Rabu, 12 Oktober 2016

Sedikit kesan dari The Last Song karya Nicolas Spark

Kali ini saya ingin membuat catatan kecil tentang novel Nicolas Spark yg baru saya baca.Seperti karya Nic pada umumnya, novel ini disusun dengan alur yg begitu teratur. Jalinan peristiwa yang terkait  satu sama lain menempati komposisi yang pas.

Lompatan-lompatan cerita dari masa kini ke masa lalu terasa smooth. Bahkan saya seringkali mengulang membaca untuk mencari bagian mana yang mengubah sudut cerita atau setting waktu.
Di novel ini Nic menampilkan sosok yang tidak sempurna, namun memiliki sisi-sisi baik yang tidak terduga. Sebut saja pasangan ayah dan anak Steve dan Ronnie. saya menganggap Steve Ayah yg lemah, Ayah yang tidak punya sikap yang kuat. Namun sebenarnya, dia Ayah yang memahami bagaimana harus menghadapi putrinya yang menimbulkan beberapa masalah.

Tokoh Ronnie saya pikir menggambarkan remaja pada umumnya, tokoh yg lebih humanis karena dibuat tidak terlalu sempurna. Ia remaja yang marah pada keputusan ayahnya, remaja yang tidak ingin tunduk pada standar-standar yang dibuat manusia.
Kisah cinta antara Ronnie dan Will pun disajikan begitu manis, meski tokoh Will terlalu sempurna sebagai lelaki. Gagah, tampan, kaya, bekerja di bengkel ayahnya padahal sudah sangat kaya, pecinta lingkungan, baik, sekaligus seorang sahabat yg menjaga nama baik sahabatnya dengan mempertaruhkan banyak hal. ... apa lagi coba yang kurang sebagai cowok idaman.
tokoh antagonis dihadirkan tidak terlalu dominan, meski pada beberapa bagian menggerakkan cerita.
penggambaran Nic selalu pas entah tentang tokoh, keadaan alam dan setiing tempat. hingga ketika kita membaca seolah gambaran itu nyata di pikiran kita.
Jika di novelnya yang berjudul Save Haven, Nic menggambarkan tokoh antagonis yang suka menyiksa istri sebagai sosok yang sering mengutip kata-kata dari Injil. Saat itu saya merasa tidak nyaman, karena saya pikir, sosok yang memahami agamanya, agama apa pun itu pastilah seseorang yang bisa mengendalikan diri atau sosok yang santun.
Tetapi di The Last Song saya mendapatkan yang saya harapkan, ketika seorang tokoh kembali mendalami agama, membaca injil sebagai pegangan hidup untuk mencari ketenangan, terlebih di masa-masa sulit dan terpuruk.
Ini bukan novel religi nasrani tentu saja, karena porsi religinya sedikit. Namun kehadiran pendeta, gereja yang terbakar dan bagaimana upaya pembangunan gereja menjadi salah satu pusat cerita, yang menggerakan plot-plot cerita.
Ending novel ini saya bisa menebak sejak awal, tidak seperti ketika saya membaca Dear John, yang endingnya membuat saya baper berhari-hari. Tetapi tentu saja, Nic penulis andal yang pandai meramu ending yang bisa ditebak dengan sangat menyentuh, dan di beberapa bagian terasa manis.

Kali ini cukup dulu resensi ala-alanya, nantikan resensi yang lainnya, ya. Salam.


1 komentar:

  1. Pingiiin baca yang ini. Sekarang masih baca yang Notebook belum kelar2

    BalasHapus