Kamis, 26 Mei 2016

Akan Bagaimana Saya Suatu Hari Nanti?

foto dari pixabay

Sekarang ini saya sering mengeluhkan kerepotan demi kerepotan mengurus segala urusan rumah dan anak-anak dari A sampai Z. Dari mulai mata mereka terbuka, segala kebutuhan, hingga mereka pergi tidur lagi di malam hari. Setelah saya lihat lagi ke dalam diri saya sendiri, keluhan itu ternyata disebabkan saya tidak bisa mengatur waktu dan menentukan skala prioritas saya.

Maka, pelan-pelan saya pun mulai mencatat hal-hal yang seharusnya saya dahulukan. Dan, paling tidak 1 jam saja dalam satu hari saya membuat diri saya bebas melakukan apa saja yang saya suka. Setelah sekitar 6 hari, setelah si sulung selesai UN dan si tengah juga selelsai UAS, setelah saya berusaha mengatur menit demi menit yang saya lalui. Saya merasa lebih, yeah lebih happy, meski rumah berantakan yang penting anak-anak sudah makan. Karena prioritas di jam-jam seperti ini, jam selepas zuhur adalah jam santai seberantakan apa pun kondisi rumah, toh nanti sore akan ada waktunya untuk beres-beres.


Saya teringat ketika Aira yang sekarang berusia 20 bulan belum lahir, sementara ilma sudah berusia 4 tahun kala itu. Saya memiliki banyak waktu luang, dan apa yang terjadi? yang saya lakukan tidak seluruhnya bermanfaat. Banyak hanya berselancar di social media, nonton TV atau main tak jelas. Justru ketika waktu saya sempit, saya merasa bisa memaksakan diri untuk melakukan sesuatu yang dulu bahkan tidak saya lakukan.
Lalu, pikiran saya lompat lagi ke masa depan. Apa yang akan saya lakukan ketika anak-anak sudah besar nanti? Apa saya akan menjadi penulis tua yang menulis hanya dengan pengetahuan yang sudah ada sebelumnya? Atau menjadi penulis tua yang penuh semangat mempelajari hal-hal yang baru. Hingga pergantian zaman bukan ancaman bagi kreatifitas.
Sepertinya pilihan kedua itu yang paling ideal, sambil mulai melakukan kegiatan-kegiatan social mungkin? Sungguh kegiatan yang menyenangkan.
Tapi, apa otak saya masih mampu berpikir setangkas ketika muda? Lha wong pas muda aja saya sering LOLA. Pastinya saya tidak tahu akan bagaimana saya nanti di masa tua, bahkan apa usia saya sampai atau tidak, kan kita tidak tahu. Hanya bisa optimis saja, saya bisa melewati setiap waktu yang diamanahkan dengan melakukan hal yang bermanfaat.

Rasa optimis itu muncul setelah saya mengenal wanita yang bernama Ina Tanaya, kami kenal di sebuah acara lokakarya tentang Blog beberapa bulan lalu. Bu Ina ini peserta lokakarya yang paling senior dan yang paling luar biasa menurut saya. Semangat belajarnya mengalahkan saya yang lebih muda.

Tidak lama setelah lokakarya Bu Ina membentuk sebuah grup di aplikasi Whatsapp untuk kami sebagai ajang belajar bersama dan saling berbagi informasi.
Setelah mengenal Bu Ina, saya lebih kagum lagi dengan kegiatan menulis yang ia tekuni setelah pensiun dari sebuah bank swasta asing tahun 2009. Kalau saya lebih suka menulis fiksi, segala sesuatu yang berkeliaran di imajinasi saya. Berbeda dengan Bu Ina, tulisan beliau lebih ke non fiksi dalam banyak bidang. Dari mulai Parenting, Kesehatan, juga traveling. 
Ulasan tentang kesehatan yang membahas Infeksi saluran Kencing lengkap banget di sini. Memberi banyak informasi untuk siapa saja yang pernah mengalami tanda-tanda pernah sakit ISK.

Yang paling banyak saya baca dari tulisan Bu Ina adalah artikel-artikel yang membahas tentang parenting, tentang menanamkan kejujuran pada anak-anak sampai artikel tentang ujian sekolah dengan referensi yang memadai.
Salah satu tulisan Ibu Ina Tanaya di brightdiary.blogspot.co.id

Satu lagi lompatan hebat yang agaknya akan sulit saya kejar adalah, Ibu Ina Tanaya menulis banyak artikel di Kompasiana. Uwaw … jenis tulisan khas jurnalistik yang sama sekali belum saya kuasai.
Bu Ina ini salah satu Blogger yang aktif juga diantara para Blogger Jabodetabek, dalam dunia Blog yang senantiasa berubah dan terus berkembang Bu Ina tetap terus belajar, tidak kalah semangat dari yang muda-muda, yang fres, yang kreatif. Terbukti, saat ini Bu Ina semangat belajar membuat infografis. Salah satu yang sedang hangat belakangan ini di dunia para blogger.

Melihat kiprah Bu Ina, benar-benar memberi ide untuk saya bagi hari-hari yang mungkin akan saya lalui di masa mendatang. Ketika anak-anak sudah besar, ketika waktu luang berlimpah untuk saya jalani.

Untuk mengenal Ibu Ina Tanaya dan mengambil semangat darinya, teman-teman bisa meluncur ke blognya di Ina Tanaya.com dan beberapa akun media sosialnya





FB: http://web.facebook.com/ina.tanaya
Tweet: https://www.twitter.com/tanaya1504
Ig: http://instagram/ina_tanaya
Kompasiana: http:www.kompasiana.com/www/www.inatanaya

7 komentar:

  1. Akan bagaimana saya nanti? Mmmm... Mmmm....

    BalasHapus
    Balasan
    1. akan jadi eyang terkeren dan tergahoool sepanjang komplek xixiixix ...

      Hapus
  2. Pokoknya kalau lagi males ngisi blog inget2 Bu Ina hehe

    BalasHapus
  3. Mba Ina menjadi inspirasi lah ya... semangatnya itu loh

    BalasHapus
  4. Wah...sangat bagus pujiannya..Ngga kok Adya semua itu dr latihan menulis aja.

    BalasHapus
  5. Wah...sangat bagus pujiannya..Ngga kok Adya semua itu dr latihan menulis aja.

    BalasHapus
  6. Hmm, mbrebes mili buuu, tulisanmu bikin aku terharu, menyentuh. Makasih banyak.

    Salam,
    Rava.

    BalasHapus