Kamis, 20 Oktober 2016

Sebuket Bunga, Sepenuh Cinta.

Buket bunga kertas dari Ilma
            

            Ulang tahun kali ini berbeda, karena tidak ada si sulung di tengah kami. Satu orang berkurang yang memberi do'a, rasanya seperti ada yang hilang. Tapi tidak apa-apa, toh dia di sana juga pasti ikut bahagia. Rasa syukur tetap tidak berkurang. Anak-anak yang sehat, suami yang selalu mendukung, hati yang bahagia, segalanya lebih dari cukup.

            Sejatinya, ulang tahun seharusnya berisi muhasabah diri. Mengevaluasi diri terutama pada kekurangan yang saya miliki. Memohon ampun atas semua dosa dan kesalahan karena usia yang tersisa semakin berkurang.
            Tetapi sesekali tidak apa-apa mengisinya dengan kegembiraan, selama tidak berlebihan. Anggap saja mengulang keriangan 36 tahun lalu ketika saya lahir, meski dirasakan bersama orang-orang yang berbeda.
            Beberapa hari sebelum tanggal 19 Oktober, Ilma, putri ke dua saya, meminjam ponsel saya untuk WA teman sekolahnya. Chat anak SD  yang biasa aja, tapi intinya tentang bunga origami. Lalu Ilma minta izin menggunakan uangnya sebanyak 10 ribu untuk membeli bunga origami, katanya dia sudah pesan beli bunga origami sejak seminggu lalu. Saat itu saya hanya mengatakan, "kok bunga origami harganya mahal? Bikin aja sendiri, teh."
            "Ini bunga istimewa." Jawabnya.
            Saya enggak banyak tanya lagi, karena saya pikir hanya untuk mainan anak-anak biasa.
            Lalu tiba lah di tanggal 19 Oktober. Ucapan yang pertama selalu dari suami tercinta tepat pukul 12 malam, ditengah kantuk dan diantara sadar dan tidak. Saya hanya mengangguk-angguk lalu tidur lagi. Yah bagaimana lagi, ngantuk berat, ulang tahun masih besok ini lah pikir saya.
            Pagi hari gantian suami mengulang lagi ucapan selamat, lalu Ilma dan Aira. Yang terakhir disebut hanya terkekeh-kekeh aja saat diminta sun pipi saya yang basah air wudhu.
            Ucapan selamat selesai dengan cepat beserta hadiah dari suami yang kali ini lebih baik dari tahun lalu. Dibungkus kertas kado, meski tanpa kartu. Tahun lalu, hadiah hanya dibungkus plastik belanjaan aja hahah ... tapi enggak apa-apa. Pencapaian seperti itu buat cowok yang kurang romantis macam suami saya sudah sangat luar biasa, harus diapresiasi dengan baik dong.
            Sepanjang hari itu ucapan selamat  dan doa-doa datang dari teman-teman, alhamdulillah wa syukurillah, ulang tahun selalu menjadi hari yang bertabur do'a-do'a.
            Tetapi seperti biasa keluarga saya, ibu atau kakak saya enggak ada yang ingat. Hahaha ... memang sudah biasa begitu.
            Saya tumbuh di tengah keluarga yang tidak terlalu peduli dengan hal-hal kecil. Salah satunya, tidak terbiasa Memberi ucapan selamat ulang tahun. Mereka orang tua sederhana yang sudah terlalu sibuk dengan urusan dagang dan mengajar, hingga tidak pernah ingat kapan hari lahir anak-anak mereka. Hal itu menurun pada anak-anaknya yang saling acuh aja jika ada yang ulang tahun.
            Saya baru merasakan diberi ucapan selamat ketika ulang tahun saat SMP dan seterusnya. Sempat agak takjub juga dengan keluarga suami yang kalau ada anggota keluarga yang ulang tahun saling mengucapkan dengan suka cita dan kehangatan keluarga. Ayah ke ibu. Ibu ke anak. Kakak ke Adik. Bahkan sampai sekarang, setelah para adik dan kakak 4 bersaudara itu hidup berbeda kota, kalau salah satu dari mereka berulang tahun selalu menyempatkan untuk nelpon dan mengucapkan selamat. So sweet banget kalau lihat suami lagi ditelpon kakaknya, diberi ucapan ulang tahun di hari ulang tahunnya. Menyempatkan ngobrol lebih lama dari biasanya. 
            Dari dua kebiasaan keluarga yang berbeda itu memang memberi dampak yang berbeda juga. Diberi ucapan selamat itu kita jadi merasa lebih diperhatikan, mereka serasa lebih peduli dengan ingat hari lahir kita. Namun, tidak memberi ucapan selamat juga bukan berarti tidak peduli kok, hanya mereka memiliki cara berbeda aja dalam mengungkapan rasa sayang dan peduli. Buktinya, kalau saya atau anak-anak saya sakit, semua sigap membantu dan berushaa untuk menjenguk. Baik keluarga saya maupun keluarga dari suami saya.
            Jadi, enggak ada relevansinya antara dua kebiasaan keluarga yang berbeda itu dalam rasa peduli pada kita.
            Kembali ke cerita tentang Ilma. Siang hari ketika dia pulang sekolah. Dia membuka pintu dan langsung berlari memeluk saya. Memberikan sebuket bunga kertas. Bunga kertas terindah yang pernah saya lihat :)
            "Selamat ulang tahun bunda hebat, semoga panjang umur, semoga gembira terus." Ucapnya sambil masih memeluk.
            Ah, air mata saya menetes diperlakukan seistimewa itu oleh anak berusia 8 tahun. Saya mengucapkan terima kasih berkali-kali sambil memeluknya, sambil terus mencium pipinya yang penuh keringat.
            "Teteh dapat dari mana ini?"
            "Teteh beli dari Afi. Kemarin udah ada tapi belum teteh bawa. Teteh gak tau kalau ayah kasih hadiahnya ternyata pagi tadi. Maaf yaa ... "
            Saya mengucek puncak kepalanya. "iya gak apa apa. Terima kasih banyak." Jawab saya masih penuh haru.
            "Maaf, ada mutiaranya yang lepas." Lanjut Ilma sambil menunjuk salah satu bunga kertas tanpa mutiara, sementara bunga yang lainnya terdapat mutiara putih.
            Ah sudahlah sore itu saya bahagia sekali karena hadiah dari ilma. Ketika malam hari saya ceritakan pada suami tentang hadiah pemberian Ilma. Lalu suami cerita pas pagi tadi sebelum saya keluar kamar mandi, mereka mengobrol berdua. Kata Ilma. "bunganya masih di sekolah, itu bunga udah disiapkan dari lama buat bunda. Teteh beli 10 ribu dari Afi. Teteh udah siapin semuanya padahal."
            Saya semakin terharu rasanya mengetahui bagaimana Ilma merencakan hadiahnya buat saya, meski dia agak kecewa ternyata salah perhitungan waktu, hingga ketika waktu seharusnya diberikan, bunganya malah masih disimpan di sekolah.

My Ilma         
                 Diperlakukan istimewa dengan cara romantis begitu oleh anak sendiri rasanya berdenyar-denyar, berbeda dengan diromantisin pasangan.
            Bunga itu sepanjang malam saya lihat terus menerus. Saya simpan di meja kerja agar tidak mudah tersentuh tangan mungil Aira.
            Duhai Ilma, semoga engkau selalu istikomah dalam kebaikan. Diberkahi usiamu, diberkahi rizki dan ilmumu. Terima kasih telah menjadi anakku.
            Alhamdulillah telah terlewati satu tahun, semoga lebih baik di sisa usia yang akan saya jalani. Semoga husnul khotimah kelak.

            

1 komentar:

  1. You know what mbak? Aku berair mata, asli, ah ilma romantis banget! Aku mau kayak gitu ah ke mama, hehehe

    Salam,
    Aci

    BalasHapus