bersama-sama, sampai ngakak-ngikik. Akhirnya kita tertipu bersama-sama.

Minggu depannya, saya dan suami main lagi ke car free day. Si mamang penjual antene tanpa kabel itu enggak ada, tapi ada penjual yang berdagang benda yang sama. Suami saya langsung mendekat dan memberikan antene kami yang kembali dibungkus plastik. Suami saya hanya berkata singkat, "enggak nyala."
Pedagang itu melihat wajah suami saya sekilas, lalu tanpa bertanya apa pun, tanpa ba – bi – bu penjual tersebut langsung memberikan uang 20 ribu yang disimpan di bawah barang dagangannya. –padahal minggu lalu saya bukan membeli dari si mamang itu, tapi dia gak mau repot-repot tanya.-
Saya dan suami bengong sebentar, lalu pergi.
Lalu, sepanjang jalan pulang saya berpikir tentang sindikat para penipu antene tanpa kabel tersebut. Mereka sangat tahu diri telah menjual barang yang sama sekali tidak bisa dipakai, mereka berjualan di lokasi yang sama, benda yang sama, meski orang yang berbeda –tapi beberapa minggu setelahnya saya lihat si mamang yang sama dengan ketika saya membeli.
Mereka enggak takut apa pun. Tapi Ketika ada yang komplen, mereka sendiri eggak ribet dengan main ganti saja uangnya. Saya bingung, kejahatan macam apa itu? Terorganisir, tersetruktur, licik, tapi tahu diri. 😄
Akhirnya, alhamdulillah uang 20 ribu rupiah saya kembali utuh.

Nih, barangnya seperti ini. Antene tanpa kabel. Ketika masih ada di rumah enggak kepikiran buat foto. Pas yang saya beli udah dikembalikan ke si mamangnya, baru deh kepengen foto dan nulis cerita tentang penipu yang tahu diri ini di Blog haha ...


Semoga ini kejadian tertipu untuk terakhir kalinya. Insya Allah saya akan lebih waspada dan tidak mudah termakan bujuk rayu. Semoga.

4 komentar:

  1. Saya minggu kemarin kena jebak sales grup liburan gitu, mbak. Jadi berdua sama diprospek habis-habisan sampai akhirnya luluh dan mau jadi member. Mana uangnya lumayan lagi. Setelah pulang ke rumah baru sadar kalau sebenarnya nggak bagus-bagus amat programnya. Hik

    BalasHapus
    Balasan
    1. nah iya mba, terkadang kepandaian para sales dalam merayu suka menjebak kita ga bisa berkutik. pernah juga mengalami itu

      Hapus
  2. Mudah-mudahan ke depannya ndak ada lagi yang ketipu ya, aamiin

    Salam,
    Roza.

    BalasHapus
  3. thanks for sharing mbaknya, sama-sama belajar lagi kita

    salam
    riby

    BalasHapus