Rabu, 03 Agustus 2016

Persiapan dan Serba-Serbi Masuk Pondok Pesantren

 

Fadel 6 tahun lalu

           Saya mau cerita tentang anak pertama saya yang melanjutkan sekolah ke pondok pesantren. Mulai dari penentuan pondoknya mana, sampai keberangkatan dan melow-melow emak kangen sama anak. Ternyata bukan anaknya aja yang mengalami masa adaptasi, semua anggota keluarga, ayah-bundanya, adik-adiknya, bahkan kura-kura di rumah juga mengalami masa adaptasi kehilangan satu anggota keluarga. ^Iya, karena salah satu tugas anak saya itu nguras kolam borte dan rambo sama ngasih makan, meski kadang dia suka lupa juga.^

Dulu ketika anak pertama saya itu baru kelas 1 SD, entah dari mana dia tanya tentang Gontor. Lalu saya ceritakan kalau itu pondok pesantren modern tertua di Indonesia (seenggaknya setau saya gitu, asal ngomong aja sih enggak nyari data.)
Lalu ketika saya beli buku 5 Menara karya Ahmad Fuadi, info tentang pondok pesantren bertambah. Cerita sebelum tidur dari dongeng atau cerita tentang sahabat nabi, jadi cerita tentang Alif dan kawan-kawannya yang menjalani hari-hari belajar di Pondok Pesantren. Diperkuat lagi kami mengajak dia menonton film 5 Menara di bioskop waktu itu. Jadi, semua yang ada di imajinasinya mulai tergambar nyata di benak anak saya.


Lalu, muncullah keinginan anak saya itu untuk sekolah ke pondok pesantren. Dia nyebutin Gontor sih, iya kita aamiinkan aja, karena masih jauh juga waktunya.
Tapi baik saya dan suami, juga anak saya  sejak itu sudah mulai menyusun rencana bahwa nanti Aa (panggilan saya ke dia) akan melanjutkan sekolah ke pesantren. Jadi tuh, kita bertiga bisa dibilang sudah menyiapkan mental sejak bertahun-tahun lalu. ^Mungkin ini penyebab saya dan anak saya enggak nangis waktu kita pisah di hari pertama dia Mondok.^
Enggak terasa tiba-tiba si Aa ini kelas 5 SD aja, baru tuh kita kelimpungan pondok pesantren mana yang sekiranya cocok untuk anak saya. Paling enggak, karena Gontor terlalu jauh ( Iya, para nenek dan kakeknya protes keras ketika denger cucunya kepengen mondok di Gontor, padahal saya dan suami penasaran pengen nyoba J ) Paling enggak, yang sevisi dan semisi dengan saya dan suami, juga sevisi dan semisi atau tidak jauh berbeda dengan SDIT tempat anak saya sekolah SD.
Mulai tuh cari-cari sekitaran Jawa Barat (biasa, syarat dari kakek-nenek “jangan kejauhan”) dan daerah Jabodetabek. Banyak sekali info pondok pesantren yang masuk sampai saya bingung. Lalu suami saya ingat tetangga dulu di Bandung menyekolahkan anaknya di ponpes di kota Kuningan. Namanya pesantren apa, kita enggak tahu.
Pas kita tanya-tanya, ternyata namanya Ponpes Husnul Khotimah. Lalu browsing dan nanya-nanya ke orang tua temannya anak saya yang sudah menyekolahkan 3 anaknya di sana. Suami saya bilang, “sepertinya ini cocok.” Bukan “sepertinya ini bagus.” Iya, karena pondok pesantren mana pun insya allah bagus semua kan.
Ponpes ini letaknya di Desa Manis Kidul, Jalaksana, Kuningan.
Akhirnya kita survey ke Husnul Khotimah sambil jalan-jalan ketika liburan kenaikan kelas. Suami saya langsung merasa klik, dari suasana, cuaca, keramahan para petugas jaga, dan yang pasti kamar mandi di masjidnya bersih.
Maka, masuklah ponpes Husnul Khotimah itu jadi pilihan pertama, sambil tetap mencari ponpes lain takut-takut anak saya enggak diterima.
Pendaftaran siswa baru dimudahkan dengan cara on-line (rata-rata sih sekarang mah begitu, ya) waktu pendaftarannya akhir Desember, dan tes masuknya awal Januari. Ketika tes, saya tidak ikut karena anak yang kecil flu berat. Tapi dengar cerita suami, yang daftar ramai banget. Sekitar 600 orang lebih yang daftar. Wah, mulai agak jiper nih, takut si Aa enggak keterima.
Awal Februari kami sudah menerima hasilnya, dan Alhamdulillah anak saya diterima di ponpes Husnul Khotimah 1. Ada Husnul Khotimah 2 yang berbeda lokasinya, tapi pendaftarannya sama-sama di HK 1.
Tenang deh, si Aa udah dapat sekolah lanjutan. Tinggal menjalani US, UN dan tryout-tryout yang melelahkan aja J … Kita semua lupa deh untuk menata hati dan mental untuk berpisah nanti.
Dan akhirnya, waktu itu pun tiba. Setelah kelulusan, 2 minggu setelah lebaran kami mengantar Aa ke kota Kuningan. Saya pribadi tidak merasa sedih yang berlebihan sih, karena sibuk aja menyiapkan keperluan dia untuk di sana. Banyak banget dan semuanya harus diberi nama supaya enggak ketukar atau hilang ^meski kenyataannya satu hari aja sendal udah hilang, padahal dikasih nama gede-gede.^
Semalam sebelum keberangkatan, para uwa-uwanya datang untuk menengok, ngasih uang jajan juga ^jadi tambahan setelah dapat angpau lebaran deh.^ Eh tiba-tiba ilma, anak ke 2 saya nangis, pas saya tanya besoknya, dia jawab, “Teteh sedih aa mau mesantren, nanti di rumah gak ada Aa.”
Yaaah … ada juga drama ternyata, padahal tuh anak berdua kalo ngumpul juga kebanyakan berantem daripada akur.
 Alhamdulillah suasana di sana kondusif. Para ustaz dan musyrifnya mengerti banget bagaimana menangani anak baru, juga para orang tua yang sama-sama dapat pengalaman baru melepas anaknya ke Pondok. Dengan rasa khawatir yang tinggi dan kepo maksimal. ^ini nanti makannya di mana, gimana, menunya apa? Ada buah atau enggak? Kamar mandi bersih atau enggak. Nyuci baju daleman dimana? Jemurnya di mana? Perlu bawa setrikaan atau enggak. Atau kita urunan beli mesin cuci yang pengeringnya aja ^emang ada?^ ^ para ustaz meladeni dengan super sabar hehe …
Malam pertama tanpa Aa, kita menginap di penginapan sekitar pondok. Karena pagi harinya ingin melihat Aa pakai seragam MTS, ^iya di ponpes HK itu MTS dan MA  bukan SMP dan SMA, liburnya juga hari jumat bukan hari minggu^
Besok paginya kita ketemu, anak saya udah pakai seragam kotak-kotak hijau. Pas ditanya bangun jam berapa? Dia jawab “jam setengah 4, aa kira ada kebakaran atau apa. Banguninnya pakai alarm yang kaya ada bencana. Lalu makan pagi jam 6, pakai benda yang kaya nampan.”
Pagi pertama di Pon-pes Husnul Khotimah

Saya dan suami ketawa aja lihat dia cerita, ceritanya dengan wajah happy penuh antusias. Si Aa itu di jalan ketika berangkat aja enggak ada wajah sedih atau apa, raut mukanya ceria dan penuh antusias, semacam udah enggak sabar untuk masuk dunia baru. Jadi ke kita, orang tuanya lumayan bikin tenang. Agak bingung juga kalo tiba-tiba dia wajahnya syedih atau menatap dengan mata berkaca-kaca, bakalan enggak tega ninggalinnya. Atau bakalan kebayang-bayang pas sampai di rumah.
Banyak para orang tua yang sama-sama ingin lihat anak-anak mereka baris dan mengikuti upacara. Heu, rasanya terharu gimana gitu. Perasaan baru kemarin ngelahirin dia, eh tau-tau udah SMP aja.




Upacara pembukaan POS HK


Kita enggak bisa menunggu lama karena harus segera pulang ke Bogor, perjalanan Kuningan-Bogor lumayan jauh. Sekitar 6 sampai 7 jam lewat tol Cipali. 
Ketika kita pamit untuk pulang, saya bilang sambil meluk dia "Aa kita semua pulang dulu ya."
Dia jawab, "Iyaa, bukannya dari pagi sih, nanti kemalaman" Jiah, dikira bakal ada drama, malah dia lebih mengkhawatirkan kita takut kemalaman.

Waktu itu anak-anak sudah dibentuk kelompok-kelompok untuk memulai Pekan Orientasi Siswa Husnul Khotimah. Saya lihat Aa udah di kelompoknya dan terlihat terkantuk-kantuk. Hihi … biasa kebluk bangun pagi-pagi jadinya gitu deh. Bagian itunya tuh yang tidak kita persiapkan maksimal, bagian bangun pagi, karena dia cukup sulit dibangunkan jadi emaknya suka keburu kesel.
Grup orientasinya di selasar masjid, jadi kita bisa ngintip.

Satu dua hari nahan diri untuk nelpon, pas hari ke tiga baru nelpon. Di pondok kegiatannya cukup padat, jadi jam nya nelpon paling bisa di waktu senggang sekitar ba’da ashar dan di atas jam 8.30 malam, karena dari magrib sampai isya anak-anak di masjid, dan biasanya habis isya masih ada kegiatan di masjid.
Ketika di telpon suaranya terdengar ceria, cerita-ceritanya juga mengalir biasa aja, seputar sandal dan peci hitam yang hilang J katanya “Aa jadi ketua kamar.” Lalu biasa lah khas emak-emak, saya bicara terlalu banyak nasehat, padahal mungkin dia sedang enggak butuh itu.
Bersama-sama teman satu kamar, keluarga besar Al-Muffassirin 9

Satu aja sih kekhawatran kita orang tuanya sama si Aa, dia itu karakternya agak keras dan mm sedikit cepat marah hehehe … (iya lah kan saya ibunya, jadi tetap memandang dia istimewa dong. Enggak tega lah mau nyebut dia tempramen)
Ahirnya kejadian juga, setelah satu minggu ada orang tua santri lain yang berkunjung, di WA grup bilang ada anak yang berantem. Wah, saya langsung kaget, “jangan-jangan anak saya!” pas ditanya, beneran aja. Iya bu, Fadel yang berantem.
Wah rasanya hancur lebur saya. Akhirnya saya nangis juga. Iyess nangisnya bukan karena pisah dari anak atau kangen anak, tapi karena anak saya menyakiti anak lain. Kenyataan bahwa karakternya yang keras masih dia bawa. Bersambung dengan rasa bersalah kalau saya jadi ibu yang gagal, yang banyak melakukan kesalahan ketika mendidik dia di rumah dulu. Berantakan lah pokoknya saya selama berhari-hari.
Setelah konfirmasi ke ustadz asrama, ustadznya enggak banyak cerita tapi balasan singkatnya cukup menenangkan. Bahwa semua sudah diishlahkan, Fadel sudah dinasehati, Fadel merasa bersalah dan meminta maaf. Ini hal yang normal karena semua masa proses adaptasi. Enggak lega gitu aja sih, tetap aja rasanya pengen ketemu sama si Aa. Naluri emak biasa: kepengen nanya kejadiannya kaya apa, dan kenapa Aa sampe ngajak berantem sampai temannya nangis.
Saya paksakan akhirnya nelpon, eh si Aa udah feeling aja ibunya tahu. Dia udah pasang kuda-kuda duluan membela diri. Saat itu enggak ada lagi nasehat-nasehat yang keluar dari mulut saya, saya hanya bilang, “Aa Maafin bunda, ya, tolong maafin bunda selama ini bunda banyak salah. Selama mengasuh Aa di rumah bunda banyak salah, maafin bunda, ya, Aa. Bunda dan ayah sayang sama Aa, sangat sayang sama Aa.”
Anak saya diam aja, enggak kedengeran suara apa-apa. Entah dia renggangkan teleponnya karena malas denger suara ibunya, atau dia sedang berpikir tentang semua kekhilafan yang dia lakukan, atau juga menyusun betapa banyak kesalahan saya terhadap dia.
Setelah itu saya nangis lagi, nangis yang panjang, nangis yang sesak. Hah lebay memang, tapi begitulah kalo feeling guilty, kecewanya lebih dalam dari benar-benar melakukan kesalahan.
Kemudian untuk beberapa waktu saya tidak meneleponnya. Saya menata hati dan memberi kesempatan untuk anak saya juga memikirkan semuanya. Jadi, menyekolahkan anak ke pondok pesantren memang mengajarkan anak untuk mengelola dirinya, mengajarkan anak untuk ketangguhan hidup, dan terus memperbaiki ruhaninya.
Yang saya rasakan adalah, ternyata bukan hanya anak saya yang mendapatkan semua pelajaran hidup itu, bahwa saya pun mendapatkan itu semua. Salah satunya mengelola diri saya, mengelola hati saya untuk berkompromi dengan semua hal yang terjadi berkaitan dengan anak-anak saya. Berkompromi dengan komentar-komentar yang mungkin muncul atas kejadian tersebut.
Pokoknya kita semua sama-sama belajar hal yang baru. Anaknya belajar beradaptasi di asrama, berusaha saling memahami. ibunya juga beradaptasi dengan orang tua santri lainnya di WA group, mencoba memahami karakter masing-masing orang tua. Anaknya belajar mengelola kangen rumah, ibunya lebih susah payah lagi mengendalikan kangen dan khawatir yang beradu dan meletup-letup. Anaknya bangun dini hari buat tahajud, lalu shaum sunnah. Ibunya tertatih-tatih memperbaiki bacaan sholat *tears* Iya begitu lah, yang penting sesulit dan sekecil apa pun perubahan itu adalah perubahan ke arah yang lebih baik.
Selesai lah sementara sisa insiden itu, semoga tidak terulang lagi. ^mohon doanya ya, teman-teman semoga Aa Fadel selalu bisa mengendalikan amarah dan mengelola emosinya. Aamiin^
Saya tidak tiap hari nelpon, enggak enak sama ustadznya. Terbayang repotnya mengurus 290 santri. Pasti banyak orang tua nelpon yang ingin bicara sama anaknya, jadi bagi-bagi waktu aja.
Dua malam saya enggak nelpon, kangen tapi nahan diri aja. Eh tau-tau ada telpon masuk dari nomor salah satu ustadz, saya reject dan langsung telpon balik. Ini pertama kalinya anak saya yang nelpon, artinya dia yang ingin bicara. Hiii rasanya berbunga-bunga ketika dia mengakui kalau dia kangen. Sebelumnya mana pernah dia mengaku tentang apa yang dia rasakan.
“Bunda ke sini dong, tengok Aa. Aa kangen.” Beuh rasanya pengen nangis, anak yang biasa keras bisa ngomong kaya gini. “Bunda, adik-adik udah tidur?” Makin mengembun mata saya, sebelumnya palingan yang dia tanya Aira aja. Ketika dia bilang adik-adik, artinya dia sebenarnya kangen Ilma, adik yang sering dia ajak berantem terus.
Nyesss … kaya dihujani salju rasanya hati saya. Pas saya cerita ke suami dia langsung memekik. “Alhamdulillah Yaa Allah, akhirnya Kau lembutkan hati putraku.” Jiaaah … nangis lagi deh ah pas nulis ini *srooooottt*
Nak, kalau kamu baca postingan ini nanti, tak apa lah kamu bilang bundamu ini lebay.  Satu aja yang harus kamu tahu, nak, “Aku sudah jatuh cinta padamu sejak kamu membuka mata untuk pertama kalinya.”

Buat teman-teman yang punya anak masih SD, mungkin ada yang berniat menyekolahkan anaknya ke pondok pesantren. Saya kasih beberapa tips ala saya, ya, kali aja cocok gitu.

Tips sebelum masuk pondok pesantren ala saya :

1.    Usahakan direncakana beberapa tahun sebelum anak lulus, agar ketika waktunya tiba si anak siap, orang tua pun siap. Karena ternyata, enggak main-main ya pisah sama anak itu.
2.    Beri tahu keluarga besar terhadap niat kita dan ajak untuk memberi dukungan. Kalau anaknya mudah berubah arah, usahakan jangan sampai ada bercanda atau apa pun bentuknya yang menakut-nakuti. Ajak Kakek dan neneknya untuk mendukung, bukan malah melemahkan semangat.
3.    Sekaligus mendidik kesiapan mental, libatkan anak sejak awal dalam pencarian pondok. Kalau saya suka ceritakan kalau di kota A ada pesantren apa, di kota B ada pesantren apa lagi.
4.    Jangan lupa tentang kesamaan visi dan misi kita, atau paling enggak agak mendekati gitu, Biar enggak banyak benturan keinginan nantinya.
5.    Bukan Cuma menanyakan visi misi sih kalo saya, tanya juga biayanya. Kira-kira masuk enggak ke budget keuangan keluarga. Mencari tempat terbaik tetapi juga sesuai kemampuan hehehe …
6.    Pada akhirnya si anak harus menentukan sendiri pondok mana yang benar-benar dia inginkan untuk berada di sana. Jangan dipaksa. Serius deh, banyak cerita aja yang saya dengar, kasihan kalau yang dipaksa. Kasihan ke anaknya, kasihan ke ustadznya juga karena kerja ekstra untuk anak yang masa adaptasinya lama. Sementara bukan hanya anak kita aja yang harus diurus kan.
7.    Jangan dadakan. Cari pondok pesantren itu kaya cari jodoh. Enggak bisa grasa-grusu. Pas nemu yang cocok jangan lupa cari info sedetil-detilnya, terlebih tentang kapan tanggal pendaftaran dimulai dan apa aja tes masuknya.
8.    Beberapa pondok pesantren sudah punya kumpulan soal yang bisa dipelajari untuk tes. Nah ini ditanyakan detil, ya, bisa dibeli modulnya, atau down load atau beli di toko online. Karena kumpulan soal itu membantu banget untuk tau jenis soal yang akan keluar. ^iya mirip-mirip UN lah^
Mata pelajarannya apa aja yang dites kan sih berbeda tiap pondok. Yang pasti ada mah Matematik … Ihirrr matematika itu ada terus, man.
9.    Pastikan anaknya sehat dan cukup tidur pas mau tes.

Tips menjelang masuk pondok pesantren ala saya :

1.    Happy-happy aja gitu sama anak, soalnya nanti susah bisa ngumpul hehe …
2.    Ayahnya kemarin bilang gini. “setiap anak itu suatu hari akan meninggalkan rumah, meninggalkan keluarga inti. Entah untuk menikah, untuk kuliah atau kerja, atau untuk sekolah. Hanya tentang waktunya kapan. Aa adalah anak terpilih yang tangguh, yang keluar dari rumah dalam usia yang cukup muda. Baik sekarang atau pun nanti Aa pasti akan keluar rumah.” Saya lihat ucapan suami saya itu ngena banget di si Aa, semacam bikin dia merenung. Maksudnya, cari moment atau kalimat khusus yang melejitkan semangat dia. Bisa apa aja.
3.    Selalu libatkan anak dalam menyiapkan semua peralatan yang akan dia bawa. Agar dia tahu dan peduli terhadap barang-barangnya sendiri. Dari yang besar sampai yang terkecil. Seperti memberi nama semua benda, sampai harus bawa gunting kuku dan cotton bud. Kecil tapi penting.
4.    Ajak dia untuk taat pada aturan pondok. Yang boleh dibawa, maka dibawa sesuai syarat dan petunjuk. Kalau diminta bawa sendal jepit merah, usahakan semaksimal mungkin cari sampai dapat. Paling enggak kita mulai dari rumah untuk mengajarkan mena’ati aturan. Kalau di daftar benda-benda yang dia suka atau menurut kita sepertinya akan diperlukan tidak boleh dibawa, yaa jangan dibawa. Pondok sudah berpengalaman dan  pasti punya alasan yang kuat untuk itu.
5.     Karena para nenek dan kakek itu suka lebih melow dari orang tua, saran saya sih pas mengantar di hari pertama para kakek atau nenek jangan diajak dulu. Kalo anak lihat yang mengantar nangis, khawatir nanti keteguhan hatinya goyah. Diajaknya nanti-nanti aja pas jenguk ketika anak sudah bisa adaptasi. ^ini mah saya. bukan anaknya aja sih yang bisa goyah. Ibunya juga.^
6.    Kita pasti berkenalan dengan ustadz pengasuh di asrama. Bertanya tentang apa yang boleh dan tidak boleh. Bertanya tentang kapan boleh ditelpon. Dan lain sebagainya
Yakin aja bahwa ustadz sudah sangat berpengalaman mengasuh ratusan anak, maka sebisa mungkin tidak banyak komplen ini itu. Insya Allah anak kita aman dan dijaga oleh Sebaik-baiknya Penjaga.
7.    Konon sih katanya, batin ibu dan anak itu saling berkaitan erat. Kalau ibunya khawatir terus, nangis terus karena ingat anaknya makan apa di asrama, apakah bajunya udah dilaundry atau belum? Maka, akan otomatis kontak ke anaknya. Mereka jadi sedih atau tidak semangat. Jadi, sebisa mungkin para ibu atau ayah itu harus tegar, harus kuat, bahwa semua yang dilakukan adalah demi kebaikan anak kita.

Sementara segitu dulu cerita malam ini, semoga bermanfaat. Kapan-kapan akan dilanjutkan dengan cerita berikutnya. Karena bagaimana pun cerita tentang anak sulung saya ini masih sangat panjang terbentang, dan kita tidak tahu apa yang akan terjadi besok dan lusa. Semoga dia selalu istikomah dan menjadi lebih baik dari hari ke hari. Aamiin.



Mereka bertiga, saling ribut tapi saling merindu.
(susah move on deh dari pose-pose Aira)



Raut wajah yang gembira membuat kami orang tuanya lebih tenang.







7 komentar:

  1. Ceritanya seru, alhamdulillah ya bikin orang tua bangga. Aa keren berani mondok.

    BalasHapus
    Balasan
    1. masih jauh perjalanannya, mba Naqi. doakan selalu istiqomah ya

      Hapus
  2. Terharu bacanya....semoga tercapai semua cita-cita

    BalasHapus
  3. Semangat Aaa...

    wah baca ini ngerasa aku banget pas si sulung Aa Dilshad di awal masuk pesantren. bedanya, Aa Dilshad justru agak stres krna dijahilin terus pas tahun pertama. alhamdulillah skr udh jadi senior n ga ada yg jahil lagi hihi

    BalasHapus
    Balasan
    1. waaw mondok di mana mba? kapan kapan kita berbagi cerita yaa

      Hapus
  4. Terimakasih informasinya bunda

    BalasHapus