Sabtu, 18 Juni 2016

Sang Datuk


Cerpen Juara 2 Kategori C
Lomba Menulis Cerpen Hutan dan Lingkungan
Perhutani Green Pen Award 2015

Sang Datuk
Oleh: Adya Pramudita

Hutan ribuan hektar ini menelanku, memerangkap diriku menjadi liliput yang tidak berarti. Aroma tanah basah dan lembab tercium sepanjang jalan, gesekan dedaunan terdengar seperti koor yang melagukan lirik-lirik pilu.
            Sudah dua pekan aku berada di tengah hutan Sumatra, pada garis batas Jambi dan Sumatra Barat. Di dalam sini, batas itu raib, tidak tampak garis seperti di dalam peta. Untuk itu pula aku dikirim datang ke sini. Untuk menghilangkan batas-batas, untuk membungkam suara-suara.
            Semula aku mengira tugas ini akan mudah dikerjakan. Meninggalkan istri dan balitaku, meninggalkan ibukota yang kerap menelikung waktu-waktuku. Aku hanya diminta bernegosiasi dengan kepala adat yang bersikeras menolak perambahan hutan yang akan dilakukan perusahaan tempat aku bekerja.


            PT. Palm Oil Jaya telah memiliki izin untuk memperluas lahan sawit milik mereka, hitungannya bukan 1 atau 2 hektar tetapi 86 hektar hutan heterogen akan dibabat habis menjadi hutan homogen. Apalagi jika bukan kelapa sawit.
            Tatapan kepala adat tadi terus membayang di kepalaku, sorot mata yang tidak bisa dianggap main-main. Belasan kali kami bertemu dan membicarakan ini semua, keputusannya selalu sama. Tidak setuju!
            “Desa ini tidak akan ikut dibabat, Datuk.” Ucapku tadi.
            Lelaki yang memakai stelan hitam longgar itu menggeleng. “Aku bisa saja musnah, semua orang kampung sini bisa saja musnah. Itu tidak membekas, karena masih ada manusia di tempat lain. Tetapi jika hutan kalian musnahkan, ada banyak binatang yang tidak hidup di tempat lain akan menemui ajal.”
            “Semua akan ditampung, perusahaan sudah menyiapkan penangkaran.” Lanjutku bersikukuh. Lelaki tua itu terus saja meraut bambu, tidak menatapku barang sejenak.
            “Tuan muda, engkau seperti mencabut anakmu dari susuan ibunya, lantas kau simpan di jalanan. Hanya tinggal menunggu waktu untuk sampai tergilas.” Mendengar ucapannya seketika aku terhenyak, wajah anak balitaku yang aku tinggalkan langsung terbayang.
 Lelaki tua itu berdiri, cukup tegap untuk ukuran lelaki di atas 70 tahun. “Hutan ini rumah bagi ribuan binatang, rumah bagi jutaan jenis tumbuhan. Semuanya akan mati layu jika dipindahkan.”
“Datuk,” sambutku ragu-ragu. “Kami telah memiliki izin.”
“Izin, katamu?” dia menggeleng-gelengkan kepala sambil berdecak. “Aku lahir dan akan mati di sini, setiap hari ada di sini. Tidak pernah ada yang meminta izin padaku. Tanah itu tanah Tuhan, dititipkan pada ulayat untuk digunakan seperlunya! Orang-orang yang membayarmu, anak muda. Datang ke sini saja tidak pernah. Jadi, tahu apa mereka tentang hutan ini.” Dia melangkah pergi.
“Datuk …” panggilku lagi.
“Sekali tidak tetap tidak!” sentaknya, bola matanya nyalang menusuk kornea mataku. “Kalau kau memaksa, maka aku biarkan mahluk-mahluk penghuni hutan itu mencabik-cabik wajah kalian.”
Aku menegakan punggung, ancaman seperti itu sudah berulang kali ia ucapkan. “Saya pamit. Sudah sampai batas waktunya, Datuk. Lusa beberapa ekskavator akan datang.”
Lelaki tua yang biasa dipanggil Datuk Sambas itu menengadah menatap langit, lalu bersiul-siul ke arah selatan.

Mobil double cabin yang membawaku masuk ke jalan tanah berbatu menuju base camp. Tubuhku terguncang-guncang, bahuku layu mengikuti saja ke arah mana mobil bergerak. Dialog dengan datuk Sambas tidak memberi hasil yang memuaskan. Lelaki tua itu tetap menolak, dan aku harus bersiap menerima kemarahan dari atasanku di Jakarta. Yang membuat hatiku kian pilu adalah apa pun keputusan Kepala Adat dan masyarakatnya perambahan hutan akan segera dimulai.
Aku merasa telah menjadi orang yang berbeda dengan aku yang pertama kali datang ke sini. Ketika aku mengusung kepetingan perusahaan di atas kepalaku. Setelah mengenal Datuk Sambas, kesederhanaan dan juga keteguhannya, egoku perlahan melumer. Aku seperti berada pada sisi tempat ia berdiri. Menatap hutan yang bagai denyut jantungku sendiri akan hancur di tangan-tangan rakus.
Base camp tempat orang-orang yang disewa untuk membuka lahan berada di tengah hutan, berupa sebuah rumah kayu 150 m2  yang dibangun 1,5 meter di atas tanah. Di sampingnya tiga buah kotak container berjajar, telah diubah menjadi kamar-kamar, gudang dan dapur.
Hampir 30 orang keseluruhan laki-laki yang menempati base camp, belum termasuk 6 orang tim keamanan bersenjata lengkap yang menjaga kami. Sebagian besar tanpa sepengetahuan Datuk Sambas, orang-orang sudah mulai menebang pohon-pohon di tengah hutan sejak sebelum aku datang. Biasanya pada siang hari seperti  ini base camp lengang, hanya ada juru masak Anwar dan asistennya. Tetapi tidak kali ini.
Orang-orang berkumpul di halaman rumah kayu, sebidang tanah yang sering dipakai untuk membuat api unggun dan berkumpul jika malam tiba. Mereka terlihat tengah mengerumuni sesuatu.
“Ada apa, ya?” Tanya Duki supir yang mengantarku.
Aku segera turun dan berjalan cepat. Menyibak kerumunan.
“Bang Juan datang.” Ucap salah satu dari mereka.
Markus pemimpin tertinggi dari orang-orang yang disewa perusahaan menghadap seseorang yang tengah berbaring. Aku langsung memanjangkan leher dan reflek menutup mulut. Rudi salah satu anak buah Markus tewas diterkam harimau, wajahnya koyak terkena cakaran, di lehernya ada luka nganga yang lebar.
Aku mundur beberapa langkah, ucapan Datuk Sambas terngiang lagi.
“Menyebar semua!” Teriak Markus lantang. “Pasang perangkap-perangkap.” Mereka sungguh-sungguh siap berperang, seperti hendak melawan penjajah. Padahal sesungguhnya, kami lah para penjajah itu.
Rudi sudah dibawa pergi, dipulangkan ke kampung halamannya di Sulawesi. Seharusnya kehilangan satu orang saja tidak terlalu membekas, tetapi kenyataannya suasana base camp teramat murung dan dahan-dahan pohon merunduk seperti turut berduka. Entah, duka untuk Rudi atau untuk mereka sendiri.
Malam ke dua setelah kepergian Rudi suasana riuh lagi. Namun kali ini sorak sorai yang terdengar. Aku tengah menelepon istriku melalui telepon satelit, mendengar ocehan tak jelas balitaku ketika keramaian itu terjadi. Aku bergegas ke halaman usai mengakhiri pembicaraan.
Sebuah kerangkeng besi berbentuk persegi panjang terletak di tengah pekarangan, orang-orang masih mengerumuni dan memuji-muji diri merek sendiri.Aku berjalan pelan, berlutut di depan harimau yang penuh luka dan tidak berdaya.
Deru napas harimau itu terdengar hingga beberapa meter, matanya beringas menatap orang-orang . Menyeringai, memperlihatkan dominasinya atas rumahnya yang kami rusak. Taringnya berpendar terkena lampu, merambatkan kengerian.
            Aku mundur beberapa langkah, “Bang Markus, kita tidak harus menangkap mereka. Kita hanya … “ kalimatku menggantung.
            “Jangan bagaimana maksudmu? Mana mungkin kita semua bebas bekerja dengan ancaman terkaman harimau setiap saat. Dimana-mana yang namanya membuka lahan, ya begini. Hilangkan dulu belukar, pohon dan para pengganggu baru kita bisa bekerja.”
            Aku serasa menelan cairan pahit ketika menyadari kenyataan, bahwa aku sudah menjadi bagian dari kerusakan yang akan terjadi. Harimau itu menatapku, bola mata kuningnya bersinar seperti memberikan sandi-sandi peperangan.
“Bang, Bule itu udah setuju, 200 juta katanya.” Teriak anak buah Markus dari dalam ruang kontainer.
Lelaki tinggi besar itu mengangguk “Terlalu murah itu!” tukasnya meninggalkanku. Diikuti orang-orang yang kembali bersorak, bayangan rupiah sudah menari-nari di pelupuk mata mereka.
Truk-truk pembawa ekskavator telah tiba, beberapa tekhnisi dibantu oleh anak buah Markus tengah merakit robot berwarna kuning tersebut. Sebagian orang mulai memanaskan gergaji mesin mereka, memastikan benda-benda bersuara maut itu dalam keadaan prima ketika menyembelih pohon-pohon. Lusa, pembukaan lahan resmi dimulai.
Semua orang sibuk dengan urusan masing-masing, aku pun sibuk dengan pikiranku sendiri. Aku gagal meyakinkan atasanku untuk menunda pembukaan lahan karena Datuk Sambas belum mengizinkan, ia balik memakiku sebagai orang yang lemah, tidak ada bedanya dengan staf perusahaan yang diutus sebelum aku.
Sudah tanggung membuatnya murka, aku mengusulkan untuk memindahkan lokasi titik awal pembukaan lahan, bukan dekat dengan kampung Datuk Sambas tapi dari sisi hutan yang lain. Tak pelak lagi, makian yang paling kasar merembat melalui udara lalu masuk ke telingaku. Dan ancaman pemecatan pun terucap darinya.
Sudah nyebur kepalang basah.
Aku berjalan ke belakang ruang container tempat kerangkeng harimau berada. Binatang loreng itu sedang dalam posisi tidur, menyimpan dagu di atas kaki depannya. “Apa yang harus aku perbuat pada rumahmu ini, Nyonya? Aku tak berdaya.” Keluhku.
Luka-luka harimau itu sebagian mulai mengering, sisanya masih terlihat basah dan dirubung lalat. Ia berkedip sayu, tidak peduli pada kedatanganku. Seperti seorang tahanan yang yang hendak dihukum mati.
Aku tidak tega terlalu lama memandanginya. Bersiap pergi ketika semak-semak di dekat jeruji itu bergerak-gerak. Jantungku berdegup kencang, mundur perlahan-lahan. Kaki-kaki belang yang mungil muncul, kemudian kepala yang sungguh-sungguh lucu.
Seekor anak harimau itu meregangkan tubuhnya ketika menemukan tanah lapang tanpa semak belukar. Ukurannya tidak lebih besar dari anak anjing, bulu-bulunya seperti hangat untuk dipeluk.
Harimau yang berada di dalam jeruji itu langsung berdiri, mendesis-desiskan mulut dan menyeringai dengan taring runcing ke arahku. Sebaliknya, anak harimau itu berjalan bebas di dekat jeruji yang mengurung induknya.
Markus dan anak buahnya pasti sangat girang mendapatkan anak harimau itu. Mereka akan menjualnya dengan harga sangat mahal. Membayangkan harimau kecil itu terpisah dari induknya, hatiku semakin pilu.
“Psssttt … pssstt … “ aku menjetikan jemari mengajak anak harimau itu mendekat. “Tenang nyonya, anakmu aman bersamaku. Aku akan menyelamatkannya.” Kataku, sambil menggendong anak harimau dan menyembunyikannya di balik jaket parasut yang aku pakai.
Aku masuk ke dalam kamar, membereskan laporan-laporan yang berserakan di atas tempat tidur. Membersihkan keempat kaki anak harimau itu dan membiarkannya berkeliaran di lantai kayu.
 Perlahan aku mendorong piring yang telah dituangi susu, harimau kecil itu mengendus-endus dan mulai menjilat sedikit demi sedikit.
Aku membuka jendela, melihat ke dalam hutan. Pada dedaunan yang tampak saling bertaut, pada dahan-dahan yang seperti saling memeluk satu sama lain. Mereka saling memberikan kabar, bahwa desingan mesin-mesin gergaji semakin lantang terdengar, napas-napas rakus yang berbau busuk telah tercium dari jarak puluhan meter. Waktu untuk pembunuhan ekosistem secara masal sedang dihitung mundur.
Beberapa hari setelah kedatanganku di hutan ini, anak buah Markus mengatakan ada raflesia arnoldi yang mekar di tengah hutan. Aku sangat bersemangat untuk melihat tumbuhan itu langsung di habitatnya. Aku ikut rombongan kecil yang hanya terdiri dari enam orang untuk melihat bunga tersebut.
Kami menerabas hutan hujan yang rimbun, saat itu juga aku merasa teramat kerdil diantara pohon-pohon berusia ratusan tahun yang menjulang. Pucuk-pucuk pakis yang melingkar dan berbulu seperti janin manusia di dalam rahim seorang ibu. Bunga terompet tumbuh liar, anggrek-anggrek berparas rupawan menempel di pohon-pohon. Semuanya damai belum terjamah.
Semua yang aku lihat saat itu, sebuah surga yang tersembunyi tinggal menunggu waktu menemui ajal mereka, dan celakanya aku menjadi bagian dari kebinasaan itu. “Apa yang harus aku lakukan?” tanyaku kelu pada anak harimau yang melingkar di bawah kakiku.
Cahaya berpendar dari pekarangan rumah kayu, aku membuka jendela dengan anak harimau di dalam dekapan. Markus dan anak buahnya sudah menyalakan api unggun, batang-batang kayu kering dilemparkan lalu api semakin berkobar. Anak harimau itu bergerak-gerak panik dan bersembunyi di bawah lenganku.
Geligiku gemetar, tubuhku menggigil tidak karuan. Merasakan ketakutan anak harimau dan binatang lain penghuni hutan ini yang sebentar lagi akan lenyap, seperti api yang melumat kayu-kayu.
Aku menyimpan anak harimau di bawah tempat tidur, keluar kamar dan turun ke pekarangan. “Juan, sini berpesta bersamaku. Anggap saja ini ritual untuk pekerjaan kita yang akan dimulai besok.” Teriak Markus. Aku hanya mengacungkan ibu jari, bahwa aku merestui ia berpesta tanpa aku harus ikut serta.
Dua anak buahnya menyeret sebuah peti dan membukanya dengan linggis. Botol-botol bir disimpan berjajar di tanah. Tanpa perlu komando anak buah Markus mengambil satu botol untuk satu orang. Lalu mereka duduk di batang-batang pohon yang mengelilingi api unggun. Malam kian panas membara
Aku berjalan menuju dapur lalu menyelinap ke belakang. Induk Harimau itu masih berada di dalam kandangnya. Markus mengatakan pekan depan baru akan diangkut ke kota Medan.
Aku mengendap mendekati, dia langsung berdiri waspada dengan keempat kakinya. Harimau itu melangkah maju mundur dengan gelisah. Aku menunggu beberapa lama hingga ia berangsur tenang.
Di pekarangan ocehan-ocehan tak jelas mulai terdengar. Di tempatku berdiri aku kian tegang dengan rencana absurb di dalam otakku. Risikonya ada dua, aku diterkam harimau atau dihajar Markus. Tidak ada satu pilihan pun yang lebih baik.
Aku melangkah pelan nyaris menahan napas, membuka selot jeruji lalu menarik pintunya. Harimau itu mundur selangkah. Aku segera mundur dan melihat dari kejauhan. Beberapa menit berlalu harimau itu masih belum keluar kandang. Barangkali, berhari-hari terkurung perlahan mematikan nalurinya untuk bisa bebas kembali.
Aku harus meninggalkan harimau yang masih enggan keluar karena obrolan di pekarangan semakin malam semakin ramai. Khawatir salah satu dari mereka masih sadar dan melihat ulah yang aku lakukan. Ketika semua orang menyusun mimpi dalam dunia alkohol, aku duduk tegang di atas kasur sambil memeluk anak harimau hingga entah pukul berapa aku akhirnya tertidur.
Anak harimau itu mengeong kencang sekali, mencakar-cakar pintu kamar. Aku segera turun takut suaranya membangunkan Markus dan anak buahnya yang sama-sama tinggal di dalam rumah kayu. Lalu terdengar teriakan dari pekarangan. Lolongan panjang, amukan dan jerit ketakutan.
Aku membuka jendela dengan tangan gemetar. Api unggun masih menyala, sekawanan harimau turut berpesta. Dua orang diseret ke semak-semak. Tiga orang ambruk dengan sekali terkaman. Sisanya lintang pukang berlari ke segala arah.  Mereka yang masih sadar berlari ke ruang container dan ke rumah kayu. Sebagian tim keamanan sedang pergi ke kota, dua orang sisanya menembakan senjata dengan panik  tak menentu. Aku dan anak harimau berpelukan, menjadi sepasang mahluk yang sama-sama ketakutan.
Tidak berapa lama dua kendaraan oprasional menyala, salah satunya double cabin yang dikemudikan Duki. Anak buah Markus berlompatan masuk ke dalam mobil, sisanya melompat berjejalan ke bagian bak mobil. Semuanya terjadi sangat cepat, hingga aku yang gugup, semakin bingung harus berteriak apa.
Menjelang subuh segalanya telah senyap, yang tersisa hanya tarian api unggun yang mulai mengecil, dan dahan-dahan yang seperti bertepuk tangan.
***
Tengah hari usai melepas anak harimau di tengah hutan, telepon satelitku berbunyi. Suara panik atasanku terdengar. “Juan, kamu baik-baik saja? Anak buah Markus melapor tentang harimau yang mengamuk. Markus, kamu, dan delapan anak buahnya tidak turut melarikan diri. Tiga jam lagi polisi akan datang menjemput kalian, pembukaan lahan kita tunda dulu beberapa waktu.”
Aku hanya menarik napas panjang. Aroma amis mulai tercium, berembus terbawa angin dari dalam hutan.










2 komentar:

  1. Huaaa, keren Mbak Adya. Suka.Larut sama ceritanya, serasa enggan bernapas sebelum tuntas. ^_^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih Ratna sudah baca, sekarang belum lagi nulis seheboh gini risetnya haha

      Hapus