Rabu, 04 Mei 2016

Rasa Iri yang Tersembunyi


Foto dari Pixabay

            Di sebuah sore saya berbincang dengan seorang kawan. Dia di beranda rumahnya dan saya di teras rumah saya sambil menemani anak-anak bermain. Entah bagaimana mulanya obrolan menjadi tentang rasa iri.
            Kawan saya berseru, “Saya adalah orang paling iri di seluruh dunia. Apa pun yang dialami oleh teman saya, saya nyaris selalu iri.”
            Saya terkejut, artinya kemungkinan besar saya juga pernah membuat dia iri.
            “Apakah kamu pernah iri, Ti?”
            “Tentu saja.” Jawab saya. “Tapi tidak selalu, tergantung kondisi perasaan. Apakah saya sedang sensi atau saya sedang cuek.”
            “Terkadang saya merasa, saya sedikit psikopat karena memiliki rasa iri yang begitu besar. Bayangkan, saya bisa iri hanya melihat status teman yang baru saja membunuh kecoa.”
            Saya tergelak. Dan dia melarang saya memotong ceritanya.
            “Saya, Ti. Tidak punya keberanian itu. Saya takut sama kecoa. Kenapa orang lain berani?”
            “Astaga! Itu hanya seekor kecoa. Tentu saja temanmu itu juga takut atau jijik sama kecoa, makanya dia membunuhnya. Kalau dia tidak takut, dia tidak akan membunuhnya. Temanmu itu akan terus membiarkan kecoa itu hidup.” Papar saya, “itu yang saya lakukan jika ada kecoa, jika tidak menganggu dan hanya ada satu. Saya akan terus membiarkannya hidup.”
            “Pikiran saya tidak sampai disitu ketika saya iri terhadap teman yang membunuh kecoa. Hanya pada, dia punya keberanian yang saya tidak punya.” Jawabnya.
            Saya menambahkan obrolan kami dengan berkata, “saya pikir, rasa iri selalu tentang pencapaian, tentang harta benda, keluarga bahagia atau apa pun yang nampak. Bukan hal remeh temeh seperti itu. Oh ayo lah, hidup terlalu indah.”
            Obrolan terhenti beberapa menit, saya kira dia menyudahi, tapi ternyata dia kembali. Air teh di cankirnya habis dan dia harus menambahkannya, katanya ketika dia kembali.
            “Iya, justru itu. Saya tahu hidup ini indah dan akan terasa teramat singkat. Maka, saya mulai menanggulangi rasa iri di dalam dada saya. Saya tidak tahu bagaimana rasa iri yang dimiliki orang lain, apakah sudah sangat mengganggu atau baik-baik saja. Atau kah justru membuat pengalaman batin mereka lebih kaya.”
            “Ti, rasa iri tetap lah rasa iri. Kamu katakana iri sehat, iri positif, iri yang membangkitkan semangat. Bagi saya, rasa iri tetaplah rasa iri. Satu perasaan mengkal di tenggorokan ketika kita tidak mempu melakukan apa yang orang lain lakukan. Ketika kita tidak memiliki apa yang orang lain miliki.”
            Saya menarik napas dalam dan terus mendengar dia bicara. Penasaran, bagaimana dia menganggulangi rasa iri, yang mungkin akan saya alami suatu hari nanti.
            “Ketika seorang teman memangkan lomba, ketika seorang teman jalan-jalan ke luar negeri, atau  yang lainnya mengupload foto anak.”
            Di bagian ini saya merasa disentil, karena hampir setiap hari meng-upload foto anak-anak untuk lucu-lucuan, tapi saya membiarkan dia terus bicara.
            “Saya selalu iri.”
            Saya mengangguk, meski tahu dia tidak akan melihatnya. “Lantas, apa yang kamu harapkan? Teman-teman berhenti membuat status? Atau saya berhenti meng-upload foto anak-anak saya?”
            “Tidak-tidak.” Dia langsung menolak dengan cepat. “Obrolan kita bukan tentang apa yang kalian harus lakukan? Tapi apa yang harus saya lakukan.”
            “Yeah. Saya memang mau bilang bahwa kita tidak bisa mengatur semua orang. Ibarat dalam satu kelas, kamu adalah minoritas. Dan menurut saya, selain yang berkaitan dengan agama. Minoritas sebaiknya menyesuaikan diri.”
            “Saya sedang dalam rangka menyesuaikan diri, Ti.”
            “Dan itu tidak mudah?”
            “Betul.” Jawabnya yakin.
            Saya masih bertanya-tanya, memang seberapa besar rasa iri yang dirasa telah menggerogoti hatinya. Lalu saya bertanya, “hal apa yang terakhir kamu iri pada saya? Status apa? Atau foto yang mana?”
            “Hampir semua.” Gumamnya.
            Oh Tuhan, saya sungguh terkejut. Bagaimana bisa? Dia memiliki banyak hal yang tidak saya miliki.
            “Ketika kamu mengeluh tentang waktu yang tak ada untuk menulis, ketika kamu mengeluh rumah yang berantakan, artinya ada yang harus kamu bereskan. Artinya ada anak-anak yang kamu biarkan membuat itu berantakan.”
            “Oh, Dear!”
            “Justru ketika kamu meng-upload foto jalan-jalanmu saya tidak terlalu iri. Bahkan ada rasa senang ketika akhirnya kamu bisa liburan. Saya tahu betul kamu tidak pernah liburan.”
            Mata saya langsung membulat, “Nah … Nah … Nah … sepertinya kita sudah mulai menemukan secercah solusi.” Ujar saya bersemangat.
Padahal rasanya ingin memaki. Bagaimana pun ketika dia iri terhadap kesulitan saya, tapi dia senang  karena akhirnya saya bisa liburan, selintas itu terdengar seperti sebuah ejekan.
            “Coba ucapkan sekali lagi yag terakhir tadi kamu katakan.” Pinta saya.
            “Apa? Apa maksudmu?”
            “Ucapkan sekali lagi yag terakhir tadi kamu katakan.” Ulang saya dengan suara meninggi. Lalu dia mengulang kalimatnya dengan terbata-bata.
            “Ketika kamu meng-upload foto jalan-jalanmu saya tidak terlalu iri. Bahkan ada rasa senang ketika akhirnya kamu bisa liburan. Saya tahu betul kamu tidak pernah liburan.”
            “Apakah kamu sadar, kamu memiliki banyak hal yang tidak saya miliki? Kamu bisa liburan sesuka hati. Kamu bisa membeli barang  atau buku apa pun yang kamu mau. Tanpa perlu berpikir uang sekolah anak-anak, tanpa perlu berpikir kehabisan beras?”
            Kawan saya itu diam cukup lama.
            “Ya. Seperti itu. Tapi kamu juga memiliki apa yang tidak saya miliki.”
            Saya mengerang kencang sekali. “Dengar, kamu menjadikan obrolan kita bagai debat kusir. Kalau kamu berpikir seperti itu terus menerus maka tidak akan ada habisnya. Hatimu semakin kecil digerogoti rasa iri.”
 “Yeah.” Gumamnya lirih. “Saya harus menggeser sudut pandang saya mulai dari sekarang. Akan saya katakan pada diri sendiri setiap saya merasa iri, semenawan apa pun teman yang membuat saya iri, dia tidak selalu memiliki apa yang saya miliki.”
            “Yuup. Itu pelajaran awal tentang bagaimana bersyukur dengan cara yang teramat sederhana.” Ucap saya menutup obrolan setelah matahari benar-benar tenggelam.





           

           

            

4 komentar:

  1. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  2. Semua manusia dijamin pasti pernah iri..buat saya.. iri adalah salah satu kode di hati saya bahwa saya kurang bersyukur.

    Nice post mbak tuti

    *komen pertama didelete. Salah letak komen. Hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Waw mba dian, terima kasih sudah singgah. Memang intinya ada pada rasa syukur ya mba. Hanya cara menujunya beragam

      Hapus
  3. Semua manusia dijamin pasti pernah iri..buat saya.. iri adalah salah satu di hati saya bahwa saya kurang bersyukur.

    Nice post mbak tuti
    .. 😍

    BalasHapus