Rabu, 08 Juni 2016

Memberi Ruang Tersendiri Antara Ayah dan Anak agar Lebih Dekat


foto dari pixabay

Perubahan gaya parenting dari waktu ke waktu sesuai perkembangan zaman dan berubahnya prilaku masyarakat kita.

Ketika saya kecil, saya tidak terlalu dekat dengan bapak saya. Dia orang yang cukup kaku dan serius, meski sesekali bercanda, ya, bercanda khas orang serius yang kadang lucunya harus kita pikir terlebih dulu. Karenanya saya lebih dekat dengan ibu saya, setiap ada cerita dan keinginan apa saja, ibu lah tempat semua muara cerita saya, bahkan sampai sekarang.
Zaman saya kecil yang hidup di desa rasanya teori-teori tentang pendidikan anak tidak sampai ke orang tua saya. Mereka mendidik anak-anaknya dengan menjadi teladan sebagai orang baik sebagaimana yang mereka ketahui dari para orang tua mereka. Tidak banyak teori, semuanya mengalir apa adanya. Secara naluri saja anak-anak akan dekat dengan salah satu orang tua yang dirasa lebih dekat dan hangat atau dengan keduanya jika si anak menemukan kenyamanan yang sama.
Seiring perkembangan zaman dan lingkungan saya yang berbeda dengan ibu saya. Ketika baru-baru menikah saya beberapa kali mengikuti seminar parenting. Di awal tahun 2000 an, para psikolog parenting menggaungkan betapa pentingnya peran ibu bagi seorang anak. Slogan ummi madroshatul ulla digemakan kembali lebih kencang. Bahwa ibu memegang peranan penting dalam pembentukan karakter anak dan pertumbuhan anak.


Kemudian arus teknologi mengalir cepat di sekitar kita. Perubahan gaya hidup masyarakat drastis. Dan semua berimbas pada perubahan prilaku masyarakat yang semakin mengerikan akhir-akhir ini. Belum lupa tentang isu pernikahan sesame jenis yang dilegalkan di Amerika dan mewabah sampai di negara ini, lalu para penggiat LGBT menyuarakan aspirasi dan menuntut hak yang sama. Kemudian berita-berita menyebarkan tentang kasus perkosaan yang semakin banyak, bahkan dilakukan oleh anak-anak di bawah umur. Semuanya sungguh mengerikan bagi saya pribadi. Dua hal yang saya sebut barusan memang tidak ada relevansinya, tapi itu contoh dari berubahnya perilaku masyarakat kita.
Berkaitan dengan itu para pakar parenting kembali menggemakan peranan orang tua yang harus lebih kuat lagi. Kali ini beralih dari tadinya semua berpusat pada ibu, jadi menitik beratkan peran ayah yang harus lebih dekat dengan anak-anaknya. Sosok ayah, ayah, dan ayah menjadi sangat penting dan vital memegang peranan bagi pertumbuhan mental dan sikap seorang anak. Anak-anak akan melihat sosok tegas dari ayahnya, sosok kuat dan melindungi dari ayahnya, sosok bertanggung jawab dari ayahnya.
Kesimpulan dari seluruh kebutuhan anak-anak pada akhirnya memang kedua orang tua yang harus bersinergi dalam memberi ruang nyaman dalam keluarga. Baik dari seorang ayah atau pun seorang ibu, anak-anak membutuhkan contoh teladan dari keduanya. Yang tidak anak-anak dapatkan dari ibu, dapat mereka dapatkan dari ayahnya. Begitu juga sebaliknya. Kita dituntut menjadi orang tua yang saling melengkapi.

Memberi waktu pada ayah dan anak-anak tanpa ada ibu di sekitar mereka.

Saya mencoba melakukan saran-saran para pakar psikolog tersebut. Kendala utamanya memang pada waktu ayah yang sedikit di rumah karena alasan pekerjaan. Tetapi bisa disiasati dengan komunikasi yang jadi lebih sering meski anak-anak dan ayahnya berjauhan, zaman sekarang perangkat komunikasi sudah berkembang canggih. Jadi, masalah itu sedikit teratasi. Cerita-cerita anak-anak tetap sampai pada ayahnya, sesibuk apa pun beliau, terlebih anak-anak yang sudah besar dan bisa bercerita sendiri.
Untuk akhir pekan, anak-anak bisa memiliki ayahnya secara penuh. ^ibunya, ngekor-ngekor aja di belakang^ Saya pribadi, melepaskan apa saja yang mau mereka lakukan asalkan terus bersama-sama. Si ayah jadi lebih tahu karakter anak yang biasanya berkembang seiring usia, dari tadinya si ayah tidak tahu bahwa bagaimana gaya tantrum anaknya, di akhir pekan yang terus bersama-sama itu, jadi tahu bagaimana repotnya menghadapi anak yang tantrum dan mencari cara untuk mengatasinya.
Dari mulai memandikan, memberi makan, sampai bermain. Semuanya si ayah harus tahu. Dengan begitu mereka jadi lebih kenal karakter masing-masing. Si anak jadi tahu sikap dan keputusan si ayah yang bisa saja berbeda dengan cara si ibu.
Lalu, kapan dong si ayah punya waktu untuk si ibu? Tenang, semua ada waktunya. Pada saat-saat kebersamaan ayah dan anak-anak tentu si ibu juga bisa ikut serta. Semuanya jadi family time. Kendati kita tetap membutuhkan our time antara ayah dan ibu, berdua saja.
Kalau saya, mengalah sedikit deh. Toh waktu anak-anak tidak akan terulang. Tidak terasa mereka akan cepat besar, dan tiba-tiba mempunyai kepentingan mereka sendiri tanpa orang tua. Di saat itu lah, ketika anak-anak sudah besar kita bisa melihat mereka sambil bergandengan tangan dengan suami.


Ketika saya tinggal untuk workshop beberapa waktu lalu.

Me Time dan They Time

Atau sekali-kali, saya suka meminta izin sama suami dan anak-anak untuk pergi sendiri. Biasanya untuk kepentingan tulis-menulis, entah itu workshop atau sekadar bertemu dengan teman-teman yang memiliki hobi yang sama. Saya mendapatkan me time dan mereka mendapatkan they time, yang biasanya berakhir dengan begitu banyak cerita seru dibanding ketika saya ada bersama mereka.
Memang, tentang memberi waktu pada si ayah untuk bersama-sama dengan anak-anak ini bisa dikatakan menitipkan anak-anak pada ayahnya. Yah, apa bedanya kalau semua anggota keluarga tetap bahagia dan mendapatkan hal yang paling penting, yakni mereka menjadi jauh lebih dekat dari sebelumnya.
Awalnya memang agak berat tapi mengingat saya sekali-kali boleh punya kepentingan, untuk mengembangkan kemampuan diri saya atau setidaknya untuk merefresh isi kepala saya, maka akhirnya saya beranikan diri untuk pergi dengan menitipkan anak-anak pada ayahnya.
Terutama setelah ngobrol-ngobrol dengan mba April Hamsa, salah satu Mommy Blogger yang punya dua balita dan cukup sibuk. Dia juga untuk beberapa keperluan pernah menitipkan anak-anak pada ayahnya. Semuanya aman dan terkendali, asalkan dibicarakan terlebih dahulu. Saya baca tips-tipsnya lengkap di blognya mba April ini. Saya yang tadinya suka bingung apa saja yang harus dipersiapkan sebelum meninggalkan anak-anak, setelah daftar tips mba April yang lengkap, lalu coba menirunya. Segalanya jadi lebih mudah.
terima kasih mba April :)

Supaya tidak nyasar untuk masuk ke blognya mba April, seperti ini tampilannya. Di sana juga banyak info dan tips menarik untuk dibaca.



4 komentar:

  1. Balasan
    1. sama sama mba april, maaf ya ... artikelnya haduh banget deh

      Hapus
  2. aku juga suka nitipin boyz sama bapanya kalo lg ikut pelatihan. biasanya mereka diajak muter2 bentar di sekitar lokasi. jadi ga bisa pergi lama2 :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. tetep ya mba dipantau dimana pun emak berada

      Hapus