Selasa, 19 April 2016

Cerpen Mata Hati Kiara

Adya Pramudita


Dimuat di majalah Paras, bulan September 2015


Senja di bulan Desember dengan serbuk gerimis tidak membuat siapa pun berani mengeluh karena lembayung masih melukis langit barat begitu memesona. Kiara merasakan keceriaan orang-orang yang bersinggungan dengan langkahnya. Melalui siulan, gumaman riang serta sapaan tulus sepenuh hati.

            Kiara senang ketika gerimis menetes di tangannya, terasa geli bercampur sejuk. Wanita itu merentangkan tongkatnya dan menyusuri trotoar. Deru kendaraan dan pekikan klakson ia simak dengan cermat.
            Derap langkah itu mulai terasa mengikutinya lagi. Kiara menghentikan langkahnya sambil memperbaiki kerudungnya yang ditiup angin, seseorang di belakangnya pun berhenti berjalan. Kiara berdiri di bawah lampu lalu lintas, lalu merasakan kendaraan-kendaraan di dekatnya berhenti dan ia mulai menyebrang.
            Secarik kain yang terasa tebal, seperti sapu tangan handuk diletakkan seseorang di atas lengan Kiara. Lantas menggenggam dan melepaskan ketika mereka telah berada di seberang jalan.
            “Anda siapa sebenarnya?” sore ini Kiara memberanikan diri bertanya setelah berkali-kali tangan itu membantu dirinya ketika menyebrang jalan.
            Tidak ada suara namun Kiara tetap memasang telinganya dengan jeli.
            “Hanya orang yang kebetulan melintas.” Gema suara itu seperti pernah Kiara kenal namun entah di mana. Ia yakin itu adalah orang yang sama yang membantunya setiap hari jumat sore, sepulang Kiara memberikan motivation training di Yayasan Wiyata Guna.
            “Tuan, ada yang perlua anda tahu bahwa bagi orang seperti saya setiap suara dan intuisi sangat berarti. Bahkan getar dari tangan anda setiap membantu  sudah saya kenal dengan baik.”
            Lelaki yang bersiap untuk segera pergi itu menghentikan langkahnya. Ia berusaha mengendalikan rasa gugup kendati wanita di hadapannya tidak akan tahu wajahnya yang memerah.
            “Mmm … kita punya jadwal pulang yang sama dan tempat saya kerja berdekatan.”
            Jawaban lelaki itu cukup melegakan Kiara. Ia mengangguk, “oh begitu, terima kasih banyak untuk bantuannya.” Lantas Kiara berbalik dan melanjutkan perjalanan tapi berhenti lagi setelah langkah ke tiga.
            “Sepertinya kita juga memiliki arah pulang yang sama.” Ucap lelaki itu.
            Andaikan Kiara memiliki radar, ingin rasanya ia tahu apa sesungguhnya niat lelaki itu. Yang ia lakukan hanya diam dan membiarkan orang tersebut melangkah di sampingnya.
            “Saya Taruma.” Akhirnya ia memperkenalkan diri dan Kiara merasa lega, setidaknya seseorang dengan niat buruk tidak akan menyebut namanya di awal percakapan kendati senja itu bukan pertama kalinya mereka berjumpa.
            “Namamu sangat … “
            “Nama itu terlalu berat memang, karena nyatanya diriku tidak setangguh sejarahnya.”
            Keduanya kembali berjalan dan melanjutkan perbincangan. Satu pekan kemudian hal itu berulang. Mereka berjumpa di bawah lampu lalu lintas kemudian Taruma meletakkan sapu tangan handuk di atas lengan Kiara, menggenggam dan melepasnya ketika tiba di seberang jalan.
            “Mmm … besok apa kamu ada acara?” Taruma bertanya ragu-ragu setelah pertemuan mereka lebih dari empat kali.
            Kiara tidak segera menjawab. Ia meraba kedua bola matanya. Ia mainkan intuisinya, apakah Taruma memiliki niat yang lain?
            “Tidak, tapi aku tidak bepergian kecuali ke yayasan Wiyata Guna. Selain ke sana adikku selalu menemani.”
            Suara Taruma terdengar bersemangat. “Boleh aku berkunjung sekalian berkenalan dengan adikmu?”
            Taruma menepati janjinya, ia datang sore hari ketika Kiara dan keluarga adiknya tengah bersantai di beranda.
            “Taruma. Mmm … aku sudah enggak pernah pergi-pergi jika bukan dengan adik atau kakakku. Bagaimana pun dengan mataku yang sekarang, aku memiliki batas-batas yang tidak semuanya bisa aku lakukan.
            “Enggak apa-apa, aku paham.”
            Kiara menunggu-nunggu apakah Taruma akan bertanya tentang penyebab matanya menjadi buta, namun hingga lelaki itu pamit pertanyaan itu tidak terucap. Selama perbincangan Taruma menempatkan Kiara seperti orang yang normal. Berbicara tentang warna dan tempat-tempat dengan ringan. Menjelaskan tanpa membuat Kiara merasa tersudutkan.
            Cara Taruma bersikap tidak membuat Kiara merasa dikasihani. Ia merasa nyaman, merasa ada dan berharga.

            “Bagaimana sosoknya, Sha?” Tanyanya pada sang adik yang tengah menimang bayinya.
            “Mulai dari mana? Dari kaki atau wajah?” canda Shasha.
            Kiara tergelak, ia tidak peduli bagaimana kaki milik Taruma. Ia sudah bisa membayangkan dengan langkahnya yang berat, lelaki itu setidaknya memiliki tinggi lebih dari 165 cm.
            “Jangan bayangkan Anjasmara, Kak, nanti kamu kecewa.” Shasha masih terus menggoda. “Tidak ada yang mirip dengannya yang pernah kita lihat, rambutnya lurus dan keras. Matanya sipit dan berkaca mata.”
            “Berkaca mata?”
            Shasha membenarkan dan menjelaskan lebih detil menurut versinya. “Dia itu mirip laki-laki yang jago computer, kutu buku dan serius. Makanya, aku agak heran ketika kalian ngobrol ternyata nyambung.”
            Setidaknya penampilan Taruma sangat jauh dari sosok lelaki yang membuat mata Kiara kehilangan kemampuannya.
*
            Kiara ingin melupakan kejadian itu, namun dikala ia sendiri cengkraman di tangan dan lehernya seakan ia rasakan lagi. Rasa sakit yang hebat di kepala ketika ia didorong hingga membentur dinding, lalu terhuyung dan didorong lagi hingga menabrak dinding pembatas yang terbuat dari kaca.
            Kiara sudah pergi jauh dari semua itu. Meninggalkan Denpasar dan menjalani kehidupan yang damai di kota Bandung yang seharusnya bisa mengobati luka. Baik luka yang terlihat atau pun yang tersembunyi di hatinya.
            “Apakah kamu ingin tahu kenapa mataku begini, Taruma?”
            “Boleh, jika kamu siap membaginya. Tetapi jika tidak, aku rasa kita masih punya banyak stok tema pembicaraan.”
            Taruma memperbaiki letak kacamatanya, lantas mengajak Kiara berbelok ke sebuah kafe, Shasha dan anaknya berjalan dua langkah di depan mereka. Setelah mereka duduk dan memesan makanan, napas Taruma terdengar lebih cepat.
            “Apa kamu sakit?”
            Taruma menggeleng. “Apa kamu tidak enak badan, Taruma?” Kiara mengulang pertanyaannya.
            “A-aku baik-baik saja.” Taruma mengepalkan jemarinya, dengan mata yang terus bergerak-gerak. Tentu saja Kiara tidak mengetahui kegugupan yang mendera Taruma dengan tiba-tiba.
            Kiara berkata bahwa satu waktu nanti ia ingin menceritakan semuanya, tetapi tidak saat ini. Sejurus kemudian Taruma berangsur santai kembali, hingga mereka tiba pada satu perbincangan tentang arti sebuah keberanian.
            “Dulu aku orang yang sangat berani. Hingga aku lupa bagaimana rasanya rasa takut itu. Hingga kegelapan ini datang, aku jadi tahu bagaimana rasanya takut tersasar, takut dibohongi, dan takut jalan sendirian di tempat yang asing.” Papar Kiara.
            Taruma terdiam beberapa lama. “Aku orang yang sangat lemah, Kiara. Sangat penakut dan terlalu banyak berpikir. Aku merasa, aku adalah selemah-lemahnya manusia karena hanya bisa diam ketika sebuah kejahatan terjadi di depanku.”
            Kiara menautkan jemari dan menyimpannya di depan dada. “Kamu menolongku. Kamu membantuku menyebrang berkali-kali tanpa bicara. Keberanian tidak harus selalu diumumkan.”
            Selagi tidak ada orang yang menyadari dan Kiara tidak akan pernah tahu, Taruma menatap lekat-lekat pada wanita yang tidak kehilangan kejelitaannya, meski kornea matanya tidak lagi memancarkan cahaya. Jika mungkin, entah sampai kapan Taruma pernah berjanji bahwa ia akan melindungi Kiara dengan atau tanpa sepengetahuannya.
*
            “Aku pernah menikah, Taruma.” Itu jawaban Kiara ketika Taruma melamarnya. Lelaki yang tiga bulan terakhir ini tidak pernah absen menemani Kiara pulang pada hari jumat sore itu mengangguk dan berkata bahwa status Kiara tidak ia masalahkan.
            “Aku tidak tahu bagaimana cara memulai sebuah hubungan yang nantinya akan berhasil. Aku pernah menjadi wanita yang bisa melihat tapi aku gagal mengenali calon suamiku. Aku … “
            Kiara menggantung ucapannya. Ia benar-benar tidak tahu harus menjawab apa. Dahulu dengan penglihatan sempurna ia bisa sangat disepelekan, sekarang dengan mata yang hanya berisi kegelapan akan kah ia bisa merasakan sinar kebahagiaan sebuah pernikahan?
            “Barangkali kita bisa memulai dari sebuah keterbukaan.” Kalimat Taruma memecah keheningan diantara mereka. Taruma menarik napas dalam, serupa seseorang yang hendak mengakui sebuah kesalahan.
            “Aku tidak punya hal yang aku sembunyikan selain itu. Kamu sudah mengenal adik, kakak dan keponakanku. Kedua orang tuaku sudah meninggal dan dulu kami keluarga normal.” Kiara mencoba mejelaskan sambil mengingat hal lain yang mungkin saja terlewatkan.
            “Aku punya satu hal, yang mungkin akan mengubah sikapmu.”
            Kiara memiringkan kepalanya, bersiap mendengar lebih detil apa pun itu.
            “Sebelumnya kamu harus tahu, Kiara. Bahwa aku mencintaimu. Ketabahanmu menjalani semuanya. Caramu bangkit dari peristiwa yang menimpamu. Dan segala hal tentang dirimu sendiri, membuat siapa pun mudah jatuh cinta padamu, termasuk aku.”
            Kiara mengulum senyuman sambil memejamkan mata. “Lanjutkan, Taruma. Yang ingin aku dengar bukan rayuan itu.” Tukasnya.
            Kembali, Taruma menarik napas dalam-dalam dan menahannya di dada. Ia tidak pernah menduga bahwa mengungkapkan semuanya membutuhkan keberanian yang besar.
            “Aku orang yang lemah, Kiara. Aku hanya bisa berdiri di dekat jendela, di lantai dua rumah yang aku sewa ketika lelaki pirang itu menyeret istrinya. Tanganku hanya bisa mengepal ketika sumpah serapah terlontar tidak terkendali, lalu suara benda-benda terjatuh dan terakhir derak kaca pecah yang mengerikan. Aku hanya bisa diam di dekat jendela dengan hati pilu ketika teriakan kesakitan wanita itu terdengar.
            Tangan Kiara yang semula menopang dagunya terjatuh lemas.
            “Aku terlalu takut dianggap ikut campur urusan rumah tangga orang lain.”
            Seketika Kiara berdiri, peristiwa yang ia alami tiga tahun lalu seakan terlihat lagi semakin jelas di dalam benaknya.
            Taruma berusaha menyelesaikan kisahnya meski dengan suara bergetar, “Aku … aku hanya bisa keluar ketika wanita itu sudah terkapar di tepi jalan, mengusap wajahnya yang penuh darah.”
            Kiara bisa merasakan lagi bagaimana sakitnya ketika serpihan-serpihan kaca itu terbang di depan wajahnya dan rasa tembaga yang memenuhi mulutnya. Kiara mendorong kursi kemudian terburu-buru ia melangkah masuk.
            “Kiara, sejak hari itu aku berjanji untuk melindungi wanita itu.” Lanjut Taruma di sisa waktu yang sempit diikuti pintu rumah yang berdebam. “Aku mengikuti perkembanganmu, mengikuti kemana pun kamu pergi.”
 *
            Kejujuran itu seringkali melegakan sekaligus menyakitkan, kedua rasa itu mendera Taruma setelah malam itu. Kini, setelah dua, tiga, dan empat pekan ia tidak lagi menjumpai Kiara pada jumat sore di bawah lampu lalu lintas.
            Semula Taruma mencemaskan hubungan mereka, tetapi pada pekan keempat ketidakhadiran Kiara, ia tahu bahwa dirinya belum layak mendampingi Kiara. Kehadiran Taruma hanya membangkitkan luka lama.
            Jum’at sore itu pertengahan bulan Mei dengan embusan angin yang membawa debu-debu. Di bawah lampu lalu lintas, wanita itu menggenggam tongkatnya yang selalu setia, seumpama perpanjangan tangan atau mata ketiga. Seorang gadis mengajaknya menyebrang bersama namun ia bergeming.
            Ketika sapu tangan tebal diletakkan di atas lengannya, Kiara mengenal betul getar tangan itu milik siapa. Ia melangkah dengan yakin, di seberang jalan ada harapan dan masa depan. “Aku menunggu seseorang yang berjanji melindungiku selalu.”

            Taruma menggenggam tangan Kiara dan melepaskannya ketika sampai di seberang jalan. “Orang itu adalah aku.”


Catatan di balik cerita

Ide cerita cerpen ini muncul terlebih dahulu tentang tokohnya. Saya ingin menulis tentang tokoh yang tuna netra. membayangkan bagaimana ketika kehilangan penglihatan. alur ceritanya muncul begitu saja, mungkin hasil dari endapan-endapan curhat teman-teman atau film yang saya tonton. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar