Kamis, 17 November 2016

Bayang Cinta 'Jariyah Karya'

gambar dari Pixabay


            Kalah lomba, itu mah biasa. Sudah resisten setiap lihat pengumuman dan nama saya tidak tercantum. 😁 Palingan nyengir lalu main lagi deh sama Aira. Tapi kalau pemenangnya itu lagi dan lagi ... baru luar biasa ck ... tulisan beliau memang selalu warbiyasah! Enggak heran kalau keluar jadi pemenang, membawa pulang 15 jeti. *mata langsung ijo gitu lihat nominal hadiahnya.* Semoga suatu hari giliran sayah ... Aamiin Ya Allah :) bantu doa ya teman teman ... πŸ˜‡

            Salah satu kerugian mengikuti lomba yang karyanya harus diupload terbuka di media on line entah blog pribadi atau situs kumpulan karya penulis adalah ketika karya kita kalah, kita sudah tidak bisa melakukan apa-apa lagi untuk karya tersebut, karena dapat dikatakan karya kita sudah dipublish ke media.

            Kendati tidak ada aturan tertulis tapi setiap media off line maupun on line mengharapkan sebuah karya yang belum pernah dimuat dimana pun sebelumnya, termasuk media on line pribadi. Demi menjaga orisinalitas karya, kepuasan pembaca yang baru pertama membaca karya tersebut di media yang bersangkutan dan lain sebagainya. Memang tidak ada aturan baku seperti itu, tetapi itu sebuah etika yang harus dijaga seorang penulis.
            Ini kali kedua saya kalah lomba yang persyaratan karya harus diupload ke media on line, sebelumnya lomba yang bertema kopi yang syaratnya memang harus diupload di blog dan sekarang lomba bertema adaptasi dari karya klasik. Keduanya sama sama kalah πŸ˜†
                 Cerpen tentang kopi berjudul Bunga Kopi dapat dibaca di sini.
            Saya memilih buku klasik Salah Asuhan untuk cerpen yang saya tulis ini, namun hanya mengambil sepenggal cerita dari sudut pandang si orang ketiga atau Corri. Entah bagaimana ketika saya membaca novel karya Abdul Moeis saya menyukai tokoh Corri, wanita yang dicintai Hanafi.
            Ketika melihat juara ketiga di lomba yang saya ikuti juga mengambil karya adaptasi yang sama, rasanya seperti lomba lari dan saya salah arena πŸ˜‚. Saya berlari di luar lapangan, yang menang berlari di trek yang benar. Lalu, saya gigit jari πŸ˜† puk ... puk ... adya πŸ˜”Tapi memang tulisan yang juara 3 itu bagus sekali, bahkan diantara juara tiga besar yang paling saya suka adalah yang juara tiga. Yah selera begitulah ....
            Berhubung blog nganggur, dan daripada tidak ada yang nowel  di web kumpulan karya para penulis sana, jadi saya posting saja cerpen yang kalah tapi sudah tidak bisa saya kirim ke media mana pun ini. Yah hitung-hitung jariyah karya untuk menghibur pembaca, siapa tahu ada yang benar-benar terhibur dan Allah menulis satu demi satu amal kebaikan untuk saya.
            Baiklah, pembukaannya sudah terlalu panjang, nih. Selamat membaca!

Bayang Cinta

Adya Pramudita
Horizon terentang serupa garis lurus yang sempurna di hadapan Marvi. Dia memperhatikan bayangan awan dan matahari yang tenggelam di dalam laut. Bayangan yang akan koyak ketika gulungan ombak berlari menuju pantai. Serupa cinta yang ingin ia genggam.
Namun, kenyataannya seperti sebuah bayangan dimana pun, cinta tidak pernah memiliki wujud yang nyata. Marvi melirik lelaki di sampingnya, yang masih kerepotan membereskan peralatan menyelamnya.
Ini adalah senja terakhir yang mereka miliki sebelum akhirnya harus berpisah menuju aktifitas masing-masing. Tegar tersadar beberapa menit kemudian ketika Marvi tidak kunjung menyahut panggilannya. Lantas, ia mengucapkan beberapa kalimat tentang janji akan segera kembali.
Tegar selalu menepati janji, dan dia lelaki yang jujur, kendati kadangkala kejujuran yang ia sampaikan terasa menyakitkan. Mungkin itu yang membuat Marvi jatuh cinta, pada kesederhanaan di tengah arogasi para pria yang merasa lebih keren ketika memamerkan kecerdasan atau kegagahan otot-otot mereka.
“Sebelum ke Jakarta, kau harus pulang, Tegar.”
“Harus kukatakan berapa kali kalau Diah sudah setuju kami berpisah. Kepindahannya ke Semarang apakah tidak cukup membuatmu percaya?” Suara Tegar sarat keyakinan.
Marvi menatap Tegar dalam-dalam. Separuh hatinya ingin percaya, namun separuh yang lain ingin kembali meyakinkan Tegar bahwa cinta mereka tidak memiliki masa depan.  Terlebih setelah Marvi melihat potret anak laki-laki berusia dua tahun yang selalu terselip di dompet Tegar, artinya meski Tegar tidak menginginkan wanita itu, diantara mereka telah ada tali pengikat yang akan terus menyambungkan keduanya.
Marvi dan Tegar bertemu pada sebuah konsorsium tumbuhan laut di Carolina, Tegar tengah kuliah S2 di Amerika kala itu, ia bertanya banyak hal pada gambar-gambar yang Marvi potret di dasar laut. Perkenalan yang terjadi jauh sebelum nama Diah muncul dengan cara dipaksakan oleh ibunya Tegar.
Empat tahun lalu drama percintaan mereka naik turun, emosi mengempas-empas perasaan Marvi ketika ibunya Tegar tiba-tiba datang ke guesthouse tempat ia tinggal di Bali.
Rambut coklat dan kulit Marvi yang terbakar matahari membuat wanita tua itu mengernyit. Ketika mendengar Marvi seorang penyelam profesional lipatan di dahinya semakin bertambah, seraya mengucapkan,”Benar-benar pekerjaan yang sangat berbahaya.” Dan Liar, setidaknya kata terakhir itu tergambar di bola matanya meski tak terucap.
Tatapan yang serupa menjelaskan bahwa Marvi dan Tegar berasal dari dua beradaban yang berbeda. Keteraturan dan kebebasan yang mustahil bersatu.
Lantas ibunya Tegar mengatakan tentang berharganya Tegar bagi dirinya, Marvi sangat ingin menimpali bahwa lelaki yang tengah mereka bicarakan juga amat berharga bagi dirinya.
Marvi yang terlahir dari dua orang berbeda bangsa, mendiang ibunya yang berasal dari Indonesia membuat ia memahami bagaimana sebuah perjodohan berlangsung. Dan tentang cinta yang bisa tumbuh perlahan setelah pernikahan.
Maka, ketika ibunya Tegar memohon pengertian Marvi, demi seorang gadis yang berasal dari keluarga yang pernah membantu usaha keluarga Tegar yang nyaris ambruk, sore itu juga Marvi memesan tiket ke Manado. Berpindah tempat penyelaman tanpa pernah mengatakan apa pun pada Tegar.
Tetapi cinta selalu menemukan jalan untuk kembali, itu yang diyakini mereka berdua ketika Tegar muncul sebagai ahli biologi yang menyewa agen pemandu scuba diving di Gili Trawangan. Dan Marvi adalah salah satu pemandu itu.
Saat itu proses kepindahan Diah ke kota kelahirannya sudah dimulai, hubungan keduanya tidak pernah berhasil meski sudah ada seorang anak diantara mereka. Tegar meyakinkan Marvi setiap hari bahwa mereka akan bisa segera bersama lagi.
Namun ternyata yang Marvi hadapi tidak semudah yang diperkirakan. Ia selalu membayangkan seorang anak kecil yang menangis mencari ayahnya setiap dirinya dan Tegar menghabiskan waktu bersama. Atau membayangkan seorang wanita yang bobot tubuhnya menyusut karena suaminya memilih wanita lain. Bayangan itu semakin hari terasa semakin mengerikan.
Ketika perahu merapat ke dermaga kesadaran Marvi pun kembali. Tegar membawa kotak stereofoam berisi spesimen tumbuhan laut yang akan ia teliti. Sementara Marvi membawa kaki katak yang baru ia lepas.
“Ok, aku akan pulang.” Ucap Tegar, memecah kebekuan diantara mereka berdua sejak di tengah laut tadi. “Asalkan kau bersedia menemani Satria berenang ketika aku mengajaknya ke sini bulan depan.” Tegar menyebut nama anak lelakinya, sambil mencoba memberi Marvi senyuman.
Mata Marvi menyipit, bukan karena ia tak akan mampu mengurus anak kecil, tetapi bagaimana perasaan Diah ketika satu demi satu orang yang ia sayangi pergi, dan orang yang mereka tuju adalah dirinya. Ini menjadi serupa kebahagiaan yang diikuti rasa bersalah yang menyakitkan.
“Kalau kau mengajak Satria ke sini, artinya kau harus mengajak serta ibunya.” Wajah Tegar terperanjat, namun Marvi segera melanjutkan. “Satria masih sangat kecil, jangan pernah memisahkan dia dari ibunya meski sebentar.”
Tegar terdiam hingga menghentikan langkahnya. Kemudian kembali berjalan dengan bahu yang lunglai. Sekuat apa pun ia menghindar dari kenyataan, yang sesungguhnya ia miliki saat ini hanyalah Satria, anak laki-laki yang dilahirkan wanita yang tidak sungguh-sungguh ia inginkan.
Sementara Marvi, meski ia tahu masih mencintai dirinya tetaplah sosok penuh misteri. Wanita yang memegang kendali atas dirinya sendiri, yang keputusan dan isi pikirannya tidak terduga. Semakin Marvi penuh kejutan, semakin Tegar tergila-gila padanya.
Pada kondisi normal, Marvi akan sangat menyukai senja seperti hari ini. Ketika langit begitu benderang dan perlahan berubah warna, musik regae menghentak dari kafe terdekat, genggaman tangan Tegar menguat ketika mereka berjalan.
“Kalau kau masih tak ingin cepat menikah. Kita tetap bisa bersama, aku bisa mengajukan kepindahan ke Bali jika kau lebih suka tinggal di sekitar sini.” Tukas Tegar ringan.
Marvi mengernyit, menatap genggaman tangan mereka yang saling bertautan, dan memperhatikan bayangan yang jatuh di atas pasir. “Di negara ayahku, di Carolina, pilihan hidup seperti itu mungkin biasa. Ketika seorang anak meminta izin hidup bersama orang yang dicintainya. Di sini juga mungkin sudah banyak yang seperti itu.” Marvi mengedikkan bahu, tidak ingin menebak terlalu jauh. “Tetapi bagi ibumu, jelas itu tidak boleh terjadi.” Terlebih setelah yang Tegar lakukan pada Diah, tindakan itu adalah sesuatu yang kejam. Marvi melanjutkan kalimatnya dalam hati.
Hati nurani Marvi sudah sering menggugat ketika ia terbayang kehidupan Satria dan Diah, bagaimana mungkin ia akan mampu menjalani kehidupan yang bertentangan dengan budaya tanah yang ia pijak.
“Kau tahu, Tegar. Aku sudah banyak melakukan kesalahan dalam kehidupan ini. Tetapi sesekali, aku ingin melakukan sesuatu yang benar. Setidaknya benar menurut norma yang berlaku.”
“Aku selalu tidak bisa menduga yang kau inginkan.” Tegar merasa bersalah dengan ajakannya tadi. Ia  belum benar-benar mengenal Marvi secara utuh. “Aku hanya takut kehilanganmu lagi.”
Marvi menggenggam Tegar dengan kedua tangannya, seolah seseorang yang takut kehilangan. Namun yang ia ucapkan justru sebaliknya, “Orang tuaku meninggal ketika usiaku belasan. Jadi aku terbiasa merasa kehilangan. Hingga ketika kehilangan itu terjadi lagi, rasanya tidak terlalu menyakitkan. Aku pikir, baik untukmu mulai memiliki rasa seperti itu.”
“Maksudmu?” Tegar menatap Marvi dengan raut cemas.
“Hanya untuk berjaga-jaga.” Imbuhnya mengulum senyum, mencoba menenangkan.
***
Di hadapan Marvi ada sebuah rumah kuno peninggalan kolonial. Dihuni keluarga pengusaha batik secara turun temurun. Marvi memasuki galeri batik tulis yang berada di paviliun disambut seorang wanita tua yang memberi salam yang sangat tulus.
Pagi tadi, ketika Satria menaiki pesawat menuju Jakarta dan Marvi hendak menuju NTT, ketika Marvi mendengar pesawat yang akan dinaikinya menunda waktu penerbangan, tiba-tiba saja ide ini terlintas. Dan menemukan siapa Diah dan keluarganya di era media social saat ini bukan sesuatu yang sulit. Galeri batik itu bisa Marvi temukan dalam satu hari.
Aroma batik menguar seiring celoteh anak kecil yang diikuti wanita muda. Ia diminta menggantikan ibunya melayani pengunjung.
Marvi mengira ia akan menemui wanita pedesaan yang terlihat kuno, tetapi ternyata Diah adalah wanita modern yang menawan, sacdress batik kawung dengan kalung perak, pemilik bola mata yang memancarkan kecerdasan. Bahasa inggrisnya sangat fasih ketika ia menyapa Marvi terlebih dahulu.
Diah menjelaskan tentang filosofi batik dengan sangat runut dan mudah dipahami bagi orang awam seperti Marvi. Dalam waktu yang sama Marvi merasa teramat kerdil. Apa yang Tegar cari dari dirinya, sementara Diah tampak mampu memberi segalanya.
Tetapi cinta tidak selalu berdasarkan hitungan materi semata, itu sebuah komposisi unik tentang perasaan nyaman dan diinginkan.
Satria bernyanyi riang di meja kasir, ketika Marvi mendekat ia ingin menyentuh rambut ikal Marvi yang kemerahan. Diah melarang karena dianggap tidak sopan, namun Marvi malah menjumput rambut dan memberikannya pada Satria.
Satria terkikik geli ketika Marvi menyentuhkan ujung rambut ke cuping hidungnya. Marvi akan mengingat tawa itu sebagai tawa ceria yang tidak akan kekurangan akan kasih sayang.
Sepanjang jalan dalam perjalanan menuju ke NTT, Marvi terus menggumamkan tentang apa yang ia lihat, bahwa Diah dan Satria baik-baik saja, dan akan selalu baik-baik saja. Untuk pertama kalinya ia merasa hubungannya dengan Tegar memiliki harapan.
***
“Kamu harus berjanji bahwa Satria akan memiliki masa depan yang baik.” Ucap Marvi menyempatkan diri untuk menelepon Tegar sesaat sebelum ia naik ke atas boat.
 “Aku janji. Satria akan menjadi anak yang paling beruntung karena memiliki dua ibu.”
Marvi menggeram, menolak kalimat Tegar yang diucapkan sambil tertawa.
Iya, aku berjanji, dia akan memiliki masa depan terbaik diantara anak-anak yang lain.”
Marvi menarik napas dalam, kelegaan membentang di dadanya seperti pemandangan Alor yang terbentang indah tak terbantah.
Kau … kau di sana hati-hati, ya.”
“Ini bukan pertama kalinya aku akan menyelam di Alor. Tempat ini sudah seperti rumah kedua bagiku.”
Tegar mengangguk meski ia tahu anggukan itu tidak akan terlihat oleh Marvi, ia percaya Marvi seorang penyelam yang andal. Tapi tetap saja lautan adalah sebuah arena rimba liar, tempat siapa yang kuat akan bertahan, dan yang terganggu akan memangsa.
Laju boat melambat, Marvi sudah memasang masker dan memastikan tabung oksigennya dalam posisi tepat. Ia duduk di tepi boat lalu menjatuhkan dirinya ke dalam laut. Penyelaman bagi Marvi selalu istimewa, setiap riak air, setiap gerakan ikan dan karang, suara gelembung-gelembung air yang pecah di sekitarnya adalah kedamaian sejati yang tidak pernah ia temukan di tempat lain.
Marvi sudah selesai memotret kumpulan karang warna-warni, sekelompok ikan kakak tua berenang ke selatan. Marvi mengejar, lalu berjalan perlahan di pasir yang landai. Marvi tersandung karang hingga mengejutkan sting ray yang langsung merasa terancam. Ekor sting ray mencambuk kaki Marvi, ketika ia mengelak namun gagal, ekor itu melayang dan menancapkan duri-duri beracun di perut Marvi.
Lima menit pertama Marvi masih mencoba bertahan dan meyakinkan dirinya sendiri bahwa semua baik-baik saja. Lima menit kemudian sakit di kepalanya mulai berdenyut hebat diikuti gelombang rasa mual yang mendesak dari dadanya. Lima menit berikutnya Marvi melambai pada rekannya dan muncul ke permukaan.
Lima menit terakhir yang Marvi miliki, ia hanya mendengar sayup-sayup suara diantara boat yang melaju kencang menuju pantai. Gambar-gambar Tegar muncul berselang-seling dengan wajah kedua orang tuanya, mereka menggemakan suara yang dalam tentang dirinya yang memiliki hidup yang hebat.






7 komentar:

  1. Tetap semangat ya mbaak..Pasti bisa menang satu hari nanti. Atau nulis buku aja. Aku suka baca ceritamu loh :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. makasih banyak supportnya mba dewi :)

      Hapus
    2. Sama sama mbak ;) salam dari sini..dingin banget brrr

      Hapus
  2. Aku baca cerpenya sampai selesaim mbak. Sebenarnya ceritanya menarik. Tapi kayaknya masih agak diringkas sedikit ya, biar pembaca memahaminya nggak bertele-tele. Halah ... sok ah akuh. Maaf mbak ini kritikan versiku aja. Jangan terlalu dimasukin ke hati. Tapi jujur, ceritanya unik, aku suka. Pemilihan kata-kata pembukanya juga bagus. Tetap semangat ya mbak, semoga akan menang dilain kesempatan

    BalasHapus
    Balasan
    1. aamiin. terima kasih sudah baca dan mengulasnya mba Sugi hehe ,... iya masih banyak kekurangan di mana mana nih

      Hapus
  3. nulis terus mbak, makin lama pasti makin hebat deh karyanya

    salam
    gabrilla

    BalasHapus