Minggu, 09 Oktober 2016

Kekerasan Seksual Yang Mengancam Masa Depan

pixabay

Kekerasan apapun bentuknya, baik fisik, psikis, atau bahkan verbal adalah sebuah kejahatan. Yang sering tidak disadari, bahwa umpatan-umpatan verbal termasuk juga kekerasan. Bahkan seseorang yang menggoda orang lain, atau tepatnya laki-laki yang menggoda perempuan, atau sebaliknya, dengan kata-kata mesum adalah termasuk kekerasan seksual.

Apalagi kekerasan seksual dalam bentuk fisik, itu merupakan kejahatan yang harus dihukum seberat-beratnya. Prosesnya akan mudah jika ada saksi, jika ada bukti-bukti yang mendukung bahwa telah terjadi kekerasan seksual, seperti visum dokter, keterangan ahli, olah TKP dan lain sebagainya.
Hanya sayangnya kekerasan seksual tidak selalu memiliki semua yang dibutuhkan tadi untuk menjerat pelaku. Banyak korban kekerasan seksual yang tidak berani muncul karena berbagai alasan, seperti karena malu, karena merasa tidak lagi berharga, karena merasa semua orang memperhatikannya dengan tatapan iba, atau bahkan menyalahkan dirinya karena tidak sanggup mejaga diri.
Apa pun bentuknya kekerasan seksual selalu memberikan rasa trauma yang dalam pada korbannya. Hingga tidak sedikit dari para korban yang kemudian menjadi menutup diri. Lantas si pelaku melenggang hidup bebas dengan damai dan mencari mangsa baru.
Sangat tidak adil!!
Bahkan, meskipun si pelaku mendapatkan hukuman penjara selama-lamanya 12 tahun, seperti yang tercantum pada pasal 285 KUHP. Korban kekerasan seksual tidak akan pernah benar-benar sembuh. Dunianya berubah setelah kekerasan terjadi. Rasa takut dan rasa tidak aman akan terus muncul, meski seiring berjalannya waktu dalam pemulihannya akan berkurang.


Tema kekerasan seksual sebenarnya tema yang mengerikan buat saya, tapi saya jadi ingin membahas setelah obrolan saya bareng Tya Napitupulu. Dia salah satu relawan di Yayasan Lentera Sintas Indonesia. Lentera ini tadinya komunitas bagi penyintas kekerasan seksual, tapi kemudian menjadi sebuah yayasan.  
Tya Napitupulu
Tidak banyak remaja sekarang ini yang aware terhadap hal seperti ini, Tya memiliki alasan pribadi kenapa dia sampai berani terjun langsung menjadi relawan dan memberikan penyuluhan-penyuluhan pada remaja lainnya.

Keterlibatan Tya berawal dari kasus yang cukup gempar beberapa tahun yang lalu, tentang seorang mahasiswi yang mendapatkan kekerasan seksual oleh seorang budayawan terkemuka di negeri ini. Hingga mahasiswi tersebut hamil dan melahirkan bayi perempuan.
Hingga hari ini menurut Tya, kasus tersebut belum juga tuntas, si pelaku belum pernah disidangkan satu kali pun. Karena ketiadaan saksi dan bukti-bukti yang mendukung.

Tidak Ada Kekerasa Seksual dalam KUHP

Sebagian besar kasus kekerasan seksual memang tidak memiliki saksi, sementara untuk melaporkan kasus tersebut agar diproses secara hukum salah satu syaratnya memiliki saksi, disamping memiliki bukti-bukti yang kuat.
Dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana atau KUHP memang tidak ada istilah pelecehan seksual atau kekerasan seksual. Bentuk-bentuk kekerasan tersebut disebutkan sebaga perbuatan cabul, terdapat dalam Pasal 289 sampai dengan Pasal 296 KUHP.
Menurut Ratna Batara Munti di website hukumonline.com artinya segala perbuatan apabila itu telah dianggap melanggar kesopanan/kesusilaan, dapat dimasukkan sebagai perbuatan cabul. Unsur penting dari pelecehan seksual adalah adanya ketidakinginan atau penolakan pada apapun bentuk-bentuk perhatian yang bersifat seksual.
Melihat kalimat terakhir yang disebutkan di atas sering dijadikan alasan pelaku kekerasan seksual untuk berkelit di balik kalimat “dilakukan suka sama suka” apalagi jika tindakan tersebut tanpa didukung alat bukti yang memadai.
Jika hal itu terjadi harus dicari alat bukti yang lainnya, yang lebih kuat dan meyakinkan. Namun meski demikian, jika kasus kekerasan seksual sudah diproses secara hukum dan alat bukti sudah diupayakan dengan maksimal, pada akhirnya hakim yang akan memutuskan apakah terdakwa bersalah atau tidak berdasarkan pembuktian di pengadilan.

Peran serta lingkungan

Peran serta lingkungan pada korban-korban kekerasan seksual sangat penting, mereka tidak bisa dibiarkan menghadapi trauma sendirian. Jika lingkungan terdekat merasa kesulitan atau khawatir melakukan penanganan yang salah, ada baiknya menghubungi pusat-pusat konseling atau komunitas yang peduli pada korba-korban kekerasan seksual.
Dalam ragka mengajak untuk lebih peduli pada sekeliling, sekaligus mengajak masyarakat untuk lebih berhati-hati pada kekerasan seksual Tya Napitupilu mengadakan give a way  yang berkaitan dengan kekerasan seksual di kendaraan umum, salah satu tempat yang sering terjadi kekerasan seksual belakang ini. Informasi give a way-nya bisa di cek di www.tyanapit.com
Modus kekerasan seksual menurut Tya Napitupulu

Tya. Jika ingin lebih mengenal Tya untuk ngobrol-ngobrol tentang bagaimana caranya menghindari kekerasan seksual atau penanggulangannya bisa kontak Tya di :


facebook: Tya Napitupulu
Twitter @TyaNapit
Instagram : @TyaNapit
Email : tya_napit@hotmail.com


1 komentar: