Jumat, 01 April 2016

Semalam di Salihara

Mengubah cerita menjadi drama audio?
Acara apaan itu? Tapi demi mewakili komunitas Be A Writer tercinta dan kebetulan sempat, dan lagi yang mengundangnya komunitas Salihara, yang sebelumnya belum pernah saya kunjungi. Kapan lagi, jarang-jarang nih, maka saya tetap bertekad untuk datang. Meski ada banyak kendala, salah satunya pemberitahuan kalau peserta harus bisa berbahasa Inggris karena panitia tidak menyediakan penerjemah.

Saya bilang pada diri sendiri, ah tinggal diam aja di pojokan. Enggak usah cari perhatian biar enggak ditanya, tinggal lihat orang aja pada ngapain. Mereka ketawa, ikut ketawa. Pematerinya bicara, saya ngangguk-ngangguk aja. Beres. Sesimple itu! Tau-taunyaaa …. (the moral is : makanya kalau niat jangan aneh-aneh, kejadianya malah sebaliknya wakwaww)
Even Bienal Sastra Salihara yang tahun ini bertajuk Sastra dan Rasa adalah even rutin yang diadakan 2 tahun sekali, yaitu pada tahun-tahun ganjil. Acara ini berlangsung dari tanggal 3 dan puncaknya pada tanggal 25 Oktober kemarin. Lokakarya drama audio ini menjadi salah satu acara di hari terakhir.
Saya datang 2 jam sebelum acara dimulai, jadi saya bisa masuk ke acara yang lain. Persisnya lupa namanya, tapi intinya mengubah cerita menjadi cerita grafis atau komik. Pematerinya Peter Van Dongen penulis novel grafis berjudul Rampokan Java and Celebes. Yess … enggak usah ditanya lagi saya cengo di dalam sampai kedatangan mba Dhani menyelamatkan saya untuk keluar ruangan. 
Tapi tetap ada yang bisa saya ambil, sayang dong kalau enggak dapat secuil pun. Tuan Dongen itu memperlihatkan photo-photo hitam putih yang berasal dari zaman colonial. Bagaimana rupa bangunan, pakaian, kejadian-kejadian di masayarakat dan salah satunya photo mayat-mayat yang berjajar di tengah lapangan. (curiganya sih itu photo korban pembantaian, soalnya orang orang pada ber-uuuh ngeri) yang kemudian photo itu memberi dia inspirasi untuk membuat cerita.
Dalam membuat cerita sih sama aja dengan kita menulis jenis lain, ada plot, alur dan ditambah sketsa. Yang saya lihat, novel Grafis itu menjadi lebih keren terutama untuk orang jenis visual. Semua imajinasi tergambar jelas, setelah baca bisa memperhatikan gambar-gambar lebih detil. Saya kaya nemu jodoh buat Pramanik #‎eh


Lalu saya berpindah tempat sebelum kelas cerita grafis itu berakhir karena harus registrasi ke acara yang menjadi tujuan utama saya. Setelah bunyi gong dan setelah menghabiskan singkong sambal roa punya mba dhani masuklah kita berdua ke dalam ruangan.

Ms Monica Cantieni sudah duduk manis di kursi samping layar in focus, tersenyum pada setiap orang yang masuk. Saya kira kursinya akan bershaf, ternyata bentuknya berhadapan membuat saya enggak bisa sembunyi di baris paling belakang. Duh … alamat kelihatan kalau saya planga plongo. Melirik mba Dhani yang terlihat tenang jadi saya so’ iya aja.
Setengah jam pertama Ms Cantieni bicara, saya sama sekali enggak ngerti dia ngomong apa. Padahal saya udah konsentrasi penuh,pasang telinga dan melihat gerakan bibirnya dengan teliti. Saya nyaris ingin pulang, benar-benar merasa menjadi itik salah kandang. 10 orang peserta yang lain menyimak, mengangguk dengan yakin dan tampak memahami benar penjelasa pemateri, sementara saya? Ah … sudah jangan ditanya.
Sedikitnya jumlah peserta yang hanya 11 orang, memungkinkan setiap orang punya kesempatan yang sama untuk berinteraksi dengan Ms Cantieni dan kenyataan itu makin membuat jantung saya mantul-mantul. Seperti niat saya semula, saya berusaha tidak mencari perhatian, diam seribu Bahasa.
Lalu, Ms Cantieni memberikan kami 3 buah artikel yang ia ambil sari surat kabar. Kami diminta membacanya dengan seksama. Intinya dalam artikel berita tersebut bahwa telah terjadi pembunuhan di Paris. Di dalam mobil di sebuah camping ground. Korbannya sebuah keluarga yang sedang berlibur terdiri dari ayah, ibu, nenek dan dua anak perempuan. Keluarga tersebut berasal dari UK dengan ras Timur Tengah (disebutkan sebagai keluarga Iraq). Pembunuhan terjadi pada pagi hari, menggunakan gun-machine. Pembunuhnya belum diketahui identitasnya.
Kemudian Ms Cantieni meminta kami mengambil kertas secara acak yang ia bawa di atas telapak tangannya. “You could be a mother, the police, the little girl or a murder!”
Maka takdir lain kemudian bicara. Kertas yang saya ambil menuntut saya menjadi orang yang bahkan sama sekali belum ada sosoknya di artikel tapi yang menggerakan cerita, mengapa pembunuhan itu terjadi.
A MURDER

Glek!
“You should be in to the character. How you feel when you shoot them. What you thinking when you will shoot that family. Are you happy, are you sad or maybe you thinking something. What your feeling before and after. What happen with your life until you do that murder.”
Saya ternganga dan rasanya ingin bilang- miss, I am a romantic writer. I never hurt my character.
Seakan Ms Cantieni membaca pikiran saya, dia bilang “sometimes you should to be an antagonis. And make it logic.” 
Saya mengangguk. Pada detik itu saya ingat betapa saya sering kesulitan untuk membuat tokoh antogonis untuk cerita saya. Saya suka kasihan dan terlalu sayang pada tokoh pratagonis yang saya ciptakan. Jadi saat ini, saya harus membuat tokoh antagonis yang harus tetap saya sayangi.
“Pembunuhan dengan alasan politik terlalu biasa buat saya, alasan islamphopia (mengingat korbannya orang Iraq) sangat mungkin, tapi itu rasis dan terlalu sensitive.” Jelas saya dengan Bahasa Inggris pas-pasan , kejadiannya jadi terbalik, sekarang beliau yang mendengarkan setiap kata yang saya ucapkan.
“My character is the innocent murder. 15 or 17 years. Lonely. He look so nice. But he didn’t have a good life with his parent. Every time he look a happy family he feel jelous, he feel angry. He didn’t like some one have a good life.” Jelas saya terbata-bata.
Saya lega ketika Ms Cantieni bilang “Great. I know what you mean. But … “
Seketika saya berkeringat dingin karena semakin saya bicara dan saya kira cukup, saya semakin ditanya dan diminta menjelaskan. Duh Gusti! Mba Dhani bilang, “De, semakin liar ide mu, semakin engkau ditanya.”
Benarkah? Ah tapi saya enggak mau menjadi pembunuh yang mainstream, yang membunuh karena alasan benci atau hutang piutang semata.
“But, how you get the gun machine??? Remember you are a young man. It’s logic if you in US, but it’s france. It’s difficult for get the gun.” Ms Cantieni menjelaskan hal-hal yang harus saya pikirkan kembali tentang logika.
Bahwa, karakter atau cerita apa pun yang akan saya bangun apakah masuk dengan logika yang sudah tertera dalam artikel yang sudah ada. Jangan sampai jauh melenceng. Make it logic.
Maka, apakah masuk akal anak muda yang tinggal di Paris menembak sebuah keluarga dengan senapan mesin? Dari mana dia mendapat senapan mesin? Dari mana dia memiliki kemahiran menembak? Pertanyaan demi pertanyaan diajukan dan saya diberi kesempatan untuk memperbaiki.
Menulis cerita yang logis adalah peraturan umum bagi siapa pun dengan genre apa pun. Mengapa novel fantasi begitu digemari,karena disajikan logis seakan-akan itu terjadi dalam sebuah kehidupan manusia.
Lalu sampailah pada “ I Change my character.” Gerrr … semua orang tertawa. “I am a nice police and have a multiple personality. Separuh diri saya baik, separuh buruk. Separuh diri saya menyimpan gun machine di dalam mobil tapi separuh lagi tidak tahu. Jiwa yang jahat akan muncul ketika dia kecewa. Saat pembunuhan terjadi dia baru dipindahkan untuk bertugas di kawasan Alpen abs. kepindahannya disebabkan oleh tuduhan kesalahan yang tidak dia lakukan.”
“Jiwa yang jahat tidak suka setiap melihat orang yang bahagia. Suara tawa yang keras seperti mengolok-olok dilrinya. Kebahagiaan orang lain adalah rasa sakit bagi dirinya yang harus ia musnahkan.”
Ms Cantieni tersenyum. “Great. Good job. I belive it’s could be happen.”
Lalu, kami ber 11 orang dibuat kelompok berdasarkan peran. Yang berperan menjadi ayah, ibu, nenek dan anak-anak menjadi satu kelompok. Yang berperan menjadi polisi, jurnalis,dokter forensic menjadi satu grup. Sayangnya, pembunuh ini bekerja sendiri, artinya saya tidak masuk dalam group mana pun. Padahal saya harus menulis dialog dan monolog dalam Bahasa inggris. 
Oh betapa …
Di sini saya melihat ternyata menulis dengan memiliki rekan dan menulis sendiri itu bebannya berbeda. Bisa saling memberi ide, saling mengingatkan dan yang pasti ada yang menerjemahkan ke dalam Bahasa inggris yang benar. Saya jadi ingin cepat mencari kawan duet.
Sampailah pada penulisan dialog untuk drama, Alhamdulillahnya group keluarga yang akan saya ‘bunuh’ punya nenek yang pandai Bahasa inggris, jadi dengan baik hati beberapa bagian dialog yang sulit ia menerjemahkan sekaligus menuliskannya. 
Setelah dialog dan monolog yang saya tulis selesai,kami semua membacakannya dengan intonasi dan pendalaman karakter. Di situ titik keseruan berikutnya, the nice and sweet murder has come.
Salah satu petikan monolognya : 
They are happy family, really? They just the annoying happy family and try to give a fake smile.
Five soul, five face, five annoying face!! They’re laughing like hyenas, their laughs sounds mocking everything that happened to me.
Sesi pembacaan tersebut menjadi sesi terakhir yang ditutup dengan bersalaman dan foto bersama. Sungguh, pengalaman yang berharga dan sangat menarik bagi saya belajar bersama beliau.membuat imajinasi menjadi lebih kaya, di setiap kita membaca artikel yang sederhana sekali pun kita bisa memetik ide yang bisa kita kembangkan dengan imajinasi tanpa batas.

Acara berlanjut ke sesi di ruang teater, acara yang membuat hati berdesir-desir sepanjang acara berlangsung. sayangnya kamera jenis apa pun haram digunakan di sana. Maka saya hanya bisa menggambarkan keindahan di sana dengan sederhana. 
Ruangannya luas seperti ballroom, seluruh dekorasi hitam dan gelap, kursi-kursi berjajar berundak-undak seperti tribun. Semua lampu hanya menyorot satu titik tepat di tengah, panggung pendek dengan dekorasi vintage-eklektik (bagi yang sudah membaca novel Namaku Loui(sa) tepat mirip ketika Louisa mementaskan permainan biolanya di ajang Jakarta blossom festival, he he he … ini namanya promo colongan) Sinar pada panggung berwarna terang kekuningan, dekorasi berwarna kontras berpendar. Di bagian atas panggung ada sebuah layar lebar yang menampilkan kutipan-kutipan dari cerpen-cerpen keren sastrawan Indonesia.
Karena tajuk acaranya Sastra dan Rasa, kutipan cerpen yang ditampilkan pun berhubungan dengan rasa yang sesungguhnya. Alias, semua kutipan cerpen tersebut berasal dari cerpen kuliner yang sedang tren saat ini.
Acara dibuka dengan petikan dawai-dawai harpa oleh Sisca Guzheng dan gitar oleh seorang rekannya. Indah, melarutkan semua letih. Memenuhi semua dahaga akan hiburan yang sepadan dengan semua yang saya tinggalkan di rumah. Permainan music yang apik, busana tradisional yang sesuai dan senyum yang tidak berlebihan.
Acara dilanjutkan pada pembacaan puisi-puisi oleh beberapa orang sastrawan muda, sayangnya saya tidak menghapal nama mereka satu pun. Ada dua orang penulis asing yang membacakan karya mereka yang untungnya diterjemahkan di layar yang terpampang di atas.
Malam itu mungkin malam yang tidak akan terulang, dimana saya bisa melihat pak Gunawan Muhammad dari belakang hanya terhalang satu orang dan di sisi kanan ada Ayu Utami dengan tubuh singsetnya yang menawan.
Acara di ruang teater selesai namun sayang jika harus melewatkan acara terakhir karena perut kami sedang bernyanyi minta makan.
“Ayo semuanya kita makan malam di roof top.” Ajak seseorang. Ah berlarilah kami ke tangga dan langsung menyerbu sop iga yang gurih dan legit. Mba Dhani membuka petualangan rasanya dengan nasi uduk dan cumi gendut-gendut. 
Sebelum makan kami menyempatkan sebentar menikmati suasana langka yang begitu romantis. Rembulan terang yang menyinari roof top, untaian lampu-lampu yang membentang dari ujung ke ujung, lantai rumput pendek yang kami pijak dan kursi-kursi jati yang seperti menyimpan banyak cerita tentang tempat ini. Segala hal di malam itu seperti bahu membahu membuat semua orang gembira. 



Kami berdua harus pulang sebelum acara berakhir karena saya takut tertinggal kereta dan mba Dhani harus kerja keesokan harinya. Untuk hari itu, hanya satu kata MANTAP.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar