Rabu, 11 Mei 2016

Ruang Pribadi Antar Pasangan

Foto dari Pixabay


Setiap pasangan suami istri memiliki aturan yang berbeda-beda. Yang sesuai untuk kita belum tentu cocok bagi pasangan lain. Semuanya kembali pada kebutuhan masing-masing, pada karakter antar pasangan dan tentu pada kenyamanan menjalani semuanya.

Maka ketika saya ucapkan, saya dan suami saling menghormati privacy masing-masing, yang artinya ada ruang yang terpisah yang tidak disentuh oleh salah satunya. Hal itu tidak bisa diterapkan pada pasangan yang salah satunya pernah dikhianati.
Seseorang yang pernah dikhianati oleh pasangannya, butuh sesuatu yang membuat dia tenang. Semisal, ia harus tahu kemana pasangannya pergi sepulang bekerja. Apa yang disimpan pasangannya di dalam tas kerjanya. Hal-hal seperti itu dibutuhkan agar rasa curiga tidak tumbuh dan meruncing kembali.

Ada Ruang Pribadi yang Harus Dihormati



Dahulu ketika sebelum menikah, saya pernah mendengar seorang teman mengeluh tentang istrinya yang berani membuka dompet miliknya, menghitung seberapa banyak uang yang tersimpan di dalamnya. Membuka-buka ponsel dan membaca satu demi satu sms yang di dalamnya. Teman saya berkata, “seakan dia tidak percaya pada saya. Seakan dia tidak pernah merasakan sayang dan cinta saya untuk keluarga begitu besar. Hingga saya dicurigai sebegitunya.”
Saat itu saran teman-teman hanya satu, bahwa hal itu harus dibicarakan dengan istrinya. Apa penyebab istrinya berbuat itu, dan bagaimana akhirnya saya tidak tahu pasti.
Dari kejadian itu saya belajar, bahwa ada ruang pribadi yang harus saya hormati dari pasangan saya kelak. Dengan tidak membuka seenaknya barang-barang pribadi miliknya. Toh, pada kenyataannya saya juga tidak akan senang jika suami saya mengaduk-aduk isi tas saya –yang selalu berantakan itu- tanpa tujuan yang jelas.
Saya tidak pernah membicarakan batasan-batasan ini secara pribadi, sampai 13 tahun usia pernikahan kami. Segalanya berjalan dengan sendirinya, seiring waktu dan seiring rasa percaya yang tumbuh diantara kami.
Saya akui, pada saat-saat tertentu ketika sikap suami dirasa berbeda dari biasanya, saya penasaran apa yang terjadi padanya. Ketika kesempatan untuk bertanya belum ada atau waktunya belum pas, saya sangat ingin mencari tahu dari benda-benda pribadi miliknya. Tapi kepo seperti itu hanya membuat saya lelah. Pada akhirnya, jika kesempatan untuk bertanya belum ada. Saya memilih pasrah saja dari pada menyiksa diri sendiri. Toh, pada akhirnya misteri peubahan sikap itu biasanya terungkap.
Percayalah, ada saat-saat hal yang terbaik adalah kita lebih baik tidak tahu sama sekali terhadap sesuatu yang terjadi. Dibanding kita tahu yang hanya setengah-setengah, yang berpeluang membuat kita salah memahami yang sebenarnya terjadi, dan berujung pada perselisihan.

Memainkan Intuisi sebagai Radar.

Pada suatu kasus memang pernah terjadi. Pasangan suami istri yang saling menghargai privacy masing-masing, sang istri kecolongan juga ketika suaminya memiliki hubungan lain dengan wanita lain. Dan semuanya telah sangat terlambat. Si istri mengutuki kesepakatan mereka yang dimanfaatkan oleh suaminya, untuk membohongi dirinya. Tetapi tentu Tuhan tidak akan diam. Dia akan membuka dusta itu dengan banyak cara hingga si istri menyadari kebohongan suaminya.
Sebut saja hal baiknya adalah, Tuhan menyelamatkan si istri yang wanita baik-baik itu untuk bersuamikan lelaki brengsek seperti demikian. Kedati tetap, luka dan trauma dari perbuatan si suami adalah luka permanen yang sulit sekali hilang. Belum lagi masalah yang berkaitan dengan anak-anak dan keluarga besar yang tidak bisa diselesaikan dengan cara sederhana.
Menilik dari kasus demikian, artinya peluang untuk berbohong itu sangat besar. Pada akhirnya, semua kembali pada setiap individunya masing-masing. Pada setiap tujuan pernikahan yang ada di hati setiap pasangan kita.
Dan saya percaya intuisi seorang istri pada suami atau intuisi suami pada istri itu sangat besar. Setiap suami dan istri yang menjalani hidup setiap hari bersama-sama, berada pada frekuensi perbincangan yang sama. Akan merasakan jika ada hal kecil saja yang berubah. Entah dari gerakan tubuh, cara tersenyum bahkan cara memeluk. Barangkali intuisi itu yang bisa dimainkan untuk menjadi radar jika ada hal yang tidak diinginkan terjadi.

Hobi Setiap Pasangan Tidak Selalu Sama

Saya dan suami memiliki minat dan hobi yang berbeda. Dia lebih suka segala hal yang berkaitan dengan autdoor dan spontan, sementara saya kalau bepergian lebih suka sudah jelas tujuannya, dan ada tempat untuk diam yang dituju.
Karena itu kita berdua tidak memiliki dunia dan teman-teman yang sama, kecuali teman-teman yang dahulu menjodohkan kita berdua.
Tapi masing-masing dari kami bahagia ketika melihat salah satu dari kami bahagia. Bahagia karena bisa melakukan hobi tanpa diprotes atau diganggu. Saya membiarkan suami saya menikmati Pearl Jam atau pergi ke konser Iron Maden sendirian, dan senang ketika dia pulang membawa cerita betapa konser tersebut sangat seru.
Sama halnya, ketika suami saya membiarkan saya membaca diakhir pekan atau membiarkan saya membeli buku yang saya mau, asalkan pasti dibaca. Saya tahu dia senang ketika saya bahagia.
Hal-hal kecil seperti itu, bagi saya, ada di ruang-ruang privacy kami yang berbeda. Saya tidak berusaha menyentuh ruang privacy miliknya, dan dia memberi saya kebebasan untuk melakukan hobi saya. Mungkin ini sebabnya, saya dan suami hingga kini tidak berteman di media sosial. Kami merasa sudah sangat dekat berada di dunia nyata, hingga kami merasa dunia maya hanyalah ajang untuk menyalurkan minat dan hobi kami yang berbeda

Tanah Sareal, 11 Mei 2016 (1 hari setelah anniversary yang ke 13, kemarin)


5 komentar:

  1. Balasan
    1. makasih banyak sudah singgah mba Erlita :)

      Hapus
  2. Iya, Mbak. Tiap pasangan beda2. Saya mah ama suami buka-bukaan #eh maksudnya.. Itu.. Itu... Bukan buka-bukaan itu tapi itu..

    BalasHapus
    Balasan
    1. buka apa dong yantiiii ?? kamu deh pagi pagi bikin ngikik
      iya untuk hal-hal tertentu kita cerita segalanya, semacam mencari bahu untuk bersandar ya eeeaaa

      Hapus
  3. intuisi itu beda banget sama kecurigaan. dan biasanya intuisi itu selalu benar.. :)

    BalasHapus