Rabu, 18 Mei 2016

Memaafkan dan Melupakan adalah Dua Hal yang Berbeda

Foto dari Pixabay

Ah, postingan ini murni benar-benar curhat. Jadi, silakan melanjutkan membaca atau skip saja.Saya sedang merenungkan arti kata dari sebuah permintaan maaf. Saya jarang melakukannya dalam kondisi yang mendalam. Hanya sekadar maaf jika merepotkan, maaf jika menggangu, maaf jika salah hari. Yah, maaf maaf yang sederhana seperti itu.

Saya merasa tidak punya musuh atau jarang berkonflik dengan orang lain. Jadi saya jarang merasa tidak enak untuk suatu alasan yang bisa disebut ‘merasa bersalah’. Tentu sudah pernah mengalami hal seperti itu, tapi itu sudah lama sekali dan lupa bagaimana rasanya. Dan kini saya mengalaminya lagi.
Saya merasa berat meminta maaf, karena saya merasa teman saya itu tidak sepenuhnya benar, artinya saya pernah kesal dan menurut saya dia pernah melakukan kesalahan terhadap saya. Saya juga punya kesalahan terhadap dia. Kami berdua berkontribusi memiliki kesalahan pada sebuah hubungan pertemanan yang memburuk akhir-akhir ini.

Seperti anak-anak, hubungan kami menjadi kaku. Kami jadi tidak saling sapa, entah mulanya bagaimana. Dan jujur, kondisi itu sangat membuat saya tidak nyaman. Mungkin nyaman-nyaman saja bagi teman saya itu, toh kehidupannya tetap baik-baik saja. Saya membaca obrolan chat di grup darinya yang ceria dan riang. Sementara, sepanjang saya merasakan kesal tapi juga merasa bersalah, saya tidak pernah merasa seringan itu ketika melihat namanya berkedip kedip di sebuah grup.

Karena saya tidak terbiasa memiliki konflik dengan siapa pun, sampailah saya pada satu keputusan bahwa, OK, gue mau minta maaf. Perkara saya pernah sakit hati dan dia tidak minta maaf, itu urusan dia, itu urusan yang berbeda. Saya mau minta maaf, hanya terhadap kesalahan yang saya merasa pernah saya lakukan.

Untuk orang keras kepala seperti saya, percaya lah, semua teori motivasi tentang memiliki hati yang besar demi hidup lebih indah itu nihil. Sangat sulit saya lakukan. Dalam kondisi seperti yang tadi saya sebut (saya merasakan kesal tapi juga merasa bersalah). Untuk mengirim pesan dan menulis permintaan maaf, saya menekan ego saya serendah mungkin. Menyimpan amarah saya pada level terbawah. Satu hal yang yang sangat jarang saya lakukan, kecuali sedang membujuk anak yang tantrum.
Yah, akhirnya saya melakukan itu.

Lalu apa yang terjadi?
Permintaan maaf saya, -setidaknya saya merasa- tidak ditanggapi dengan baik. Bahkan, saya dituduh menyebarkan cerita yang akhirnya orang-orang nyinyir memojokkan teman saya itu. Saya menjelaskan banyak hal, dan ditanggapi singkat. Diakhiri dengan permohonan maaf  dan salam, yang kemudian tidak dijawab. *bayangkan, ketika saya menekan ego dan amarah demi sebuah permohonan maaf, artinya, saya sedang dalam kondisi hati yang teramat sensitive* ucapan salam saya tidak dijawab. Sungguh luar biasa!
Saya mencatat itu sebagai 1 hal, bahwa dia belum punya niatan yang sama tentang bagaimana saya ingin memperbaiki hubungan pertemanan kami.

Saya masih menekan ego saya, dengan menyapa terlebih dahulu di grup. Direspon cukup baik dan saya memesan benda-benda yang teman saya itu jual. Tetapi pada akhirnya, benda-benda yang saya pesan tidak ada, dijual pada orang lain, tidak disisakan sedikit pun untuk saya. *tidak masalah yang penting apa yang dia jual laris, toh saya tidak membutuhkan benda itu. Saya hanya ingin tahu seberapa jauh teman saya itu berniat memperbaiki pertemana kami* Maka, catatatan ke 2 pun muncul karenanya.
Ada dua kejadian pasca saya meminta maaf bahwa teman saya BELUM punya niatan yang sama dengan saya untuk memperbaiki pertemanan kami. Dan saya merasa kembali terpuruk, kembali terpukul. Setelah mengorbankan perasaan saya, menekan ego dan rasa kesal serendah mungkin ditanggapi sedemikian ringan.

Ini murni curhat, jadi akan terkesan lebay bagi yang tidak pernah berada pada posisi seperti saya.

Barusan saja saya bertemu, kami bersalaman, tapi saya merasa betul bahwa teman saya masih menjaga jarak cukup jauh dari saya, masih tidak menegur saya. *Elu dong, yang negur duluan, Ti?* saya berniat melakukan itu sebenarnya, tapi hei … kami berdua punya kontribusi kesalahan yang sama, saya sudah minta maaf tapi dia sekali pun belum pernah minta maaf terhadap saya. Bagi saya, cukup. Saya sudah menekan ego saya terlalu rendah untuk itu semua.
Saya tidak tahu esok lusa jika bertemu, apakah pertemanan kami benar telah membaik atau tidak. Tapi bagi saya, setelah semua yang saya lakukan, permintaan maaf yang nihil dan malah memberi luka tambahan. Mengembalikan itu semua pada kondisi yang lebih baik, akan membutuhkan waktu. Entah sehari atau dua hari. Entah sepekan atau sepurnama. Entah.

Untuk segala hal yang terjadi, kerumitan masalah dan kemangkelan yang dalam. Saya sudah memaafkan semuanya meski tanpa diminta. Semata-mata demi hidup saya sendiri, demi saya bisa menalani hari-hari dengan tenang dan damai.

Tetapi satu hal, memaafkan dan melupakan adalah dua hal yang berbeda. Yang kesemuanya akan menjadi pelajaran bahwa dinamika pertemanan itu naik dan turun. Bahwa karakter manusia itu begitu berjuta ragamnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar