Selasa, 19 April 2016

Sepasang Sayap untuk Marlia

Adya Pramudita

Dimuat di harian Pikiran Rakyat, tanggal 17 April 2016


Aku menemukan satu sayap di depan pintu pada mimpi menjelang pagi. Sayap yang cantik berbulu putih dan halus, namun ada segaris luka di bagian bawah. Sayangnya, sampai mimpiku berakhir aku tidak kunjung menemukan pasangannya. Barangkali nanti di mimpi yang lain aku bisa menemukannya.

            Aku terbangun oleh aroma parutan bawang merah yang menyengat. Ibu mencampurnya dengan minyak kelapa,  lantas membalurkannya ke dada dan punggung adikku.
            “Panas adikmu tinggi lagi, semalaman dia mengigau terus.” Ucap ibu sambil terus menggosok punggung Dede. Anak lelaki 13 tahun itu terkulai lemah dengan kelopak mata merah dan sembab.
            Aku berniat membawa Dede ke puskesmas pagi ini sebelum pergi bekerja, namun ia menolak karena merasa sudah lebih baik. Aku meraba dahinya yang masih hangat namun tidak sepanas subuh tadi.
            “Kemarin ada Suta datang ke sini, sampai dua kali. Katanya, ada hal yang mau dibicarakan.” Ibu bicara sambil melipat baju-baju yang belum disetrika kemudian ia susun di dalam keranjang plastik. “Pasti tentang kegiatan kamu.”
            “Menurut ibu dia akan setuju atau protes seperti orang-orang?”
            Ibu hanya menggerakkan bahu. Aku tahu, siapa pun termasuk ibu meragukan kampanye yang terus aku lakukan dalam beberapa bulan terakhir ini, tentang penghentian penambangan di Gunung Pongkor
            “Seperti mencacah air, Lia. Yang kau lakukan itu sia-sia.”
            Aku menarik napas dalam sambil memutar sendok di dalam gelas,  menyaksikan butir-butir gula yang larut dan menghilang.
 “Aku hanya ingin alam kita lestari, bu. Tidak terus menerus dirusak. Tidak ada lagi limbah air raksa yang mengalir di selokan-selokan warga dan masuk ke sungai. Tidak ada lagi orang berebut lahan galian. Dan … “ Aku menggantung kalimatku.
Ibu tahu betul salah satu alasanku melakukan semua ini adalah agar tidak ada lagi kepala keluarga yang terperangkap di dalam lorong-lorong pengap, tertimbun dan keluar hanya tinggal nama.
            “Bapakmu bukan orang pertama yang tersedot, Lia. Itu memang takdirnya.”
            Ingin rasanya aku mengatakan, ada banyak takdir yang bisa diubah dengan usaha manusia. Aku menyesap teh manis yang aku buat. Aku tidak tahu kapan terakhir kalinya aku meminum teh manis senikmat ini. Rasa manisnya pas dan hangatnya membangunkan syaraf-syarafku yang masih bergerak malas.
            Mungkin rasa nikmat teh manis itu berasal dari ramuan yang aku tambahkan. Ramuan yang berupa kelegaan setelah melihat demam Dede berangsur turun, dan aku sudah bisa mengurangi beban ibu dengan penghasilanku meski tidak terlalu besar.
Aku berdiri dan mencium tangan ibu lebih lama dari biasa, ingin merasakan guratan usia dan otot kerja keras yang bertonjolan. Tangan yang aku genggam ini masih sering menerima jahitan dan pesanan kue, namun sudah sedikit berkurang atas permintaanku. Ibu tersenyum dan mengusap puncak kepalaku. Pagi dengan ini semua adalah pagi yang mewah untukku.
Aku mengayun langkahku dengan ringan sambil terus menoleh ke belakang. Menatap pesona gunung Pongkor yang menjadi rebutan, tempat semua orang menggantungkan harapan-harapan pada kemilau emas yang terpendam.
Para pria baik tua maupun muda, mengenakan celana panjang lusuh dan sepatu boot sebatas lutut dan helm. Mereka saling berlomba menuju lubang galian masing-masing. Beberapa orang masih berkenan menyapa, selebihnya cukup melirik dengan ujung mata.
*
            Melalui salah satu teman kerja aku kenal dengan Amran. Lelaki yang membuka mataku tentang lingkungan hidup dan menyadarkan betapa yang selama ini ada di sekelilingku telah mengoyak alam dengan sangat menyedihkan.
            “Pekerjaan bapakku, masuk ke dalam lorong-lorong kecil yang panjangnya bisa puluhan meter masuk ke dalam bumi. Keluar dengan membawa karung-karung berisi bongkahan tanah yang mengandung biji-biji emas. Ada belasan lubang penambangan, dan bapakku salah satu yang dituakan di salah satu lubang itu, ada banyak orang yang lebih muda mengikuti dirinya” Itu ceritaku kepada Amran pada pertemuan pertama kami.
            Aku tidak menduga ternyata Amran sudah mengetahui banyak hal tentang penambangan emas di dekat tempat tinggalku, sekaligus dengan kerusakan alam yang sangat ironis.
Sebuah kawasan hutan lindung, namun di bagian bawahnya dibuat terowongan-terowongan yang panjang, yang menembus dari satu sisi bukit menuju sisi bukit yang lainnya. Setiap hari terdengar ledakan untuk menggerus bebatuan yang mengandung emas. Ditambah dengan air raksa yang mengalir ke sungai Cikaniki setiap hari, semuanya berasal dari penambangan yang legal dan ilegal.
            “Kami berjuang di wilayah atas, agar pemerintah bisa membuat kebijakan untuk menutup perusahaan tambang resmi, sementara kamu bisa memulai dengan memberi informasi tentang lingkungan dan bahaya limbah kepada penambang emas ilegal. Setelah itu kami bantu untuk mengalihkan sumber penghasilan mereka.”
            Dari situlah aku memulai semuanya, dengan keyakinan bahwa satu demi satu para Gurandil –sebutan untuk para penambang emas illegal- akan meninggalkan pekerjaan mereka sebagai penambang emas.
            Namun kenyataannya sangat jauh dari harapan. Satu demi satu tetangga menjauh dan menuduhku sebagai utusan perusahaan tambang legal untuk memukul mundur para Gurandil.
            Puncaknya pekan lalu, ketika aku datang ke acara perayaan kemerdekaan yang diselenggaran oleh ketua RT. Aku meminta waktu sejenak untuk menjelaskan bahaya limbah air raksa jika terus menerus mengalir ke sungai dan mencemari ikan-ikan yang hidup di sana.
            “Hei, Lia. Lalu kami harus mencari uang dengan cara apa?” teriak seorang pria.
            “Kamu lupa, ya. Kamu dibesarkan oleh bapakmu yang juga seorang Gurandil?” ucap seseorang serasa menyentil jantungku.
            Aku mengangguk sebelum melanjutkan, “Bukan hanya kerusakan alam yang terjadi, tetapi masalah sosial bermunculan. Antar saudara berebut lubang galian hingga bertengkar dan bermusuhan.” Jelasku, mengingat malam sebelum bapak tertimbun, beberapa orang Gurandil bertamu dan meminta bapak menukar lubang miliknya dengan milik mereka, namun bapak menolaknya.
            Ucapan-ucapan tidak nyaman semakin terdengar, lalu sedikit demi sedikit orang-orang yang hadir berkurang hingga akhirnya hanya menyisakan Suta yang duduk di kursi paling belakang.
            “Suta, aku lihat kau sudah semakin sering menambang sekarang.” Suta menempati lubang galian yang sama dengan bapak dahulu.
            Suta adalah teman masa kecilku, kami selalu sekelas dari kelas 1 SD hingga lulus ketika SMA. Dia teman pertama yang datang menghibur ketika bapak meninggal dan sempat berjanji bahwa ia tidak akan menjadi penambang emas demi menjadi temanku.
            “Kebutuhan, Lia. Mencari kerja sangat susah, mau berdagang aku belum punya modal. Lagi pula dari kakekku, kemudian bapakku, lalu sekarang aku. Kami semua penambang di sini.”
            “Kau tadi lihat kerusakan yang kalian buat? Yang aku perlihatkan gambar-gambarnya?”
            Suta menegakkan punggung tanpa menjawab pertanyaanku. “Jangan terlalu berani bicara, Lia. Orang-orang sini kurang suka. Mereka sudah cukup pusing dengan ketegangan antara kami dan perusahaan, saling berebut lahan penambangan. Aku mohon kamu jangan menambah-nambah dengan ide agar kami menghentikan semua ini.” Suta menatapku lekat-lekat.
            Lalu aku menggeleng dan berkata, “aku sudah memulai, Suta.  Dan meyakini bahwa aku mengajak pada sesuatu yang benar.”
            “Benar itu relatif, Lia. Benar katamu, salah kata kami. Lalu benar menurut kebenaran yang hakiki.” Suta berdiri, memperbaiki manset kemeja yang lipatannya lepas. Kemudian ia pergi meninggalkanku seperti yang lainnya.
***
            Ketika jam kerjaku di sebuah mini market berakhir, Suta sudah menunggu di atas motor tuanya. Aku mendekat tanpa menunggu ia melambaikan tangan.
            “Kata ibu kau mencariku?”
            Suta mengangguk dan mengajakku naik di belakangnya.
Ia mengajakku ke sebuah warung, “Aku minta kau menghentikan kegiatanmu, Lia. Aku mohon.”
            “Aku selalu berharap, satu hari nanti kau berdiri di sampingku, Suta. Dan mengatakan pada semua orang bahwa penambangan harus dihentikan.”
            “Marliaaa.” Suta menarik napas dalam, menyebut namaku dengan kesal. “Aku menghawatirkanmu.”
            “Aku memintamu untuk tidak menambang karena aku jauh lebih menghawatirkanmu.” Ucapku melemparkan tatapan ke jalan raya yang sepi.
            Pada tingkatan tertentu perasaan bisa bermutasi menjadi apa saja, tidak melulu pernyataan cinta atau rengekan rindu. Bagi dua orang seperti kami, yang tidak pernah mengumumkan isi hati, kekhawatiran satu sama lain yang lebih mendominasi telah menjelaskan segalanya.
            Suta membukakan minuman ringan dingin untukku, “minumlah, sedari tadi kamu belum minum apa-apa.”
            Kendati itu bukan minuman kesukaanku, aku tetap meminumnya sedikit demi sedikit.
            “Apa yang bisa menghentikanmu, Lia?”
            “Tidak ada.”
            “Baiklah, mari kita pulang.”
            Yang aku ingat terakhir kalinya adalah aku naik ke atas motor dan berpegangan ke pinggang Suta, setelah itu sebagian ingatanku lenyap. Kesadaranku kembali ketika tubuhku dipindahkan ke sebuah mobil dan beberapa orang berbicara sambil berbisik.
            Tubuhku seperti tanpa tulang, lemas dan sulit bergerak. Telapak tanganku berada di atas saku celana tempat aku menyimpan ponsel. Mengira-ngira tombol untuk membuka kunci dan menekan huruf A. Hanya ada satu nama yang dimulai dengan huruf A, semoga Amran sedang senggang dan bisa mendengar semua yang terjadi.
            Aku melihat dari ketinggian ketika mereka menemukanku, membawaku ke sebuah rumah sakit dan tidak berapa lama Amran dan teman-temannya datang. Aku mendengar Amran membicarakan tentang Suta dan beberapa kawannya yang ditangkap.
            Suta menjelaskan bahwa semua dilakukan karena perebutan wilayah penambangan. Ia menuduh Aku melakukan kampanye penambangan illegal itu semata-mata untuk mengalihkan lubang penambangan almarhum bapak pada orang lain yang bersedia membayar.
            Duhai, Suta. Sependek itu pengetahuanmu tentang diriku? Ternyata kita benar-benar tidak saling mengenal.
            Bapak berdiri di sampingku, ia memberikan satu sayap untukku dan membantu aku untuk mengenakannya. Mimpi ini seperti terlalu cepat datang, aku bukan hanya telah menemukan pasangan sayap yang aku temukan tadi pagi, tetapi kini aku memakai keduanya.

            Selesai.

Catatan di balik cerita

Beberapa tahun lalu saya diajak suami mengunjungi teman lamanya di Leuwi Liang - Bogor, letaknya tidak jauh dari gunung Pongkor, tempat penambangan emas itu berada.
Ketika sore hari saya melihat para pria memakai sepatu boot dan baju kotor penuh tanah membawa karung-karung berisi tanah dalam motor mereka. 
Tanah itu hasil penambangangan, dibawa pulang untuk diproses lagi. dipisahkan antara butiran-butiran emas dari tanah yang mengikatnya.
Banyak hal yang menarik di sana. Mulai dari kehidupan para penambang emas yang hidupnya sangat sederhana, jauh berbeda dengan perusahaan Antam yang memegang hak penuh atas penambangan di sana.
Para penambang itu disebut penambang ilegal, karena tentu yang legal hanya di bawah perusahaan dengan semua peralatan canggih mereka.
Para penambang itu dikenal dengan gurandil, diambil dari alat sederhana untuk memisahkan emas dan tanah.
Setiap hari gurandil-gurandil itu masuk ke dalam tanah, melalu lubang yang mereka gali, tanpa standar pengamanan yang memadai, lubang itu hanya cukup dimasuki dalam posisi jongkok. Kedalaman lubang itu bisa puluhan meter ke dalam tanah. 
Istilahnya tersedot atau terhisap ketika ada gurandil yang tertimbun di dalam lubang, dan hal itu adalah hal biasa. Betapa pekerjaan yang beresiko tinggi dan sangat dekat dengan maut.
Yang cukup menarik tetapi juga miris adalah persaingan para gurandil dalam menempati lubang galian, bisa karena posisi lubang yang dianggap banyak mengandung emas, atau oleh sebab lain. konflik mereka bukan hanya berhadapan dengan perusahaan tetapi juga antar mereka sendiri. 

Tentu saja, dampak dari penambangan itu adalah kerusakan alam. Gunung Pongkor digali ratusan kilometer ke dalam tanah, dikeruk setiap detik tanpa henti. Lalu air raksa, limbah dari pemisahan emas dan tanah mencemari lingkungan. mengalir di selokan-selokan dan tanpa bisa dihentikan mengalir ke sungai.
Entah perusahaan atau pun para gurandil, semuanya berperan penuh pada kerusakan tersebut.

Ingatan tentang perjalanan itu mengendap lama sekali. Hingga saya menemukan satu tema dan berhasil menuliskannya, melalui kisah Marlia untuk pembaca semua

Salam.
Adya

14 komentar:

  1. aku baca catatan di bawah baru ngerti ini crita ttg apa hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. aaaah .... berarti show saya masih kurang ya, ka. hehehe.
      makasih sudah singgah :)

      Hapus
  2. Hiks... Keren cerpennya, Kak. Meski sedih endingnya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. entah ya, koran koran demen bener sama cerita ber ending sedih. padahal hidup sudah cukup sedih hahaha

      Hapus
  3. Eh btw... Saya ngerti kok ceritanya. Hihihihi

    BalasHapus
    Balasan
    1. pasti yanti baru makan pisang gapit ... #apasih wahahah

      Hapus
  4. Keren, suka. Tema sosial yang masih selalu laku. Kapan saya bisa nulis kayak gini? :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. bisa lah, tinggal duduk dan nyalakan laptop. triiiing jadi ....

      Hapus
  5. cakep, rugi nyonya F nolak cerpen ini ��

    BalasHapus
    Balasan
    1. ho oh ... rugi banget dia ... mari kita serang lagi dengan tulisan lain hahah

      Hapus
  6. Diksinya cakep banget, lokalitasnya mantaaap. Sukses ya Mbk, jadi... Endingnya Lia gimana? #eaaa lola eike hihi

    BalasHapus
    Balasan
    1. endingnya Lia punya sayap wakakka ...

      Hapus
  7. Apik, Mbak. Selalu kagum dengan penulis yang mengusung tema lokalitas. Sukses selalu. :)

    BalasHapus
  8. Apik, Mbak. Selalu kagum dengan penulis yang mengusung tema lokalitas. Sukses selalu. :)

    BalasHapus