Senin, 19 September 2016

Pengakuan Senja

            

Cerpen ini saya tulis pertengahan tahun 2015, di kelas Merah Jambu bersama mba Nurhayati Pujiastuti.Perjalanannya pun tidak langsung menemukan jodohnya. Sempat tersesat di media lain hingga akhirnya dimuat di majalah Ummi edisi Agustus 2016. Membutuhkan waktu satu tahun lebih hingga akhirnya dapat dimuat. Dan membutuhkan waktu hampir 8 bulan setelah dikirim, hingga saya mendapat kabar baik ini. Alhamdulillah.

Kirim, berdoa dan lupakan. Tiga mantra itu seringkali saya sebut jika mengirim sebuah cerpen ke media, hingga saya benar-benar lupa pernah mengirim cerpen ini. Tetapi mengirim karya ke media manapun memang butuh kesabaran, seperti ketika kita menikmat proses belajar membuat cerpen setahap demi setahap, setidaknya jika cerpen kita belum kunjung dimuat, sebelum akhirnya menarik kembali cerpen tersebut, kita tunggu sampai batas waktu setidaknya 6 bulan, karena beberapa media mesyaratkan demikian. Syukur jika cerpen dimuat sebelum jauh sebelum batas waktu tersebut.
Selamat membaca. Selamat berjumpa dengan Hairi dan Elita. 
Salam




Adya Pramudita

Ketika dering telpon berangsur berkurang, suara-suara mesin pencetak berhenti bekerja dan ruangan-ruangan perlahan hening ditinggalkan. Menyisakan beberapa wanita yang akan berkumpul di mejaku, membuka bekal makan siang masing-masing.

            Jumlah kami berubah-ubah terkadang dua orang atau ketika tanggal tua tiba dan setiap orang ingin menghemat, maka meja kerjaku yang paling lebar  diantara yang lain akan menjadi meja makan bersama untuk tujuh orang. Anggota yang pasti ada tentu saja aku sebagai pemilik ruangan desainer produk dan satu lagi seorang karyawan dari bagian akunting.
            Namanya Hairi, lemah lembut dengan mata menyipit jika ia tersenyum. Ia senang mengenakan jilbab segi empat dengan warna-warna lembut. Alasannya selalu bekal makan siang adalah, “lidahku belum cocok dengan makanan di pulau Jawa.” Itu menguntungkanku, karena makanan yang ia bawa adalah makanan-makanan yang aku suka dan memang sulit didapatkan.
            Seperti siang ini, ia membawa plecing kangkung yang langsung membuat selera makanku meningkat. Aroma terasi langsung tercium ketika ia membuka tutup tempat makan siangnya.
            “Kesukaanmu,Ta. Sengaja aku buat banyak.” Ucapnya, mendorong plecing kangkung padaku. Hairi selalu begitu. Sebelum ia mengambil untuk dirinya sendiri, Hairi pasti memintaku mengambil terlebih dahulu. Sementara dirinya, sesekali saja mau mencicip makanan yang aku bawa.
            Rasa asam dari perasan jeruk limau. Pedas yang menyengat. Kangkung dan toge rebus yang kriuk ketika kugigit, aroma terasi yang tercampur dalam bumbu yang meleleh di tanganku. Oh, membuat makan siangku terasa kurang. Aku menjilat bibir. Menatap rendag ayam yang Mbok Jum  bekali dan belum kusentuh. Lalu, Elis temanku yang lain dengan suka rela menghabiskan.
            Hairi tertawa melihat aku selesai makan, “bagaimana bisa kamu suka masakan Lombok, Ta?”
            “Ayah yang dulu mengenalkanku pada plecing kangkung, ayam taliwang, sate pesut.” Aku menjilat bibir lagi. “Euuh …itu semua mantap!” Aku menaikkan ibu jariku.
            Hubungan kami semakin dekat, terlebih ketika tahu bahwa kami memiliki hobi yang sama terhadap membaca buku. Saling meminjamkan buku-buku dan bersama-sama berburu buku hingga ke Kwitang. Membahas sebuah novel seolah kami ahlinya.
            Hairi, wanita yang lima tahun lebih tua dariku namun menolak aku panggil ‘mba’ itu seseorang yang nyaman untuk siapa pun berbincang lama. Ia pendengar yang baik, dan mengingatkan dengan caranya yang santun. Elis pernah berkata, “makin sering sama-sama, kalian jadi makin kelihatan mirip.” Kami pun tertawa tanpa berkomentar apa-apa.
            Dua tahun kami berteman satu kali pun aku belum sempat mampir ke tempat kostnya di kawasan Pondok Kelapa. Hanya mengantar atau menjemputnya di gang jika kami pergi bersama.
            Namun, pekan ini berbeda. Entah mengapa aku ingin sekali tahu bagaimana cara membuat plecing kangkung ala Hairi.  Yang katanya  ia dapat dari ibunya yang membuka kedai makan di Lombok. Bagiku, racikannya yang paling pas sebaik apa pun Mbok Jum membuat dari resep yang aku dapatkan di internet.
            “Aku ajari langsung, ya, Ta. Biar kamu bisa praktek dan membuatkannya untuk ayahmu.” Ucap Hairi jumat sore kemarin. Maka, di sabtu siang ini aku datang.
            Acara masak plecing kangkung bersama berjalan lancar, bahkan aku membawa sisanya pulang. Dengan gembira memberikannya pada ayah. Namun entah mengapa ayah tidak menyambutnya seantusias yang aku kira, padahal ayah sangat menyukai plecing kangkung sepertiku.
            Aku meninggalkan ayah di ruang makan karena ada telpon untukku. Namun saat aku kembali ayah masih menatap plecing kangkung itu dengan nanar. Ketika aku bertanya, bulir-bulir air luruh dari matanya.
            “Ambilkan foto-foto lama di dasar lemari meja kerja ayah.” Ucapnya. Ruang kerja ayah sudah tidak pernah digunakan sejak ayah sakit dan pengapuran di kakinya sudah tidak mampu menegakkan lagi tubuhnya. Sejak dua tahun lalu, aktifitas ayah sangat tergantung dengan kursi roda.
            Aku menurut tanpa berpikir macam-macam, memberikan album foto tua pada ayah. “Kalian dekat?” tanya ayah singkat. Alisku bertaut ketika bertanya balik, siapa yang ayah maksud.
            Ayah memperlihatkan selembar foto berwarna, sedikit usang karena usia. Dua anak perempuan, seorang ibu dan … foto itu terlepas dari tanganku.
            Ketika aku terpaku, ketika rasanya udara menjadi beku ayah bercerita dengan suara yang lirih. Laki-laki di foto itu adalah ayah ketika masih tinggal di Lombok. Ayah menunjuk bayi perempuan dalam pangkuannya. “Itu Hairi.”
            “Ayah … “ Aku menatap ayah dengan bingung, rasanya ingin pergi ketika aku merasa ayah telah membohongiku dan mendiang ibu selama ini. Namun, ayah berhutang banyak penjelasan padaku.
            Aku hanya bisa diam, rasanya seluruh tubuhku terasa lemas. Ucapan Elis tentang kami yang kian hari kian terlihat mirip terdengar berulang kali di dalam benakku. Tanpa menatapku, ayah meneruskan ceritanya. Tanpa peduli aku siap atau tidak.
            “Ayah datang ke pulau Jawa berniat masuk kesatuan, namun syaratnya adalah perjaka atau belum menikah.” Dari situ aku sudah bisa menerka kelanjutan cerita ayah. Dia terpaksa meninggalkan keluarganya di sana, meniti karir di pulau Jawa. Menikahi anak perempuan dari atasannya, yaitu ibuku dan diujung rangkaian kisah itu, kemudian aku lahir.
            Aku menarik napas yang terasa sesak, ketika mengingat kisah yang sempat Hairi tuturkan tentang ia dan kakaknya. Mereka harus berjuang untuk bisa sekolah dan ibunya harus membuka kedai makan untuk biaya hidup. Sementara, ayah nyaris tidak pernah kekurangan apa pu di Jakarta.
            “Ayah ingin kalian kenal perlahan-lahan, saling tahu hati kalian masing-masing. Maka, ayah meminta pada Om Janur mengarahkan Hairi untuk bekerja satu kantor denganmu.”
            Aku berpaling, malas mendengar bagaimana ayah terus saja memanfaatkan sisa-sisa kekuasaannya untuk mempengaruhi Om Janur mantan ajudannya, adik dari pemilik perusahaan tempat aku bekerja.
            “Ayah menemui mereka beberapa tahun lalu, namun mereka bertiga menolak ayah tanpa mau mendengar apa pun. Ayah telah berbuat dosa.” Air mata semakin deras mengalir di wajah ayah.
            Mataku memejam. Tentu saja, sebagian besar manusia akan melakukan hal sama jika pernah dianggap tidak pernah ada.
            “Ibunya Hairi juga pandai memasak plecing kangkung.” Ayah menarik kotak makan berisi plecing kangkung yang kubawa. Mengambil sesuap dan memakannya. “Rasanya persis seperti ini.”
            Aku berdiri. Entah untuk siapa rasa sesal yang terasa meremas jantungku. Apakah untuk ibuku yang selama pernikahannya dengan ayah, suaminya itu masih terus mengenang bagaimana plecing kangkung buatan istri pertamanya? Atau kah untuk Hairi dan keluarganya. Untuk pengkhiatan yang ayah lakukan pada mereka. Entah.
*
            Aku tidak masuk kerja ketika hari senin tiba, sampai satu minggu aku masih enggan bertemu Hairi. Lebih tepatnya aku bingung hendak melakukan apa pada pertemanan kami. Pengakuan ayah akan mengubah hubungan persahabatan ini. Selama satu minggu itu pula aku lebih banyak diam jika sedang mengganti baju atau diaper ayah.
            Seburuk apa pun masa lalu ayah, dia tetap pelantara kehadiranku di dunia ini dan satu-satunya keluarga yang aku miliki sekarang
            “Ada tamu, katanya mau ke mba Elita.” Mbok Jum memberitahu ketika aku masih memasangkan kancing baju ayah. Aku merapikan ayah dan mendorong kursi roda ke beranda. Ayah ingin berjemur matahari pagi.
            Dia, wanita yang tengah kuhindari berdiri tegak di depan foto keluarga yang terpasang lebar di dinding. Hairi berbalik ketika mendengar derit kursi roda. Bola matanya telah merah.
            “Elita, kamu tidak pernah cerita kalau ayahmu itu … “Hairi tidak melanjutkan kaliamatnya. Ia menatap ayah dengan rahang mengeras, air mata terlanjur jatuh di pipinya. Ia meletakkan bungkusan yang ia bawa. Lalu melangkah mundur dan pamit tanpa bisa kucegah.
            Sementara ayah, berteriak dengan suaranya yang parau tanpa pernah Hairi lihat lelaki tua itu menangis tersedu-sedu.
            Bungkusan yang Hairi bawa adalah plecing kangkung dan ayam taliwang. Rasanya terasa lebih asam dan jauh lebih pedas ketika aku menyantapnya dengan perasaan hampa.

            Hairi tidak pernah lagi bisa kutemui setelah itu. Ia tidak pernah lagi masuk kerja, hanya mengajukan permohonan mengundurkan diri melalui telepon kepada atasannya. Tempat kostnya pun kosong tanpa mengatakan akan pindah ke mana pada ibu kostnya.
            Dengan matanya yang berselaput putih ayah menatapku lama, memintaku mencari Hairi dan pergi ke Lombok untuk menjelaskan semuanya. Melihat tubuh ayah yang semakin melemah, aku tak kuasa menolak. Meminta pengampunan untuk ayah.
            Namun, kesempatan itu seakan tertutup terlalu cepat ketika ginjal ayah semakin tidak berfungsi dan ayah harus pergi sebelum Hairi, kakak dan ibunya bersedia memaafkan.
*
            Di sini lah aku berada sekarang. Mendengar deru pesawat yang datang dan yang akan meninggalkan tanah ini. Tiket menuju Lombok aku pegang erat-erat, seakan angin berniat merampas dan menerbangkannya entah ke mana.
            Hairi menutup semua akses hubungannya denganku. Ponselnya sudah tidak bisa kuhubungi. BBM, WA dan semua jenis aplikasi miliknya telah tidak aktif. Namun tanpa menyerah. Aku terus mengirim surel pada Hairi. Tiga sampai lima kali dalam satu hari.
            Aku menceritakan bagaimana Ayah kami pergi, dan merasa menyesal dalam akhir masa hidupnya. Serta bagaimana ayah mengenang ibunya dalam kenangan dengan sangat baik.
            Tentu, aku cemburu. Namun seumur hidup yang aku miliki bersama ayah tidak pernah sebanding dengan luka yang dimiliki Hairi bersama kakak dan ibunya.

Selesai.


4 komentar:

  1. Endingnya jleb banget. Dan itu mewakili separuh cerita untuk bisa dikatakan cerpen ini bagus.

    BalasHapus
    Balasan
    1. *berbunga-bunga* matur nuwun mba Utami sudah berkenan singgah

      Hapus
  2. Hiks, jadi sedih.. ceritanya sederhana dan keren.... 😊 selamat ya,Mbak..

    BalasHapus
    Balasan
    1. terima kasih, terima kasih sudah mampir ya

      Hapus