Kamis, 29 September 2016

Perempuan Madu

            Saya selalu membaca lagi karya saya jika sudah berupa buku, cetakan koran atau majalah, sepanjang saya bisa mendapatkan media tersebut. Dan selalu tahu pada perubahan sekecil apa pun. Entah itu perubahan susunan kalimat, terlebih paragraf yang diganti atau hilang. Serupa ada identitas yang berubah.

            Seperti pada anak sendiri, kita pasti tahu ketika ada yang berbeda dengan sikapnya.
            Untuk cerpen ini, saya bahagia sekali karena tidak ada perubahan apa pun, bahkan titik koma tidak bergeser dari tempatnya. Mungkin jumlah katanya pas untuk ruang yang tersedia. Atau bisa juga tidak ada kata yang super lebay sampai memualkan hahaha …
            Ide cerpen ini terbersit begitu saja ketika saya berpikir tentang apa jadinya jika sebuah kampung penduduknya saling menularkan sikap muram, tapi melalui apa? Bagaimana caranya?
            Setelah saya lihat postingan bakul on line shop paling nge-hits abad ini mba Siti Maryamah tentang petani madu, yang dia unggah saat itu hanya derigen berisi madu maka cerpen ini muncul begitu saja, dengan konflik dan ending yang tidak terpikir sebelumnya.
            Oh iya, cerpen ini juga cerpen tercepat yang mendapat kabar baik. Saya kirim tanggal 6 september dan sudah dimuat tanggal 25 September. Sebelumnya membutuhkan waktu berbulan-bulan, bahkan hampir satu tahun untuk mendapat kabar, itu pun kabar penolakan. *ketawa miris* … begitu lah setiap tulisan memiliki nasibnya sendiri sendiri, entah dia cepat menemukan jodohnya, atau jomblo hingga berkarat.
            Ah … sudahlah … kebanyak ngelanturnya, cerpennya lupa enggak keposting nanti.

            Silakan teman-teman, selamat menikmati cerita sederhana dari wanita sederhana. 

Dimuat di koran Pikiran Rakyat tanggal 25 Sepetember 2016

Perempuan Madu

Adya Pramudita


Untuk seseorang yang akrab dengan hutan, ia akan tahu bagaimana hutan bernyanyi. Ketika angin berembus dan membuat dedaunan bergesek, ketika udara melintasi celah kosong lalu menimbulkan siulan. Cericit burung menjadi sebuah intro yang sayang untuk dilewatkan. Serupa itu.

Selembar daun kering terjatuh, lalu tersangkut di rambut seorang perempuan muda. Ia menengadah. Menatap sarang lebah yang terselip di antara dahan-dahan pohon randu.
Perempuan muda itu membalut kedua tangannya dengan kain, lantas memanjat dengan gerakan lambat namun pasti. Ia berhasil menaklukan duri-duri, mendekap batang pohon tanpa desis kesakitan.
Dalam jarak dua depa perempuan muda itu mulai bersiul dengan irama sebuah tembang. Lalu, lebah-lebah berdengung dan terbang di sekitar rumah mereka.
Dengan gerakan pelan, teramat pelan, perempuan muda itu mengambil separuh sarang lebah. Seperti merengkuh kepala bayi yang baru lahir, perlahan dan hati-hati.
Menjelang tengah hari ia sudah mendapatkan tiga bongkah sarang lebah. Pemberian hutan hari ini lebih dari cukup untuk persediannya beberapa hari ke depan.
Dia tidak cantik, tetapi cukup nyaman untuk dipandang agak lama. Kulitnya lembab karena selalu berada di bawah kerindangan pohon-pohon. Orang-orang mengatakan, yang paling indah darinya adalah mata dan senyumnya.
Matanya memancarkan semangat dan prasangka baik. Senyumnya, semua orang mengaitkannya dengan madu. Karena ia dikelilingi madu-madu sepanjang hidupnya.
            Perempuan muda dengan rok bunga-bunga berenda tiba di pondoknya. Sebuah rumah mungil dari kayu di ujung desa, tepat di mulut hutan. Itu rumah peninggalan keluarganya yang menjadi petani madu turun temurun.
            Buyutnya, kakeknya, hingga ayah perempuan muda itu semua menjadi petani madu yang andal. Mahir memanjat pohon dan menguasai mantra-mantra untuk meminta madu dari pemiliknya tanpa lebah-lebah itu marah.
            Ketika adik laki-lakinya menolak untuk menjadi petani madu dan pergi ke kota. Perempuan muda itu mengambil alih dan meneruskan tradisi keluarga. Ia tidak tega jika orang-orang desa atau langganan madu ayahnya akan kesulitan mendapatkan madu, jika ia pun menolak menjadi petani madu.
            Perempuan muda itu masuk ke dalam pondok kecil di depan rumah, ruangan khusus untuk mengolah dan mengemas madu. Membuka bejana-bejana dan melapisinya dengan saringan. Ia meniriskan sarang-sarang lebah itu di atas bejana, membutuhkan waktu semalaman untuk mendapatkan madu yang siap dikemas.
            Tepat ketika perempuan muda itu meyalakan tungku untuk menanak nasi, ia mendengar suara berdebam yang sangat keras hingga terlonjak. Perempuan muda itu keluar dari pondok dan melihat sekeliling. Jarak rumah tetangga yang cukup jauh menyulitkan ia untuk bertanya atau mencari bantuan.
            Air di atas tungku sudah mendidih, ia memasukan beberapa kepal beras yang sudah dibersihkan. Setelah menyisakan sedikit api dan bara perempuan muda itu kembali ke dalam hutan. Ia penasaran suara apa yang meledak bagai bom barusan.
            Lebah-lebah beterbangan, dengung sayapnya menggambarkan kepanikan. Perempuan muda bergegas mencari ke arah lebah-lebah berasal. Ia melihat ranting-ranting pohon patah dan dedaunan yang tadi pagi rimbun telah membentuk celah yang besar, membuat matahari tengah hari menyerobot masuk hutan. 
            Perempuan muda tidak paham betul benda-benda yang berserakan di atas tanah. Seperti sebuah lempeng-lempeng berwarna hijau tua dan hitam. Asap mengepul dari sebongkah benda berbentuk kotak yang tampak berat.
            “Orang? Apakah itu orang?” Ia belum pernah melihat seseorang memakai pakaian tebal dan tertutup sampai ke kepala seperti itu. Sebuah helm terlepas beberapa menter dari tubuh yang menelungkup kaku.
            Kendati tangannya gemetar dan didera kecemasan, perempuan muda itu membalikkan tubuh tersebut. Seorang lelaki yang wajahnya tertutup luka dan darah segar, dadanya naik turun teramat pelan.
            Perempuan muda itu berlari pulang ke pondok mengambil karung goni yang dahulu dipakai ayahnya untuk membawa jagung kering. Terpikir untuk mencari bantuan, namun ia takut lelaki itu membutuhkan pertolongannya jauh lebih cepat.
            Karung goni dibentangkan, lelaki dengan baju tebal dan tertutup rapat itu ditidurkan di atasnya. Perempuan muda menyeret tubuh lemah itu sekuat tenaga, bobotnya seperti seratus kali lipat keranjang madu yang ia bawa setiap pergi ke pasar desa.
            Lelaki itu terluka di dahinya. Ia mengerang ketika si Perempuan Muda mencoba membuka bajunya. Sebuah lempeng logam sebesar koin menancap di dadanya. Tangan kirinya tampak patah, karena ia tidak bisa menggerakkannya.
            Bercampur antara ngeri, linu dan takut Perempuan Muda itu mencabut lempeng besi yang menancap atas permintaan si Lelaki.
            “Aku ... takut. Aku tidak sampai hati.”
            Lelaki itu mengiba, bibirnyaa seputih kafan, geliginya bergemeletukan menahan sakit.
            Perempuan muda itu meminta si Lelaki menggigit selembar sapu tangan, menyarankan ia berpegangan pada dipan kayu dan dalam hitungan ke tiga lempeng logam itu dicabut. Jeritan tertahan menembus langit-langit pondok. Si Lelaki tergeletak lemas.
            Hari mulai malam, si perempuan muda melihat darah merembes dari bagian kaki si Lelaki. Aku tak bisa menolongnya sendiri, gumamnya. Ia meraih selendang dan sandal. Tetapi lelaki itu langsung memanggil dan menahan langkahnya.
            “Jangan beri tahu siapa pun tentang aku.” Pintanya.”Kumohon.”
            Perempuan muda itu menggeleng, darah semakin banyak dan lempengan logam bukan hanya menancap di dada tetapi di punggung juga paha, dengan luka yang lebih lebar dan dalam.
            “Kalau aku mati di sini, setidaknya aku akan mati dengan tenang. Jika orang-orang menemukanku, aku akan tetap mati tetapi dalam raga yang lebih hancur.” Ucapnya lemas sebelum ia jatuh pingsan.
            Perempuan muda itu kalut, sekujur tubuhnya gemetar. Sepanjang hidup ia tidak pernah dihadapkan pada pilihan maha sulit.
            Ia membuka seluruh pakaian si Lelaki, membersihkan luka demi luka. Kemudian ia mengambil madu hutan yang paling kental dan berwarna hitam, jenis madu yang paling langka ia dapatkan.
            Perempuan muda itu mengoleskan madu tersebut pada setiap luka, lantas membebatnya dengan perban yang diisi oleh daun kemangi yang ditumbuk.
            Tengah malam si Lelaki itu siuman dengan suhu tubuh yang tinggi, bulir-bulir peluh membanjir di wajah dan dadanya. Perempuan Muda itu menyuapi si Lelaki dengan madu randu yang dicampur air hangat.
            Menjelang pagi, si Lelaki dapat tertidur pulas.
***
            Setiap pergi dan pulang dari pasar sehabis menjual madu-madu dan membeli keperluan, kini, langkah perempuan muda itu jauh lebih bersemangat. Ada seseorang yang melepasnya pergi dan mengharapkannya segera pulang. Ada senyum dan tatapan yang saling bertaut.
            Lelaki itu perlahan-lahan mulai pulih, setelah hampir sepekan ia sudah bisa bangun dari tempat tidur. Tidak ada yang lebih membahagiakan lagi selain itu.
            Ketika ia berjalan di jalanan menurun menuju pondoknya, perempuan muda itu melihat si Lelaki berjalan terseok-seok. Bajunya -baju adiknya yang ia berikan- penuh noda tanah. Si Lelaki membawa kopor kelabu dari baja, kopor yang lebih mirip sebuah berangkas.
            “Kau ... dari mana kau? Mengapa tidak menungguku? Lihat luka di kakimu masih bengkak.”
            Si Lelaki tersenyum. Ia mengatakan bahwa perempuan muda sudah terlalu banyak membantunya. Ia baru saja menguburkan puing-puing pesawat ultra ringan yang ia kemudikan seorang diri dan akhirnya membuat ia terdampar di sana.
Ia membuka kopor tersebut, dan seluruh benda di dalamnya berantakan. Ada berkas-berkas, tumpukan uang –uang yang sangat banyak- sebuah benda yang dibungkus kain beledu hitam dan sebuah senjata api. Perempuan muda itu tercekat dan bertanya dengan gugup. “Siapa sebenarnya dirimu?”
            “Aku membantu sebagian orang tetapi dibenci oleh kelompok yang lainnya.”
***
            Lalu, masa itu akhirnya tiba. Masa yang pasti terjadi tetapi sangat ingin dihindari. “Ikutlah denganku. Kau akan melihat banyak hal di luar dunia hutanmu.”
            Perempuan muda itu sangsi. Separuh hatinya ingin, namun separuh lagi ia mengingat madu dan lebah-lebah, juga adiknya yang selalu pulang menjelang hari raya tiba. Si Lelaki mengulang ajakannya hingga tiga kali namun perempuan muda itu tetap diam.
            “Baiklah, aku akan kembali satu bulan lagi. Aku harap saat itu kau sudah memiliki keputusan terbaik bagi kita. Sungguh, aku sangat ingin kau ikut bersamaku.”
            Rangkaian kalimat itu seperti rayuan yang membuat Perempuan muda itu bernapas lega dan amat bahagia. Ia bisa menyiapkan banyak hal. Ia bisa mengirim surat pada adiknya. Ia bisa bercengkrama dengan lebah-lebah dan meminta izin mereka.
***
            Maka setiap malam selama 30 hari adalah malam-malam terpanjang dalam hidupnya. Ia mengukir nama si Lelaki di setiap benda yang ia lihat, di tanah, di pohon, di bejana tanah liat tempat menampung air. Dan seakan, beningnya madu yang semalaman ia saring melukiskan wajah si Lelaki dengan pantulan sinar matahari.
            Pada hari ke 31 dan seterusnya adalah hari-hari dengan penuh pengharapan. Segudang impian. Sekotak besar imajinasi. Sayangnya, pada hari ke 40 ia memutuskan berhenti bertanya-tanya dalam hati. Berhenti berteka-teki.
            Siapa pun yang mengenal perempuan muda itu, pasti tahu ada sinar dari matanya yang tercerabut, ada senyum yang lungkrah. Kian hari wajah Perempuan muda itu kian muram. Ia masih memanen madu, masih mengucap mantra, masih menyapa lebah-lebah, namun segalanya sangat berbeda.
            Kemudian, penduduk desa mengeluhkan madu-madu yang mereka beli. Madu randu yang mereka minum menjadi sangat hambar, madu hutan yang legam menjadi sangat pahit dan menyengat. Lalu kemuraman menyebar ke semua penduduk desa.
            Ketukan pelan terdengar. Dengan langkah yang diseret, perempuan muda itu membuka pintu. Tiga orang lelaki mengangguk dan menyapanya sambil memberikan selembar foto.
            Aku membantu sebagian orang tetapi dibenci oleh kelompok yang lainnya. Ucapan si Lelaki terngiang lagi. Dari kelompok mana mereka berasal? Perempuan muda itu menggeleng.
“Dia menunggu anda di suatu tempat.” Ucap salah satunya.
“Benarkah?” Desisnya pelan.  
Perempuan muda itu bergegas, karena tidak ada hal lain lagi yang ia nantikan. Ia langsung mengikuti ketiga lelaki tersebut. Tanpa berpamitan pada lebah-lebah. Tanpa pernah tahu sebuah langkah lebar Si Lelaki menuju pondok hendak menjemputnya.

Pada 17 April 2016 cerpen saya pertama kalinya dimuat juga di koran Pikiran Rakyat berjudul Sepasang Sayap Untuk Marlia.


4 komentar:

  1. Suka....Sekilas melihat judulnya pasti orang akan berpikir lain... Selamat ya mba....keep produktif

    BalasHapus
    Balasan
    1. terima kasih sudah mampir. produktif ... duh ... sekarang udah susah hehe

      Hapus
  2. Mbaakk..., endiingnya kok nyesek siih...,, itu tiga orang jahat...

    BalasHapus
    Balasan
    1. ah terkadang yang nyesek itu lebih mudah dikenang :)

      Hapus