Jumat, 11 November 2016

Berjuta Rasanya Menjadi Ibu


Saya masih ingat pertama kalinya jadi ibu 13 tahun yang lalu. Bingung, happy, dan mudah panik. Setiap ibu pasti melewati masa-masa berjuta rasanya itu ketika memulai menjadi seorang ibu. Mungkin begitu pula dengan salah satu teman saya yang bulan Oktober lalu resmi mejadi seorang ibu. Beliau adalah Eskaningrum, salah satu Blogger yang tinggal di kota Depok.



Eska
Saat ini Eska yang aktiftas sehari-harinya menjadi Researcher di salah satu kampus di Depok ini tengah menikmati menjadi ibu sesungguhnya sampai akhir tahun, karena setelah itu Eska harus kembali bekerja alias masa cutinya habis.

            Kalau melihat kegiatan Eska sebelum masa hamil dan melahirkan yang mendatangi beberapa acara parenting, saya yakin Eska sudah punya persiapan matang untuk menjadi seorang ibu.

            Jadi, ketika waktunya tiba memiliki seorang bayi, Eska sudah memperrsiapkan diri secara khusus. Baik mental, wawasan dan persiapan materil. Memang sebaiknya seperti itu, sebelum menjadi ibu yang sebenarnya, perbanyak wawasan bagaimana mengasuh bayi dan membesarkannya. Bisa melalui baca-baca buku parenting atau hadir di acara parenting yang pembicaranya para psikolog atau ahli parenting yang sudah berpengalaman.

            Meskipun, pada prakteknya ketika benar-benar berhadapan dengan sesosok bayi yang harus kita rawat, teori-teori yang didapatkan seringkali buyar. Namun, seiring seorang ibu berangsur tenang ia bisa mengingat lagi apa yang pernah ia baca dan apa yang pernah ia dengar. Hingga harapannya, ilmu-ilmu parenting yang didapat bisa diaplikasikan kendati hanya beberapa persen.



            13 tahun yang lalu saya melalui semuanya tanpa bekal yang banyak. Selain tips dari beberapa teman kerja dan nasehat orang tua. Saat itu internet belum mudah diakses seperti saat ini, buku-buku parenting saya baca beberapa tapi lebih banyak lupanya dari pada ingat. Alhasil saya membesarkan si sulung dengan terbata-bata, try and error, dan mudah panik. Alhamdulillah ketika lahir anak ke 2 dan ke 3 suasana lebih tenang dan terkendali.
            Saya baru saja baca-baca blognya Eska di www. eskaningrum.com ketika Eska mengikuti acara Parenting di Jakarta. Isinya cukup lengkap dan informatif. Dimana kita bisa belajar mendisiplinkan anak sejak bayi.
            Aduh, memangnya bayi sudah bisa diajak disiplin? Segala sesuatunya masih suka-suka semau dia?
            Tapi ternyata bisa lho, ini salah satu kutipannya :
 

Untuk lebih jelasnya, baca langsung ditautan di atas tadi ya.

            Berikutnya yang cukup menarik dari artikel yang Eska tulis adalah tentang bagaimana menerapkan pola asuh bersama kakek dan nenek.
            Hal itu mengingatkan pada cerita teman yang mengatakan kalau habis liburan dari rumah neneknya prilaku anak-anak jadi beda. Lebih manja, lebih semaunya dan susah diatur. Kadangkala saya juga pernah mengalami hal seperti itu.
            Perubahan sikap tersebut lebih dikarenakan oleh pola asuh yang berbeda. seperti, ketika bersama orang tuanya anak-anak sudah memiliki jadwal atau kebiasaan yang tetap, baik si anak suka atau pun tidak. Sementara bersama kakek dan nenek aturan yang orang tua buat dilepaskan begitu saja.
            Hal-hal seperti itu sebaiknya dibicarakan, agar perasaan orang tua tidak tersinggung dan pendidikan anak-anak kita tetap berada dijalur yang kita harapkan. Karena sebenarnya para kakek dan nenek juga memiliki harapan yang sama untuk kebaikan cucunya, seperti halnya orang tua kepada anaknya. Harapan-harapan tersebut, diantara :
1.      Terlibat dalam pengasuhan
2.      Menyaksikan pertumbuhan
3.      Mengajarkan nilai-nilai
4.      Terlibat dalam keseharian
5.      Menjalin kedekatan emosi
Untuk lebih jelasnya tentang bagaimana upaya-upaya agar orang tua tidak bentrok dengan kakek dan nenek, Silakan baca selengkanya di blognya Eska juga, ya :)

Selamat atas kelahiran baby nya ya, Eska. semoga selalu sehat dan bahagia.

6 komentar:

  1. Sejatinya emang semua orang tua harus selalu belajar dalam pengasuhan anak-anaknya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Tika, jadi orang tua itu belajar sepanjang hayat :)

      Hapus
    2. Iya Tika, jadi orang tua itu belajar sepanjang hayat :)

      Hapus
  2. aku belum nikah n belum jadi ibu sih kak,
    tapi pernah beberapa waktu lalu bantu-bantu kakak (yang ia dan suami sangat sibuk) untuk mengasuh anaknya yang baru 10 bulan. rasanya... benar-benar berjuta.

    BalasHapus
  3. Pengasuhan pake cinta dan kasih sayang...��☺��

    BalasHapus
  4. Tapi naluri keibuan lahir dengan sendirinya si mbak, cuma emang kalo ada bekalnya akan lebih matang :))

    Salam,
    Pink

    BalasHapus