Rabu, 16 Oktober 2013

Bersinergi bersama Antitesa #5plus1

Antitesa hadir karena kegelisahan seorang Tasaro GK dan timnya. Di sana ada Fatih Zam, Mahab Adib-Abdillah, Dredha Gora Hadiwijaya danKun Danke. Kegelisahan terhadap dunia buku yang ada saat ini, sahabat saya RiaFariana memaknainya sebagai buku-buku yang renyah tapi tidak begitu mengenyangkan. Seperti memakan sekeping kerupuk. Maka dengan konsep yang disusun oleh sekumpulan pria keren bukan main luar biasa itu, Antitesa mengajak kitasemua untuk menuliskan sebuah ide besar, gagasan yang tidak biasa namun tetapdikemas dalam konten yang marketable. Dapat diserap pembaca, dan menularkannilai-nilai kebaikan.

Diawali dengan dipertemukannya kami bersama Ibu Sari, wanita hebat yang menghidupkan dunia perbukuan di Indonesia. Beliau adalah CEO Mizan, membuka wawasan kami tentang serba serbi perbukuan.Kata-katanya semakin menyulut semangat, karena beliau dengan tegas mendukungsepenuhnya kegiatan Antitesa #5plus1 ini. Berharap kami semua dapat mebuat karya yang matang, tidak dilahirkan secara prematur.



Menulis itu sebuah cara kita untuk mengkomunikasikan ide/ gagasan yang kita miliki. Hasil dari sebuah perenungan filosofis yang menghasilkan nilai-nilai kebajikan. bagaimana cara seorang penulis dapat menularkan nilai-nilai kebaikan, segala sesuatu harus dimulai dari diri sendiri. Tasaro GK mengucapkan “Nilai moral pada sebuah tulisan akan dihasilkan selama penulisnya memiliki moral yang sama baiknya”

Dua editor Mizan menyampaikan bahwa bisa saja kita menulis hal yang sangat idealis tanpa memikirkan marketable, namun sebuah ide tidak akan tersampaikan dengan baik tanpa ada orang yang akan membacanya. Demikian juga sebaliknya, sebuah tulisan yang sangat laris sekalipun jika tanpa gagasan yang baik tidak akan memberikan masukan terlalu berarti untuk pembacanya.

Prolog umumnya seperti itu saja, kemudian diselingi bincang-bincang bersama Tasaro GK (deuuuh pastibanyak mba sis-mba sis yang ngiri nih kalo lihat langsung). Tentang siapa saja yang ingin menulisakan cerita bersetting masa lampau atau sejarah, carilah celah sejarah yang tidak diperdebatkan. Meskipun Novel itu berbeda dengan buku sejarah, yang dibuat berdasarkan kepentingan politik, namun tetaplah bersinggungan. Hal yang cukup menenangkan bagi saya adalah sebuah sejarah jikatelah diadaptasi ke dalam sebuah novel tetaplah  menjadi karya fiksi yang tidak perlu diperdebatkan benar terjadi atau tidaknya. Dan tidak akan pernah bisa diseret ke ranah hukum. Satu-satunya berdebatan hanya akan berada di tangan pembaca,dan itu sangat wajar terjadi. Berarti tulisan kita diperhatikan.

Hambatan seorangpenulis, atau yang masih wanna be seperti saya ada dua, yaitu :
  1. Kritikan
  2. Kemandekan.
Yang perlu disiapkan secara mental yang kuat tentu saja kritikan, ketika kita sudah menulis beratus-ratus lembar. Menuliskan per kalimat yang menguras energi dan perenungan panjang ternyata luluh lantak oleh sebuah kritikan. Berdirilah kawan(meski saya juga gak yakin bisa) selama kritikan itu membuat karya kita lebih baik. Syukur-syukur yang mengeritiknya disertai solusi, jadi kita tahu apa yangharus kita lakukan.
Untuk menghadapi kemandekan, cobalah kita rehat sejenak lalu baca lagi sinopsis yang kita tulis. Renungkan apa tujuan utama kita menulis. Apakah idealisme, dakwah, eksistensiatau nduits?? :)


Hari Pertama di saung Mizan

Skema Komik dalam Novel
Bersama Ken Danke
Kita juga bisamenggunakan cara para komikus dalam membuat stuktur komik, untuk novel kita.Dengan cara menggambarkannya, benar-benar membuat gambar. Gaammbaaar.
  1. Gagasan (apa yang kamu cari?), waktu itu mas Ken menggambarkan sebuah hutan dengan judul berpetualang di hutan.
  2. Karakter. Siapa tokoh kita. digambarkan dari mulai tokoh utama, rival dan tokoh pendukung lainnya. Rambutnya keriting kah? Matanya bulatkah? Senyumnya unyu kah? Pokonya menggambar wajah aja.
  3. Setting. Yang diGambarkan tempat, hutan, sungai, gunung.
  4. Masalah (konflik). Gambarkah hujan badai, air bah dan sejenisnya.
  5. Solusi (petunjuk tokoh untuk menaklukan masalahknya).
  6. Resolusi (ending) kalau sulit menggambarkan bisa saja dituliskan.
Dari situ kita bisamengurai cerita dengan penggambaran tersebut, selamat mencoba :)

Materi dilanjutkan dengan kelas melukis, maksudnya bercerita cerita bersama pelukis Dreda Gora HadiWijaya alias Bisma *smash #uhukuhuk. Saking terkesimanya saya sampe lupa materi apa yang beliau sampaikan (woiii inget umur, unyil-unyil nungguin di rumahteriak mba Ria Fariana). Enggak sih kita hanya diminta menulis kesan tentang seorang teman kita, dan menyebutkan tiga nama binatang. Saya menyebutkan 1. Kura-kura.2. Salamander. 3. Ular.  Enggak ngertilah untuk apa yang jelas karena mas Hadi yang minta maka saya manut aja.Halaaaah kekeuh nanti saya dimarahin Tita Rosianti lagi.

Ketika itu sayamenuliskan tentang Ria Fariana, menuliskan kesan saya tentang beliau. Inginnya sih menyebutkan semua teman sekaligus sama mentornya, tapi yang diminta Cuma satu ya akhirnya mba Ria lah yang saya pilih. Kemudian diminta menggambarkan binatang ke dua yang saya sebutkan tadi beserta habitat dan lawan binatang itu. O my God.....saya enggak bisa gambar akhirnya dengan alakadarnya saya menggambar seekor salamander di tengah gurun pasir yang terik dan berkaktus,dengan seekor ular yang bersiap memangsanya.
Kemudian diminta menuliskan garis dari tepi kanan ke tepi kiri, masih gak ngerti untuk apa. Saya menggambarkan garis lengkung-lengkung seperti batik mega mendung cirebonan.Sementara semua teman teman menggambar garis yang konsisten dari kiri ke kanan.Saya saja yang nyeleneh sendirian, eeee ternyata itu garis tepi ditafsirkanoleh sang mentor Bisma *smash itu dan disebutkan bahwa gagasan novel saya cukup lumayan namun saya masih bingung memulai dan mengakhirinya bagaimana.....uuuyeeaah...tepat sekali. lha ketika menulis kalimat pembukanya dulu saja saya sampe meriang tiga hari tiga malam kok (lebaydotkom)

Ba’da ashar kami pulang ke penginapan, o ya penginapannya nyaman. Satu rumah yang kita kuasai ramerame. Berasa di rumah sendiri dengan si ibu pemilik penginapan yang tak hentihentinya menyediakan makanan. Katanya biar kita bisa terus berpikir denganbaik, padahalmah kalo kenyang saya malah ngantuk. Tapi keadaan sudah siaga melek.
Ok. Kembali ke kelasAntitesa ^-^

Jurnalistik
Bersama Fatih Zam, adik dari kak Rhoma Irama
•     “Komunikasiinterpersonal yang efektif meliputi banyak unsur, tetapi hubunganinterpersonal barangkali yang paling penting. Banyak penyebab dari rintangan komunikasi berakibat kecil saja bila ada hubungan baik di antara komunikan. Sebaliknya, pesan yang paling jelas, paling tegas, dan paling cermat tidak dapat menghindari kegagalan, jika terjadi hubungan yang jelek.” (AnitaTaylor, Ahli Komunikasi)

Menggunakan pendekatan jurnalistik yaitu stright news dalam membuka paragraf awal dalam sebuah novel akan lebih menarik. Bahasa lainnya menggunakan premis yang menggambarkan isi/konflik novel tersebut. Gaya penggambaran alam seperti angin berhembus kencang,daun daunan beterbangan membentuk tornado bla...bla... bla... konon cara itu sudah ditinggalkan pembaca.
Tiga hal sebuah buku dibeli adalah cover, Judul dan Paragraf pembuka. Untuk cover dan judul itu hasil sinergi penerbit bersama penulis. Tapi sebuah kalimat pembuka itu sepenuhnya tugas penulis.
 Kalimat pembuka adalah pertaruhan sebuah buku, ia akan diletakan kembali atau dibawa ke meja kasir. Jadiii...berusahalah menampilkan kalimat pembuka dengan sangat menarik. Dibaca berulang kali, diedit berpuluh kali, seperti menempatkan puzle kata-kata satu persatu.
•     Didalam novel yang baik, “jagoan” harus dipukul dengan telak di 10-20 halamanawal (Hetih Rusli, editor Penerbit Gramedia)

Di bawah ini contoh kalimat pembuka yang cukup menarik :
“Kini aku hanyalah sesosok mayat, sesosok tubuh didasar sebuah sumur. Walaupun sudah lama sekali aku mengembuskan napas terakhir dan jantungku telah berhenti berdetak, tak seorang pun tahu apa yang terjadi padaku, selain pembunuh keji itu….”
            (MyName is Red, Orhan Pamuk)

Kenanganku yang benar-benar nyata adalah hari ketikaaku menyaksikan kematian.
Sejak hari itu aku diberkahi—dan dikutuk—dengan ingatan yang sempurna. Aku dapat mengingat kata-kata yang diucapkan empat puluhtahun lalu seolah-olah kata-kata itu dituturkan pagi ini…..
(Mother of the Believers, Kamran Pasha)

Iiih kenapa contohnyadua duanya menyebutkan kematian ya?

Disarankan kalimat pembuka itu Mengikuti  teori persepsi(Primacy effect- Solomon E. Asch) yaitu sebuah persepsi positif di awal akanmembawa pembaca terikat. Cara penulis membangun hubungan interpersonal dengan pembaca adalah di kalimat pertama. 10-20 halaman pertama harus mulai menghantarkan konflik tapi tentu saja tidak keseluruhan.
Malam hari hujan itu kami diminta keluar, mewawancarai siapa saja yang kita temui. Ketika itu saya menggunakan rumus 4 W 1 H. What where bla...bla....daan saya menemukan seorangibu berjaket plastik  yang kusam tengah berjualan baso tahu.segeralah saya meluncur, sambil berpura-pura beli baso tahu, saya tanyai si ibuitu dan beliau menjawab dengan antusias ketika saya mengatakan saya sedang berada dipelatihan dan diminta mencari orang untuk wawancara. Kemudian berdasarkan wawancara itu menulislah saya sebuah kalimat pembuka yang sangat biasa sekali, tidak saya post di sini karena terlalu panjang dan diksinya membosankan membacanya bikin ngantuk.
Lanjut......

Sudut pandang dalam kalimat pembuka juga harus benar-benar diperhatikan, ketika saya merevisi kalimat pembuka untuk bakal novel saya ternyata porak poranda, mencoba mengajak pembaca berinteraksi namun karena settingnya tahun 1900 saya seolah-olah sitokoh hidup di zaman sekarang, (lha memangnya tokoh dibawa pakai mensin waktu doraemon apa yak)
Tipsnya : ajaklah pembaca berinteraksi tepat diparagraf pertama tapi kita harus benar-benar paham, kita si penulis menempatkan diri sebagai siapa? Narator kah, tokohkah?Contoh paragraf pertama yang paling mudah dipahami yang mengajak pembaca berinteraksi ada di kalimat pembuka Galaksi Kinanti karya Tasaro KG. Di sana sipenulis menempatkan diri sebagai narator, mengajak menjalin komunikasi dengan pembacanya.


Hari ke dua
#5plus1 (dibaca limaplus one)
Bersama Tasaro GK.–jeng....jeng......jeeeeeeeeeeeeeeeeng ini yang ditunggu tunggu kaaaan?-

Dibuka dengan mendiskusikan nama pena.
Nama pena itu salah satu unsur yang membuat buku menjadi marketable. Menjadi salah satu ikhtiar penulis untuk mengenalkan karyanya dan dirinya sendiri tentunya. Sebagian besar teman teman sih sudah yakin dengan nama penanya, terutama mereka yang sudah punya karya. Berbeda dengan saya yang punya pengalaman kurang enak karena menyandang nama Tuti, disekolah dulu sering sekali jadi bahan ejekan tukang tipu, tukang tidur, tukang tilep dan tukang tukang yang lainnya. Dan sekarangsetelah saya menjadi ibu pun masih ada tetangga yang kalau manggil dengan tawa yang ....begitulah, manggil saya Bu tut. (apa susahnya sih nambahin hurup i diujung pengucapannya) ok. Skiiip....Jadi sepertinya saya akan menggunakan nama pena meski belum yakin akan menggunakan nama yang mana.
Tapi untuk teman teman yang memang telah memiliki nama yang unik dan bagus, ya tentu tidak apa apa menggunakan nama asli warisan dari orang tua itu.

Lanjut ke #5plus1
Untuk rekan rekan yang biasa mengikuti kelas malam mingguan di Fan Pagenya sang Juru Dongeng pastisudah tidak asing lagi, tapi tetap saya akan mengulasnya.
Ada tiga unsur dalamsebuah novel :
1.      Penokohan
2.      Alur
3.      Diksi

Untuk mengisi tigaunsur tersebut kita menggunakan seluruh panca indra kita, yaitu : penglihatan,pendengaran, penciuman, perasa, dan peraba. Karena itu acara ini disebut #5plus1.Sementara angka 1 diakhirnya untuk indra ke enam yaitu pengkoneksian.Pengkoneksi itu meliputi :
a. Kecerdasan khas seorang penulisadalah mengoneksi data.
b. Memasukkan sebuahperistiwa yang jauh dari tema tulisan tanpa mengubah arah tulisannya.
c. Koneksi itu membuattulisan lebih bergizi.

Ok kembali lagi kepengindraan:
1.      Penglihatan;
dihadapan kami disajikan sebuah gambar jalan dengan kendaraan yang macet, polisi atau satpamberjaket hijau stabilo, gadis SPG dan lain-lain. kemudian kami diminta i menyebutkansatu persatu yang kami lihat dari gambar tadi, ada motor, mobil, gadis, helm,pohon dan lain lain....kemudian kami membuat satu paragraf berdasarkan gambartersebut.
Pagih ari macet seperti biasa, jalanan dipenuhi mobil dan motor. Patroli polisi yangberjaket hijau mengatur lalu lintas. Tidak seberapa jauh dari sana adagadis-gadis SPG berbaju merah yang membantu pengendara motor menggunakan helmdengan benar. Garing ya? Iya saya tidak berhasil dipengindraan mata ini he he
kemudian mas Tasaromengingatkan lagi Sampaikan kepada pembaca dengan perumpamaan yang tepat dan jujur, tetapi tidak lebay

2.      Pendengaran
Kami diperdengarkan suara dari film Life of Pi dalam keadaan mata tertutup, untuk mengidentifikasi suara satu persatu. Debur ombak, badai, teriakan panik, suara binatang, suara tenggelam dll. Pada pembuatan di paragraf di sesi ini juga saya masih belumberhasil, makanya tidak di posting J

3.      Penciuman
Mata kami ditutup lagi,kemudian disajikan di atas piring benda-benda beraroma menyengat, dan akhirnya kalimat saya sedikit mendapat tanggapan baik ...akhirnyaaaa....
Dihadapanku disajikan sesuatu yang mengingatkanku pada aroma ibu ketika aku menciumnya setiap pagi, aroma menyengat yang menusuk hidung yang biasa tercium dari kepulan kuah soto yang ibu jual setiap pagi.

4.      Peraba
Karena saya sedang bersandar pada lemari kayu maka kalimat yang saya buat adalah :
Lemari tua yang aku sandari ini masih tampak menawan, usia tidak menggerus wajahnya. Bahkan permukaannya masih terasa seperti halusnya kulit remaja

5.      Perasa
Ada yoghurt, ada gorengan dan cabe rawit dan ada roti. Akhirnya yang saya icip adalah cabe rawitmaka jadinya begini;
Akut erlampau sibuk dengan buku yang kubaca, jemariku telah salah mengambil makanan. Hingga yang masuk dalam mulutku adalah butiran kecil berwarna hijau.Rawit itu meledak di dalam mulutku. seperti ada seribu semut yang menggerumutil idahku.


Sahabat semua, dalam membuat perumpamaan berdasarkan panca indar itu kita membutuhkan banyak pengalaman hidup dan dibantu dengan buku-buku yang kita baca. Dan saya pribadi merasakan kata-kata teruntai dengan mudah hasil dari perenungan. Seperti ketika mengidentifikasi rasa pedas, saya mengingat semut ketika tergigit dan tercecap lidah.

Sebuah ide besar sangat berpengaruh pada naskah yang kita buat, dan ide besar itu bersumber dari 3 hal:
1.      Pengalaman: tulisan yang bersumber dari pengalaman biasanya sangat menjiwai, namun bagaimanapun sebuah pengalaman hidup akan habis. Maka dibutuhkanlah sebuahriset.
2.      Riset: Riset itu tidak terbatas, kita bisa mempelajari apa-pun yang menarik utukkita tulis. zaman sekarang sumber risetpun bertebaran di mana-mana. Mba googlesiap sedia 24 jam. Perpustakaan dan toko buku juga siap membantu kapan pun.
3.      Imajinasi: setelah riset, untuk menghidupkan cerita kita agar benar benar terasa nyata,kita harus memiliki imajinasi yang kuat. Menjadi tuhan untuk cerita kita,mengatur alur yang menggigit, menghancurkan dan membangkitkan tokoh dengandramatis.


Ok, kembali keunsur-unsur pendukung sebuah novel, yaitu:
Penokohan
            Dalam pemberian nama tokoh  banyak hal yangharus dipertimbangkan; salah satunya setting tempat dimana kita akan menghidupkan si tokoh, budaya si tokoh, dan lebih jauh lagi pada ideologi sitokoh. Nama tokoh salah satu komponen yang paling diingat oleh pembaca.
            Dalam menggambarkan tokoh, saya pernah begitu sangat ribet karena merujuk pada jenis-jenis sifat manusia seperti sanguinis, koleris dan lain lain, atauberdasarkan golongan darah yang sama ribetnya. Hal itu masih sangat boleh dilakukan tentu saja, hanya kini ditambahkan dengan cara yang lebih simpel.
            Dalam menghidupkan tokoh antagonis misalkan tinggal kita buat daftar orang orang yang kita benci, bisa siapa saja. mulai dari teman sekolah yang nyebelin, atau tetangga yang belagu artis yang so’ ngetop, anggota dewan yang korup. Sifat buruk orang orang itu dijadikan satu dalam satu tubuh, sikapnya, sifatnya sampai bentuk fisiknya. Maka jadilah peran antagonis, bermuka Angelina Sondakh,bertubuh pendek, dengan sikap seperti tetangga saya dengan bibir tipis seperti teman yang suka mengejek saya. misalkan...
            Demikianjuga dalam menggambarkan tokoh protagonis, kalau untuk tokoh wanita saya enggak pernah ribet cukup sikap saya aja dibungkus tubuh Marisa Anita dan berwajah Fira Basuki, #hoooaaciiiim....boleh boleh aja tho...ha ha ha.
            Setelah kita menggambarkan tokoh-tokoh dalam imajinasi kita, -untuk memudahkan mengingat lebih baik dibuat gambar dan ditempel di depan komputer. Seperti saya yang seringkali memasang Mat Damon dan Reza Rahadian di screen saver laptopsaya, asshoooooy....- Kita wajib menjaga tokoh untuk konsistenbersikap dari awal sampai akhir cerita, gampang-gampang susah pada prakteknya he he he....


Alur
            #5plus1pengindraan dengan panca indra tadi di tambah 1 konektivitas kita gunakan ketika membuat alur. Karena alur adalah hal yang paling diingat oleh pembaca. Setiap novel atau film pasti mengerucut pada 7 pertanyaan fiksi, yang bisa membantukita dalam menyusun lika-liku alur:
  1. Siapa tokoh anda?
  2. Apa Goal Hidupnya?
  3. Apa halangan si tokoh dalam meraih goal hidupnya?
  4. Bagaimana alur kegagalan si tokoh?
  5. Hal-hal apa yang membuat si tokoh dapat kembali bangkit?
  6. Dramatisasi tokoh dalam meraih goalnya kembali?
  7. Bagaimana ending yang dapat memukau pembaca?
Dimulai dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan itu, kita sudah bisa membuat alur cerita. Selamat mencoba.....


Diksi
            Diksiitu yang paling banyak menguras energi tapi seringkali yang paling pertama dilupakan, kecuali diksi yang benar-benar ciaamiiiik pastinya. Jika alur itu sebuah kerangka atau susunan tulang pada  tubuh manusia, maka diksi adalah daging yang akan membukusnya. Keduanya saling melengkapi bangun tubuh manusia.
            Diksi dihasilkan dari seberapa mampu penulis dapat memaknai sesuatu secara mendalam,yang didapat dengan cara merenungkannya. Hingga pembaca setuju dengan apa yang  dituliskan. Tanpa sadar pembaca mengangguk mengamini dan kemudian mendapatkan nilai/ makna yang terkandung di dalam sebuah tulisan.
Tips mendapatkan diksi:
1.      Merenungkan sesuatu yang mau kita tulis.
2.      Banyak berlatih
3.      Pengalamanhidup
4.      Banyakmembaca

“apa yang ada dalam benak kita ketika mendengar kata rumah?” tanya mas Tasaro.
Kita semua menulisskannya, dan saya menulis “Rumah tempat aku pulang dimana anak-anak tertawa ceria” saya menulis begitu karena saya seorang ibu yang sedang kangen anak-anak. tapi bagi seorang pemuda, rumah hanya tempat untuk tidur dan mandi, itu contoh diksi yang dibentuk dari pengalaman hidup. Yang lainnya harus banyak dilatih dengan cara memaknai sesuatu.


Kurang lebih itulah materi yang diberikan dari kelima mentor yang keren tiada banding itu,#hooaachiim. Kemudian kami semua dipanggil satu persatu. Sempat deg deganjangan jangan mau jurit malam, mengingat saya penakut tingkat akut. Tetapi ketikadihadapkan satu sosok yang akan memberikan banyak masukan tentang semangat menulis saya, dan karena sosoknya adalah Bisma *smash yang unyu unyu O la la beybeh itu akhirnya ketakutan saya lenyap tak bersisa.
Baru kali itu ada training kepenulisan yang menyorot sisi psikologis, berawal dari sang mentor itu menerjemahkan bentuk tulisan saya, philografi apa ya namanya, lupa. Tanda tangan dan binatang ke tiga yang saya sebutkan di hari pertama, yaitu ular. Dan semua yang dia ucapkan taraaaaa banyak benarnya. Mba Ria Fariana sempat marah karena bagaimana mungkin mas Hadi yang baru saat itu berjumpa sudah tahu banyak tentang dirinya, dan semuanya benar. Kalau saya Cuma mesem mesem aja, lha dihadapan saya Dreda Gora Hadiwijaya sang pelukis berbakat, harus gimana lagi coba? Masa manyuun?
Menurut hasil penerawangannya -#tsaaah- adalah, duh saya share jangan ya enggak bagus bagus amat soalnya. Tapi untuk jadi pelajaran kita semua lha ya... Lupa lupa ingat sih tapi kurang lebih begini, kalau mendapatkan inspirasi dari hasil riset atau imajinasi harus segera dituliskan karena suka mudah lupa. Dari bentuk tulisan saya, katanya kadang terlihat tenang, seringkali juga meledak ledak...mmmhhh... :)Karena yang saya gambarkan itu salamander dan yg saya sebutkan itu ular, bukan sisi buruknya tapi yg diulas, jelas saja karena lidah saya tidak bercabang. Tapi katanya, saya terlalu pasif menunggu respon dari luar, dan ketika ada respon atau ada gangguan dengan cepat dan fokus saya akan menyerang. O la la .... tapi apapun itu saya mencoba menyerang dengan bisa yang baik, yang menularkan racunkebaikan. Halllaaah...
Setelah sesi penerawangan pukul 1 malam itu....saya turun kembali, bincang bincang denganTasaro GK, dan Fatih Zam. Diantara gemericik air kolam, di malam yang hampir pagi. Dengan udara yang menggigilkan tubuh. UU yeeaaah, kita semua berkumpull agi. Merenungkan apa yang kami pelajari hari itu, persaudaraan yang menjadi terjalin dengan 8 peserta lain dan mentor-mentor yang siap sedia menerima pertanyaan apapun yang kami ajukan. Perenungan yang dipimpin oleh mas Adib,salah satu mentor yang menyertai kami disetiap kami rehat, lelah dan merasa jenuh dengan tarian mahua oye, atau nyanyian rampam pam nya. Sapaan halo halo hai hai yang legendaris.

Hari terakhir kami berkunjung ke Mizan lagi, ke ruang Mizan cinema tepatnya. Saya kira akan diajak casting, ternya tidak. kami diberi wawasan bahwa novel apapun bisa difilmkan dengan syarat utama adalah Best seller dulu, atau memiliki gagasan yang unik dan bagus. Laskar pelangi, Perahu kertas dan lain-lain itu base from bestseller novel. Tapi ada juga tiga hati satu cinta yang dibintangi Reza Rahadian itu, yang berasal dari buku yang biasa saja yaitu Daveci Code tapi memiliki gagasan yang bagus, yaitu keberagaman agama. Tentu kami semua mengaharapkan hal yang demikian, best seller dan difilmkan, tapi rasanya masih jauh ngawang-ngawang jika bicara sekarang. Karena saat ini yang bisa kami lakukan adalah “Menulis saja dulu deh, buktikan kalau kita bisa memenuhi harapan Antitesa danMizan”

Dan acara harus berakhir setelah kunjungan ke pameran buku di Jl. Braga, saling mengucap salam perpisahan dan memeluk teman satu persatu (yang wanita saja tapi) dan saling memberi semangat bahwa kita bisa!!!
Berpisah dengan mentor-mentor super duper keren tiada banding itu akhirnya. :(

Sahabat semuanya,sempat ada teman yang bilang naskah saya dipilih karena sesuai selera Tasaro GK dari segi diksi. Ternyata itu tidak sepenuhnya benar. Yang dipilih adalah gagasan yang paling bagus dan tidak biasa. Naskah yang dipilih beragam, ada yang penuturannya sederhana tetapi membawa nilai-nilai yang besar.  Ada juga yang metro pop tapi gagasannya unik.Tidak hanya yang bersetting lokal, setting Inggris dan Timbuktu juga ada. Kalaupun membawa gagasan yang umum tetapi diambil dari sudut pandang yang tidak biasa.Yah genre dan tema kami semuanya beragam. Tantangan-tantangan yang tidak sama juga. Sepertinya yang paling mumet dengan riset hanya kami yang mengambil setting sejarah, lainnya full imajinasi seperti Arul Chandrana. Atau pengalaman seperti Ria Fariana dan Agung Jatmiko.

Sampai jumpa sahabat enam bulan lagi bersama karya kita, semoga bisa memenuhi semua harapan mereka yang memberi kesempatan, dan mereka yang mendukung kita selama ini. Aamiin
bersama seluruh peserta, mentor dan kru Mizan





           


Tidak ada komentar:

Posting Komentar