Rabu, 16 Oktober 2013

Shaum Sunah Si Sulung


Entah mengapa saya ingin membuat catatan kecil ini.
Sejak akhir kelas 3 lalu putra sulung saya terkadang sudah saya ajak untuk shaum sunah, karena memang dia tidak begitu hobi makan jadi menahan makan seperti puasa bukanlah tantangan yang berat. Maka lancarlah ajakan itu.
Memasuki kelas 4, usai Ramadhan semangatnya untuk shaum senin kamis makin meningkat sementara saya masih ingin leyeh leyeh karena baru selesai ramadhan. Entar-entar dulu lah pikir saya. Tapi entah mengapa hal ini selalu jadi keributan menjelang tidur di minggu dan rabu malam.
“jangan lupa ya, bun. Nanti bangunin aa sahur.”
“enggak shaum dulu ya nak, bunda rasanya cape banget.”
“aaa ... gak mau ah, aa mau shaum besok. Bunda, aa pokonya mau shaum ah.” Ia merengek.
Sekali dua kali rengekan itu saya ikuti, tak jarang saya sangat malas untuk bangun sahur dan membangunkan dia yang susah, tapi kalau tidak begitu, pagi harinya putra saya pasti uring-uringan, segala pengertian tentang kesehatan dirinya, mental semuanya. Mengingat sekolahnya yang  berangkat dari jam 7 dan pulang jam 4 sore, sabtu dan minggu masih sepak bola, pastilah sebenarnya tubuhnya lelah, alasan itupun ia tolak dengan dalih “aa masih kuat, benar-benar kuat.”

Saya memang cetek dalam hal tawar menawar atau negosiasi, karenanya pada malam-malam sebelum shaum sunah itu menjadi malam krusial yang memancing perselisihan. Sampai saya berpikir. “ini gue emak yang dodol banget, gak mau diajak ibadah apa anak gue yang kenapa sih?” Alasan penambahan uang jajan agar bisa disimpan juga bukan, buktinya ketika ia shaum tak pernah minta uang saku sepeserpun.
Akhirnya saya tanya “aa kenapa sih suka banget sama shaum sunah.”
“ibu guru sama teman teman suka pada shaum sunah kan, ya senang aja. Shaum beramai ramai.”
“tapi itukan sunah a, bukan wajib. Badan aa kan kurus, gak tega bunda kalo aa shaum terus.”
“aa tahu, tapi kan lebih utama dilakukan. Selama ini badan aa sehat kok, gak sakit karena shaum sunah”
Jleb rasanya pengen nyelem ke samudra atlantik.
Selanjutnya shaum berjalan lagi sampai saya kembali enggak tega dan ..... malas menyiapkan makanan, terlebih jadwal ulangan dan belajarnya semakin padat belakangan ini dan dia mulai flu. Maka perselisihan di minggu malam terjadi lagi ketika dia bilang, “bunda, jangan lupa bangunin aa sahur.”
Rasanya  langsung ingin gigit remot ketika dia kembali membantah nasehat saya, “jangan shaum dulu, a. Badan aa flunya mulai berat.” Ya memang dia flunya mulai berat, madu dan habatusauda tak begitu pengaruh untuk mendongkrak staminanya.
“ aaah ... bunda mah gitu kan ... bla bla bla .... ngak ngek ngok –ngak ngek ngok”
“iya kan aa bla bla bla ....”
“tapi kan hosh hosh hosh ... “ saya bicara mulai kencang, dia juga ikutan mengencang.
---Alamak ... ini urusan dia pengen shaum kok bisa sebegini rumit, pikir saya. Benar-benar kehabisan akal untuk menjelaskan, tak ada celah untuk memberi dia pengertian. Saya yang keras, juga dengan anak yang sama kerasnya.
Kesalahan terbesar tentu ada pada saya, saya tidak pernah mendiskusikan ini dengan suami dan sesekali saja ia melihat keributan kami dan baginya ini bukanlah masalah. “hanya anak yang ingin shaum sunah ... so ... what?”
Malam itu “ya udah aa simpen aja jam beker di bawah bantal aa, bangun dan makan sendiri.”
Dia jawab “Gak mauuuuuu ... “ sambil bergumul di bawah selimut di dalam kamar adiknya.
Suami saya larak sana lirik sini sambil menggendong putri sulung saya duduk di samping putra saya.
Suami saya , “ aa tahu kan shaum senin kamis itu sunah.”
“tau ... tapi kan, .... “ dia jelaskan seperti yang pernah dia jelaskan ke saya dulu.
“coba aa sebutkan ibadah sunah apa aja?”
“shalat duha, tahajud, shaum senin kamis bla bla ... “
“yang wajib?”
“sholat 5 waktu  dan bla bla ... “
“yang wajib itu harus diutamakan dibandingkan yang sunah, a.”
“aa udah tahu itu, ayah.”
“kewajiban dilakukan dengan baik dulu, baru yang sunah.” “coba aa ingat ingat, apakah aa masih sering lalai dan susah untuk shalat isya dan subuh?”
Putra saya diam, mulutnya terkunci.
Saya diruangan lain manggut-manggut. Cara itu tidak terpikirkan sama sekali.
“mari kita buat perjanjian antara aa, ayah dan bunda.”
Saya mengintip, wajah putra saya menyembul dari balik selimut menatap ayahnya dengan serius. Sementara saya menatap suami saya dengan penuh cinta #josss_hoho
“selama seminggu ini aa lakukan ibadah wajib aa dengan baik dan sempurna kalau lulus, minggu depan kita mulai lagi shaum sunahnya. Kalau tidak, maka sampai sempurna sambil shaum sunah sesuai kemampuan. Deal?”
Putra saya mengangguk kaku dengan mata berkaca-kaca.
Setiap pagi tanpa diguncang-guncang beberapa hari ini, putra saya menyeret langkahnya dengan malas ke kamar mandi. Tanpa suara menyalakan muratal di music box sampai jam 6 supaya tidak tertidur lagi katanya dan baru mau mandi. Untuk tilawah subuh dia masih sulit tampaknya.
Sulung dan bungsu, ketika akur.

Demikian cerita ge-je dari masalah yang berlarut dan akhirnya menemukan kesepakatan.



Salam

Tidak ada komentar:

Posting Komentar