Selasa, 17 Desember 2013

Tentang Nama Pena



               
Gambar diambil dari sini

Mengapa saya menggunakan nama pena? Apakah saya tak cukup bangga dengan nama asli saya? Pertanyaan seputar itu pernah menghampiri ketika saya memutuskan dengan yakin akan menggunakan nama pena.
                Bukan perkara saya tak bangga dengan nama pemberian orang tua saya. Meskipun ketika sekolah saya ingin sekali mengganti nama. Ya, memiliki nama TUTI itu sedikit tidak menyenangkan di masa lalu. Seringkali diplesetkan menjadi tukang tidur, tukang tipu, tukang tilep, tukang tiker dan tukang-tukang yang lainnya. Meski saya tahu itu hanya bercanda, dan saya pun menimpali dengan bergurau. Tapi, jauh dilubuk hati saya merasa kesal, sedih, bahkan ketika seseorang mengatakanannya dengan raut benar benar mengejek saya merasa sakit hati. Silahkan saja menyebut saya sensi, tak ada yang tahu bagaimana rasanya diejek ketika kita benar-benar merasakannya. Sampai saat ini, beberapa wajah yang mengejek saya itu masih lekat dalam ingatan.

                Bahkan, sampai saat ini. ketika saya sudah memiliki dua orang anak. ada tetangga yang memanggil saya dengan “hei Bu TUT” dia tertawa “Bu TUT” apa susahnya sih menyebut hurf ‘I’ ? wajah saya memang tak secantik Dian Sastro tapi enggak butut butut banget kali?
                Apa jadinya jika ejekan itu masih berlanjut hingga sekarang, tentu saya tak akan merasa nyaman untuk berkarya. Ya, itu sekelumit pengalaman tak menyenangkan memiliki nama TUTI.
Nama kecil saya, nama panggilan oleh orang-orang yang menyayangi saya sepenuh hati biasanya memanggil saya NTI, dan saya memhasakan diri saya dengan sebutan NTI.
Saya yakin ibu saya menyematkan nama Tuti Adhayati dengan harapan yang baik. Harapan sebagai putrinya tentu tak akan berubah, baik ketika saya menjadi seorang Tuti atau  ketika saya menggunakan nama pena saya.
Itu dari sisi pribadi diri saya, mari saya ajak sedikit melangkah yang lebih luar. Seorang penulis Indonesia kurang lebih pernah mengatakan, “memiliki nama pena memberikan kesempatan kepada diri kita untuk menjadi manusia normal.” Nama pena memberikan ruang untuk sisi pribadi kita yang tidak boleh tersentuh orang lain, begitu sepemahaman saya.
Saya tetap menjadi Tuti ketika berbicara tentang anak-anak saya, berjumpa teman-teman di luar dunia kepenulisan. Namun, ketika saya telah memegang leptop, mengahdap layar dan memintal abjad demi abjad saya mengubah diri saya menjadi seseorang bernama Adya Pramudita. Yang menuliskan apa yang saya suka, menuliskan sesuatu yang menggelisahkan saya sebagai manusia bebas.
Nama pena itu salah satu unsur yang membuat buku menjadi marketable. Menjadi salah satu ikhtiar penulis untuk mengenalkan karyanya dan dirinya sendiri. mungkin ini yang orang bilang personal branding. Meskipun seorang teman menyarankan untuk tetap menggunakan nama asli untuk personal branding. Jika nama asli kita sudah unik dan menarik, tidak punya pengalaman tak enak seperti saya, tentu menggunakan nama asli adalah pilihan yang bijaksana. Membangun harapan yang sudah tersimpan bersama nama kita sejak lahir, indah bukan?
Dalam memilih nama untuk tokoh novel saja, membutuhkan riset yang tak sebentar. Perlu googling nama-nama sampai berhari hari. Apalagi ini nama pena, yang akan saya pakai sepanjang sisa hidup saya, selama saya mampu untuk berkarya. Tak kurang  dari 5 nama pena sudah saya pilih. Cukup lama saya menggunakan nama pena Asnazen Riza, gabungan nama ibu, ayah dan nama suami saya. Namun ketika seorang teman mengatakan, nama itu kurang mudah diucapkan saya mengganti lagi. Saya mencari nama-nama dari habasa sansekerta, bertemulah dengan nama SITARA artinya bintang timur. Cantik sekali nama itu. tapi ada lagi teman lain yang mengatakan “SI TARA mandi” itu bahasa sunda, artinya “Si yang tidak pernah mandi” waaah lepas dari ejekan Tukang Tipu, masuk ke ejekan Si Tara mandi, Si Tara gosok gigi dan lain sebagianya. Maka saya memutuskan, GANTI LAGI.
Banyak sekali teman yang saya libatkan dalam pencarian nama pena. Di dalam grup yang saya aktif di dalamnya saya meminta teman teman menyumbang nama, dan memabahas khusus nama pena untuk saya. Tapi ternyata semakin banyak orang yang terlibat, semakin pusing saya memilih nama nama yang semuanya bagus dari saran teman-teman itu.
Saya sudah menyimpan satu nama yang diambil dari nama belakang saya yang diringkas; ADYA, entah orang akan memanggil saya apa, yang pasti saya akan menggunakan nama itu untuk nama pena saya. Lalu seorang pemuda bernama Arul Chandrana memberikan nama Praditha, dan seorang wanita keren bernama Tita Rosianti memberi nama Nitisara. Saya konsultasikan pada dua sahabat saya Linda Satibi dan Shabrina WS untuk memilih, mereka memilih Pradita. Lantas, Shabrina WS meracik lagi nama itu, mencarinya dalam kamus Jawa miliknya (mungkin) dan mengusulkan nama Pramudita yang berarti pandai.
Maka, terlahirlah nama tersebut; ADYA PRAMUDITA.
Bagi saya, nama itu cukup mewakili yang mentor saya katakan. Bahwa nama pena, harus relevan baik ketika kita menulis fiksi maupun nonfiksi. Misal: ketika ada nama pena Awan Biru menulis nonfiksi, pembaca tidak akan cukup percaya karena nama penanya merupakan sebuah perumpamaan. Namun, jika menulis fiksi nama seperti itu bisa-bisa saja. Saya tak tahu apa yang akan saya tulis di tahun-tahun mendatang, meski saat ini saya masih fokus pada novel romance. Siapa tahu, di tahun depan saya akan menulis tentang Benazir Bhuto atau Indira Gandhi yang jelas-jelas bukan fiksi sepenuhnya.
Pro dan kontra hadir ketika saya sudah bulat dengan nama itu. tapi bagaimanapun bentuk respon itu, saya artikan sebagai bukti kepedulian semua sahabat terhadap saya. Dan saya tentu tak bisa memenuhi semua keinginan yang tak sama itu.
Baik sahabat, dengan harapan dapat menghibur melalui tulisan dan barangkali ada sedikit kebaikan yang dapat dipetik, Adya Pramudita pada bulan Januari 2014 akan melahirkan karya pertamanya. Tunggu ya ...
Terimakasih sudah singgah.
Love.

13 komentar:

  1. Yes. Nama pena lebih ke 'memudahkan orang untuk mengingat lebih cepat'
    Ditunggu karyanya, Kak Adya

    BalasHapus
    Balasan
    1. eeeaaa semoga lancar ya kaka nei, doakan hehe

      Hapus
  2. adya pramudita, aq langsung inget saur sepuh, babad tanah leluhur, tutur tinular, hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. hahahahha kak lyta pan eike bagian yang jadi mantili, dan dirimu lasmini bukan??

      Hapus
  3. Eike mau ngubah nama jadi OctaCuteBebeb tapi gak boleh ama laki eike. Padahal kan lucuk ya, Mbak? Kalo buat blog atau tulisan yang isinya lucu-lucuan dong, bisa menjual kan ya? Ya kan? Ya kaaaaan? *maksa*

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, iya...

      *iya-in aja biar seneng*

      Hapus
    2. jelas aja suami kak octa ga mau, gimana kalo ada bebeb lai yg kepincut ke cute an dirimu??

      Hapus
  4. baiklah.. kuingat nama penamu mbak :)
    ah omongin nama asli jg bnyk peristiwa nggak enak padaku mbak hehe..

    BalasHapus
    Balasan
    1. mba Binta, padahal nama aslimu baguuus banget. nama panggilan anak perempuanku ilma lho. ga beda jauh sama ilmi

      Hapus
    2. sampe sekarang klo ke kantor bank, atau antri dimanapun saya dipanggil pak/mas aris :( :( eh pdhal diri feminim banget loh :D
      nama saya itu selalu disangka cowok hehe

      Hapus
    3. oh iya memang ya nama aris aga maskulin. dulu aku kira malah anis hehe

      Hapus
  5. aiih.. nama ane disebut.. :)
    selamat yaa Nti, nama penanya cakep, novel perdananya covernya juga cakep.. moga terus lancarr jayaa..

    BalasHapus
    Balasan
    1. terimakasih banyaaak teteh sayaang berkat doa dan dukunganmu gak mungkin saya begini :)

      Hapus