Kamis, 09 Januari 2014

Resensi novel A Miracle Of Touch



Novel Miracle of Touch telah menarik dari lembar pertama, karena itu saya berhasil menyelesaikan membacanya hanya dalam waktu beberapa jam saya. Begitu lah seharusnya novel yang menarik, bisa membuat pembaca tak peduli pada sekeliling. J
Ini  kultur berbeda dari biasa yang di tulis penulisnya, dan saya harus mengatakan dia berhasil. Menghadirkan situasi keluarga India yang kaya raya, mulai dari baju, makanan, dan mashala chai –minuman khas India. Penggambaran karier yang tidak biasa pun cukup detil, seorang dietician yang harus tahu banyak tentang gizi dan nutrisi. Wooow ini pasti riset  yang tak kenal lelah.
Novel ini membuktikan apa yang ada dalam benak saya, bahwa konflik dan alur yang menarik adalah hal yang paling utama mengikat pembaca. Saya benar-benar terikat untuk terus membacanya sampai rasa penasaran saya habis. Lengkap pula dengan penokohan karakter-karakter di dalamnya. Bagaimana seorang Thalita yang berjuang demi keluarganya di tanah air, meniti karir  dari nol seorang diri, dan dia berjuang untuk tidak kehilangan itu semua hanya karena kewarganegaraannya.  Hingga ia mengambil jalan keluar ‘emergency’ dengan menikah dengan warga Singapura demi mendapatkan kemudahan untuk tetap bekerja. Seorang wanita memang seharusnya seperti Thalita, tidak manja, berani melawan yang ia yakini benar, dan penuh perhitungan. Sosok kuatnya tergambarkan sangat baik.

Dan, Ravey Malhotra. Hummm saya harus menarik napas dalam untuk menahan diri dari tidak mesem-mesem saking betapa gantengnya dia, sang Hritrik Rosan. Hanya, keliaran dia, kenakalan dia sebagai bad boy kurang tergambar. Saya membayangkan akan menemukan Ravey tengah dugem, tengah menggoda perempuan lain dan tertangkap basah. atau semacamnya. Tapi, tetap bagian-bagian kebersamaan Ravey dan Thalita adalah yang membuat dada berdesir desir, dan I proud of you Sister Riawani Elyta. Kau menggambarkan hubungan suami istri begitu halus dan santun, tak ada adegan ‘ehem’ sama sekali. Benar-benar aman.
Terlepas dari beberapa orang menyebut cerita AMORE dan termasuk novel ini ‘nyinetron’ banget tapi pada kenyataannya, jujur saya tetap suka dengan konflik-konflik yang tajam, yang mendalam betapa seorang ibu sangat ketakutan kehilangan kasih sayang putranya dengan dia menikah, hingga ia terus mengintimidasi menantunya. Juga skandal Mary anne yang sempat membuat saya berpikir ingin konflik yang lain, ketimbang bad boy yang terjebak dengan seorang wanita hamil, tapi keberadaan konflik itu menjadi jalan masuk kita buat menebak-nebak bahwa Laksmi Marhotra punya andil dalam rusaknya mobil Thalita. Penyakit Laksmi pun menjadi daya tarik yang terasa diayun-ayun sepanjang cerita, karena detilnya hanya ditampilkan dalam prolog dan epilog.
Sedikit saja mungkin yang sedikit mengganjal. Hingga akhir cerita saya tidak menemukan apa kepentingan/ tujuan Ravey dengan menikahi Thalita, sementara tujuan Thalita menikah berkali-kali dijelaskan. Apakah tentang pengambilan jabatan di perusahaan tuan Malhotra? Tapi saya tidak berhasil menangkap itu. dan keberadaan Crist terasa mendadak sekali, satu kali muncul dan dia lenyap lagi, meski keberadaannya untuk memberikan Thalita info tentang therapi menyanyi.
Ya, segitu aja revieuw saya tentang AMOT. Di luar hal yang mengganjal yang tidak penting itu, alur, tokoh, konflik semuanya menempati posisi yang pas. Tidak berlebihan.



2 komentar:

  1. Thank you reviewnya:-)
    Buka lagi hal.24, ada tuh sebab ravey menikahi talitha, juga di obrolan mereka berdua tentang betapa gak pedenya ravey untuk bisa hidup mapan tanpa embel2 nama besar keluarga.
    Iya nih gak tega kasih peran 'nakal' banget untuk salinan hrithrik roshan, wkwkwk

    BalasHapus
  2. oh iya ya saya ga langsung ngeh. iya nih ... paling enggak si ravey joget joget sambil ujan ujan gitu xixiix

    BalasHapus