Kamis, 15 Desember 2016

Kuis Berhadiah Novel Menjeda #SenyuminAja


Assalamualaikum ...

Selamat malam, teman-teman. Seperti janji saya beberapa hari lalu menjelang pergantian tahun, saya mau mengadakan kuis berhadiah novel pertama saya "Menjeda". Ada 3 novel yang mau saya hadiahkan, tetapi melalui media yang berbeda. Yaitu melalui Blog, Instagram, dan Twitter. Syarat utamanya mudah, cukup follow  akun saya di media yang akan teman-teman ikuti kuisnya.

Untuk blog tentu saja di sini, di www.adyapramudita.com. Di instagram silakan follow @adya_pramudita. Dan di Twitter teman-teman bisa follow akun bernama @adya_story, insya allah difollback kalau sedang tidak riweh.😁
Tetapi, dengan senang hati dan berterima kasih sekali jika teman-teman bersedia follow semua akun saya tersebut.💓


Novel Menjeda itu bercerita tentang apa sih? Kok judulnya Menjeda? Membuat jeda, jeda dari apa? Ya ... ya .. melihat kavernya yang super manis (iya, sampai hari ini saya sangat suka kaver novel pertama saya itu hehe ... novel siapa lagi yang mau dinarsisin kalau bukan novel sendiri), balik lagi ... melihat kavernya semua sudah pasti bisa menebak membuat jeda dari apa? Dari CINTA, tapi cinta yang bagaimana, teman-teman harus cari tahu sendiri dengan membaca novel tersebut.


Saya beri bocoran sedikit, di dalam novel Menjeda teradapat seorang tokoh bernama Radja, sosok lelaki yang selalu berada buat temannya di kala dibutuhkan. Salah satu ucapannya adalah :


Saya masih ingat ketika menuliskan tentang Radja, membuat biodatanya dengan lengkap, membayangkan rambutnya yang sedikit ikal, dan tegap bahunya. Huduh, sampai membayangkan lembut matanya setiap ia menatap salah satu tokoh yang ia cintai. Sampai, iya, sampai saya jatuh cinta sama tokoh buatan saya sendiri. Ampun!
Iya begitulah, untuk mendalami seorang tokoh terkadang mesti separuh 'edan' dulu hahaha. 😂

Yess, sesudah berkenalan dengan Radja, masih ingin berkenalan dengan tokoh lainnya? Buat merasakan Baper ... baper ... cakep gitu. Hehehe ... Yap ... you should read the novel, NOW.

Hmmm ... sayangnya novelnya udah enggak ada di toko-toko buku besar. Tetapi kalau di toko buku On-line beberapa sih masih ada. Dan di lemari stok buku saya juga masih ada kok, kalau teman-teman berminat.  With my pleasure, akan dikirim dengan sepenuh cinta. Haseeek. Silakan inbox atau DM aja ya hehehe

Itulah sekelumit tentang novel Menjeda, teman-teman bisa mencari ulasannya di Goodread atau blog untuk meyakinkan apakah ini novel yang bakal teman-teman suka atau sangat suka hehe ... enggak ada pilihan lain pokoknya. 😄

Waktunya kuis ...

Begini, setiap orang pasti pernah merasakan hal yang ngeselin tapi kondisinya tidak bisa berbuat apa-apa. Hingga yang bisa dilakukan hanya senyum. Iya senyum. Misal, ketika dimarahin bos di depan umum, pilihannya marah balik dan kita dipecat atau diam aja sambil mesem-mesem asem. Intinya, disenyumin aja.
Kalau saya menghadapi kondisi paling enggak enak salah satunya adalah : setiap  kumpul keluarga besar dan orang-orang 'ngatain' anak saya kurus hahah ... semacam kurang gizi, kurang makan, atau apalah.
Kemudian para saudara membandingkan dengan suami saya yang badannya membesar dari tahun ke tahun (I am sorry darling) padahal seharusnya para saudara melihat, tubuh saya pun kurus pada saat itu. Jadi saya dan anak saya memang sulit untuk gendut, sebanyak apa pun makanan yang kita makan. Metabolisme tubuh setiap orang kan berbeda.
Sekali dua kali menghadapi situasi tersebut saya masih menimpali dengan bercanda, tetapi jika setiap berkumpul dan bertemu saya dan anak saya, lalu mereka melihat suami saya, dan banyolan itu keluar lagi, cukup gak enak juga terasa di hati saya.
Tetapi, itu adalah moment kumpul keluarga dimana saya enggak bisa nge-kick balik dengan 'ngatain' anak mereka gendut dan gak bisa lari. Jadi, menghadapi kondisi seperti itu saya Cuma bisa senyum, tanpa bicara apa-apa apa lagi.
Itulah saat sebuah senyuman mengandung ratusan makna. 💭

Nah, kuis kali ini adalah : teman-teman silakan share pengalaman yang paling enggak enak tetapi teman-teman enggak bisa melakukan apa apa selain #SenyuminAja. Tidak harus pengalaman sih, mau fiksi juga boleh.

Jawaban kuisnya, untuk di blog silakan tulis di kolom komentar.

Sementara di Instagram, teman-teman silakan upload foto apa saja yang berkaitan dengan yang akan teman-teman ceritakan, temanya masih sama tentang #senyuminaja, tentu saja teman-teman harus mention saya, biar saya tahu bahwa teman-teman ikutan kuis ini. Penilaian bisa dari nyambung enggaknya gambar dengan cerita, dari kreatifitas gambar, atau keunikan cerita.

Di twitter pun demikian, hashtagnya masih pakai #SenyuminAja, silakan ceritakan ditwitter maksimal 3 kali ngetwitt dan jangan lupa mention akun saya.
Contohnya : ketika calon mertua menceritakan banyak kelebihan mantan calon suami kita, kesel sih tapi enggak bisa melakukan apa apa. Jadi aku Cuma bisa #senyuminaja semoga camer cepat insyaf. Cc : @adya_story
Atau seperti apa saja, sekreatif mungkin. Penilaian dari seberapa menarik cerita yang teman-teman tuliskan.

Kesimpulannya : penilaian berdasarkan cerita yang menurut saya paling unik atau menarik hehehe

Hadiahnya, selain 3 novel Menjeda untuk 3 media yang berbeda tadi, hadiahnya ada lagi untuk 3 orang pemenang masih dari media yang berbeda-beda berupa pulsa masing-masing 25K. Jadi akan ada 6 pemenang untuk kuis kali ini.

Kuis ini dibuka mulai hari ini dan ditutup tanggal 12 Januari 2017. Insya Allah pemenangnya akan diumumkan dua hari setelahnya, semoga tidak terlalu rempong urusan anak-anak yang liburan sekolah, ya.

Baiklah, segitu dulu ya, teman-teman. Selamat mengikuti kuis untuk bisa berkenalan dengan si Tampan Radja.💓

Salam hangat.

Adya


34 komentar:

  1. Dikatain Autis dan Bisu

    'Lo anaknya bisa ngomong? Saya kira bisu'. Penjaga warung bertanya dengan blak-blakan. Untung tidak ada pembeli lain, sehingga tak ada yang bisa melihat rona merah di wajah.

    Bukan sekali ini Saladin (4 tahun) diejek. Dia memang belum lancar berbicara. Tapi anak ini punya kelebihan lain, yaitu daya tahan tubuh yang sangat kuat. Bisa memanjat pohon setinggi 3 meter dalam waktu 1 menit saja. Kalaupun jatuh, ia tidak menangis.

    Dulu saya sempat emosi ketika ada yang mengatakan Salasin bisu, hiperaktif, atau autis. Apalagi yang menuduhnya autis adalah neneknya sendiri.

    Tapi memang lebih baik senyumin aja jika ada orang yang mengejek. Toh saya sudah konsultasi ke psikolog, dan Saladin tidak terbukti autis. Ia tidak hiperaktif, tapi overaktif. Orang-orang yang menyebutnya hiperaktif mungkin tak bisa membedakan antara overaktif dan hiperaktif.

    Buat apa marah dan membuang tenaga. Jika emosi negatif tumpah karena ingin membela anak, itu hanya akan membuang energi. Senyum bisa membungkus semua perasaan buruk.

    BalasHapus
    Balasan
    1. dan iya, punya anak yang aktif meti tebal muka dan tebal kuping deh ya avi. banyak diomongin orang di depan muka sendiri hehe ... semangat saladi chayooo :D

      thanx for join, avi :)

      Hapus
  2. Mau nih novelnhya...tapi gak mau ikutan kuis hahaha *dijitak

    BalasHapus
    Balasan
    1. hahaha ... enggak ada usaha banget brow :D

      Hapus
  3. Paling mangkel kalo ketemu orang lalu dikomentarin "eh kok gemukan sekarang?"...begh...padahal aku dah usaha banget buat ngelangsingin body, pake acara pusing karena makannya dikit dan ada adegan lemes karena kurang makan tapi kok ya tega dikomentari itu?

    Itu tuh pengalaman paling gak enak yang sering aku alami. Disenyumin aja sih tapi tetap dalam hati gerenyem banget.

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya ya, mereka ga tau apa, yang diet udah usaha mati matian buat langsingin badan :)
      apa pun deh, mba, yang penting sehat terus yaa ... aamiin

      thanks for join mba ade :)

      Hapus
  4. #SenyuminAja
    Masya Allah momen itu saat bapak membanding-bandingkan:
    1. Kondisi tubuh anak saya dengan anak-anak adik. Anak saya dikatain kurus aja, kurang makan bergizi, kurang istirahat, dlsb.
    2. Kondisi ekonomi kami dengan keluarga adik. Kami dinilai biasa-biasa nggak ada peningkatan. Masih ngontrak, penghasilan suami dinilai kecil.
    Sebaliknya dengan keluarga adik yang lebih sejahtera. Padahal lagi, itu adik tiri loh. Dan rejeki tiap orang kan nggak harus sama ya?

    Akun FB: Gita Fetty Utami

    BalasHapus
    Balasan
    1. haduh si bapak, dia gak tau sih punya anak yang jago nulis. hehhe semangat mba gitta :)

      thanks for join

      Hapus
  5. Helo Mba Adya, aku barusan ikutan kuis via Twitter ya.
    Akun Twitter @EmakRiweuh

    Makasih :)

    BalasHapus
  6. Isi dompet yang tak banyak memaksaku untuk jeli dalam memanajemen uang. Ada berbagai kebutuhan yang menanti. Menjelang keberangkatanku ke Jogja, aku menyodorkan beberapa lembar uang pada Ibu. "Ini untuk nyicil," kataku. Ibu mengangguk.
    Di Jogja, hari berlalu dengan sangat menyenangkan. Namun tetap saja, aku harus berhemat. No jajan atau aku tak bisa bayar travel untuk pulang. Sesampainya di rumah, ibu bercerita ada demo masak menggunakan kompor briket batubara. Semua tetangga membeli kompor itu. Termasuk, ibuku. "Apa ibu punya uang?" tanyaku. "Pakai uang kamu yang kemarin," jawabnya. Aku tersentak. Jika uangnya untuk beli kompor, lalu cicilannya bagaimana? kuhela napas panjang. Insyaallah ada rejeki lagi, batinku. Sempat kulirik dompet yang sudah sangat kerontang. Lalu, sore harinya, ibu bercerita kalau demo itu ternyata penipuan. Padahal, uang sudah disetorkan. Antara ingin jengkel, marah, kesal, tapi juga lucu. Bagaimana mungkin ibuku yang terkenal tegas itu bisa kena tipu. yang terbayang adalah bagaimana bayar cicilan sementara tulisan belum ada lagi yang dimuat. Mau jengkel sama ibu? rasanya dosa banget. Ya sudah. Nggak ada pilihan lain selain #Senyumunaja.

    BalasHapus
    Balasan
    1. ow, sweetheart, semoga rizkimu berlimpah di tahun ini ya, buat bayar cicilan dan ajak ibumu piknik :)
      insya allah dibayar sebagai amalan baik ya, aris.

      thank for join

      Hapus
  7. ehm, ini kejadian kira2 setahun lalu. jadi gini, suatu hari ada ibu seorang temen yang ingin menjodohkan anaknya ke aku. si ibu ini lalu promosi semua pencapaian anaknya dari A-Z, pokoknya biar aku terkesan. yah, aku lumayan terkesan sih. tapi sayangnya, anaknya tinggal di luar pulau. biaya pulang-pergi ke sana bisa sampai puluhan juta. si ibu sih nyantai aja sambil bilang ke aku, "gak usah khawatir masalah biaya. nanti saya bayarin kalo ke sana." walau begitu, akunya yang gak enak. apalagi belum tau mukanya. pas dikasih tau fotonya, jujur gak ada perasaan yang gimana2 gitu. gak ada perasaan tertarik sama sekali. eh si ibu malah keukeuh pengin aku jadi menantunya. tiap ketemu ayahku, pasti tanya mulu apa aku gak mau sama anaknya? aku udah bilang gak, tapi tetep aja ditanyain. ngotot banget lah =_=

    nah, suatu hari si ibu mampir ke rumah. waktu ketemu aku, langsung dong dia nodong pertanyaan yang bikin aku ngerasa gak enak gitu: "hayoooo nih kapan? si wiwik (anaknya ibu itu) udah punya momongan dua lho. kamu kapan? gak mau nyusul?"

    aku tau si ibu itu pasti ada perasaan yang gimana gitu gara2 aku nolak perjodohan sama anaknya berkali2. akhirnya, aku pun cuma bisa membalas ucapannya dengan #SenyuminAja sambil melipir ke belakang. jujur, aku merasa gak enak sama ibu itu. tapi gimana lagi, perasaan gak dipaksa. aku bener2 gak tertarik sama anak ibu itu, meski kuakui dia dari golongan berada ._.

    BalasHapus
    Balasan
    1. aduh Eni, ceritanya memang bisa bikin aku senyum senyum sendiri. oh andai ... kau mau, sudah punya dua momongan xixiixix *kidding

      thanks for join, yeaa :)

      Hapus
  8. novelnya seru gak mbak? aku lagi nyari referensi buat buku baru nih :3

    salam
    nia

    BalasHapus
    Balasan
    1. wah seru dong, kan aku yang nulis hahaha

      Hapus
  9. #SenyuminAja
    Cuma bisa senyum itu saat
    ...
    Kumpul-kumpul keluarga besar di kampung. Biasanya memang ketemu pas momen lebaran. Sering bingung saat tetiba ketemu uwa ini, bibi itu lalu bertanya ingat tidak, dulu merekalah yang ngasuh, menyuapi, memandikan, dlsb ketika saya masih kecil... ketika di usia batita tersebut saya sakit-sakitan, sebab jauh dari sosok yang sudah melahirkan, sehingga diurus berpindah-pindah tangan.

    Beberapa memori yang bisa diraba paling jauh saat umur 3/4 tahun, jadi di bawah itu praktis tidak tahu. Lagi-lagi, kali ini sambil geleng-geleng, terpaksa #SenyuminAja.

    BalasHapus
    Balasan
    1. ouh so touching, mba dini. baca ini mah saya ga bisa senyum, malah terharu. semoga kebahagiaan melingkupimu dan keluarga ya.

      thanks for join

      Hapus
  10. Ketika kita tinggal dengan mertua dan ada yang nyinyir bilang nggak mandiri banget dan share di akun media sosialnya pakai hanstag segala. Kita beli mobil dibilang mobil orangtua padahal ujung-ujungnya dia pinjam juga mobilnya. Anak dia main dengan anak kita, anak dia nangis langsung dia ngomong anaknya lagi sensitif atau cengeng karena nggak tidur siang. Begitu anak kita nangis main dengan anak dia nangis, langsung anaknya dipakai baju kaos yang ada tulisan kalau cengeng jangan main sama aku.
    Niat banget cari ribut, merasa diri paling benar. Faktanya mertua akan kesepian sekali kalau kami nggak tinggal bersama mertua, semua tetangga pada ngomong gitu.
    Buat yang hobi cari beratem dan nyindir #SenyuminAja #Hidupkulebihbahagia

    BalasHapus
    Balasan
    1. yaa ... ampun kurang ajar banget sih tuh emak. niat banget makein baju anaknya dengan tulisan begituan. entar lagi bales aja sama kaos yang ada sablonan "yang nyinyir ke laut aja, dimakan hiu"

      Thanks for join yeaa :)

      Hapus
  11. Ini pengalamanku beberapa minggu lalu, mbak. Menjelang kelulusan, kami mulai mengecek satu per satu nilai mata kuliah sebelum dicetak dalam transkrip nilai. Nah, saat itulah aku menemukan salah satu nilai ujian perbaikan yang ganjil. Yaah.. diantara nilai 0-100, aku hanya mendapatkan nilai 9. Nilai terendah satu angkatan, bahkan yang paling dekat denganku adalah 39. Aku mulai bertanya, apakah ujianku memang seperti itu?
    Aku langsung konfirmasi ke dosen penanggungjawabnya. Dan aku menemukan jawaban yang hanya bisa aku jawab dengan #SenyuminAja. Lembar pilihan gandaku hilang. Entah terselip dimana! Hanya ada nilai jawaban essay sehingga menghasilkan nilai 9 itu. Karena udah lewat satu semester, aku pun agak susah untuk mencari berkas itu lagi. Aku ingat, aku tidak pernah melewatkan satu soalpun. Apalagi tidak mengerjakan seperti dugaan dosenku. Hanya satu lembar jawaban yang hilang dan itu adalah lembar jawabanku! Sedih. Tapi nggak bisa berbuat apa-apa. Aku ikhlas. Meributkan yang telah terjadi hanya membuat sakit sendiri :')

    Terima kasih, mbak.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aduh Rini, turut prihatin ya. moga moga di semester depan nilai ujiannya bagus bagus semua. saya bisa merasakan gimana nyeseknya begitu.

      thanx for join

      Hapus
  12. Assalamualaikum Kak Adya :

    Aku ikutan ya #SenyuminAja

    Aku kan ibu rumah tangga biasa2 aja, di tempat tinggal yang baru mana tahu aku ini penulis dan blogger #asyik.

    Jadi kalau antar anak ke sekolah, jalan kaki sambil kiri kanan bawa anak usia 4 tahun dan dua tahun, terus lagi mengandung usia 8 bulan. Suka di ceplosin dengan kata-kata yang nggak enak, "duh banyak anak, doyan ya." wkwkwkwk bukan pengen senyumin aja sih, pengen nyumpel. Lho punya banyak anak mah sudah kuasa Allah, gak ada satupun penjamin dibumi ini wanita bisa hamil dalam hitungan hari, bulan, tahun. Belum ada juga obat kesuburan yg 100 persen ampuh. semua izin Allah. Yang penting kan suaminya ada dan jelas bapaknya. itu senyumin yg pertama,#senyuminAja yang kedua, "Bu, anaknya usianya deket2 amat, hamil lagi pulak, apa nggak capek?" xixixi namanya manusia biasa ya capeklah,tapi klo niat ibadah rutinitas ibu rumah tangga juga berpahala. #SenyuminAja yang ketiga, misal isi biodata di RT, di Sekolah, dll dan tahu lulusan sarjana kok nggak kerja malah jadi ibu rumah tangga. Ditatap tajam dan dibilang sayang banget sih sudah kuliah malah cuma ngabisin waktu ngurusin anak, baby sitter nggak sekolah aja bisa itu mah. Duh, senyumin aja deh. Padahal saya tuh sdh kenyang kerja dari lulus SMA sampai kuliah semester 8, itu pengalaman kerja 7 tahun diperusahaan asing masa harus dipamer2. Makanya klo nggak tahu hidup orang jangan suka menilai atau ngatur2 sendiri. Tapi saya sih dari ketiga situasi diatas cuma bisa #SenyuminAja because my life my choice , yang lain mah no comment. Biarlah senyum saya yang menjawab semuanya. Hidup bahagia kita yang menciptakan, bukan orang lain yang menentukan.

    Ernawati lilys, Bekasi.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Biarlah senyum saya yang menjawab semuanya. Hidup bahagia kita yang menciptakan, bukan orang lain yang menentukan. .... mantafff mba erna, bener banget.

      Ada banyak orang ingin punya anak tapi sulit, masa yang dikasih Allah dengan mudah, dikata katai begitu ya. #ikutangemes

      thanks for join ya

      Hapus
  13. Melarang Anak Bermain di Dalam Rumah Orang /Tetangga.

    Saya adalah seorang ibu yang cerewet sama anak. Sering sekali melarang ini, itu yang sepertinya aneh bagi para tetangga. Salah satunya, saya sering melarang anak saya untuk masuk ke dalam rumah teman-temannya termasuk rumah tetangga saya.

    Selama ini, tetangga mengira sebaliknya.Mereka kira, saya melakukan hal itu agar teman-teman anak saya tidak masuk ke rumah saya.

    Padahal jujur saja, pertama, saya tidak ambil pusing kalau rumah saya berantakan karena ulah anak-anak saya *yaiyalah anak sendiri.
    Berbeda jika rumah orang lain yang berantakan karena ulah anak-anak saya. Tahu sendiri kan anak-anak kecil kalau main seperti apa?

    Kedua, saya tidak mau ada kejadian di luar keinginan saya. Seperti, terjadi tindak kriminal terhadap anak-anak saya saat berada di dalam rumah seseorang. (Naudzubillaah) sebab kejahatan bisa terjadi karena adanya kesempatan, bukan? Sudah banyak beritanya di mana-mana. Lalu bagaimana jika anak-anak saya berada di dalam rumah orang yang tanpa sepengetahuan saya? Mengerikan!

    Ketiga, masih soal sikap jaga-jaga seorang ibu. Saya tidak mau anak saya berada di waktu dan tempat yang tidak tepat. Misalnya, saat anak saya bermain di dalam rumah orang lain. Tiba-tiba ada sesuatu yang hilang atau barang yang rusak di rumah itu. Dan tidak tahu siapa pelakunya. Bisa saja kan anak saya yang jadi tertuduh?

    Niat saya hanyalah mencegah hal buruk terjadi pada anak-anak saya.

    Jadi sampai sekarang saya tetap mengulang-ulang pesan itu. Jika mau main di teras rumah saja. Baik itu di rumah sendiri atau pun di rumah orang lain.

    Dan apa pun pendapat orang lain tentang masalah itu, ya tinggal saya #SenyuminAja

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya Rani, saya juga suka berpesan banyak banget kalau anak mau main di depan rumah orang. karena ada kemungkinan masuk ke rumah temannya.

      yeah, setiap ibu punya cara masing masing dalam mendidik anaknya ya.

      thanks for join

      Hapus
  14. Di saat harus menceritakan masa-masa menyebalkan tapi tidak bisa berbuat apa-apa selain #SenyuminAja , saya jadi ingat murid-murid saya yang sehari-hari selalu membuat nada suara saya meninggi ketika mereka sulit sekali mengerti apa yang saya ajarkan. Meskipun sudah diualng berkali-kali tetapi tetap saja salah, dan di saat itu saya harus bisa mengontrol diri agar tidak mudah terpancing emosi. Ketika saya menyadari nada suara saya mulai meninggi, saya pun cepat-cepat menurunkan volume suara dan mulai mengembangkan senyum pada murid saya yang tadi sulit sekali mengerti.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Great, Nia. saya selalu salut sama para guru untuk kesabaran mereka. karena saya ngadepin anak sendiri aja sering gak sabar, gimana ngadepin anak orang :)

      thanks for join

      Hapus
  15. Di saat harus menceritakan masa-masa menyebalkan tapi tidak bisa berbuat apa-apa selain #SenyuminAja , saya jadi ingat murid-murid saya yang sehari-hari selalu membuat nada suara saya meninggi ketika mereka sulit sekali mengerti apa yang saya ajarkan. Meskipun sudah diualng berkali-kali tetapi tetap saja salah, dan di saat itu saya harus bisa mengontrol diri agar tidak mudah terpancing emosi. Ketika saya menyadari nada suara saya mulai meninggi, saya pun cepat-cepat menurunkan volume suara dan mulai mengembangkan senyum pada murid saya yang tadi sulit sekali mengerti.

    BalasHapus
  16. Ikutan lewat Instagram, ya Bund
    ^_^

    BalasHapus
  17. Pengalaman yang cuma bisa #SenyuminAja ada banyak sih tapi mau cerita yang ini aja.
    Waktu itu aku lagi praktik di lab Kimia, sama laboran diamanahkan kunci. Karena aku sudah selesai dan buru-buru kejar kegiatan yang lain, lab mau aku tutup dan kuncinya dikembalikan ke petugas. Tapi di sana ada dua orang yang lagi asik ngobrol. Aku tanya baik-baik, mereka sudah selesai atau belum. Yang perempuan langsung tanya "Semester berapa?" sambil dagunya diangkat, alisnya bertaut dan dahinya berkerut.
    Aku cuma #SenyuminAja dan jawab "Semester dua".
    Pas si cewek lihat aku dari atas sampai bawah sambil bilang "Oh...semester dua" yang laki-laki aku tahu dia jurusan Fisika langsung sikut bahu si cewek dan bilang "Eh ... Itu kakak tingkatku, semester dua, pascasarjana"
    Si cewek langsung berdiri dan membalas senyumku.
    Sambil senyum juga aku bilang "Jadi... bisa ya Aku kunci?"
    Begitulah nasib kalau punya tubuh mungil, sering dikira lebih muda dari usia yang sebenarnya. Jadi, ya #SenyuminAja :-)
    Maaf mbak, hampir lupa ada GA di sini :-D

    BalasHapus
    Balasan
    1. hahaha ... tapi kelebihannya buat yg bertubuh mungil itu jadi terlihat awet muda ya, Aini.

      thanks for join

      Hapus
  18. Teman-teman semua, saya ucapkan terima kasih yang sedalam dalamnya ya, telah ikut serta dalam kuis saya kali ini.

    semoga harimu menyenangkan, jadi bisa senyum untuk apa pun yang terjadi. :)

    BalasHapus