Minggu, 21 Agustus 2016

Bunga Kopi


Adya Pramudita

Foto dari Anik Nuraini
Ingatanmu masih lekat pada awal musim kemarau 15 tahun lalu. Ketika ayahmu mengajak untuk melihat bunga-bunga kopi robusta yang mulai muncul. Seiring terik matahari, kuncup-kuncup putih yang bergerumbul itu bermekaran. Saat kecil, engkau selalu senang naik ke pundak ayahmu untuk menyentuh bunga-bunga kopi itu.
            “Jadilah seperti robusta, robust! Kuat. Jadilah kuat. Margi yang kuat!”
            Kelopak matamu bergetar. Mimpi itu datang lagi. Mimpi yang berawal menyenangkan dan selalu berakhir memilukan. Kau  ingin segera terjaga, namun seperti aroma kopi, mimpi-mimpi itu selalu mengikatmu.
            Engkau dan ayahmu tiba di pondok. Ayahmu menyalakan tungku dan mulai menyangrai biji-biji kopi di atas wajan besi. Sementara ibumu bersenandung di bale-bale sambil memasukkan biji-biji kopi yang sudah siap dikirim ke dalam kaleng-kaleng pesanan.
            Hingga kini, kau masih mampu mengingat senandung ibumu, derak-derak kayu yang terbakar di tungku hingga aroma kopi yang mulai matang. Semuanya silih berganti mengisi lembar harapan sekaligus keputus asaan.
            Dua orang tamu datang. Kau tidak tahu pasti wajah mereka, karena ibumu memanggil. “Margi, pergilah membeli pisang sale kesukaanmu ke warung Mak Kia, ya. Berhati-hatilah.”
            Bersama wajah ibumu yang menghilang akhirnya kau terbangun dengan peluh deras di tubuhmu. Kau harus memulai pagi dengan lebih keras lagi, karena ingatan itu mulai kembali.
            ***

            Kau tidak pernah tahu. Ada sepasang mata yang selalu memperhatikanmu dari 2,5 cm celah tirai dapurnya. Lelaki itu tinggal di gedung yang berdampingan dengan gedung Flat yang kau tempati. Ia begitu hapal kegiatanmu di pagi hari.
            Dari balik jendelanya, di dekat wastafel tempat cuci piringnya ia berdiri. Menghitung langkahmu ketika hendak mengambil mug putih polos untuk menyeduh kopi. Lelaki itu menunggu saat-saat yang teramat ia sukai, yaitu bagian kau menghidu aroma kopimu. Dengan mata memejam, dahi yang berkerut halus, dan tarikan napas yang begitu dalam.
            Dia begitu penasaran pada raut wajahmu, apakah di sana ada duka atau suka cita. Barangkali harapan atau keputus asaan. Yang ia tahu dan tidak kunjung terpahami, engkau tidak pernah menyesap kopi yang kau buat dengan sepenuh hati. Mug putih polos itu selalu kau tinggalkan dalam kondisi penuh.
            ***
            Saat itu perayaan hari kemerdekaan. Semua penghuni Flat tumpah ruah di lapangan. Setiap usia memiliki agenda. Kau bersama para ibu-ibu muda menghias tumpeng yang akan dilombakan. Sementara lelaki itu begitu seru berada di tengah anak-anak. Ia menjadi wasit sekaligus MC bagi setiap perlombaan.
            Lagi-lagi kau tidak tahu, ada sepasang mata yang terus menguntit kemana pun engkau bergerak. Hingga pada acara makan bersama dan lelaki itu mengeluh kehabisan ayam goreng.
            Kau sadar perkerjaanmu tak banyak di acara tersebut, sementara kau melihat  baju lelaki itu basah oleh peluh. “Silakan ambil saja yang ini. Sama sekali belum dimakan.” Katamu memindahkan ayam goreng dengan sendok ke piringnya. Sejenak kau terkesiap melihat bekas luka yang membentang di tengkuk dan rahangnya. Luka yang tampak sudah sangat lama dan dalam.
            Lelaki itu hendak menolak namun melihat kau sungguh-sungguh, ia menyeringai, “Rizki anak sholeh.” Tukasnya.
            Ketika acara makan bersama hampir usai, dia membawa dua gelas minuman di tangannya. “Untukmu sebagai pengganti ayam goreng.” Katanya, kemudian berlalu.
            Kau termangu memandang kopi instan di tanganmu. Aromanya memang berbeda dari milikmu, namun tetap saja itu jenis minuman yang membangunkan terlalu banyak kenangan.
***
            Kau berlari pulang tanpa sandal di jalan setapak. Pisang sale di tanganmu kau genggam erat. Aroma kopi hangus tercium dari kejauhan, kau berlari takut-takut ayah atau ibumu lupa tengah menyangrai kopi.
            Kau mendengar derak-derak kayu yang terbakar hampir menjilat dinding bambu. Namun yang kau lihat bukan itu. Kau berlari sekencang yang kau bisa, merangkul ibumu yang kaku. Di atas tubuhnya kau temukan taburan biji-biji kopi. Tangismu pilu, dan semakin hari semakin pilu ketika tak juga kau temukan di mana ayahmu.
            “Ayah!” Kau terbangun dengan jeritan tertahan. Terkadang kau ingin bertanya, siapa kah yang bertugas mengatur mimpi? Kau ingin katakan, tidak mau lagi menerima mimpi seperti itu. Sama seperti ketika kau tidak mau mendengar apa pun yang dituduhkan orang-orang tentang orang tuamu.
            Kau bersandar pada konter dapur dalam gelap. Meneguk air dengan cepat. Seperti yang sudah-sudah mimpi yang melibatkan ayah dan ibumu selalu berakhir menyakitkan.
            Malam ini kau melihat penghuni Flat yang berada tepat di seberangmu lebih jelas. Karena ruangan milikmu gelap sementara ruangan lelaki itu terang benderang. Ia mengenakan celana piama dan kaos polos V neck, fokus ke leptopnya yang memendar cahaya kebiruan di wajahnya. Sebuah earphone hitam melingkar di kepalanya. Lelaki itu mengayunkan kepala ke kiri dan ke kanan, lantas tertawa. Barangkali, diantara musik yang ia dengar ada percakapan dunia maya atau artikel jenaka yang membuatnya demikian.
            Kau mendekat pada jendela yang tirainya tidak pernah kau tutup, karena kau selalu takut untuk sendirian. Kepadanya, kau ingin belajar menjadi ceria karena nyaris lupa bagaimana cara untuk tertawa. Kau memperhatikan lelaki itu lebih saksama. Sampai dia berdiri dan berjalan ke lemari pendingin, mengeluarkan sebutir apel dan mencucinya di wastafel.
            Lelaki itu mengangkat wajahnya, memperhatikan jendelamu kemudian menatapmu cukup lama. Lantas melangkah ke dinding dan mematikan lampu dapurnya. Pada hampir tengah malam, kau dan lelaki itu berhadapan dari balik jendela masing-masing. Untuk beberapa lama membiarkan gelap menaungi dan sinar rembulan jatuh di lorong Flat yang mulai senyap.
            Ponselmu bergetar, lalu kau dengar. “Hallo.” Kau kembali ke jendela dan kini kalian saling tersambung untuk memulai perbincangan.
            ***
            Sejak malam itu sudah tiga bulan berlalu. Kini, kau sudah nyaman duduk di sofa yang sama. Seperti yang pernah kau harapkan, akhirnya kau bisa belajar untuk bahagia darinya.
            Kau menatap bekas luka yang membentang di rahang lelaki itu. Ia tahu kau begitu penasaran sejak lama. “Mau berbagi cerita?” katanya.
            “Maksudmu?” Kau tergagap, antara bingung dan malu karena tertangkap basah.
            Telaga, nama lelaki itu. Kini kau sudah terbiasa menyebut namanya. "Aku tahu sejak lama kau penasaran dari mana aku mendapatkan bekas luka-luka ini.” Ia mengambil cangkir kopi keduanya untuk sore ini. Diluar dugaanmu, ia menggilai minuman itu lebih dari siapa pun yang kau kenal.
            Kau menggeleng, tidak mau membuka luka lama Telaga. Kau yakin bekas luka-luka itu menyimpan pengalaman tak menyenangkan. “Tidak perlu.”
            “Tidak apa-apa. Aku biasa meceritakannya pada siapa pun yang bertanya. Tidak pernah ada yang kusembunyikan. Luka-luka ini simbol sebuah pengalaman yang panjang. Setiap kali aku merasa beruntung, aku selalu meraba luka ini. Lantas teringat, sesungguhnya keberuntunganku yang paling besar adalah keluar dari dunia yang memberiku luka-luka ini.”
            Kau menghela napas. Bersiap mendengar cerita. Namun Telaga berbalik menatapmu. “Tetapi kau harus berjanji kita akan berbagi cerita. Aku ingin tahu mengapa kau tidak pernah meminum kopi yang kau seduh setiap pagi?”
            Dahimu melukis kerutan halus. Tak percaya Telaga melontarkan pertanyaan demikian.
            “Aku pernah berada pada kondisi yang berantakan, Margi.” Telaga memulai cerita, sementara kau belum siap untuk menceritakan bagianmu kelak. “Mungkin bermula dari ayah atau ibuku bisa sangat mudah sekali melayangkan tali rotan. Pada suatu ketika, aku merebut makanan adikku karena bagianku habis. Tak lama lenganku kena sayatan. Kau tahu perihnya?”
            Engkau menggeleng sambil menahan napas. Tak terbayangkan luka yang dialami lelaki itu.
            “Tidak terlampau perih. Kau pasti paham, setiap orang yang sering terluka, daya tahan menerima rasa sakitnya lebih tinggi dibanding yang tidak pernah terluka.”
            Kau merinding namun setuju dengan apa yang Telaga katakan.
            “Luka ini.” Ia meraba rahangnya. “Aku dapatkan ketika membantu pekerjaan pamanku di sebuah perkelahian. Dan, mengapa aku begitu menyukai kopi, karena aku sudah meminumnya sejak kecil. Sebelum tahu teori apa pun tentang kopi, aku sudah terlebih dahulu merasakan kopi bisa membuatku lebih tenang setelah mendapat pukulan demi pukulan.”
Lelaki itu memberikan senyuman, isyarat bahwa kini tiba bagianmu membagi cerita. Sementara kau masih berpikir, bagaimana bisa Telaga mampu begitu ceria dan bahagia. Sementara begitu banyak luka dan pengalaman buruk dari masa kecilnya?
            Berkali-kali kau berpikir, bahwa kau pun akan mampu melakukan hal yang sama. Menceritkan liku hidupmu dengan ringan untuk kemudian menata ulang masa depan.
            “Kedua orang tuaku petani kopi. Mereka menggarap kebun kopi kami yang tidak terlalu luas. Memproses biji-biji kopi hingga kering untuk kemudian dijual pada pengepul.” Akhirnya Kau memulai cerita. Telaga adalah orang pertama yang mendengar kisahmu. “Orang-orang mengatakan masa muda ayahku kelam, tetapi aku tidak pernah tahu ia pernah terlibat apa atau dengan siapa. Aku hanya tahu ayahku petani kopi yang handal, sekaligus peracik kopi yang nikmat menurut kawan-kawannya. Ayah selalu menyajikan kopi buatan tangannya sendiri pada para tamunya.”
            Telaga beberapa kali mengubah posisi duduknya. Serupa ada sesuatu yang kurang nyaman. Namun, ia merespon ceritamu dengan serius.
            “Setelah semua yang terjadi pada kami. Pada ibuku, dan hilangnya ayahku. Aku tidak pernah sanggup lagi meminum kopi. Selain tiada lagi racikan kopi yang pas, kurasa kopi terlalu getir untuk kunikmati.”
            Lalu engkau menunduk sesaat, Telaga menyimpan telapak tangannya di punggungmu dan menepuk lembut.
            “Tetapi aku membutuhkan aroma kopi setiap pagi. Karena dengan menghidu aromanya, aku bisa menjaga harapan bahwa ayah akan kembali suatu hari nanti.”
            Lelaki itu menghela napas dalam. Sebuah kekhawatiran tampak bersembunyi di balik matanya. Tepat ketika kau mengatakan sebuah harapan, pupil matanya mengecil dan degup jantungnya berubah. Namun yang ia ungkapkan padamu adalah, “Kita mungkin dipertemukan oleh masa lalu yang sama sama tidak menyenangkan, tapi kuharap kita selalu sepakat untuk menjaga harapan bahwa semuanya akan lebih baik dari hari ini.”
            Engkau mengangguk setuju dan diam ketika Telaga menggenggam tanganmu dengan erat. Seperti diam-diam tengah mengucapkan sebuah janji  yang tidak terdengar.
            ***
            Kebiasaan kalian dalam satu bulan terakhir adalah berbagi senyum melalui jendela masing-masing. Kau dengan segelas kopi yang hanya kau hidu, dan Telaga dengan segelas kopi yang selalu ia tandaskan.
            Namun pagi ini berbeda, kau tidak menemukan dirinya di sana. Kau hanya mengerjap setelah mendapatkan pesan bahwa Telaga mendadak harus keluar kota untuk beberapa hari.
            Satu pekan berlalu dan kau merasa waktu berputar begitu lambat tanpa senyum Telaga. Seharusnya tidak sulit karena sebelumnya kau terbiasa seorang diri. Namun, kebiasaan yang berubah dengan cepat selalu membutuhkan waktu untuk beradaptasi.
            Sebuah suara yang terdengar begitu jauh masuk di ponselmu. Berbicara dengan tempo yang cepat dan kalimat-kalimat singkat. “Apakah ini Margi? Margi binti Hanafi? Ada kabar tentang ayahmu. Datanglah secepat kau bisa.”
            Kau tertegun beberapa detik untuk kemudian melesat pulang. Ketika kau merapikan beberapa barangmu, kau melihat lampu di Flat Telaga menyala. Kau berlari menuruni tangga untuk kembali naik menuju Flat Telaga di gedung yang berbeda. Sepanjang berlari, kau terus mengomel tentang, “mengapa mereka tidak membuat jembatan untuk menghubungkan gedung-gedung Flat tersebut?”
            Telaga membuka pintu dengan wajah teramat mengantuk setelah mendengar ketukanmu yang terburu-buru. “Ada kabar ayahku ditemukan!” Kau tidak bisa lagi menunggu untuk bercerita. “Ini … Ini.” Napasmu masih memburu. “Ini adalah bubuk robusta terakhir yang digiling ayahku. Yang biasa kuseduh tapi tidak pernah kuminum. Ambillah.” Kau memberikan kaleng tua itu dengan kedua tanganmu.
            “Margi, aku … aku senang untuk kabar yang kau bawa tapi kopi ini.”
            Senyummu lebar, “Aku tidak perlu lagi menghidu kopi. Semua harapanku sudah terkabul hari ini. Aku belum butuh harapan baru.” Ucapmu antusias.
            Lelaki itu tampak ingin mengucapkan sesuatu, tentang keadaan ayahmu yang belum kau ketahui dengan pasti. Namun, ia tidak ingin meredupkan binar di matamu yang begitu cerlang.
***
            Tempat yang akan kau datangi itu berada agak jauh dari kota yang sama sekali tidak pernah kau kunjungi. Setiap jengkal yang mendekatkanmu dengan ayahmu, ada degup yang begitu ramai. Kau mempermainkan jemarimu sepanjang jalan. Perjalananmu yang memakan waktu seharian penuh tidak sejenak pun membuatmu tertidur. Kau sungguh tidak sabar.
            “Pak Hanafi ini diantar ke sini tahun 2006. Biayanya selalu dibayarkan di awal tahun untuk satu tahun penuh tanpa pernah terlambat.” Kisah pasangan suami istri yang mengelola panti sosial tempat ayahmu dirawat selama ini. “Katanya dia keponakan pak Hanafi yang tidak bisa merawatnya sepanjang waktu.”
            Kau termenung beberapa lama. Memikirkan siapa yang sudah berbaik hati mengantar dan membiayai ayahmu. Namun kau tetap menghitung dalam benak. Ayahmu menghilang 13 tahun lalu, sementara baru 10 tahun beliau di sini. Di mana waktu tiga tahu yang ayahmu lalui?
            Kau tiba dihadapan orang tua yang tengah memainkan sesuatu di dalam kepalan tangannya. Ia hirup, lalu ia mainkan lagi. Air mata sudah tidak sanggup kau tahan. Kau berlutut, menyentuh bekas luka di tangan ayahmu.
            “Kondisinya tidak begitu baik saat itu. Terkadang ingat, namun sering lupa. Banyak bekas luka di tubuhnya ketika ia datang, namun sebagian besar sudah mengering dan sembuh. Tampaknya ayahmu benar-benar tidak terawat sebelum datang ke sini.” Pengurus panti itu melanjutkan.
            Kau menatap wajah kisut ayahmu. Dan menyimpan kepalamu di pangkuannya. “Ini Margi, ayah. Margi yang kuat.” Kau mendengar suara gemerisik dari dalam genggaman tangan ayahmu.
            “Pak Hanafi sering minta biji-biji kopi untuk ia hirup. Biji-biji itu akan ia genggam sepanjang hari.”
            Hari itu juga kau membawa ayahmu bersamamu. Kendati ia belum sepenuhnya mengingatmu. Hanya potongan-potongan masa lalu tentang kebun kopi dan tungku berarang. Langkah ayahmu terseok-seok saat menaiki tangga. Membutuhkan hampir satu jam untuk sampai di lantai 3. Kau langsung berpikir untuk pindah rumah atau setidaknya mencari Flat di lantai dasar.
            “Tidak ada kebun kopi di sini, ayah. Ada aku dan ada ayah itu sudah cukup.” Katamu. “Kebun kopi kita sudah dijual untuk biaya sekolah dan kuliahku oleh paman dan bibi.”
            Ayahmu mengangguk. Agaknya potongan ingatan sudah mulai menyatu perlahan-lahan. “Margi, bagaimana ibumu?”
            Kau menghela napas dalam, ada linu ketika kau mencoba bicara. “Di hari ayah menghilang, aku menemukan ibu sudah meninggal.”
            Ayahmu tertunduk dan mulai menangis. Kau, Margi yang kuat, merengkuh bahu ringkih itu dan berbagi duka.
            ***
            Pagi hari usai mengantar ayahmu ke beranda, kau sudah tidak sabar untuk berdiri di jendela dapurmu. Kau ingin memperlihatkan bahwa kau akan meminum kopimu pagi ini. Namun, tak kau temukan lelaki itu. Yang kau lihat hanya tirai yang rapat dan lampu ruangan yang tampak gelap.
            “Ayah, aku akan menemui tetangga dulu di gedung sebelah.”
            Kau terkejut ketika seseorang mengatakan Telaga tidak ada lagi di tempatnya. Membawa sebuah tas besar tampak mau bepergian cukup lama. Pemilik gedung meminjamkan kunci ketika kau mengatakan ingin mencari sesuatu yang mungkin tidak dia bawa. Pikirmu, sekaleng bubuk robusta itu masih ada.
            Kau terhenyak ketika mendapati tripod dengan teropong yang mengarah ke Flat yang kau huni. Catatan panjang di secarik kertas berisi kata-kata : dia aman, dia bahagia, dia muram, dia gembira. Siapakah DIA yang Telaga maksud? Tanyamu.
            Kau mencari kaleng tua bubuk robusta itu. Jika Telaga tidak menginginkan, setidaknya kopi itu tidak boleh terbuang begitu saja. Namun yang kau temukan, terselip diantara koran-koran yang hendak dibuang, sebuah nota pembayaran dengan logo panti sosial yang namanya masih kau hapal.
            Kau berlari kencang. Meraih ponselmu dan mengirim foto Telaga pada pasangan suami istri pengelola panti. Jawaban mereka sungguh membuat jantungmu nyaris lepas.
            -Betul, pemuda itu yang mengantar Pak Hanafi. Juga yang datang berkunjung dua hari sebelum kedatanganmu. Memastikan bahwa Pak Hanafi sehat dan baik-baik saja.-
            Kepalamu berputar hebat. Apa arti dari semua ini? Luka-luka di tubuh Telaga, pengakuan tentang hidupnya yang dulu berantakan. Kau memperbesar potret Telaga dan memberikannya pada ayahmu. Menunggu lelaki tua itu menjelaskan, seakan tengah menyiangi ilalang di tengah sabana.
            “Pemuda itu pernah menjengukku beberapa kali.” Tukasnya singkat, lalu kau mendesak agar ayahmu mengingat lagi dengan keras. Tetapi nihil, ayahmu menutup penjelasan dengan gelengan.
            “Dia memiliki luka yang panjang di rahang kanannya. Apakah ayah ingat?”
            Dahi ayahmu berkerut-kerut, lalu dengan anggukan samar ia berkata. “Yang datang di hari mekarnya bunga kopi, adalah kawanku dengan keponakannya. Bertanya tentang emas-emas yang dahulu kami curi. Aku tidak pernah menyimpannya selain bagianku saja. Namun dia tidak percaya. Ketika mereka menyerang, aku melawan dengan sebilah bambu. Lantas, keponakan kawanku yang masih sangat belia itu terluka di tengkuk dan rahangnya. Aku sempat melihat luka itu, sebelum mereka menggulingkanku ke dalam sungai.” Ayahmu membuat garis dengan telunjuk di rahang kanannya.
            Seketika kau merasa segala yang terlihat menjadi buram, diikuti kelopak matamu yang memanas. Kau termenung cukup lama, hingga ayahmu menyentuh punggung tanganmu dan membuat kesimpulan.  “Apakah keduanya orang yang sama? Jika iya, mungkin petanda sebuah penyesalan.”
             
 Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Cerpen #MyCupOfStory Diselenggarakan oleh GIORDANO dan Nulisbuku.com 
  

18 komentar:

  1. Hiks. Sediiih.
    Good Luck buat lombanya, Kakaks..

    BalasHapus
    Balasan
    1. yanti kamu masih bangun jam segini? lagi ngapain? huhuhu

      makasih yaa untuk komen pertamanya ... makasih doanya juga muah muah

      Hapus
  2. Huwaaa, aku udah nyangka, Margi dan Telaga jangan-jangan kakak-adik.. haha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kok kakak adik sih anaaa ... Hahaha

      Hapus
    2. Kok kakak adik sih anaaa ... Hahaha

      Hapus
  3. Jadi pengen nyeduh kopi. Semoga menang ya, teteeeh. Love, love and love. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. hayuuu urang ngopi bari makan belem sampe heheheh ... nuhun teh dyah, udah sempat mampir. muah .....

      Hapus
  4. Jadi pengen nyeduh kopi. Semoga menang ya, teteeeh. Love, love and love. :)

    BalasHapus
  5. Moga beruntung ya
    Jd ingetvsecangkir kopi berdua Bapak

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya dulu kalo ngopi pasti segelas bareng bokap hehe ... makasih udah mampir mba eni

      Hapus
  6. aku menduga td pasti ada hubungannya Telaga dan Margi, bener ya.. Wah, itu sengaja ya mb endingnya dibuat gitu? brarti Telaga ingin menebus kesalahannya di masa lalu ya? :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya kurang lebih begitulah. semacam guardian angel dalam diam ... halah halah ... hehe

      Hapus
  7. Biasanya kalau cerpen di media itu gak dikasih jawaban di bawahnya, jadi pembaca menebak2 sendiri. Gak jadi penasaran deh hehe.

    BalasHapus
    Balasan
    1. waaah mba Ela kayanya udah lama ga baca koran kali hehe ... *kidding

      enggak kok mba, ada banyak cerpen koran yang endingnya jelas. gak selalu terbuka. makasih yaa sudah mampir :)

      Hapus
  8. Wow...keren. semoga menang ti...

    BalasHapus
  9. wah ternyata...
    keren ceritanya. semoga menang yaa

    BalasHapus