Kamis, 03 November 2016

Kota Cibubur, Tempat Harapan Tumbuh Perlahan

sumber gambar ; tenda.biz

Saya harus menunggu waktu yang cukup lama untuk berani memposting cerpen ini, pasalnya email yang masuk di bulan Mei 2016 menyebutkan cerpen yang saya kirim ini akan dimuat di tabloid Cibubur Distrik pada edisi 169. Namun sayangnya ketika saya tanya kapankan penayan edisi tersebut tidak ada lagi balasan dari pihak tabloid yang bersangkutan.

            Ketika honor saya terima beberapa hari setelah email konfirmasi penayangan cerpen, saya tidak ingat lagi untuk mencari di mana dan bagaimana bentuk cerpen ini ketika tayang. ^_^ iya begitulah, seringkali honor itu melenakan.
            Setidaknya dengan dikirimnya honor, cerpen saya pastilah dimuat, tayangnya bulan kapannya, entahlah ^_^ maka saya menunggu waktu sampai 6 bulan untuk memberanikan diri mempostingnya di blog pribadi ini.
            Menurut redaksinya judul cerpen ini mengalami perubahan, tapi bentuk judulnya yang baru jadi seperti apa saya sendiri enggak tahu. Jadi, nikmati sajalah bentuk aslinya.
            Cerpen ini bercerita tentang ... ah sudahlah baca sendiri aja, yang jelas bagi teman-teman yang ingin mengirim cerpen ke tabloid Cibubur Distrik setting ceritanya HARUS di kawasan Cibubur.
            Selamat membaca ^_^


Kota Cibubur, Tempat Harapan Tumbuh Perlahan
Adya Pramudita

“Marahlah padaku, Bre. Jangan memaafkanku terus menerus.”
Lelaki itu memotong rumpun kemuning di samping rumah. Bre menggeleng lalu mengatakan tanaman hidroponik yang aku jatuhkan dan berserakan bisa ia tanam lagi besok-besok.
Bre selalu seperti itu. Sepanjang aku mengenalnya, termasuk tujuh bulan pernikahan kami, Bre sekali pun tidak pernah marah. Awalnya aku bersyukur memiliki suami yang begitu baik dan pengertian, segala hal berjalan seperti keinginanku. Namun, kian hari aku merasa ada yang salah dengan cara kami berkomunikasi.
Aku telah membuat mobil Bre penyok, dia hanya berkata. “Untung kamu masih selamat.” Aku membuang pupuk yang kukira tak terpakai, padahal Bre harus mendapatkannya jauh dari rumah kami, Bre hanya mengangguk sambil berkata. “Kita bisa membuat pupuk dari sisa buah dan sayuran.”
Lelaki penyuka tanaman itu memang cukup pendiam, tetapi bukan berarti dia tidak boleh marah. Setiap Bre memahamiku, di matanya seperti menyimpan sesuatu yang tidak ingin ia bagi.
Aku merasa, aku semakin tidak mengenali suamiku sendiri.
“Bre, kita harus bicara.” Aku memberikan semangkuk bubur jagung yang dibeli di kedai langganan Bre, di kawasan Jalan Alternatif Cibubur. Bre mengangguk lalu meletakkan majalah tentang tanaman. “Aku ingin kamu mengutarakan semua perasaanmu. Marah, benci, kesal, bahagia, cinta ... semuanya.” Alisku terangkat, mataku membulat. Aroma bubur jagung meliuk di hadapanku.
“Aku kira, kamu sudah mengenalku cukup baik, Nina.” Sahutnya singkat, mengambil sendok dan mulai menyantap makanannya.
Sebagian ucapan Bre mungkin benar, aku tahu makanan kesukaannya, klub bola favoritnya, serangga yang paling dibencinya. Tetapi aku tidak pernah melihat ia memiliki ekspresi lain selain anggukan mengerti dan memaafkanku.
***
Pada hari jumat malam sengaja aku tidak menelepon Bre akan pulang terlambat. Jarak kantor Bre yang lebih dekat memang selalu membuat ia terlebih dahulu sampai di rumah. Hingga pukul 11 malam, Bre tidak kunjung meneleponku seakan ia tidak ingin tahu di mana aku berada.
Aku mengira Bre sudah berada di balik selimut ketika aku pulang pukul 1 malam, ternyata ia tengah memegang senter dan melihat satu demi satu tanaman hidroponiknya. “Hai.” Sapanya singkat. “Saladaku mulai bertunas.”
Aku menarik napas dalam dan langsung masuk kamar, terserah apa katamu, Bre.
***
Aku membuat sarapan dengan mulut yang bungkam. Sabtu pagi Bre lebih sibuk dari hari biasa, membersihkan taman, menyemai benih, dan mencabuti tali putri yang tumbuh di pohon kemuningnya.
Bre mencari sesuatu di konter dapur tanpa bicara, suara lemari yang ditutup dan dibuka berulang kali begitu menganggu. “Apa yang kamu cari?” tanyaku akhirnya menahan kesal.
“Benih. Benih pok coy yang baru aku beli via on line itu.”
Aku meletakkan spatula dengan keras. ”Aku ada di sini sejak tadi, mengapa kamu tidak bertanya? Setidaknya hargai keberadaanku. Permudah hidupmu dengan adanya aku.” Kalimatku terlontar cepat dan keras. Aku membuka konter atas yang biasa menyimpan kotak-kotak plastik dan memberikan satu kotak kepadanya.
Bre menatapku dengan wajah yang masih terkejut, menerima kotak itu pelan. “Aku tidak tahu kamu menyimpannya.”
Rasanya aku ingin berteriak di daun telinganya, makanya bertanya, Bre. Ber-ta-nya!
Aku tidak menyentuh nasi goreng yang kumasak. Bergegas mandi dan mengeluarkan sepeda. Mengayuh ke arah yang tidak kupikirkan sebelumnya. Hingga aku tiba di depan Bumi Perkemahan Cibubur dan memutuskan untuk masuk.
Aku mengelilingi kawasan itu hingga kelelahan. Duduk menghadap danau dan bersandar di sebatang pohon. Apa yang sesungguhnya aku cari dalam pernikahan kami? Apa yang Bre inginkan dalam pernikahan ini? Kami berdua tidak pernah membicarakan visi atau misi. Hanya menikah dengan niat yang lurus dan tujuan yang entah apa.
Menjelang tengah hari sebuah langkah mendekat, duduk di sampingku tanpa meminta izin. “Sejak kita pacaran, kamu tidak pernah mengubah pohon tempatmu bersandar.”
Aku hanya menggerakkan bahu, malas menanggapi.
Bre menatap sekeliling, sambil mengepal-ngepalkan tangannya. “Aku tumbuh di tengah teriakan demi teriakan. Ayah yang menuntut ibu melayaninya tanpa cela. Ayah yang tidak pernah peduli kerepotan ibu mengurus 7 orang anak sendirian. Aku tidak ingin seperti itu, Nina. Tidak ingin mengekangmu, tidak ingin membebanimu.”
Aku bersandar dan memejamkan mata. “Ini tentang sebuah pernikahan, Bre. Tentang bagaimana kita harus saling mengingatkan, saling menegur jika melakukan kesalahan. Pengertian dan maafmu yang terlalu mudah justru menyulitkanku untuk menjadi lebih baik.”
Bre menatapku cukup lama, lalu bertanya dengan pelan.  “Kamu tidak akan marah jika aku terlalu merepotkanmu?” Aku memalingkan wajah. Kami belum memulainya tetapi Bre sudah merasa sungkan, bahkan ia ragu aku bisa melaluinya.
Aku menggeleng dengan yakin. “Mari kita saling percaya, Bre. Kita mulai pelan-pelan. Mulai sekarang aku akan mengatakan apa yang aku ingin kamu lakukan. Kamu juga harus mengatakan dengan jujur, apa yang menurutmu sebaiknya aku lakukan. Dan kita harus mendiskusikan banyak hal.”
Bre mengangguk, matanya berbinar. Seakan menemukan benda yang sudah lama ia cari. Di kedalaman mata Bre, bersama sepoi angin dari arah danau, aku merasa menemukan harapan yang sama untuk pernikahan ini.





Tidak ada komentar:

Posting Komentar