Selasa, 10 Desember 2013

Menuai Rindu


 

India memang pantas berbangga dengan Taj Mahal yang jadi ciri khasnya. Tetapi mereka juga harus bekerja keras menata pasar-pasar tradisionalnya yang kotor dan bau, agar pemandangan wisatawan tidak disuguhi sesuatu yang teramat kontras. Tetapi disetiap sudut kota nuansa tradisionalnya masih terasa kental, itulah sebabnya aku memilih India untuk bonus akhir tahun ini.
            Tetapi kunjunganku ke negara Syahrul Khan harus diakhiri sebelum waktunya. Kabar dari tanah air menarikku untuk segera pulang. Ayah yang belum pernah aku jumpai seumur hidupku terkapar sakit. Dua puluh delapan tahun aku menanti kabar tentang dia, hingga hatiku mati rasa, hingga akhirnya aku berpendapat bahwa ibuku dibenihi batu atau mingkin unta. Kenapa kabar itu datang ketika aku sudah tidak mengharapkannya lagi.
            Tiga perempat memoriku sudah tidak mengingatnya lagi. Tetapi setengah dari separuh hatiku bergetar ketika kudengar namanya disebut, “Anugerah Achal.”
            Pelukis terkenal di era 70-an. Lukisannya bertajuk “Api di Senggigi” dipasang di istana Negara. Berpuluh-puluh lukisannya diburu banyak kolektor. Menuntut ilmu di Paris, bermukim selama sepuluh tahun di Milan. Publik mengenalnya sebagai seorang lajang hingga saat ini.
            Aku memang ada hanya karena sebuah kisah cinta yang singkat. Seorang remaja broken home dengan seniman yang tidak menyadari bahwa ternyata ia masih tertarik pada wanita.
            Di usia 13 tahun aku baru tahu bahwa kakak tertuaku ternyata yang mengandung dan melahirkanku. Dan yang selama ini aku panggil mami tidak lain dia adalah nenekku. Tepatnya nenek tiriku. Kehidupan yang komplit bukan?
###


            Garuda menerbangkan tubuh dan lamunanku. Membelah matahari pagi yang semakin meyakinkanku, bahwa aku hanyalah mahluk yang tidak berarti jika di banding dengan cakrawala yang ada di hadapanku.
Tubuhku terhempas dibawa mendarat tapi imajinasiku terus mereka-reka rupa pengukir hidupku, setelah sekitar sepuluh tahun wajahnya tidak masuk media dan mulai dilupakan orang.
###
            Usai membagikan oleh-oleh pada kedua adik tiriku aku langsung bergegas menuju alamat yang diberikan ibu.
###

            Tidak setiap waktu aku mendapat kesempatan untuk mengunjungi kota Paris van Java, tempat berlibur orang-orang ibu kota. Aku sempatkan untuk mengunjungi komplek mewah yang bersimbol Sinta yang diculik tangan Rahwana.
Sebuah energi magis menarikku lebih dalam, tapi aku hanya memutari teras galeri mewah itu. Harimau yang gagah, sebuah wajah yang entah milik siapa, hingga sang fenomenal “Inul Daratista” lengkap dengan mike di tangan berdiri membeku, turut menghiasi. Lalu ada sekelompok ikan-ikan yang terjaring seperti meminta pertolonganku, aku amati jalinan tembaga kokoh hasil meditasi seni terbaik itu. Sangat indah.
“Kau mewarisi lesung pipi ayahmu dan cita rasa seninya yang tinggipun meretas kepadamu dengan sangat baik. Ia pun mengamati ikan-ikan itu ketika senja.” Alisku bertaut memandang lelaki dengan ikat kepala khas Bali di hadapanku. “Pergilah nak, ia tengah menantimu. Singgahlah lain waktu, aku akan sangat senang!”
“Anda tahu siapa saya?” Ia hanya menjawab dengan senyuman dan berlalu.
Aku kembali berada di balik kemudi mobil yang aku sewa.
Siapakah orang tadi aku tak peduli, sekalipun ia seorang maestro pemilik galeri itu. Tapi pasti ia mengenal ayahku dengan baik, tapi dari mana ia tahu aku putri dari seorang Anugrah Achal?? Dan tadi aku datang hanya sekedar singgah, bahwa tujuan utamaku adalah  mengunjungi ayahku. Ataukah mungkin selain menjadi pematung iapun berprofesi sebagai seorang cenayang!?
Tapi ada yang menarik dari ucapannya, “cita rasa seninya yang tinggi pun meretas kepadaku dengan sangat baik.” Tanpa aku minta, tanpa ayahku sadari, ia telah membagi hobinya padaku. Sedikitpun aku tidak pernah belajar menggambar secara khusus, kuliahpun aku ambil jurusan Analis Kimia, tapi kenapa tiba-tiba aku diterima kerja sebagai desain interior? Dan tanpa aku sadari tanganku bergerak lincah ketika berada di hadapan Correl Draw atau sepasang pensil dan kertas. Atau ketika mataku menemukan kenyamanan ketika mengamati lukisan, patung, kolase, atau prosa, atau ketika terhanyut mendengarkan musik klasik.
Aku ingat betul ketika wawancara pertama dengan Mr Phil. Ia menanyakan tentang hobiku, aku menjawab singkat “menggambar!” ketika ia menyodorkan kertas A3 dan sepaket pensil warna Faber Castle, aku langsung menggambar Jakarta dalam anganku. Sebuah Opera House dengan desain bangunan yang datar, dengan atap cembung menantang langit. Lalu aku gambar lagi sebuah lapangan udara di lepas pantai, dengan hanggar pesawat yang luas tetapi bukab sebuah pesawat yang aku gambarkan melainkan sebuah konser musik. Lima belas menit kemudian ia langsung menerimaku sebagai desain interior bukan sebagai staff biasa seperti yang semula aku tuju. Pada saat itu Mr Phil hanya berkomentar “kegagalan terbesar orang tuaku adalah menimbun bakatku terlalu dalam.”
###

Suara tonggeret yang bersembunyi di balik pepohonan mendengung semakin kencang. Udara malam telah ia rasakan semakin pekat. Jalanan semakin berkelok, tapi aku masih belum menemukan rumah ayahku.
Segerombolan anak kecil yang berlompatan, diikuti dua pria berselempang sarung aku hampiri. “Punten pak, Jalan  Jayagiri 214 masih jauh enggak?”
“Jayagiri 214?! Mmhh…..” jawab pria kurus tampak bingung.
“Kampung apa neng?” Tanya pria yang lebih pendek.
“Nama kampungnya sih enggak tahu, hanya Jayagiri 214, Lembang!”
“Yang punyanya?”
“Pak Anugrah Achal!” Kening kedua pria itu berkerut. “Dia pelukis!”
“Pak Asar! Pak  Asar kali, neng!”
Aku mengangguk, “mungkin!”
“Kalau pak Asar, rumahnya yang besar sekali, neng! Villa! Masih jauh terus aja nanjak! Tepat di bukit tertinggi ada villa besar, bangunannya kayu dan batu, bagus! Nah itulah rumah pak Asar. semua penduduk sini pada hapal kok, neng!” Jelas pria yang lebih pendek, diikuti anggukan oleh pria kurus, “satu-satunya pelukis yang tinggal disini ya dia!”
“Oh…iya! Hatur nuhun! Mangga!”
Mangga!” Jawab mereka serempak, ramah! Itulah bedanya tersesat di tatar sunda dengan di bumi Jakarta.
Senja semakin menyelimuti Lembang yang dingin. Aku ikuti jalan yang semakin tinggi semakin berkelok. Aku telah salah memilih mobil sewaan, kijang tahun 90 ini semakin terengah-engah ketika aku injak gasnya lebih dalam lagi.  Rumah-rumah penduduk semakin jarang.
Villa yang aku tuju telah terlihat. Berdiri gagah di puncak perbukitan. Memperlihatkan cita rasa tinggi pemiliknya. Seumur hidup aku tinggal berdempetan di kawasan Tanah Abang, tidak terbayang mempunyai hubungan darah dengan pemilik rumah villa semewah itu.
Aku menghentikan mobil. Semangat menemui ayahku berganti  menjadi keraguan. Aku lemparkan pandanganku ke belakang, berpikir untuk berputar, dan kembali pulang. Apakah kedatanganku memang diharapkan? kenapa baru kali ini ia mencariku? Apakah ia baru tahu benih yang dulu ia tanam ternyata JADI. Apakah mungkin ibu menyembunyikanku dari matanya? Aku rasa tidak! Dari dulu ibu selalu nampak setengah hati mengurusiku. Jadi jika memang dia menginginkanku, aku yakin ibu akan senang hati melepaskanku.
Kasih sayang yang minim kudapat, menjadikanku kebal rasa iba, tenggang rasa dan pelit air mata. Bahkan aku hampir tak perduli jika ayahku tengah meregang nyawa saat ini. Semakin dekat sepertinya rasa marah itu semakin menggelegak. Dia menyia-nyiakanku!!! Julukan masa kecilku “Melan anak jadah!” Berkilatan di atas kepalaku. Dia tidak pernah tahu rasa sakit ini, ketika diejek, dicemooh dan ketika pulang tidak ada seorangpun yang menghibur. Dan ketika aku mempertanyakan sikap ibu yang berbeda terhadapku dan terhadap kedua adikku.
Tetapi Tuhan itu adil, ketika ia mengalirkan darah dalam tubuhku yang berasal dari orang-orang yang selalu  mengacuhkanku. Ia memberiku kedua adik yang menghargai dan menyayangiku, yang sering melindungiku dari ketidakadilan ibu. Karena mereka, aku tahu aku ada.
Aku menuruni mobil, dan tepekur memandangi villa mewah itu. Yang berisi manusia yang seharusnya aku sayangi dan namanya aku selipkan dalam do’a-do’aku. Ridho Tuhanku tergantung ridhonya, tapi tidak! Hal itu terputus karena dia tidak pernah menikahi ibu.
Aku menghela napas dalam. Hari ini atau tidak sama sekali! Agaknya, inilah waktunya aku menuruti guru ngaji kecilku, yang mengisahkan bahwa nabi Muhammad menjenguk seorang nenek Quraisy yang sakit, yang selalu mengotori, mengganggu dan menyakitinya. Hingga nenek tersebut mengikuti ajaran Islam. Tempalah besi ketika panas, sentuhlah hati ketika kepekaannya memancar *).
Dalam kasusku, si sakit adalah ayahku sendiri. Tapi kenapa keraguan terus membumbung tinggi.
Dalam dimensiku 28 tahun adalah waktu yang panjang, tapi tidak dalam dimensi Tuhan. Jika di usia muda aku hidup dengan ayahku, belum tentu aku bisa mandiri di usia 18 tahun.
Kembali aku tancap gas. Merangkum semangat menggebu untuk menjumpai peran utama dalam kisah hidupku.
###

Posisi villa itu menjorok ke dalam, dengan hamparan rumput jepang yang luas. Dipagari oleh rumpun bambu yang dicukur rapi. Kedatanganku disambut oleh barisan pohon cemara yang berselang seling dengan lampu taman yang memancarkan sinar temaram, yang dibuat dari besi tempa dengan gaya istana Maroko. Oranye senja menampilkan aura rumah itu semakin sempurna. Jalan setapak menuju teras depan dinaungi tanaman yang merambat, yang aku tidak tahu namanya. Seorang lelaki tua tergopoh-gopoh menghampiriku.
Punten pak!” Dia mengangguk sopan, terlalu sopan. “Rumahnya pak Anugrah Achal?”
“Iya Neng, mangga!” Sambutnya ramah. Aku parkir mobilku di belakang sebuah Herrier putih, mengkilat.  “Pak Anugrah ini, di sini dipanggilnya pak Asar ya?”
Pria itu tersenyum menunduk, seperti dia sendiri yang mendapatkan malu. “Orang sini kesulitan menyebut pak Achal, beredar dari mulut ke mulut akhirnya lahirlah sebutan pak Asar. tapi bapak tidak pernah keberatan! Mangga Neng!” Ia membimbingku ke ruang tamu gaya Victorian, dengan gorden-gorden besar menjuntai.
“Oh, oh iya! saya pak Kasim, jika si neng butuh sesuatu saya ada di dapur. Di ujung lorong sebelah kanan,” ia membentangkan tangan kanannya. “Silahkan duduk dulu, sebentar saya beri tahu bapak!” Aku mengangguk pelan. Virus ge-er merayapiku, sepertinya kedatanganku telah di persiapkan. Bahkan pak Kasim tidak menanyakan namaku, asalku atau apakah aku telah buat janji atau belum?
Sofa empuk berwarna krem keemasan kurang menarik perhatianku untuk menikmatinya, ada sesuatu yang jauh lebih menarik. Sebuah lorong panjang, yang di ujungnya ada sebuah meja yang nampak begitu kecil. Lantai, dinding dan langit-langit seluruhnya dilapisi oleh barisan kayu berwarna caramel. Terpajang deretan sketsa perempuan, laki-laki, tua, muda, anak, ibu dan anaknya. Tertanda An-Achal. Paris 1959, Milan 1967, Melbourne 1970, Paris, Milan, Milan……Jakarta 1978…sketsa seorang ibu tengah menyusui bayinya, Bali 1982…..sketsa seorang anak kecil berambut ikal memegang boneka. Mataku mulai memanas.
Seorang Lelaki gemuk berjalan dari sudut lorong menghampiriku, dari kejauhan senyuman bersahabat sudah menghiasi wajahnya yang bulat, penuh bulu.
 “Vakha! Vakha Suakeu” Ia menjabat tanganku erat. Aku menyambut dingin tanpa suara, “mmmhh…Mmelani?” Alisnya yang lebat terangkat tinggi. Aku mengangguk, masih tanpa suara. “Dia sudah menunggumu, mari!” Ajaknya ramah.
Dia? Vakha Suakeu  itu menyebut ayahku dengan panggilan DIA! Jangan-jangan?
Aku mengikutinya dari belakang, melewati lorong caramel. Mataku menikmati sketsa-sketsa yang berjejer rapih, dalam bingkai satu warna, satu ukuran. Tetapi pikiranku melayang, merangkum hatiku yang bergejolak. Menapaki langkah demi langkah menuju pertemuan yang penuh tanda tanya.
“Silahkan, ia sedang menikmati matahari terbenam!” Vakha merentangkan tangan mempersilahkan.
Udara senja menghambur, mengelus pipiku, dingin.
Seorang pria tua, di atas kursi roda. Tersenyum memandangku penuh makna. Dia kah?
“Melani?” suara tuanya keluar mengambang. Tidak ada anggukan atau mengiyakan, aku bergeming.
Tangan keriputnya mengemudikan kursi roda otomatis yang ia duduki.
Tahun 1993 foto wajahnya terpampang disebuah tabloid wanita, dia tampak begitu gagah. Meski uban telah memenuhi rambutnya, tapi saat itu dia masih tampak segar. Gumpalan daging dipipinya, bahunya yang kokoh, kini menyusut seperti tak pernah ada. Sweater, syal, dan kupluk wol yang ia kenakan  mati-matian menutupi tubuhnya yang ringkih, nyata terlihat dari guratan urat di tangan dan wajahnya yang menjalar.
“Sebentar lagi magrib! Dingin! Kita lanjutkan di dalam.” Ia membawaku ke ruangan berdinding luar kaca, seluruhnya kaca. Phobia ketinggian membuatku ketar-ketir, karena lantai yang kupijak seperti berada di ujung jurang. Hamparan kota Bandung yang kerlap-kerlip tepat berada di hadapan ibu jariku.
Sebuah cake keju di hidangkan oleh pak Kasim.
            “Pulang dari India kapan, Mel?” Ternyata Anugrah Achal adalah seorang yang bisa berbasa basi. Tapi sia-sia tak ada jawaban yang ia dapatkan, dan percakapan selanjutnyapun bernasib sama.
            Dekorasi ruang kaca ini sangat indah, mewakili dua masa. Etnik dan minimalis. Tapi aku lebih tertarik memperhatikan segala reaksi perubahan wajah orang tua dihadapanku. Ia terdiam lama memandang hari yang mulai gulita.
            “Cicipi kuenya, Mel!” Basa basi yang teramat basi.
            Perapian kecil di dinding ruangan telah dinyalakan, memendarkan warna jingga dan rasa hangat.
            “Kamu apa kabar, Mel? Ibumu gimana kabarnya?” Untuk apa ia menanyakan ibu, wanita yang telah ia anggap tidak pernah berharga. Ia mendekatkan diri ke perapian, terlalu dekat seperti hendak melompat.
            “Kamu telah jauh berbeda sejak terakhir saya lihat!” Katanya dengan mata menerawang.
            Aku sangsi, apakah orang tua dihadapanku ini telah hilang ingatan atau hampir pikun? Kapan kita pernah bertemu? Atau jangan-jangan dia mengendap-endap mengamatiku? Untuk apa?
            “Saya tahu kamu pasti marah, sangat marah! Maafkan saya Mel, telah menelantarkanmu untuk waktu yang teramat panjang!”
            Terlalu panjang!
            “Banyak peristiwa yang telah terjadi. Kita sama-sama memiliki luka, yang berasal dari sayatan yang berbeda!”
            Lukamu hanya sayatan. Aku! Luka bacokan yang menganga lalu dibanjur air cuka, dan setiap hari disemburi bubuk merica. Luka dari mana yang kau dapat? Seperti apa? Setelah kau semburkan sisa gairahmu tempo hari, kau melenggang pulang. Kau sebarkan pesona ke setiap sudut, kau raup semua rasa yang berujung gembira. Tanpa kau pernah tahu! Hari-hariku yang kekurangan susu, karena ibu tak pernah mau menyusuiku! Kau tidak pernah merasakan sesak ketika orang melihat dengan pandangan yang jijik. Setiap hari, setiap saat, hingga kini.
            “Kamu maki saya aja, hingga kamu lelah! Tapi jangan diamkan saya seperti ini!”
            Kau jatuhkan dirimu yang renta ke dalam apipun aku belum tertarik untuk bicara.
            “Melani, memang seharusnya saya yang datang. Bukan kamu! Tapi virus ini terus menggerogoti setiap sendi.” Ia tertunduk lagi, alisnya bertaut.
            Dimana kau, ketika kau masih sehat? Ketika kaki jenjangmu menopang tubuhmu yang kekar bugar.
“Aku mengikuti setiap perkembanganmu, kau menjuarai lomba menulis puisi ketika kau kelas dua SMA, kau jatuh hingga kakimu terkilir ketika ikut kemping di Cibubur. Bahkan hobi menggambarmu, yang kau tutupi. Perdebatanmu dengan guru BP yang menganjurkanmu masuk seni rupa, tapi kamu bersikeras masuk kimia, dengan alasan kamu selalu unggul di pelajaran eksak.”
            Kau mau tahu alasan kenapa aku tidak mau kuliah seni rupa? karena aku tidak mau dekat dengan segala sesuatu yang mengingatkanku pada seorang yang bernama Anugrah Achal! Jika akhirnya aku menjadi desainer interior itu lebih karena terpakasa, butuh duit! Karena hanya kesempatan itu yang ada. Karena pabrik-pabrik kimia, tekstil, atau farmasi banyak yang bangkrut.
            “Saya tahu hampir segalanya tentangmu. Tentang cinta pertamamu, Ferdi! Dia pemuda yang baik. Saya berani jamin, ia pria yang setia meski telah tiga kali kau menolak lamarannya.” Wajah keriputnya merona, seperti ada kebanggaan tersendiri.
            Kupu-kupupun tidak tahu Ferdi pernah melamarku tiga kali. Tebakan yang bagus!! Dan kau mau tahu kenapa aku tak kunjung mengiyakan? Karena aku malu! Dia memiliki keluarga yang utuh, dengan orang tua yang berada satu rumah, dan punya surat nikah.
            “Saya mengenalmu melalui tangan banyak orang, kau harus bangga punya sahabat-sahabat yang sangat menjaga perasaanmu.”
            Kau hanya mengenal segelintir orang yang kebetulan berhati mulia, mau berteman dengan anak yang tidak jelas sepertiku. Kau belum pernah kenal, cik Kasimah yang pernah mengunciku di gudang rumahnya, hanya karena aku main bersama anaknya. Kau tidak pernah tahu, bang Kodrat yang hampir menggerayangiku, karena dia mengira kelakuanku tidak akan jauh dari ibuku dulu. Kau juga tidak pernah bertemu si Uud yang setiap siang sepulang sekolah mencegatku, hanya untuk berteriak “Melan jadaaaaah!”
            Kediamanku telah mengaduk-aduk emosinya. Dan emosiku. Prahara masa muda telah mencetakku jadi kaku. Sebenarnya gelombang rasa rindu telah memuncak tinggi, tapi sebanding dengan topan amarah yang kupendam sepanjang hayatku.  Lelaki 60 tahun dihadapanku, seperti kehilangan akal untuk memancing suaraku. Ia kendarai kursinya dengan memutari ruang kaca. Melemparkan pandangan ke hamparan kunang-kunang kota.
Lelaki dimana seharusnya aku bergelayut manja, memeluknya penuh kasih. Ia memandangku dengan tatapan permohonan, ia mengajak segala perabot rumahnya untuk turut serta mengiba. Dia tidak pernah tahu berpuluh-puluh kali aku berdo’a mengiba, mengharapkan angin menghembuskan wangi tubuhnya, mengharapkan badai menyeretnya ke hadapanku.
            “Melani, seharusnya sepuluh tahun lalu ini terjadi. Tapi ternyata aku tidak kunjung siap.”
            Tidak perlu pesiapan, hanya niat dan….realisasinya!
            “Pergaulan telah membawaku terlalu jauh dari yang seharusnya. Aku mencari sesuatu yang sebenarnya tidak aku butuhkan. Saat itu memang terasa indah, terasa yang paling keren, yang paling mengikuti perkembangan zaman. Kesadaran itu terlambat datang, Melani! Tapi ketahuilah, satu-satunya wanita yang membuatku bergetar hanya ibumu.”
            Yah, mungkin karena setelah itu kau tidak menganggap lagi wanita sebagai lawan jenis kan? Dan kau tidak pernah bergetar meski kau merapat dengan mereka.
             “Aku tidak siap untuk menjadi ayah, punya seorang anak. Sejujurnya aku tidak siap menerima kenyataan bahwa tidak hanya tubuhku saja yang laki-laki, tapi seluruh organ didalamnyapun sama. Tapi kenapa hatiku, perasaanku tidak demikian! Aku tidak siap menyadari bahwa ternyata aku tidak normal, dan selama ini aku menyimpang!” Suaranya menggelegar bergetar. Ia tertunduk. “Tapi kau anakku Melan, kau bukti bahwa aku bisa kembali normal!” Ada sebuah permintaan tolong dalam intonasi suaranya.
            Dia ayahku, seorang yang tercabik-cabik perasaannya karena keberadaanku. Yang fisik dan jiwanya sakit, karena ingin kembali pulang ke hakikat dirinya semula. Ruangan besar ini terasa kaku, yang tercipta dari kediamanku.
            Yang benar adalah benar, dan yang salah adalah salah**). Jalan yang ditempuh ayahku adalah jalan yang salah. Gaya hidup yang salah, dilihat dari pakem sosial atau agama manapun. Tapi ketika tunas “menyimpang” itu muncul, seharusnya lingkungan bisa mengingatkan. Tapi karena dia selalu berada di lingkungan yang serba permisif, dan sering bertemu dengan orang-orang yang memiliki kecenderungan yang sama, jadilah dia tidak mempunyai second opinion terhadap segala kegelisahannya. Dan jadilah dia seperti sekarang. Tua, sakit, gelisah, penuh penyesalan. Masih beruntung dia masih mempunyai rasa sesal.
            Tangisnya mulai mereda.
       Entah ilham itu datang dari mana, aku yang biasa keras hati, keras kepala tiba-tiba mengibarkan bendera putih pada orang yang paling kubenci sekaligus kurindu seumur hidupku. Hatiku lumpuh layu, ia mengalami rasa sakit yang sama tetapi dalam variasi yang berbeda.   Aku mendekatinya. Kuredam ego yang menumpuk, demi mengulurkan tangan untuk sang pengukir hidupku. 
            Akhirnya bulir-bulir suaraku keluar. “Anda ingin saya panggil apa?” Tanyaku pelan. Ia merentangkan kedua tangannya, dan mencondongkan tubuhnya ke depan. Dengan ragu aku beranjak mendekatinya, memeluknya. Tubuh ringkih itu berguncang hebat, tangis kami memenuhi ruangan yang mulai hangat.
            “Kau memaafkanku Melan, kau memaafkanku sayang!”
            Aku mengangguk perlahan dalam pelukannya.
         Malam ini, aku menuai rindu menebas duka. Menebar jala sutra untuk kami tapaki bersama. Merangkum angan yang tak pernah berani kukhayalkan. Dan tidak ada dosa yang tak terampuni, yang ada hanya kesombongan untuk mengakui.
           
           
*) Dikutip dari Buku cerita Pengantar Tidur –GIP
**) Dikutip dari kata-kata Sakti Wibowo di pertemuan FLP kamisan Salman ITB

Tidak ada komentar:

Posting Komentar